Taruhan

Taruhan
The Hunter and The Prey


__ADS_3

Fabian cuma bisa terkekeh melihat room chat grup dipenuhi caci maki dari Reno yang tidak diterima karena nomornya diblokir oleh Biru. Pemuda itu mencak-mencak, mengatai biru sok jual mahal dan menyumpahi gadis itu kena karma karena sudah menolak pemuda tampan seperti dirinya.


Tidak cuma Reno saja yang mengadu bahwa nomornya sudah diblokir oleh Biru, tetapi juga Juan. Pemuda itu memang tidak marah-marah seperti Reno, terapi dia tetap saja mengutarakan kekecewaan sekaligus rasa sakit hati karena untuk pertama kalinya ada yang berani menolak dirinya, bahkan sebelum dia memulai apa-apa.


Fabian sendiri belum bisa ikut mengeluh, sebab sampai saat ini, pesan miliknya belum juga dibalas oleh Biru. Yang menyebalkan lagi soal itu, si gadis Avatar itu tidak mengaktifkan centang biru di WhatsApp miliknya sehingga Fabian sendiri juga tidak tahu apakah pesan yang dia kirimkan sudah dibaca atau belum oleh gadis itu.


Grup chat Pain Killer masih ribut, namun Fabian memutuskan untuk menarik diri. Dia bangkit dari kasur, bergerak turun lalu melangkah lebar menuju meja belajar yang menghadap ke jendela kaca besar.


Sebenarnya, itu tidak bisa dibilang sebagai meja belajar juga, sih. Karena satu set komputer yang nangkring di sana nyatanya hanya dia gunakan untuk bermain game, bukannya untuk mengerjakan tugas.


Kalau sudah duduk di atas kursi yang nyaman itu, tandanya Fabian sudah siap untuk mengarungi dunianya sendiri, dunia yang sengaja dia ciptakan untuk mengalihkan fokusnya dari dunia nyata yang kini sedang dia jalani.


Tetapi, baru saja headphone akan di pasang ke telinga, Fabian terpaksa mengurungkan niat ketika rungunya menangkap suara denting yang berbeda dari ponselnya. Itu bukan denting ribut berisi notifikasi grup, melainkan denting khusus yang sengaja dia setting untuk menandai jika pesannya dibalas oleh Biru.


Dan, ya, tentu saja denting itu lebih penting untuk dia periksa sekarang ketimbang berkutat dengan game yang bahkan sudah seolah menjadi separuh hidupnya.


Maka, headphone tadi dia letakkan kembali ke atas meja dan dia segera berjala menuju kasur.


Dipungutnya ponsel yang terlantar di sana, diabaikannya notifikasi lain yang masuk dan langsung membuka satu pesan baru yang muncul dari kontak yang dia beri nama Sabiru.


Fabian tidak berekspektasi lebih dengan balasan seperti apa yang mungkin Biru kirimkan kepadanya. Namun saat satu kata terpampang di layar ponselnya, Fabian tidak kuasa menahan senyum yang bahkan dalam sekejap telah melebar sampai ke telinga.


Di sana, Biru menuliskan : VIP?

__ADS_1


Fabian senang karena pancingannya ternyata berhasil. Dia tahu Biru tidak akan mengabaikannya begitu saja kalau tahu dirinya adalah si VIP yang ditemui di Mega Club malam itu.


Dengan senyum yang masih merekah, Fabian mengetikkan balasan.


Yup. Yang lo katain kayak gembel, plus biji-nya mau lo geprek.


Senyum di bibir Fabian berubah menjadi kekehan ringan ketika dia mengingat kembali bagaimana mengerikannya senyum Biru saat mengatakan hendak menggeprek biji laki-laki yang macam-macam dengannya malam itu. Seumur hidup, Fabian baru kali ini bertemu dengan gadis muda yang se-garang Biru, dan menurutnya itu menarik.


Sekitar dua menit berselang, balasan dari Biru kembali datang. Kali ini bukan cuma satu kata, melainkan beberapa kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat, yang sebenarnya tidak Fabian duga.


Jangan di Mega, gue tahu tempat lain yang Lemonade-nya lebih enak. Kalau lo masih niat traktir, gue shareloc.


Nah, kan. Si Avatar ini memang menarik. Padahal Fabian yakin gadis itu tahu kalau dua cecunguk yang sebelumnya dia blokir nomornya itu pasti berkaitan dengan dirinya, tetapi kenapa Biru masih mau meladeni dirinya? Tentu saja karena otak Biru sama gesreknya dengan dirinya dan anggota Pain Killer yang lain.


Jadi tanpa ragu, Fabian mengiyakan ajakan Biru.


Oke, shareloc sekarang. Gue langsung gas.


Setelah membalas, Fabian meletakkan kembali ponsel ke atas kasur lalu ngeloyor ke kamar mandi. Dia belum mandi sejak sepulang dari kampus, karena memang niatnya dia tidak ingin mandi malam ini.


Tapi berhubung dia akan bertemu dengan Biru, bukankah setidaknya dia harus menunjukkan sisi yang lebih baik ketimbang pertemuan pertama mereka yang membuat gadis itu mengatainya gembel?


Malam ini, Fabian akan menunjukkan sisi terbaik dirinya, untuk sekalian mengetes apakah perubahan itu cukup mampu untuk membuat sikap Biru melunak atau tidak. Karena sebelum berburu, kita harus tahu dulu kan buruan kita itu sifatnya bagaimana?

__ADS_1


"I got you, I got you." Gumam Fabian, menirukan gaya bicara Baskara saat pemuda itu sedang bermain game dengan dirinya. Lalu dia mulai menyalakan shower dan bersiap untuk membasuh seluruh tubuhnya.


...****************...


Oke, shareloc sekarang. Gue langsung gas.


Biru tersenyum tipis mendapati balasan dari Fabian tersebut. Sebenarnya, dia tidak berminat untuk meladeni pemuda itu dan teman-temannya. Dia cuma ingin melihat, sejauh mana Fabian akan bertindak dengan permainan truth or dare atau apalah itu yang sedang dia dan teman-temannya lakukan.


Hitung-hitung hiburan gratis, pikirnya.


Tidak ingin Fabian menunggu lama, Biru segera mengirimkan lokasi apartemen yang sekarang dia tinggali kepada pemuda itu. Kenapa apartemen? Lagi-lagi karena dia ingin tahu, sejauh mana Fabian bisa bertindak.


Nekat? Gila? Kurang kerjaan? Apapun itu, terserah saja. Biru memang suka melakukan hal-hal yang terkadang kurang masuk akal. Maklumi saja, dia anak yang kesepian. Anggap saja hal-hal itu sebagai penghibur agar hatinya tidak semakin sedih.


Usai mengirimkan lokasi, Biru melompat turun dari kasur, berjalan dengan semangat yang menggebu-gebu menuju lemari pakaian.


Biru terpaku cukup lama di depan lemari pakaian yang pintunya telah dibuka lebar-lebar. Sibuk menatapi satu persatu pakaian yang ada di sana, yang nyaris semua warnanya cuma putih, hitam dan abu-abu. Hampir tidak ada pakaian warna-warni.


Selain karena dia memang tidak terlalu menyukai segala hal yang terlalu feminim, menurutnya memiliki banyak warna baju hanya akan membuatnya pusing ketika harus memadu-padankan pakaiannya.


Setelah menimbang cukup lama, Biru akhirnya menjatuhkan pilihan pada celana jeans warna hitam dan kaus lengan pendek warna abu-abu muda dengan model V-Neck yang potongan lehernya agak rendah. Dia sengaja memilih kaus itu, karena kalau dia memakai kaus itu, bagian dadanya akan sedikit terekspos dan dia bisa melihat kemana arah pandang Fabian sepanjang mereka mengobrol nanti.


Karena untuk tahu bagaimana harus menghadapi musuh, bukankah setidaknya kita harus tahu seperti apa karakternya, supaya kita juga mulai bisa mencari tahu kelemahan dan memanfaatkannya untuk menyerang?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2