Taruhan

Taruhan
Nightmare (Deleted Scenes)


__ADS_3

Holaaaaaa daku kembali bwahahaha


Aku cuma mau bilang, ini bab sebenernya udah ditulis tapi aku mutusin buat nggak up pas cerita ini masih on going, soalnya takut kepanjangan nanti ceritanya. Sekarang, dipikir-pikir lagi, sayang juga kalau nggak di-up padahal udah ditulis wkwkwk


So, yeah, silakan nikmati apa yang ada.


Aku mau jemput Baskara dan kawan-kawan dulu, bye!!!


It's a nightmare.


Samara Jasmine tidak pernah menyangka bahwa kelancangannya mengusik hidup seorang Seraphina Lazuardy akan membawanya ke dalam sebuah mimpi buruk yang menyeramkan. Hari demi hari yang dia lewati sejak selembar kertas dokumen kepemilikan apartemen dan juga kunci mobil diserahkan kepada dirinya, Jasmine merasa hidupnya tak lagi tenang. Berbagai macam teror mulai berdatangan, membuatnya terpaksa menenggelamkan diri dari hadapan orang-orang, meringkuk di balik selimut tebal di unit apartemennya yang lama demi menghindari seseorang yang dia tahu sedang menargetkan dirinya.


“Saya bisa kembalikan semuanya.” Tawarnya pada suatu malam. Pikirnya, ini hanya soal Sera yang tidak terima hartanya diporoti oleh gadis licik seperti dirinya.


Padahal sudah jelas dia salah besar. Uang bukan apa-apa untuk Seraphina, maka semua yang dia lakukan kepada Jasmine adalah bentuk penebusan untuk kelancangan yang telah gadis itu perbuat.


Silalam mengusik hidup Seraphina, maka kalian akan mati. Memang sudah begitu aturannya, tanpa terkecuali.

__ADS_1


Tawaran jelas ditolak, membuat Jasmine semakin gemetaran di dalam selimut tebal dan di tengah kondisi kamarnya yang gelap gulita. Melalui jendela kaca besar di hadapan, Jasmine tahu seseorang sedang mengintai, berdiri di seberang jalan dengan teropong yang mengarah tepat ke kamarnya. Jika bukan teropong, benda yang sedang seseorang itu pegang kemungkinan malah senjata laras panjang, dan ia sedang mempersiapkan diri untuk meledakkan peluru tepat ke kepala Jasmine yang sendirian.


Tapi nyatanya, malam itu tidak terjadi apa-apa. Jasmine masih hidup sampai keesokan harinya. Meski harus melewati malam yang mencekam dan sama sekali tidak mampu memejamkan mata, Jasmine masih bisa merasakan paru-parunya mendapatkan asupan oksigen yang cukup.


Dan apakah semuanya berhenti hanya sampai di sana? Tentu saja tidak. Siang ketika matahari bersinar malu-malu karena mendung sempat tandang walau tidak sampai menurunkan hujan, seseorang yang beberapa hari terakhir mengintainya datang berkunjung. Tidak perlu repot-repot membukakan pintu, karena seseorang itu rupanya sudah memiliki akses masuk ke dalam unit apartemennya yang bahkan tidak pernah dimasuki siapapun selain dirinya.


“Pilihannya cuma dua,” kata seseorang itu, yang adalah seorang pria bertubuh tinggi tegap. Jasmine tidak bisa melihat seperti apa rupanya karena pria itu mengenakan masker dan topi berwarna hitam. Yang jelas, suara berat itu saja sudah mampu membuat Jasmine bungkam.


Masih di dalam balutan selimut yang seakan telah menjadi cangkang baru untuk tempatnya berlindung, Jasmine berusaha mendengarkan apa yang kemudian pria itu katakan. Tubuhnya gemetar, kepalanya pusing bukan main, tapi Jasmine dipaksa untuk tetap membuka telinga karena katanya, pria itu tidak suka mengulangi kalimatnya.


“Kamu mau mati dengan ini,” seraya mengeluarkan sebuah Glock Meyer dari saku jaket kulit dan meletakkannya ke atas meja. “Atau ini.” Sambungnya, seraya menunjuk botol obat penenang milik Jasmine yang entah bagaimana bisa sampai di tangannya.


“S-saya akan lakukan apapun, tapi—“


“No.” Sela si pria. “Nggak ada pilihan untuk kamu tetap hidup, Jasmine. Kamu tahu saya nggak suka mengulangi ucapan saya, jadi cepat pilih selagi saya berbaik hati. Atau,” si pria bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Jasmine seraya membawa 2 benda yang dia tawarkan kepada Jasmine sebelumnya. “Kamu mau saya yang memilihkan?”


Dengan begitu saja, tangis Jasmine pecah. Dia terisak-isak dengan tubuh yang kian gemetar. Namun dia jelas tahu bahwa sebanyak apapun tangis yang dia luapkan, tidak akan membuat pria menyeramkan itu luluh.

__ADS_1


“Mau yang mana, Jasmine? Jangan buang-buang waktu saya. Cuma dengan kamu mati, hidup ibu kamu terselamatkan. Ayo, cepat pilih.”


Jasmine bukan anak yang berbakti, dia tidak akan dengan bangga mengatakan itu. Tapi kalau harus diberi pilihan siapa yang harus mati lebih dulu, dia akan selalu dengan senang hati memilih dirinya sendiri. Ibunya sudah terlalu banyak menanggung sakit, jadi setidaknya dia ingin ibunya hidup lebih lama agar bisa mereguk bahagia lebih sering.


Maka siang itu, dengan tangis yang semakin menjadi-jadi dan dada yang sesak bukan main, Jasmine memilih botol obat penenang sebagai caranya untuk mati.


Tidak ada tawa pongah yang menggema dari pria di hadapannya, tapi dari sorot matanya yang mengintip di sela-sela topi yang diturunkan, ia tahu pria itu sedang tersenyum penuh kemenangan.


Begitulah hidup Jasmine berakhir, di tangan pria asing yang sampai ketika dia menutup matanya pun, hanya diam memandangi bagaimana busa mulai keluar dari mulutnya dan berderap pergi setelah memastikan dia mati.


Yang tidak Abraham tahu hari itu adalah fakta bahwa Jasmine telah menyiapkan bom waktu yang akan membuat segalanya hancur lebur. Ia dan Sera sudah cukup puas melihat bagaimana perempuan itu ketakutan, hingga lalai dan tak menyangka bahwa Jasmine telah mempersiapkan sesuatu untuk membuat mereka hancur bersama-sama.


Beberapa jam sebelum Abraham datang berkunjung, Jasmine mengeluarkan file salinan dari rekaman suara yang dia dapatkan sebelumnya. Dalam keadaan panik setengah mati, dia mengatur file itu sedemikian rupa agar bisa terkirim kepada Fabian dan Baskara dalam beberapa hari ke depan.


Karena setidaknya, kalau harus mati, dia tidak akan mati sendirian.


“Semoga Anda juga terbakar habis di neraka, Nyonya Seraphina Lazuardy yang terhormat.” Pesan terakhir yang Jasmine ucapkan setelah berhasil menjalankan rencananya. Setelah itu, dia menghapus semua file rekaman yang dia miliki, bersiap menyambut ajalnya yang akan datang sebentar lagi.

__ADS_1


"Katanya, yang punya uang memang selalu menang. Makanya, dewasa nanti, aku mau jadi super super kaya biar bisa menang juga. Siapa tahu aja, kan, uang yang aku punya juga bisa ngebeli ayah biar dia balik ke kami lagi?" —Samara Jasmine.


__ADS_2