Taruhan

Taruhan
Brothers


__ADS_3

Langit berwarna violet ketika anggota Pain Killer akhirnya memutuskan untuk keluar dari sarang, setelah sebelumnya mereka menghabiskan waktu untuk berteriak heboh karena si Biru Avatar akhirnya membalas pesan mereka.


Walaupun isi balasannya cuma sesingkat, siapa, tanpa tanda baca apapun di belakang. Tetapi, bukankah itu tetap bisa dikatakan sebagai sebuah pencapaian?


Mereka pikir itu adalah awal yang bagus. Setidaknya, si Biru Avatar sudah mau membalas pesan mereka dan mereka bisa memikirkan langkah selanjutnya.


Balasan pesan dari si Biru Avatar juga sudah mereka balas. Sekarang, tinggal menunggu respon lain yang akan mereka terima selanjutnya.


Reno dan Juan berjalan lebih dulu, sementara Fabian dan Baskara sengaja melambatkan ayunan langkah mereka karena ada sesuatu yang perlu mereka obrolkan hanya berdua.


"Bokap lo pulang?" tanya Fabian lagi, memastikan kembali bahwa pesan yang dikirimkan oleh Baskara kepadanya subuh tadi bukanlah pesan yang salah kirim ataupun drunk text seperti yang biasa pemuda itu kirimkan saat sedang hangover.


"Kaget kan lo? Sama, gue juga kaget. Saking kagetnya, gue sampai ngira kalau gue udah mulai sinting." Baskara tersenyum miris. Padahal seharusnya kepulangan Jeffrey membuatnya senang, tetapi saking lamanya lelaki itu mengembara bagai Bang Toyib, Baskara jadi berulang-ulang kali mempertanyakan kewarasannya sendiri.


"But nothing happened, right? Maksud gue, lo sama bokap lo nggak terlibat adu mulut or something?" Fabian mulai agak khawatir, takut telah terjadi sesuatu antara Baskara dan ayahnya.


Baskara menggeleng, masih mempertahankan senyum miris di bibirnya. "Gue nangis, Bi." Akunya, sembari mengingat lagi momen ketika dia menangis tersedu-sedu seperti seorang anak gadis yang baru saja diputuskan oleh cinta pertamanya.


"For the first time in forever, gue nangis udah kayak orang gila. Untung Mama nggak kebangun, atau mungkin kebangun sih, tapi pura-pura nggak tahu aja."


"Nggak ada yang salah dari reaksi lo," Fabian menghentikan langkahnya, tidak peduli lagi pada sosok Reno dan Juan yang bahkan sudah menghilang di balik belokan.


"Di sini sakit, kan?" tangan Fabian terangkat, telapaknya didaratkan di dada bidang Baskara yang sebelah kiri. "Sesak, penuh, sakit. Lo ngerasain itu semua di satu waktu, sampai ada momen di mana lo berharap kalau semua yang terjadi sama hidup lo hanyalah mimpi."


Baskara menatap tangan Fabian di dada kirinya, lalu dia malah terkekeh, membuat Fabian yang sedang dalam mode serius seketika menarik tangannya dan mulai melotot seperti biasa.


"Gue lagi serius, ya, bangsat!" omel Fabian.


Baskara menyelesaikan kekehannya, mengatupkan bibir rapat-rapat sebelum ujung-ujungnya dia tarik ke atas membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


"Gue cuma tiba-tiba kepikiran aja, gimana jadinya kalau kita ini bersaudara."


"Kenapa emangnya kalau kita bersaudara?" tanya Fabian, sedikit melupakan kekesalannya dan mulai tertarik pada pemikiran random apa lagi yang akan Baskara lontarkan.


"Gonna be fun, I guess. Kita bisa saling merangkul buat ngelewatin masa-masa sulit kita. Lo bisa peluk gue dan bilang nggak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja begitu juga sebaliknya, gue bisa melakukan hal-hal yang lo lakukan ke gue dan kita bisa berbagi lebih banyak hal."


Baskara itu sosok yang kekanakan. Itu yang orang-orang tahu. Tapi di mata Fabian, Baskara bisa menjadi lebih dewasa ketimbang usianya.


Ada beberapa sisi dari Baskara yang terasa begitu dekat dengan Fabian, yang membuatnya seringkali seperti berkaca, karena jika dilihat lebih jauh, mereka sebenarnya adalah dua orang dengan kepribadian yang hampir sama.


Bedanya mungkin Fabian lebih jujur pada dirinya sendiri, sedangkan Baskara masih berusaha mengubur sisi dirinya yang lain di balik sifat cerianya.


"Nggak perlu jadi saudara kandung untuk gue bisa melakukan hal-hal itu ke lo, Bas." Kata Fabian, setelah cukup lama terpaku pada manik Baskara yang entah kenapa terlihat lebih pekat ketimbang biasanya.


"Gue bisa melakukan hal-hal yang lo sebutkan tadi, bahkan lebih."


Melihat raut wajah Fabian yang serius, Baskara kembali terkekeh. Beberapa tepukan dia daratkan di bahu pemuda itu, kemudian dengan gaya manja andalannya, Baskara menggamit lengan Fabian dan menuntunnya untuk jalan beriringan.


"Gue serius soal yang tadi," ucap Fabian di tengah-tengah langkah mereka.


"I know, I know." Baskara manggut-manggut, masih mempertahankan kepalanya agar tetap berada di posisi nyaman di bahu Fabian.


Beberapa mahasiswa yang masih berseliweran di area kampus sontak menatap Baskara dan Fabian, kemudian cuma bisa geleng-geleng kepala pelan.


Kalau ini orang lain, mereka bisa berpikir kalau Fabian dan Baskara adalah pasangan homoseksual. Tetapi karena ini adalah Fabian dan Baskara, maka pemikiran itu tentu saja langsung ditendang keluar dari dalam kepala sebab mereka tahu bagaimana reputasi Baskara yang telah tidur dengan berbagai macam wanita.


Mengabaikan tatapan yang dilemparkan ke arah mereka, Fabian dan Baskara terus melangkah. Sampai akhirnya mereka tiba di parkiran, di mana Juan dan Reno sudah nangkring di atas kap mobil Fabian sembari nyebat.


Fabian berdecak sebal kala mendapati abu rokok berjatuhan ke atas kap mobil. Selain karena bahaya, abu-abu itu juga telah mengotori kap mobilnya yang semula kinclong. Memang dua temannya itu agak tidak tahu diri!

__ADS_1


"Turun lo pada dari mobil cowok gue!"


Reno dan Juan yang semula belum sadar akan kehadiran Baskara dan Fabian sontak mengangkat kepala. Keduanya memicingkan mata ke arah Baskara yang barusan bicara dengan nada yang dibuat-buat (dan itu super menjijikkan), sebelum melompat turun dari atas kap mobil secara bersamaan.


"Pantes lama, ML dulu ya lo berdua?" sindir Reno, sembari memandangi Fabian dan Baskara dari ujung kepala sampai ujung kaki mereka.


"ML matamu! Gue masih doyan perempuan!" seru Fabian, merasa tidak terima dituduh sebagai kaum pelangi cuma karena congor Baskara yang asal-asalan.


"Lo masih doyan perempuan? Yakin?" Juan ikut-ikutan meledek. Dengan senyum khas yang membuat mata sipitnya menghilang, Juan berjalan mendekat, menoel-noel lengan Fabian hingga membuat pemuda itu semakin kesal dan menepis tangannya kasar.


"Oooh, jadi yang boleh pegang-pegang cuma Ayang Baskara aja nih? Gue sama Reno nggak boleh?" goda Juan, membuat Reno yang sedang mengisap rokoknya seketika terbatuk-batuk karena tersedak asap rokoknya sendiri.


"Nah, kan, mampus." Kata Fabian. Pelan, datar, namun begitu menusuk.


Setelah itu, Fabian melepas paksa pelukan Baskara di lengannya, membuat pemuda itu memberengut dan menampakan raut wajah manja yang demi Tuhan sangat menjijikkan dan nyaris membuatnya muntah.


"Kok aku dihempas, sih, Sayang?" Baskara dengan tingkah konyolnya yang semakin membuat Reno dan Juan terbahak-bahak.


"Stop, ya, Bas!" Fabian meraup wajah Baskara ketika pemuda itu hendak nyosor ke arahnya.


"Lo kalau nggak stop, gue lempar ke tengah jalan biar ditabrak truk tronton!" ancam Fabian, namun Baskara sama sekali tidak takut. Pemuda itu malah semakin memonyongkan bibirnya dan hendak menyasar pipi tirus Fabian.


"Bas!"


"Bajingan! Gue masih normal!"


"Baskara!"


"Brengsek! Gue patahin leher lo, ya!"

__ADS_1


Ha ... ini yang katanya geng paling disegani di kampus? Kok kelakuannya absurd begini?


Bersambung


__ADS_2