Taruhan

Taruhan
Kekacauan di Pagi Hari


__ADS_3

Subuhnya mengutuk kelakukan Sabiru dan Baskara, paginya malah melajukan mobil menuju apartemen sang gadis. Entahlah, mungkin predikat manusia paling plin-plan abad ini memang pantas disematkan untuk seorang Arkafabian Syailendra. Entah apa pula yang ada di otaknya ketika ia berjalan begitu sangai menyusuri lorong apartemen yang sepi, sambil menenteng kantong belanja berisi beberapa bahan makanan yang baru dia beli dari supermarket terdekat.


Untuk tetap menjaga sopan santun, Fabian memutuskan memencet bel alih-alih memasukkan kode keamanan di pintu dengan lancang. Tidak banyak-banyak, cuma tiga kali ia memencet bel lalu menunggu dengan anteng di depan pintu sambil iseng menghitung mundur mulai dari 20.


Tapi, sampai sudah habis hitungan mundurnya, pintu di hadapannya tak kunjung dibuka juga. Apakah Sabiru masih tidur sehingga tidak bisa mendengar bunyi bel yang nyaring? Atau ... jangan-jangan gadis itu memang sedang tidak ada di dalam apartemennya? Apa yang harus Fabian lakukan selanjutnya? Haruskah ia menelepon? Atau langsung putar balik saja dan mengurungkan niat untuk mengisi kulkas gadis itu yang telah kosong?


Ha ... semenjak tahu kalau Sabiru memiliki relasi dengan Baskara, ia jadi tidak bisa memutuskan sesuatu dengan mudah. Ia tidak bisa lagi asal menerobos masuk ke dalam untuk memastikan apakah gadis itu baik-baik saja di dalam sana. Karena, selalu ada bayang-bayang wajah Baskara yang mengamuk di pelupuk matanya tiap kali ia bergerak mendekat ke arah Sabiru.


"Kan, anjing." Umpatan itu ia tujukan kepada dirinya sendiri. Sudah tidak tahu lagi harus apa, ia memutuskan untuk memencet bel sekali lagi. Kalau tidak dibuka, maka ia akan segera putar balik dan meletakkan belanjaan itu di depan pintu apartemen Sabiru. Biar saja gadis itu membereskannya sendiri nanti.


"Gue hitung sampai tiga, kalau nggak muncul juga gue bakal ba—" ucapannya terputus kala pintu di depannya terbuka lalu menampakkan sosok Sabiru dengan rambut acak-acakan bagai tidak pernah disisir selama hidup. "lik." sempat-sempatnya Fabian melanjutkan kalimatnya yang tinggal sedikit, sebelum akhirnya mengembuskan napas lega.


"Lo baru bangun?" tanyanya sambil memindai penampilan sang gadis. Ripped jeans, kaus lengan pendek warna hitam dan jam tangan. Nope. Itu bukan outfit seseorang yang baru bangun tidur. Gadis itu jelas sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Tapi ... ada apa dengan rambutnya? Kenapa acak-acakan begitu?


"Kenapa lo pagi-pagi ke sini? Butuh apa, hmm?" tanya sang gadis sambil merapatkan tubuhnya ke depan, berusaha menutup kembali pintu di belakangnya seolah sedang menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin Fabian mengetahuinya.


Gerak-gerik Sabiru yang seperti itu jelas membuat Fabian semakin curiga. Sepertinya memang telah terjadi sesuatu, dan demi Tuhan dia penasaran sekali apa itu?


"Lo habis ngapain sih? Rambut lo acak-acakan banget kayak singa." Selidik Fabian. Di sini, dia mulai sedikit melupakan fakta bahwa ia dan Sabiru hanya pura-pura berpacaran. Dalam beberapa kesempatan, dia memang suka lepas kendali. Beruntung saja sekarang dia tahu kalau Sabiru adalah orang yang tidak boleh dia sentuh, jadi kontrolnya agak sedikit lebih baik. "Habis berantem sama kecoa?"


"Baru mau sisiran! Iya, gue baru mau sisiran. Tadi habis keramas." Cengiran yang mencurigakan terbit setelah sebuah jawaban yang dikatakan dengan nada tinggi yang aneh, jelas membuat Fabian tak bisa percaya begitu saja. Ia malah semakin menyuguhkan tatapan menyelidik ke arah gadis di depannya itu.


"Lo belum jawab pertanyaan gue. Ada perlu apa pagi-pagi ke sini?" itu jelas pengalihan isu, Fabian tahu. Tapi mengingat jam sudah menunjukkan pukul 9 dan ia harus cepat-cepat membereskan urusan kulkas Sabiru sebelum kelas pertamanya mulai jam 10.45 nanti, maka Fabian tidak meladeni upaya pengalihan isu itu dan malah menerobos masuk ke dalam apartemen sang gadis.


Kantong belanja yang penuh ia bawa menuju dapur, diletakkan ke atas counter untuk kemudian isinya ia bongkar lalu dipindahkan ke dalam kulkas satu persatu.


Selagi Fabian sibuk menata bahan makanan di kulkas, Biru berdiri tidak tenang di belakangnya. Berkali-kali ia menoleh ke arah kamarnya sendiri, di mana Baskara sedang bersembunyi. Dalam hati cuma bisa berkali-kali merapalkan doa, semoga Fabian tidak curiga.


"Ini es krim kenapa begini bentuknya, sih?"


Biru menoleh ke arah Fabian. Pemuda itu menyuguhkan es krim cone rasa cokelat yang baru dihabiskan setengah. Setengahnya lagi ditinggalkan begitu saja seakan orang yang memakannya terburu-buru pergi ke suatu tempat sebelum ketahuan.


"O-oh, itu ... gue tiba-tiba mules pas lagi makan itu es krim, makanya gue tinggalin karena gue harus ke toilet." Biru menjawab dengan alasan yang paling pertama muncul di kepalanya. Masa bodoh lah Fabian akan percaya atau tidak.


"Jorok banget anjir. Ini cokelatnya jadi meleleh ke mana-mana, ngotorin freezer."


Tak Biru hiraukan omelan Fabian yang berlanjut ke hal-hal lain. Sisa makanan yang tak habis, tomat busuk yang lupa dibuang, minuman kaleng yang tumpah ke mana-mana. Semuanya pemuda itu komentari. Ya, ya. Biru memang sejorok itu. Jadi dia tidak akan berkomentar balik.


"Lo kayaknya harus hire ART sih buat urusin apartemen lo." Usul Fabian setelah membereskan semua kekacauan yang Biru buat dengan kulkasnya


Mendengar usulan itu, Biru berdecak. "Kalau duit gue sebanyak itu sampai bisa hire ART, gue pasti nggak tinggal di apartemen budget kayak gini, Fabian."

__ADS_1


Ya. Benar juga. "Kalau gitu, belajar beres-beres rumah! Anak perawan nggak boleh jorok, nanti susah jodoh!"


"Ih, sumpah, ya. Lo tuh mirip banget sama emak-emak! Gue curiga Tuhan aslinya mau bikin lo lahir jadi perempuan, cuma nggak jadi karena satu dan lain hal!"


Pintu kulkas yang semula masih terbuka lebar, tiba-tiba saja Fabian tutup dengan gerakan agak membanting, membuat Sabiru yang masih berniat untuk nyerocos lantas mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Pemuda itu kemudian berjalan mendekat, melayangkan tatapan mengintimidasi hingga membuat sang gadis terpaksa berjalan mundur. Terus mundur sampai punggung sempitnya membentur dinding dapur yang dingin.


"Lo tuh kalau dikasih tahu, dengerin aja, jangan kebanyakan nyahut." Ucap Fabian, dari jarak hanya satu jengkal di depan wajah Sabiru. "Bandel." Lanjutnya, disusul sebuah sentilan pelan di dahi sang gadis.


Puas mendaratkan sentilan, Fabian bergerak mundur. "Semuanya udah gue tata, jangan lo berantakin lagi. Sekarang gue harus ke kampus, nanti sore gue ke sini lagi buat ajarin lo masak." Kata Fabian, kemudian ia berlalu dari hadapan Sabiru tanpa mengatakan apa-apa lagi.


"Waahhh ...." cuma itu yang bisa Sabiru gumamkan saking tidak percayanya ia bahwa keningnya baru saja disentil oleh Fabian dan pemuda itu melenggang pergi begitu saja tanpa sedikit pun rasa bersalah.


...****************...


Yang terjadi sebelum Fabian datang....


"Mau ke kampus bareng?" tawar Baskara sambil menggigiti es krim cone rasa cokelat yang dia curi dari dalam kulkas.


Sabiru yang sedang menuangkan air ke dalam gelas, praktis menoleh ke arah pemuda yang kini nangkring di atas meja makan dengan santainya itu. "Itu namanya nyari mati." Ucapnya sambil mendelik.


Baskara malah tergelak, membuat tubuhnya bergetar sehingga es krim cone yang sudah mulai meleleh berjatuhan mengotori kaus yang pemuda itu kenakan. Hal itu membuat Biru berdecak sebal. Mau tak mau, ia tinggalkan niatnya untuk minum, lantas bergerak menarik beberapa lembar tisu lalu mengulurkannya kepada Baskara.


Alih-alih diterima, tisu itu malah dibiarkan menggantung di udara. "Ambil. Bersihin." Titahnya. Namun Baskara tetap tak kunjung mengambilnya, pemuda itu malah menatapnya cukup lama, membuat hawa panas perlahan-lahan merambati pipi Biru—entah karena apa.


Entah karena kesal, atau semakin merasa salah tingkah, Biru membalikkan badan dan berniat untuk pergi meninggalkan Baskara yang menyebalkan. Tetapi belum sempat kakinya terayun, tubuhnya sudah dibuat terhuyung ke belakang kala lengannya ditarik pelan oleh Baskara. Ending-nya ia kembali dibawa ke hadapan sang pemuda, dipaksa beradu tatap dengan manik matanya yang kelam nan memabukkan.


"Tolong bersihin dong." Bisik Baskara tidak tahu malu. Es krim yang tadi sudah digeletakkan begitu saja di atas meja. Sebab kini kedua tangan pemuda itu telah mendarat di kedua sisi kepala Sabiru, seakan memaksa agar gadis kecintaannya itu tidak melarikan diri ke mana pun.


"Ogah." Biru berusaha menepis tangan Baskara, namun ia malah berakhir dibuat membeku kala pemuda itu bergerak memajukan wajahnya.


Gerakannya begitu tiba-tiba, hingga Biru tidak punya waktu untuk menghindar. Tahu-tahu saja, hidung mancung mereka sudah saling bersentuhan. Aroma cokelat menguar begitu bebas, menelusup masuk ke dalam indera penciuman Sabiru hingga tak ada bebauan lain yang bisa ia endus.


Biru merasakan jantungnya berdetak kencang seiring dengan lebih banyak embusan napas hangat milik Baskara yang menerpa wajahnya. Salahnya, ia malah semakin dalam menatap manik kelam pemuda itu. Sehingga kini, ia sepenuhnya kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.


"Can I kiss you?" tanya Baskara tiba-tiba. Aroma cokelat semakin terasa pekat, sampai-sampai biru seakan bisa merasakannya tepat di ujung lidahnya sendiri.


Tak ada jawaban yang diterima, maka Baskara berniat menyimpulkan keterdiaman itu sebagai sebuah iya. "I'll kiss you, then. Kalau nggak suka, dorong gue yang kencang." Lalu tidak ada lagi kalimat yang keluar karena bibirnya mulai sibuk menjelalah milik Sabiru.


Baskara bergerak pelan-pelan. Menyentuh setiap sisi bibir sang gadis dengan penuh perasaan. Hanya ada kerinduan yang tertuang dari setiap sentuhan yang ia berikan—yang dalam beberapa detik di awal, sama sekali tidak mendapatkan balasan.

__ADS_1


"It's always you," bisik Baskara di tengah sesapan yang ia buat. Setelahnya, entah sudah terbawa suasana, atau Sabiru akhirnya telah memutuskan untuk memberikan ia satu kesempatan lagi, Baskara merasakan gadis itu mulai membalas ciumannya.


Bibir mereka beradu dalam tempo yang konsisten. Saling menyesap, saling mencecap. Rasa cokelat dari lidah Baskara lama-lama bercampur dengan rasa mint dari pasta gigi yang Sabiru pakai. Perpaduan yang kemudian menciptakan rasa baru yang semakin membuat mereka seakan melayang-layang di udara.


"Fu*ck!" Sabiru merutuk dalam hati. Ke mana perginya dendam yang ia tanam begitu subur di dalam hati selama ini? Kenapa kini ia malah terbuai, dan seakan tidak ada hal lain di muka bumi ini yang bisa membuatnya mabuk selain bibir Baskara? Tidak tahu! Jangan tanyakan apapun padanya saat ini, karena kepalanya terasa kosong sekarang.


Semakin lama, mereka semakin tenggelam dalam permainan. Rambut Sabiru sudah acak-acakan karena tangan Baskara masih saja bersemayam di kepalanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti ritme ciuman. Kaus yang Baskara kenakan juga sudah berubah kusut karena tangan-tangan nakal Biru meremasnya kuat demi menyalurkan perasaan yang membuncah di dalam dada.


Mereka tenggelam, terlalu dalam tanpa tahu bagaimana caranya kembali ke permukaan.


Sampai kemudian, bel yang berbunyi nyaring seakan menyentak mereka untuk segera kembali ke tempat semula. Sebelum ombak besar datang dan menggulung mereka semakin dalam ke dasar laut yang gelap nan mencekam.


Sabiru menarik diri dari Baskara dan tautan mereka pun otomatis terlepas. Dengan napas yang sama-sama naik turun, mereka saling pandang.


"Siapa?" tanya Baskara kala napasnya baru terkumpul setengah.


Sabiru menggeleng pelan, belum mampu menjawab karena napasnya masih payah.


Bel terdengar sekali lagi, lebih nyaring karena sepertinya seseorang yang berdiri di depan pintu sana sengaja menekannya agak lama.


Barulah di sana, Biru terpikirkan satu nama. Fabian. Tidak ada orang lain yang mungkin akan menyambanginya pagi-pagi begini kalau bukan pemuda itu.


"Bas," ucapnya pelan seraya menatap horor ke arah pintu depan.


"Apa? Kenapa?" Baskara ikut-ikutan menatap ke arah pintu.


"Kayaknya ... itu Fabian, deh."


"HAH?!" Baskara terlonjak. Ia melompat turun dari atas meja makan dengan terburu-buru. "Serius? Terus gimana?"


Biru menggigit kuku jari telunjuk sambil berpikir apa yang harus mereka lakukan sekarang. Lalu, tanpa aba-aba, ia menarik lengan Baskara kemudian menyeretnya masuk ke dalam kamar.


"Heh!" Baskara hendak protes, namun Sabiru cepat-cepat menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri.


"Jangan berisik. Lo sembunyi dulu di sini. Biar gue pastiin itu beneran Fabian atau bukan." Kemudian, Biru menutup pintu kamar dan cepat-cepat berlari ke arah pintu.


Sebelum menuju pintu, ia melipir sebentar ke meja makan, memungut es krim milik Baskara kemudian memasukkannya asal ke dalam freezer.


Sabiru pikir, menyembunyikan Baskara dan es krim yang masih tersisa saja sudah cukup. Ternyata ia lupa untuk membenahi penampilannya sendiri yang acak-acakan.


Ada-ada saja!

__ADS_1


Bersambung


Oke, ini absurd banget. Kenapa Biru bisa langsung luluh sama Baskara? Nggak tahu, tanya aja sama Biru sendiri. Aku capek. Bye!


__ADS_2