Taruhan

Taruhan
Sandiwara


__ADS_3

Memasuki hari ke-dua dari tiga hari yang diberikan oleh ibunya, Baskara mulai merasa seperti di penjara. Sekarang ibunya tidak hanya melarang dirinya untuk keluar dari kamar rawat, tetapi juga melarang siapapun datang menjenguk termasuk anggota Pain Killer dan si cantik Sabiru.


Entah apa yang menjadi motivasi bagi ibunya melakukan hal tersebut, karena saat ia bertanya, ibunya hanya menyuruhnya untuk menurut. Barangkali hanya ada satu poin plus dari keputusan ibunya itu, yaitu hilangnya kesempatan si ular Jasmine untuk bergelendot di sisinya.


“Mama mau pergi lagi?” tanyanya kepada sang ibu yang tampak sedang bersiap-siap memasukkan ponsel ke dalam tas jinjing.


“Iya, ada urusan sebentar. Kamu di sini aja sama Papa, yang anteng.” Kata sang ibu dalam satu kali tarikan napas. Lalu perempuan itu berlalu dari hadapannya, berjalan terburu-buru menuju pintu tanpa sepatah pun kata pamit kepada sang suami yang duduk di atas sofa dan sedari tadi mengamati setiap pergerakannya.


Atmosfer yang ditinggalkan oleh sang ibu tentu saja tidak baik. Baskara bisa merasakan ketidaknyamanan yang tampak jelas dari raut wajah sang ayah, yang kemudian membawanya pada ingatan tentang percakapan kedua orang tuanya itu semalam.


Ia sedang setengah terbangun dari tidur ketika merasakan tangan sang ibu membelai setiap sisi wajah, rambut, dan juga bahunya. Lalu percakapan yang terjadi antara ibu dan ayahnya membuat kesadaran yang ia miliki sepenuhnya kembali. Dari sana juga ia akhirnya tahu bahwa permasalahan apapun yang terjadi antara ayah dan ibunya sama sekali belum sampai pada kata usai, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap berpura-pura tidur sambil mendengarkan lebih banyak hal yang menyakitkan.


Bagaimana ibunya menyebutnya sebagai anak aku alih-alih anak kita juga menjadi bagian paling menyakitkan untuk didengar. Seakan perempuan itu sebenarnya telah memantapkan niat untuk mengakhiri segalanya, namun keputusannya selalu berakhir dengan bertahan karena dirinya. Hal itu membuat Baskara merasa bersalah, berpikir bahwa menghilangnya ia dari jarak pandang mereka mungkin bisa menjadi salah satu solusi terbaik yang bisa dia tawarkan.


Ah, seandainya saja Fabian menyetujui ajakannya untuk kabur ke luar negeri bersama …


“Kamu bosan?”


Lamunan Baskara buyar seketika. Skenario lain yang baru dia coba susun juga kabur berantakan ketika suara berat sang ayah mengudara. Ia mendapati lelaki itu tahu-tahu sudah berjalan ke arahnya, dengan satu tangan yang masuk ke dalam saku celana sebagai salah satu ciri khas yang membuatnya masih terlihat muda di usianya yang hampir setengah abad.


“Mau keluar?” tanya ayahnya lagi, padahal pertanyaan yang pertama saja belum ia jawab.


Alih-alih menganggukkan kepala, Baskara malah menghela napas berat. Ia lalu  meletakkan bantal dengan posisi tegak, menjadikannya alas untuk bersandar bagi punggungnya karena headboard ranjang pasien miliknya sudah mulai terasa keras.

__ADS_1


“Dan dapat ekstra tambahan hari lagi? Big no, Papa. Baskara udah bosan setengah mati dan mau cepat-cepat keluar dari sini.” Celotehnya. Ia tahu keputusan ibunya adalah vonis yang bahkan lebih berbahaya daripada vonis hukuman mati untuk narapidana kejahatan serius. Kalau vonis itu ditentang, atau dia berusaha mengajukan banding sebagai bentuk negosiasi, ia hanya akan mendapatkan vonis yang lebih berat sebagai gantinya.


“Kamu keluarnya sama Papa, jadi harusnya nggak apa-apa.”


Baskara menggelengkan kepala. “Baskara nggak mau ambil resiko. Papa juga tahu sendiri gimana seramnya Mama kalau udah marah,” ucapnya lirih. Ibunya jarang marah, tetapi sekalinya emosi perempuan itu meledak, bumi pun rasanya bisa dibuat hancur dalam sekejap. Tentu Baskara tidak punya nyali sebesar itu untuk memancing amarahnya.


“Terus kamu mau diam aja di sini?”


Itu bukan sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, sebenarnya. Namun Baskara tetap dengan lapang dada berkata, “Ya mau gimana lagi?” dengan nada super menyedihkan.


Ayahnya bukan tipikal yang pandai menghibur menggunakan kata-kata, Baskara jelas tahu itu. Jadi ketika ayahnya tidak lagi berbicara dan malah mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan pemantik, lalu menyodorkan dua benda itu kepadanya, Baskara sudah sangat senang. Ia tidak bisa berharap terlalu banyak.


“Tapi di sini nggak boleh ngerokok,” ucapnya, meskipun pada akhirnya ia tetap menarik satu batang rokok dari bungkus yang terbuka.


“Selama nggak ketahuan, seharusnya oke-oke aja.” Jeffrey berkata enteng. Ia juga mengambil satu batang rokok, menyelipkannya di antara belah bibir tebal lalu tanpa ragu menyalakan pemantik.


Saat itu, usianya baru menginjak 13 tahun dan ia merupakan siswa SMP. Sebagai remaja tanggung yang rasa penasarannya masih sangat tinggi, ia pernah satu kali coba-coba merokok. Ia ingat betul, itu adalah hari Jumat di mana ayahnya pulang kerja larut malam. Kebetulan, ia baru saja terjaga karena sebuah mimpi buruk yang datang membuat dirinya tidak bisa kembali terlelap dalam waktu cepat.


Di ruang tamu, ia melihat ayahnya menyedot rokok miliknya dalam-dalam, terlihat begitu khidmat menikmati asap yang keluar masuk organ pernapasannya. Karena penasaran, ia pun dengan polosnya meminta sang ayah untuk mengajarinya cara merokok yang benar agar asap-asap pekat itu tidak membuatnya tersedak.


Dan, ayahnya setuju. Lelaki itu betul-betul mengajarinya, dari yang awalnya dia masih terbatuk-batuk sampai kemudian mulai sedikit terbiasa.


“Papa ajarin kamu cuma biar kamu tahu gimana rasanya ngerokok kayak orang dewasa. Tapi bukan berarti kamu boleh ngerokok mulai dari sekarang,” kata ayahnya waktu itu. “Tunggu sampai kamu dewasa. Paling nggak, sampai kamu punya KTP dan bisa pergi ke mana-mana sendiri tanpa bantuan Papa dan Mama.”

__ADS_1


Wejangan itu Baskara simpan apik di kepala, dan dia benar-benar melakukannya. Ia tidak menyentuh rokok sejak malam itu, sampai kemudian dia mendapatkan KTP dan juga SIM sebagai tanda bahwa dia bukan lagi bocah ingusan yang seluruh kegiatannya masih harus dengan pengawasan orang tua.


Jeffrey adalah role model untuk Baskara di masa lalu—sekarang mungkin juga masih, tapi yang dia ingin contoh adalah sikap ayahnya yang dulu, sebelum keluarga mereka terpecah-belah seperti sekarang.


“By the way, asapnya ke mana-mana.” Keluh Baskara usai kegiatan nostalgia-nya selesai. Ia menyadari asap rokok milik ayahnya telah memenuhi ruangan, membuatnya tampak seperti baru saja disemprot dengan asap pengusir nyamuk. Apa namanya? Ah, benar, fogging. Ruangan ini seperti baru saja di-fogging.


“Asapnya bakal hilang kalau ada yang buka pintu,” kata Jeffrey.


“Dan kalau itu adalah Mama, kita bakal kena hukuman.” Celetuk Baskara, kemudian ia terkekeh pelan. Perkataan dan tindakan sama sekali tidak sinkron, karena setelahnya pemuda itu malah ikut-ikutan menyulut rokoknya dan mulai mengisapnya dengan penuh penghayatan.


"Jangan lupa berdoa,” ucap Jeffrey tiba-tiba.


Baskara mengerutkan kenignya, “Buat?”


“Buat keselamatan diri kamu sendiri. Siapa tahu aja, Mama lagi dalam perjalanan balik ke sini karena ada barangnya yang ketinggalan.”


“Tanggung jawab Papa,” ucap Baskara enteng lalu kembali mengisap rokoknya. “Baskara tinggal bilang sama Mama kalau semua ini ide Papa—dan itu memang benar, kan?”


“Dasar.” Jeffrey mencibir, tapi kemudian ia tersenyum tipis.


Menit-menit selanjutnya, hanya mereka habiskan untuk mengisap rokok masing-masih sambil sesekali melemparkan candaan ala-ala anak tongkrongan. Dari yang lucu sampai yang garing, semua mereka tertawakan bersama.


Namun, di tengah tawa yang ia gaungkan keras-keras, ada ngilu yang mulai terasa di sudut hati Baskara. Sebab ia sadar bahwa interaksi yang terjadi antara dirinya dan sang ayah saat ini mungkin hanyalah sebuah sandiwara.

__ADS_1


Nggak usah banyak ngeluh, Bas. Terima aja, lo nggak bisa berharap lebih. Batinnya, lalu satu gelak tawa lagi lolos setelah mendengar lelucon lain yang ayahnya buat.


Bersambung


__ADS_2