Taruhan

Taruhan
I Want to Try Again


__ADS_3

Apa gunanya malam minggu, kalau di malam selain itu, kamu tetap bisa berkelana menyusuri jalanan dengan orang yang kamu sayang. Duduk di jok belakang dengan lengan yang melingkar di perut kekasihmu. Kepalamu bersandar di bahunya, sambil sesekali berkata “Ha?!” ketika pertanyaan dari kekasihmu tak terdengar dengan jelas sebab helm yang kalian kenakan sedikit banyak telah mengurangi daya dengar dari telinga kalian berdua. Sederhana, namun perasaan hangatnya mampu menyelimuti hati yang semula dingin karena ditinggalkan penghuninya untuk waktu yang cukup lama.


Kira-kira,begitulah yang kini Biru rasakan saat Baskara membawanya berkeliling kota Jakarta, setelah mereka mengisi perut dengan masing-masing satu porsi ketoprak.


Secara teknis, ia memang belum benar-benar setuju untuk memulai kembali hubungan pacaran dengan Baskara. Tetapi kalau ditanya apakah ia mau, maka prosentase untuk ia menjawab “Iya.” telah dipastikan lebih dari 80 persen. Mengapa begitu? Karena dia masih menyayangi bocah tengik ini, terlepas dari seberapa besar dendam yang ia bawa ke sana kemari selama beberapa tahun ini.


Bahkan setelah semua dendam, kebencian, dan amarah yang membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang baru, pemeran utama di dalam hidupnya tetap masih satu: Baskara.


Bukan. Ini bukan perkara ia yang plin-plan dengan perasaannya sendiri. Tapi lebih kepada momen di mana ia akhirnya berhenti memobohongi diri sendiri. Mungkin, kalaupun ia tidak memberikan kesempatan untuk Baskara menjelaskan sekalipun, dendam yang ia pelihara itu akan sirna juga seiring dengan intensitas mereka saling bersinggungan. Sebab dari dulu, membuatnya luluh memang tidak pernah sulit.


“Blue,”


Biru berdeham tanpa berniat mengangkat kepalanya dari bahu Baskara. Selain pelukannya, bahu pemuda itu juga merupakan salah satu tempat bersandar paling nyaman untuk Biru.


“Lo nggak ada kepikiran buat pindah dari apartemen lo yang sekarang?”


Biru tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. “Ada. Tapi nanti, kalau gue udah bisa menghasilkan duit sendiri. Sekarang hidup gue masih disokong sama Tante Maya, jadi gue harus tahu diri.”


“Gue bayarin, mau?”


Satu cubitan Biru labuhkan ke perut Baskara, membuat pemuda yang masih ia peluk pesesif itu menggeliat kesakitan.


“Libur semester ini gue rencana mau cari part time, kalau udah dapat, baru gue pindah.”

__ADS_1


“Kelamaan. Gue bayarin aja. Apartemen lo yang sekarang keamanannya minus banget soalnya, kalau dibandingin sama kos-kosan deket kampus kayaknya juga masih kalah jauh.” Baskara masih ngotot.


Biru akhirnya mengangkat kepala, kemudian beradu tatap dengan Baskara melalui kaca spion sebelah kiri. “Bayarin gue kalau lo udah bisa cari duit sendiri. Nggak usah gegayaan mau bayarin anak orang kalau hidup lo aja masih disokong sama orang tua.” Ucap gadis itu sehingga membuat Baskara mendengus.


Berhubung ia tidak memiliki argumen untuk melawan Biru, Baskara akhirnya bungkam. Namun tangannya mulai beraksi, menarik tuas gas lebih dalam sehingga motor melaju makin kencang dan membuat Biru tidak punya pilihan selain kembali memeluknya erat.


“LO KALAU MAU MATI, SENDIRI AJA!!! JANGAN AJAKIN GUE!!!” Biru memekik walaupun suaranya teredam suara bising kendaraan lain yang melintas di sekitar mereka.


Kecepatan motor perlahan-lahan kembali diturunkan, disusul satu tangannya yang lepas dari stang motor lantas merambat mengusap tangan Biru yang saling bertaut di perutnya. Sampai detik ini, rasanya masih seperti mimpi. Biru yang namanya dia gaungkan setiap saat, yang dia mimpikan setiap malam selama bertahun-tahun setelah perpisahan mereka, kini benar-benar memeluknya erat. Benar-benar berbicara lagi dengannya seperti dulu ketika hubungan mereka masih baik-baik saja.


"Bi,"


"Apa lagi?!" Biru kepalang sewot. Ketika motor sudah kembali melaju dengan kecepatan normal, ia hendak melepaskan pelukannya. Namun, tangan Baskara yang masih tak henti-hentinya mengusap miliknya menahan gerakan itu sehingga mau tak mau ia kembali menemplokkan diri di pelukan sang pemuda.


"Jangan dilepas, gue mau ngomong sesuatu yang penting, jadi lo tetap harus ada di posisi kayak gini. Soalnya, kalau lo ngejauh terus hah heh hoh mulu kayak orang niup kelomang perkara nggak dengar gue ngomong apa, feel-nya nggak akan dapat."


Baskara menggunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk menenangkan gejolak yang terasa di dadanya sebelum betulan angkat bicara. Usapan demi usapan ia labuhkan ke tangan Biru, sedangkan matanya sesering mungkin melirik ke arah sang gadis melalui pantulan kaca spion.


"Gue sayang sama lo." Merupakan kalimat pertama yang ia ucapkan dengan sangat hati-hati. "I want to try again with you," sambungnya sembari mengamati perubahan ekspresi gadis di belakangnya itu.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Bahkan sampai sembilan detik kemudian, masih tak ada sahutan dari Biru. Perubahan ekspresi pun sama sekali tak nampak di sana. Yang Baskara bisa temukan dari pantulan kaca spion sekarang hanyalah Biru yang tengah menatapnya dengan tatapan yang terlalu sulit untuk dia terjemahkan.


Sampai laju motor berhenti di depan komplek apartemen Biru sekalipun, jawaban masih tak kunjung ia terima. Membuat kegelisahannya naik secara signifikan tanpa bisa dicegah.

__ADS_1


Lengan Biru yang semula melingkar di perutnya, perlahan-lahan melonggar hingga akhirnya pelukan itu sepenuhnya lepas. Baskara hanya bisa membiarkan kekecewaannya tergaung di dalam kepala, tak berani melayangkan protes ketika Biru melompat turun dari motor dan dalam sekejap telah berdiri menatapnya.


Dilihatnya gadis itu melepas helm dengan gerakan perlahan, selagi mata mereka beradu cukup intens.


"It's a yes." Ucap gadis itu. Tapi karena Baskara terlalu fokus memandangi wajah ayu Biru, ia jadi tak bisa menangkap apa yang gadis itu katakan dengan jelas. Sehingga kemudian sebuah hah?! keluar dari bibirnya, membuat gadis di depannya berdecak sebal.


"Hah heh hoh mulu kayak niup kelomang!" Biru berseru.


"Sekali lagi." Kata Baskara sambil melepaskan helm full face yang ia kenakan agar pendengarannya bisa lebih baik. "Bilang sekali lagi. It's apa?"


Mengulangi kalimat yang sama, apalagi dengan suasanya yang sepenuhnya berbeda, adalah sesuatu yang paling tidak Biru senangi. Tapi mau bagaimana lagi, ia tetap kembali menjawab "It's a yes." setelah melenguh kesal.


"So ... kita pacaran lagi?" tanya Baskara memastikan.


Makin-makin saja rasa kesal itu memenuhi dada Biru. Rasanya masih aneh untuk membawa dirinya berada di sekitar Baskara lagi setelah sekian lama. Dendam yang ia miliki atas dasar salah paham juga sedikit banyak membuatnya merasa malu. Merasa cukup bodoh dan emosional karena tidak bisa lebih dulu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan malah membiarkan dirinya dikuasai dendam serta segala penyakit hati.


"Iya." Katanya mau tak mau. "Kita pacaran lagi. Puas lo?!" meskipun Biru mengatakan itu sambil melotot dan memberengut, tapi percayalah bahwa saat ini ia sedang merayakan perasaan senangnya sendiri.


Lalu ketika Baskara tiba-tiba mencondongkan wajah di depannya dengan senyum penuh arti, Biru tahu pemua itu sedang merencanakan sesuatu yang licik di dalam kepalanya.


"Jadi ... boleh cium?"


"NGGAK USAH KAYAK ORANG MESUM!!!" pukulan demi pukulan dilayangkan ke seluruh tubuh pemuda yang masih nangkring di atas motornya itu, namun yang diberondong pukulan hanya menerima dengan pasrah. Gelak tawa memenuhi udara, menggema bersama desir angin yang berembus kencang menyapa setiap hal yang ia temui di sepanjang jalan.

__ADS_1


Malam semakin pekat, namun hati dua anak manusia itu perlahan-lahan justru menemukan kembali terangnya, setelah sekian lama redup sebab sang empunya terbelenggu di dalam labirin luas nan gelap.


Bersambung


__ADS_2