Taruhan

Taruhan
Sinting


__ADS_3

Biru tidak menyangka kalau Fabian ternyata bisa memasak, dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah fakta bahwa rasa masakan Fabian enak. Hampir saja Biru menitikkan air mata, karena di lidahnya, rasa masakan Fabian mirip dengan milik ibunya, dan hal itu membuat kerinduannya kepada sang ibu jadi tumbuh berkali-kali lipat daripada sebelumnya.


"Makan yang banyak," Fabian menaruh satu sendok besar capcay berisi sayuran dan udang ke atas piring Biru. Kemudian, ia menyurukkan gelas yang airnya telah ia isi ulang.


Biru menerima pemberian Fabian dengan senang hati. Sendok miliknya kembali penuh dengan nasi dan capcay, kemudian ia suapkan ke mulut. Satu aturan yang tidak boleh dilanggar ketika sedang makan adalah berbicara, apalagi kalau rasa makanannya sangat enak, ia wajib hanya fokus pada makanannya saja, bukan pada hal-hal lain termasuk Fabian yang sedari tadi mengoceh panjang lebar tanpa sekalipun dia sahuti.


Sementara di sisi Fabian, ia tak henti-hentinya meloloskan senyum melihat betapa lahap Biru menyantap makanan yang ia buat. Memang tidak ada pujian yang keluar dari bibir gadis itu, tetapi dari cara Biru memperlakukan makanan buatannya saja sudah cukup membuat Fabian merasa dihargai.


Tidak ada lagi yang terdengar di meja makan selain suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Sampai kemudian, Biru menyuapkan sendok terakhir ke mulut dan mengunyah dalam gerak lambat. Seolah, ia tidak ingin bulir-bulir nasi yang bercampur dengan kuah capcay yang gurih itu lenyap begitu saja dari mulutnya. Karena ia tidak tahu kapan akan bisa merasakan masakan seperti ini lagi nantinya.


"Mau nambah?" tawar Fabian, namun Biru segera menggeleng sambil menyambar gelas berisi air putih. Air di dalam gelas ia teguk cepat-cepat, hingga akhirnya benar-benar tandas tak bersisa. "Perut gue udah penuh banget," ucapnya kemudian setelah meletakkan kembali gelas ke atas meja.


Fabian cuma mengangguk, lalu mulai bangkit dari duduknya dan mengangkut piring dan gelas kotor dari atas meja makan menuju wastafel untuk kemudian dia cuci.


Sedangkan Biru, si pemilik rumah, malah menatap Fabian sambil bertopang dagu. Dari tatapannya, terlihat jelas kalau gadis itu sebetulnya sedang terkagum-kagum pada sosok Fabian yang banyak bisanya. Berbelanja, memasak, dan bahkan mencuci piring.


Padahal dari desas-desus yang beredar di Neosantara, Fabian adalah anak dari orang berpengaruh di kampus itu. Lantas, mengapa pemuda itu bisa begitu ahli mengerjakan pekerjaan rumah tangga, yang padahal ia hanya tinggal menyuruh asisten rumah tangga untuk melakukannya?


"Lo nggak lagi berusaha pencitraan di depan gue, kan?" ocehnya tiba-tiba setelah puas hanya memandangi Fabian yang sedang mencuci piring.


Yang diajak bicara berdecak pelan, kemudian memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu dan barulah menoleh ke arah Biru dengan tatapan tidak suka. "Lo harusnya berterima kasih sama gue, bukan malah menuduh gue pencitraan." Kata Fabian sambil berjalan menghampiri Biru.

__ADS_1


"Thank you," ucap Biru sambil memutar bola mata malas. Lalu, ia menegakkan tubuhnya, hanya untuk dia condongkan ke arah Fabian yang kini duduk di seberangnya. Lagi-lagi Biru bertopang dagu, tapi kali ini dengan menggunakan kedua tangannya. "Tapi ... kok lo bisa jago banget masak, sih? Passion? Atau karena orang tua lo terlampau kaya, makanya lo jadi gabut?" rentetan pertanyaan itu keluar tanpa bisa dihentikan, membuat lawan bicaranya terpaksa sedikit menjauhkan diri.


Fabian mengempaskan punggungnya ke kursi, menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri dan melipat tangan di depan dada. "Memasak dan beres-beres rumah itu skill dasar yang semua orang harus punya, nggak peduli orang tua lo kaya atau nggak." Fabian menjawab dengan gaya savage, membuat Biru merasa tertohok karena ia yang tidak datang dari keluarga yang kaya-kaya amat nyatanya tidak memiliki skill seperti yang Fabian katakan barusan.


"Tapi lo cowok?"


"Gue bilang semua orang, Biru. Mau cowok, cewek atau transgender sekalipun, ya tetap harus punya skill dasar itu buat bertahan hidup. Cuz we never know, sampai kapan kita bisa hidup nyaman dengan fasilitas yang kita punya."


Bukannya sadar setelah ditampar dua kali, Biru malah mendengus sebal kemudian mengempaskan punggungnya keras-keras ke kursi.


"Nggak usah manyun," sela Fabian yang melihat bibir Biru mulai maju. "Gue bisa ajarin lo, kalau lo mau." Tawarnya kemudian.


Namun, tawaran itu tidak akan terlihat menarik untuk seorang Sabiru. Alih-alih antusias, Biru malah semakin memajukan bibirnya. "Nggak, makasih." Ketusnya. "Gue udah pernah belajar sama nyokap gue dulu, hasilnya malah gue di banned selamanya dari area dapur."


Tetapi kemudian Biru sadar bahwa tujuannya membawa Fabian masuk ke dalam hidupnya bukanlah untuk jatuh cinta, melainkan untuk menghancurkan manusia bernama Baskara. Jadi setiap ia hampir terpesona pada sosok Fabian, Biru akan langsung memunculkan nama Baskara di kepala untuk menarik kembali kesadarannya.


"Bullshit," cibir Biru. "Lo bakal langsung ninggalin gue once we ended the deal we have made."


"That's why gue nggak mau bikin kesepakatan itu awalnya," sela Fabian.


Biru menaikkan sebelah alisnya, menatap curiga ke arah Fabian yang kini tersenyum aneh.

__ADS_1


"Who knows, kita bisa beneran pacaran tanpa adanya taruhan?"


Kalimat yang terlontar dengan begitu ringannya itu berhasil membuat Biru naik darah. "Nggak usah halu! Gue juga nggak akan setuju buat bikin kesepakatan kalau nggak lagi digangguin sama orang!" elaknya.


Padahal perihal dirinya diganggu oleh laki-laki di fakultasnya hanyalah kebohongan. Memangnya, siapa yang berani mengganggu seorang Sabiru, yang terkenal sebagai gadis dingin nan kejam di fakultasnya? Demi Tuhan, tidak ada.


"Tell me, then," ucap Fabian. Senyum tipisnya sirna, tetapi tatapan matanya berangsur menjadi lebih serius


"Ha?" Biru kebingungan. Hendak dibawa ke mana pembicaraan mereka ini?


"Kasih tahu gue siapa orangnya yang gangguin lo, biar gue bisa tebas lehernya supaya dia nggak bisa gangguin lo dan kesepakatan kita batal." Kata Fabian enteng, seolah perkara menebas leher seseorang bukanlah sesuatu yang sulit.


"Lo kenapa kayaknnya ragu banget buat jalanin kesepakatan ini? Bukannya lo nggak rugi apapun, ya? Udah naikin track record, dapat hadiah motor mahal pula."


"That's not the point,"


"Terus apa poinnya?" tantang Biru.


"Intinya, gue udah nggak dapat sensasi deg-deg an lagi pas deketin lo, karena lo udah dengan senang hati memasrahkan diri. Bisa dibilang, tantangannya udah nggak ada."


Biru mendengus, kemudian beranjak dari kursi. Sebelum melenggang ke kamarnya, ia kembali berkata, "Lo sama teman-teman lo emang sinting," Biru mencibir, tetapi Fabian malah manggut-manggut, seolah mengiyakan apa yang gadis itu katakan.

__ADS_1


"Dan lo harusnya nggak terlibat sama orang-orang sinting kayak kami,"


Bersambung


__ADS_2