Taruhan

Taruhan
We Need to Talk


__ADS_3

Waktu terus berjalan, menenggelamkan Jeffrey bersama dengan isi kepala yang carut-marut. Entah sudah berapa lama dia di sini, duduk termenung di ruang kerjanya dengan pencahayaan yang temaram, menekuri ponsel yang layarnya padam.


Hanya satu hal sedang dia tunggu sedari tadi, yaitu balasan untuk pesan yang dia kirimkan kepada Raya sejak hampir tiga jam yang lalu. Berkali-kali dia mengecek ponselnya, dan berkali-kali itu juga dia terpaksa menelan kekecewaan karena balasan yang dia tunggu nyatanya tidak kunjung datang. Jangankan dibalas, terakhir kali dia cek beberapa menit yang lalu, pesan yang dia kirimkan hanya meninggalkan centang satu berwarna abu-abu.


Jeffrey kembali meraih ponselnya, mengetuk layarnya sebanyak dua kali hingga layar yang semula berwarna hitam mulai menyala. Di sana, bubble chat yang dia kirimkan masih hanya memiliki centang satu. Namun beberapa detik kemudian, centangnya bertambah satu lagi dan sepersekian detik setelahnya berubah warna menjadi biru—pertanda pesannya sudah dibaca oleh Raya.


Antusiasme Jeffrey untuk menerima balasan sudah begitu tinggi. Ia menatap layar ponselnya dengan mata yang berbinar, sambil harap-harap cemas menerka kalimat macam apa yang akan Raya tuliskan untuknya. Selama ia mengirimkan pesan pada perempuan itu, balasan yang dia terima hanya selalu ya atau tidak. Karena memang pesan-pesan itu yang membuat Raya tak bisa memberikan balasan lain selain dua kata tersebut. Tapi pesan yang terakhir kali dia kirimkan berbeda. Jadi seharusnya, Raya pun memberikan balasan yang berbeda.


Tapi ditunggu punya tunggu, tak satupun balasan yang datang. Tanda online di bawah nama kontak Raya pun tiba-tiba menghilang, mengisyaratkan bahwa perempuan itu pada akhirnya memutuskan untuk membiarkan pesan yang Jeffrey kirimkan terbaca tanpa sebuah balasan.


Kecewa? Sudah pasti. Tapi Jeffrey tak punya waktu untuk meresapi kekecewaannya karena rungunya dengan cepat menangkap suara deru mobil yang masuk ke halaman rumahnya.


Perhatian Jeffrey pada ponsel miliknya langsung beralih begitu saja. Benda pipih itu ia tinggalkan di atas meja sementara ia berderap menuju jendela kaca besar di ruang kerjanya. Demi mengintip melalui celah gorden, memastikan bahwa mobil yang barusan masuk itu adalah milik Baskara. Karena kalau ternyata itu milik Sera, ia hanya akan berpura-pura tidak mendengarnya.


"Pulang juga kamu akhirnya." Gumam Jeffrey setelah matanya menangkap sosok Baskara yang keluar dari dalam mobil kemudian berjalan santai memasuki rumah. Bocah itu bahkan sudah menyiapkan kunci cadangan, seakan tahu bahwa tidak akan ada yang membukakan pintu ketika ia menyelinap masuk ke dalam rumah pada lewat tengah malam.


Tak ingin kehilangan momen di mana dia bisa menginterogasi Baskara tentang ke mana perginya bocah itu kemarin malam, Jeffrey pun bergegas keluar dari ruang kerjanya. Satu persatu anak tangga ia turuni dengan tergesa, namun masih tetap memastikan dirinya aman dengan berpegangan di pinggiran tangga.


Pas sekali ketika kakinya menginjak anak tangga terakhir, Baskara muncul dari balik pembatas ruang tamu dengan ruang tengah. Pemuda itu tampak terkejut mendapati kehadirannya. Terlihat jelas dari langkahnya yang tiba-tiba terhenti dan tatapan yang terpaku cukup lama.


"Wee need to talk." Kata Jeffrey sebelum Baskara mencari-cari alasan untuk kabur.


...****************...


"We need to talk."

__ADS_1


Perasaan Baskara sudah tidak enak ketika kalimat itu keluar dari bibir Jeffrey. Ia meringis, sambil menerka-nerka hal apa yang sekiranya hendak ayahnya itu bahas dengannya sekarang. Jam segini. Lewat tengah malam di mana seharunsya lelaki tua itu sudah terlelap di kamarnya.


Tapi mau bagaimana lagi, kabur pun tak bisa. Maka dia cuma bisa mengikuti titah Jeffrey untuk duduk di atas sofa ruang tengah, di mana lelaki itu sudah lebih dulu mengambil posisi di single sofa yang menghadap tepat ke arahnya.


Dengan langkah yang diseret, Baskara berjalan menuju sofa panjang di sisi kiri Jeffrey. Ia duduk di sana, masih memaku tatap dengan sang ayah walaupun sebenarnya itu adalah tindakan yang salah. Memaksa untuk menatap mata kelam ayahnya sebetulnya hanya membuat kegelisahannya semakin bertambah. Tapi lagi-lagi, tak ada pilihan lebih baik untuk dia lakukan saat ini. Kalau berusaha menghindari kontak mata pun, ia malah akan terlihat semakin dihakimi.


"Nginep di mana kamu kemarin malam?" pertanyaan yang sama, datang dari orang yang berbeda.


Baskara bisa saja berbohong dengan mengatakan bahwa dia tidur di rumah Fabian. Tapi untuk jaga-jaga, takutnya sang ibu sudah lebih dulu memberi bocoran, maka Baskara lebih memilih untuk menjawab jujur. "Di apartemen Sabiru." Ucapnya pelan. Bukan karena dia takut akan diomeli, tapi lebih kepada dirinya sendiri yang ragu-ragu soal spekulasi mengapa ayahnya ingin tahu di mana dia berada kemarin malam.


Apakah karena ibunya yang meminta? Atau ini murni inisiatif ayahnya sendiri, yang benar-benar sedang berusaha untuk menjalani perannya sebagai seorang ayah?


"Sabiru?" kening Jeffrey tampak berkerut samar, pertanda ia sedang memaksa otaknya untuk bekerja sedikit lebih keras demi menemukan informasi tentang seseorang bernama Sabiru.


"Yang gelendotin kamu?" tanya Jeffrey, sebab yang muncul di kepalanya justru sosok Jasmine.


Baskara menggeleng, "Itu mah Jasmine. Satu lagi, yang datang bareng Fabian."


Jeffrey membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut, tapi tak berselang lama, ia mendelik. "Kamu nginep di rumah cewek?!" tanyanya dengan nada agak tinggi.


Respons yang seperti ini sudah Baskara perkirakan, jadi dia sudah tidak terkejut lagi. Paling tidak, kehebohan yang ditimbulkan oleh ayahnya tidak akan lebih buruk ketimbang yang dibuat oleh sang ibu. Paling tidak, dia bisa lebih santai menghadapinya. Toh, mereka sama-sama pria, benar? Harusnya sudut pandang mereka juga sama.


Seakan tak merasa apa yang dia lakukan salah, Baskara menganggukkan kepala. "Bukan sembarang cewek. Dia itu pacar Baskara." Ucapnya dengan senyum jemawa. Agaknya bangga sekali karena akhirnya bisa menyebut Sabiru sebagai kekasihnya.


"Heh!" tak diduga, geplakan maut justru mendarat di lengan Baskara, membuatnya meringis dan senyum jemawanya luntur seketika.

__ADS_1


"Kenapa sih?" tanyanya dengan sorot mata sayu dan bibir yang merengut. Sok-sokan memasang wajah melas padahal sama sekali tidak mempan untuk Jeffrey.


"Masih bisa nanya kenapa?" Jeffrey balik bertanya. Oh, bukan. Dia tidak berharap Baskara akan menyahut, sebab itu akan sangat menyebalkan. Jadi sebelum keduluan, Jeffrey melanjutkan. "Santai banget kamu nginep di rumah cewek. Kalau terjadi apa-apa gimana?"


Tapi dasarnya Baskara itu memang gesrek, yang keluar dari bibir pemuda itu malah semakin membuat Jeffrey gemas ingin meremas ginjalnya.


Dengan santainya bocah itu berkata, "Ya nggak gimana-gimana, bagus malah kalau Baskara bisa kasih Papa sama Mama cucu. Biar tambah rame rumah kita."


Demi Tuhan, Jeffrey tidak tahu lagi dari mana datangnya sifat absurd putranya ini. Karena menurutnya, ia sama sekali tidak memiliki sifat itu. Apalagi Sera.


"Mulutnya sembarangan!" Jeffrey menepuk bibir Baskara pelan, membuat putranya itu semakin merengut dibuatnya. "Emang kamu pikir jadi ayah itu gampang?"


"Ya enggak." Baskara masih sambil merengut. "Lagian jauh amat sih mikirnya. Baskara sayang sama Biru, jadi nggak akan ada kepikiran buat ngerusak masa depan dia. Tenang aja. Te-nang." Sambungnya dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Jeffrey tak kuasa melontarkan argumen lebih jauh, jadi dia cuma bisa menggelengkan kepala pelan sambil menghela napas pasrah. "Ya, ya. Papa percaya. Tapi kamu tetap nggak boleh sering-sering nginep di rumah cewek, nggak baik. Kita nggak pernah tahu dari mana datangnya godaan." Ia memberi nasihat. Satu nasihat yang seharusnya dia katakan lebih banyak kepada dirinya sendiri.


Baskara manggut-manggut saja. Padahal sih dia tidak terlalu mendengarkan. Dia pikir, itu adalah nasihat klasik yang tidak perlu dia dengar langsung dari mulut ayahnya. Dia sudah sering mendengarnya. Dan, memang benar adanya. Tidak ada yang tahu godaan itu datangnya dari mana. Tapi kalau menyangkut Sabiru, bisa lah Baskara memberikan jaminan kalau dia tidak akan melewati batas.


"Ya udah, sana kamu tidur." Titah Jeffrey.


Lagi-lagi Baskara mengangguk patuh. Tak ada protes yang keluar dari bibirnya, dan pemuda itu mengambil langkah santai menaiki tangga menuju kamarnya selagi Jeffrey masih bertahan di posisinya.


Tak lama berselang setelah suara pintu kamar Baskara yang ditutup terdengar, suara deru mobil lain pun menyusul. Tak perlu ditebak, itu sudah pasti Sera. Dan berhubung Jeffrey tidak sedang dalam mood yang baik untuk memulai perdebatan lain dengan perempuan itu, ia pun bergegas pergi sebelum Sera muncul dari balik pintu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2