Taruhan

Taruhan
Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Biru tersentak kala ponsel yang ada di tangannya mengeluarkan dering panjang yang menandakan adanya panggilan masuk. Ia melihat nama Fabian tertera di sana, membuat sebelah alisnya terangkat sebab sama sekali tidak menduga kalau pemuda itu malah akan meneleponnya.


Beberapa detik berlalu, barulah panggilan itu ia terima. Ponsel ditempelkan ke telinga selagi dia berjalan keluar menuju balkon.


Angin malam berembus menerpa wajah dan tubuhnya ketika pintu balkon dibuka, membuatnya meringis karena pakaian yang ia kenakan sekarang tidak cukup mampu untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya.


"Kenapa?" itu adalah pertanyaan pertama yang langsung keluar dari bibir Fabian. Agaknya, pemuda itu bukan tipikal yang suka berbasa-basi. Sedikit lain dengan Baskara yang memang sedari dulu gemar sekali mengobral kata-kata—dan sialnya, ia sempat jatuh pada pemuda itu berkata kata-kata manis yang sering diobralnya dulu.


"Gue mau ajak lo makan lagi di tempat Indah." Biru akhirnya menjawab ketika sudah berhasil berdiri di balkon kamarnya.


Biru sudah memutuskan, bahwa mulai sekarang, dia akan maju lebih dulu ke arah Fabian, supaya dia punya lebih banyak akses untuk melancarkan rencana balas dendam terhahap Baskara.


"Emangnya nggak ada tempat lain?"


"Kenapa? Lo nggak suka gue ajak makan di pinggir jalan?"


"Bukan gitu," ada jeda sebentar sebelum Fabian melanjutkan. "Gue cuma merasa nggak nyaman karena Indah dan kakaknya terus-terusan merhatiin gue. Seolah lagi mindai apakah gue ini orang jahat atau bukan,"


Mendengar itu, Biru seketika tergelak sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Itu cuma perasaan lo aja." Kata Biru, setelah gelak tawanya mereda. "Mungkin mereka cuma heran kenapa ada orang yang tampilannya sekeren lo, plus naik motor sport mahal, mau makan di sana."


"Tapi gue merasa mereka lagi menguliti gue,"


"Mereka nggak kayak gitu," sela Biru.


Lama sekali tidak ada sahutan dari seberang. Sehingga Biru harus menjauhkan ponselnya sejenak dari telinga untuk memeriksa apakah sambungan telepon masih terhubung atau tidak.


Penghitung waktu masih bekerja, yang artinya telepon masih tersambung. Maka Biru menempelkan kembali ponsel ke telinga seraya berkata, "Mereka orang baik."


"Gue tahu," sahut Fabian pada akhirnya. "Justru gue merasa nggak nyaman untuk berada di tengah-tengah orang baik kayak gitu." Pemuda itu menyambung.


"Karena gue selalu merasa berengsek setiap dekat sama orang-orang baik,"


Berkat jawaban itu, Biru terdiam cukup lama. Dalam hati menertawakan betapa amatirannya Fabian dalam merangkai kata-kata.


"Ke tempat lain aja," ucap Fabian lagi dari seberang telepon.


Biru, yang telah terdiam cukup lama sembari menatapi langit malam nan gelap dari balkon kamarnya, menghela napas panjang kemudian.

__ADS_1


"Tapi ... Gue nggak punya tempat lain untuk dituju." Kata Biru dengan suara yang dibuat lirih dan sarat akan kesedihan. Lalu telepon ditutup, tanpa berniat memberi kesempatan pada Fabian untuk menyahuti ucapannya tersebut.


Usai telepon ditutup secara sepihak, Biru memandangi layar teleponnya yang padam. Kemudian, satu sudut bibirnya terangkat, menyuguhkan sebuah senyum licik yang menyeramkan.


"Karena gue selalu merasa berengsek setiap dekat sama orang-orang baik," Biru mengulangi apa yang Fabian katakan sebelumnya dengan nada mengejek yang kentara. "Omong kosong," cibirnya. Sebab, cara dia memandang Fabian sudah sepenuhnya berubah ketika dia tahu bahwa Fabian adalah teman Baskara, laki-laki paling dia benci dan dia harap bisa menghilang dari muka bumi.


"Lo sama Baskara sama aja, Fabian. Sama-sama brengsek, gue yakin itu." Katanya menghakimi.


Ponsel kemudian ia masukkan ke dalam saku celana pendek, lalu ia berjalan lebih dekat ke pembatas balkon, melipat kedua lengannya di atas pembatas selagi kepalanya bergerak mendongak lebih tinggi. Langit malam ini begitu pekat. Awan-awan gelap tampak berbondong-bondong bergerak untuk menutupi sang rembulan agar sinarnya tidak sampai ke bumi.


Namun, di tengah kegelapan itu, Biru masih bisa menemukan satu bintang yang bersinar begitu terang. Bintang yang selalu ia yakini sebagai perwujudan dari kedua orang tuanya yang telah mati.


"Ma, Pa, Biru ketemu lagi sama bajingan itu." Adunya. Matanya yang semula menampakkan binar kebencian ketika sedang berbicara dengan Fabian melalui sambungan telepon, kini tampak redup dan berair.


"Dia masih jadi bajingan. Dia nyuruh teman-temannya buat deketin Biru dan jadiin Biru sebagai bahan taruhan," satu hal yang terlintas di kepala Biru saat mengatakannya adalah wajah kurang ajar Baskara yang meninggalkannya beberapa tahun silam. Wajah yang menjadi mimpi buruk untuknya selama bertahun-tahun kemudian.


"Biru ... cuma mau kasih dia pelajaran, Ma, Pa." Suara Biru semakin terdengar lirih dan menyakitkan. "Jadi, tolong jangan marah sama Biru, ya." Sambungnya.


Bersamaan dengan bibirnya yang terkatup, satu tetes air mata jatuh. Yang ia sendiri tidak tahu air mata itu jatuh untuk apa. Untuk kerinduannya kepada Mama dan Papa, atau justru untuk rasa sakit yang masih tertinggal berkat perbuatan Baskara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2