Taruhan

Taruhan
Pagi yang Berbeda


__ADS_3

Keesokan paginya, Baskara kembali dibuat keheranan saat menemukan Jeffrey sudah duduk manis di meja makan, bersisian dengan Sera yang terlihat begitu telaten mengoleskan selai rasa cokelat ke atas selembar roti tawar. Kedua orang itu kembali terlihat akrab, seolah tidak pernah terjadi perpecahan di antara mereka. Seolah tidak pernah ada jarak yang membentang begitu jauh di antara mereka. Seolah keluarga mereka memang selalu baik-baik saja.


Dia menghentikan langkah di anak tangga ke-tiga. Mengamati sebentar interaksi antara ayah dan ibunya sebelum akhirnya sang ibu menyadari keberadaannya.


"Bas, kamu mau sarapan roti atau nasi goreng?"


Baskara menatap ibunya sebentar, kemudian melanjutkan langkah untuk mengambil posisi duduk di sebelah wanita itu. Dia tidak menjawab pertanyaan sang ibu, dan langsung membalikkan piring lalu mengisinya dengan nasi goreng yang masih mengepulkan asap panas.


"Kuliah jam berapa hari ini?" itu suara Jeffrey.


Baskara meletakkan kembali sendok yang semula hendak disuapkan ke mulut, hanya untuk menemukan Jeffrey tengah menatapnya dengan ekspresi yang terlalu sulit untuk dijelaskan.


Demi Tuhan, itu pertanyaan sederhana. Tetapi Baskara butuh sebelas detik penuh sebelum menjawab, "Sembilan," kemudian buru-buru mengalihkan pandangannya lagi ke arah piring di hadapan.


"Berangkat sama Papa, mau?"


Beruntung Baskara belum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, karena kalau sudah, dia pasti akan berakhir tersedak mendengar ucapan ayahnya yang tiba-tiba.


"Papa sekalian mau ketemu sama Rektor, untuk bahas beberapa hal terkait kebijakan di kampus." Sera membantu suaminya menjelaskan.


Baskara beralih menatap ibunya, terdiam sejenak sembari menyelami manik cantik milik sang ibu sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan dan kembali memandangi nasi gorengnya yang cemberut karena selalu gagal disentuh.


"Boleh," pasrahnya. Meskipun sebenarnya, dia masih merasa aneh dengan kepulangan ayahnya yang tiba-tiba.


Jeffrey tidak bicara apa-apa lagi. Dia mengunyah roti dengan selai cokelat yang tadi dibuatkan oleh Sera dalam diam.


Sementara Sera, cuma bisa berharap dalam hati, semoga ini adalah keputusan terbaik yang Jeffrey bisa ambil sebagai seorang suami dan ayah. Semoga lelaki itu sudah membulatkan tekad untuk memperbaiki rumah mereka yang pondasinya telah retak sebelum benar-benar hancur tak bersisa.

__ADS_1


...****************...


Di rumah yang lain, Fabian menikmati sarapannya seorang diri. Pagi ini dia tidak punya selera untuk memasak, jadi dia cuma memakan sereal rasa cokelat dengan siraman susu putih cair.


Tidak usah tanya Raya kemana, Fabian yakin perempuan itu pasti masih pingsan di ruang penyimpanan bir karena semalam ketika dia sampai di rumah, terdengar bunyi gaduh yang tidak keruan dari dalam ruangan yang gelap nan pengap itu.


Biarlah nanti Fabian cek kondisi ibunya setelah dia selesai mengisi perut. Toh, cepat atau lambat dia mengecek keadaan ibunya, itu tidak akan terlalu memberikan efek yang signifikan untuk perempuan itu.


Selagi tangan kanannya secara terus-menerus menyuapkan sereal ke dalam mulut, tangan kirinya menggulir layar ponsel. Dia sibuk menyimak room chat antara dirinya dengan Baskara, di mana pesan terakhir yang dia kirimkan kepada bocah itu masih belum juga berubah menjadi centang biru.


Ini sudah kelewatan. Baskara tidak biasanya seperti ini. Pemuda itu adalah yang paling berisik, jadi aneh kalau tiba-tiba dia menghilang, tanpa sepatah pun kata pamit seperti sekarang ini.


"Apa gue samperin aja ke rumahnya?" gumam Fabian.


Tetapi setelah dia ingat lagi bahwa hubungannya dengan ibu Baskara juga tidak baik-baik amat, Fabian mengurungkan niat. Sera baik, Fabian tahu itu. Perempuan itu selalu memperlakukan dirinya, Reno dan Juan dengan selayaknya seorang ibu yang memperlakukan teman-teman anaknya. Hanya saja, Fabian merasa ada koneksi tidak baik yang terjalin antara dirinya dengan Sera, entah karena apa.


Prang!!!


"Bagus lah kalau udah bangun, jadi gue nggak perlu repot-repot ngecek." Monolog-nya. Lalu dipercepat kunyahan agar sereal di mangkuk segera habis dan dia bisa cepat-cepat pergi meninggalkan rumah ini. Sebab hawanya sudah tidak enak, dan dia tidak mau hal itu memengaruhi keseluruhan harinya nanti.


...****************...


Reno dan Juan tinggal di sebuah rumah yang dihuni beberapa keluarga, dan mereka diwajibkan untuk ikut serta dalam acara sarapan, tanpa alasan apapun.


Namun pagi ini, duo sepupu itu sepakat untuk kabur. Mereka rela bangun lebih awal, merayu Mbok Yayuk, asisten rumah tangga mereka untuk menyiapkan menu sarapan yang bisa mereka santap selagi dalam perjalanan menuju kampus.


Masalahnya, acara sarapan di rumah itu selalu dibumbui dengan drama. Ada yang akan mengeluh tentang para karyawan yang katanya meminta kenaikan gaji tanpa dibarengi dengan etos kerja yang sepadan. Ada yang akan memamerkan bagian tubuh mana lagi yang berhasil di operasi, sekaligus dokter mana yang telah dipercayai untuk melakukan operasi tersebut. Ada juga yang misuh-misuh karena kalah judi dan rugi ratusan juta.

__ADS_1


Dan masih banyak lagi. Yang jelas, pembahasan itu sama sekali tidak masuk di dalam kepala Reno dan Juan yang pada dasarnya hanya ingin menyantap sarapannya dengan tenang agar bisa datang ke kampus dengan energi yang penuh.


"Mbok Yayuk bawain kita apa?" tanya Reno, yang pagi ini kebagian tugas untuk menyetir.


Juan yang duduk di bangku penumpang segera meraih kotak makan yang semula dia letakkan di bangku penumpang belakang. Dengan harapan yang melambung tinggi, dia membuka kotak makan itu. Dan dia dibuat tersenyum cerah ketika menemukan dua potong Tuna Mayo Sandwich kesukaan mereka berdua.


"Favorit kita," ucapnya, sembari mendekatkan kotak makan itu ke arah Reno agar sepupunya itu bisa membaui aroma Tuna Mayo Sandwich yang menggoda.


Hidung Reno selalu sensitif kalau itu soal makanan. Jadi, tanpa basa-basi, dia segera menepikan mobilnya setelah mengemudi selama hampir lima belas menit. Perutnya memang sudah keroncongan sejak tadi, jadi tidak perlu menunggu lama untuk menyantap Sandwich bikinan Mbok Yayuk yang tidak perlu diragukan lagi cita rasanya.


"Minumnya mana?" tanya Reno, sesaat sebelum dia menyuapkan sepotong Sandwich ke dalam mulutnya.


Juan yang sudah lebih dulu mulai makan dan kini sedang mengunyah, praktis berhenti. Dia menatap horor ke arah Reno yang sudah mulai melemparinya tatapan tajam ketika pemuda itu tahu bahwa tidak ada sebotol air mineral pun di dalam mobil mereka.


Tadi, Juan memang terburu-buru saat mengambil kotak makan yang sudah disiapkan oleh Mbok Yayuk di dapur, jadi dia tidak sempat melipir ke kulkas untuk mengambil air minum.


"Si goblok!" Reno menepuk kening Juan sehingga membuat pemuda yang lebih muda tiga minggu darinya itu mengaduh kesakitan.


"Ini seret, Juan. Bisa-bisa nyangkut di tenggorokan," geramnya.


"Mau balik lagi buat ambil air minum?" tanya Juan polos, dengan sebelah pipinya yang menggembung terisi sandwich yang belum selesai dikunyah.


"Dan kepergok sama orang-orang dewasa di sana, terus kita dipaksa ikut sarapan untuk mendengarkan omong kosong mereka? Nggak, makasih."


"Terus, mau gimana?"


Reno menghela napas kasar. Dipandanginya sandwich yang sudah terlanjur dia pegang. Kemudian, dengan hati yang masih gondok karena kecerobohan Juan, dia membuka mulutnya lalu menyuapkan sandwich itu. Diambilnya gigitan besar, dia kunyah pelan-pelan agar saat nanti ditelan, sandwich itu tidak nyangkut di tenggorokan.

__ADS_1


Keduanya pun makan dalam diam. Menikmati setiap gigitan dengan hati-hati karena mereka tidak boleh tersedak sama sekali.


Bersambung


__ADS_2