
Dari rumah Baskara, Fabian bukannya pulang ke rumah, tetapi malah membelokkan kemudi kembali ke markas yang baru saja mereka tinggalkan kurang dari satu jam yang lalu.
Markas itu berupa bangunan dua lantai, yang letaknya tidak jauh dari Mega, dan mereka biasanya datang ke sana ketika ada hal-hal mendesak yang harus didiskusikan bersama.
Fabian memarkirkan mobilnya di depan bangunan itu, kemudian segera turun dan berjalan menuju pintu masuk sembari mengeluarkan kunci dari dalam saku jaketnya. Masing-masing anggota Pain Killer memegang satu kunci, untuk jaga-jaga kalau-kalau mereka enggan pulang dan ingin menginap di sini.
Iya, selain sebagai tempat menggelar rapat penting, markas ini juga sering mereka gunakan untuk tempat menginap ketika rumah yang biasa mereka tinggali sedang dalam keadaan paling buruk dan mereka terlalu enggan untuk menyerap energi negatif dari sana.
Tepat setelah kunci berhasil dimasukkan ke dalam lubang dan diputar sebanyak dua kali, ponsel di saku celana Fabian bergetar, membuatnya urung untuk memutar kenop dan memilih untuk lebih dulu memeriksa ponselnya.
Nama Sabiru tertera di layar, membuat sebelah alisnya terangkat dan keningnya sedikit berkerut.
Dan kerutan di keningnya semakin menjadi-jadi saat membaca pesan yang Biru kirimkan.
Kapan lo free lagi?
Fabian sedang malas mengetik, jadi dia memutuskan untuk berbicara langsung kepada Biru melalui sambungan telepon.
Nada tunggu berdering tiga kali, sampai akhirnya telepon tersambung dan suara Biru terdengar menyapa dari seberang.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya to the point. Sembari menunggu Biru menjawab, ia memutar kenop kemudian masuk ke dalam markas yang semua lampunya telah dimatikan.
Pintu kembali di kunci dari dalam, lalu Fabian berjalan pelan-pelan menuju tangga dengan satu tangan meraba-raba tembok untuk membantu menuntun langkahnya di tengah kegelapan karena dia malas menyalakan lampu yang letak saklarnya entah di mana.
"Gue mau ajak lo makan lagi di tempat Indah." Biru akhirnya menjawab ketika kakinya sampai di anak tangga pertama.
"Emangnya nggak ada tempat lain?" tanyanya sembari mendaki satu persatu anak tangga.
"Kenapa? Lo nggak suka gue ajak makan di pinggir jalan?"
"Bukan gitu," Fabian menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. "Gue cuma merasa nggak nyaman karena Indah dan kakaknya terus-terusan merhatiin gue. Seolah lagi mindai apakah gue ini orang jahat atau bukan,"
"Itu cuma perasaan lo aja." Kata gadis itu setelah tawanya mereda. "Mungkin mereka cuma heran kenapa ada orang yang tampilannya sekeren lo, plus naik motor sport mahal, mau makan di sana."
"Tapi gue merasa mereka lagi menguliti gue," Fabian mengingat kembali cara Indah dan kakaknya menatap dirinya kemarin. Ia yakin dua orang itu sedang memindai dirinya, seolah hendak memastikan bahwa dia bukan orang jahat dan kehadirannya tidak akan menyakiti Biru.
"Mereka nggak kayak gitu,"
Fabian melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan yang pintunya telah dibuka. Ruangan itu juga gelap, jadi dia berjalan ke sisi pintu sebelah kanan untuk menemukan saklar dan menekannya. Cahaya dari lampu berpendar dalam waktu singkat, memenuhi ruangan yang cukup luas berisi dua buah kasur ukuran besar, satu lemari pakaian dan seperangkat komputer gaming yang terletak di atas meja di pojok ruangan dekat jendela kaca.
__ADS_1
"Mereka orang baik," kata Biru lagi, saat Fabian belum sempat menyahuti perkataannya yang pertama.
"Gue tahu," sela Fabian. Pintu ruangan itu dia tutup, kemudian dia berjalan menuju kasur di sebelah kiri yang letaknya lebih dekat dengan pintu dan mendudukkan dirinya di tepian. "Justru gue merasa nggak nyaman untuk berada di tengah-tengah orang baik kayak gitu."
"Kenapa?"
"Karena gue selalu merasa berengsek setiap dekat sama orang-orang baik,"
Fabian tahu celetukannya itu memang berpotensi membuat orang lain kebingungan untuk memberikan respons, jadi dia tidak heran ketika sekarang menemukan keheningan merayap di seberang sana.
"Ke tempat lain aja," ucapnya setelah dirasa Biru terdiam terlalu lama.
Lalu terdengar hela napas berat dari seberang, yang kemudian disusul suara Biru yang mengalun lebih lembut ketimbang sebelumnya. Dan tidak lama setelah itu, telepon terputus.
Fabian menatapi ponselnya yang kini padam untuk waktu yang cukup lama, sembari meresapi kembali apa yang Biru katakan sebelum gadis itu memutuskan sambungan.
"So, I'm not the only one, huh?" gumamnya sendirian.
Bersambung
__ADS_1