
"Teman-teman kamu datang ke sini, Bas?" tanya Sera, kala menemukan tiga potong jaket yang tersampir di kursi dekat ranjang pasien.
"Iya," jawab Baskara tanpa mengalihkan tatapan dari layar ponsel yang kini ia gunakan untuk bermain game online.
"Terus, mereka sekarang di mana?" suara Jeffrey ikut-ikutan menyela.
"Lagi keluar, cari makan. Nggak lama dari mereka keluar, Mama sama Papa datang." Baskara menjelaskan.
"Terus, cewek yang tadi di sini?" itu suara Sera lagi.
Baskara berdecak sebal. Bukan karena pertanyaan ibunya, melainkan karakter di dalam game yang ia mainkan baru saja mati ditembak musuh sehingga game pun berakhir. Ponsel yang tidak berdosa itu kemudian ia lempar begitu saja ke atas nakas, lalu ia menatap sang ibu yang masih menanti jawaban. "Udah Baskara masukin karung, terus buang ke sungai." Jawabnya asal sambil cengengesan.
Sera menggelengkan kepala pelan atas jawaban tersebut. Tapi dari sana lah dia akhirnya semakin memperkuat dugaan kalau putranya itu memang tidak nyaman dengan gadis yang sedari tadi menempel padanya.
"Bukan pacar kamu?" tanya Jeffrey, yang lebih tidak peka ketimbang sang istri.
Baskara berdecak lagi. Kali ini benar-benar ditujukan untuk Jeffrey. Ia menatap ayahnya itu dengan malas. "Emangnya Baskara kelihatan nafsu, ya, sama cewek kayak gitu?" tanyanya. Padahal mah, sudah pernah dia pakai juga itu si Jasmine, tapi sok-sokan bertanya apakah dia bernafsu pada gadis itu atau tidak.
Oke, kembali ke pembicaraan sebelumnya.
"Kalau bukan pacar, kenapa kamu diam aja digelendotin kayak gitu?" tanya Jeffrey lagi. Lelaki itu berjalan mendekat, menarik kursi lalu duduk di sisi kiri ranjang. "Kenapa coba?" ulangnya.
"Ada, lah, alasannya."
"Ya apa?" tagih Jeffrey.
"Ih," Baskara mulai sewot. "Ya pokoknya ada. Papa mah nggak usah tahu, ini urusan anak muda."
Kini, giliran Jeffrey yang berdecak. Tahu-tahu, tangan lelaki itu sudah terlipat di depan dada. Punggungnya bersandar santai di kursi sementara kaki kanannya disilangkan di atas kaki kiri. "Papa juga pernah muda, kalau kamu lupa." Kata lelaki itu.
"Ya terus?" tanya Baskara agak tidak peduli.
"Ya kamu bisa cerita ke Papa kalau ada masalah. Who knows, mungkin Papa bisa bantu?"
"No, thanks." Kata Baskara tanpa keragu-raguan sedikit pun. "Masa muda Papa sama masa muda Baskara itu beda. Case dan problem solving-nya nggak akan sama. Iya, nggak, Ma?" ia berusaha meminta bantuan kepada sang ibu.
__ADS_1
Sera yang dasarnya memang bucin dan selalu meletakkan Baskara di atas segalanya tentu saja mengangguk setuju. Perempuan itu lalu berjalan mendekati Jeffrey, melabuhkan kedua tangannya di bahu suaminya itu. "Urusan anak muda, jangan ikut campur." Bisiknya, sembari mengusap-usap pelan bahu Jeffrey.
Jeffrey menghela napas panjang. Kalau sudah dua lawan satu, dia tentu tidak akan pernah menang. "Ya, ya. Terserah deh, terserah." Ucapnya mengalah.
Sera dan Baskara kompak tersenyum untuk merespons sikap Jeffrey tersebut. Meskipun interaksi semacam ini masih terasa asing bagi Baskara setelah sekian lama mereka terpecah-belah, namun ia berusaha untuk menerima perlakuan apapun yang diberikan oleh sang ayah. Ia benar-benar sudah berada di titik pasrah sekarang.
"Mendingan Papa mandi deh, bau matahari." Celetuk Baskara, sembari mengibaskan tangan di depan hidungnya sendiri untuk meledek sang ayah.
Jeffrey menegakkan punggungnya dengan sekali sentakan, lalu melabuhkan sentilan maut ke dahi Baskara yang membuat anaknya itu menjerit kesakitan.
"Ma...." rengek Baskara kepada ibunya sambil mengusap-usap dahinya yang terasa panas.
Melihat anaknya kesakitan, Jeffrey malah tergelak. Namun, gelak tawanya tidak berlangsung lama karena sebuah cubitan mendarat manis di pinggangnya. Tentu saja pelakunya adalah Sera, yang tidak terima anaknya dianiaya bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.
"Ampun!!!" seru Jeffrey. Tubuh bongsornya kelojotan, menggeliat bagai cacing kepanasan dalam upaya melepaskan cubitan Sera yang kekuatannya sudah setara dengan capitan kepiting kelapa.
"Yang, ampun, Yang!" Jeffrey masih berteriak kesetanan, sementara Baskara sudah tertawa terbahak-bahak sampai nyaris terjungkal dari ranjang pasien.
...****************...
"Ma," bisik Baskara di tengah gelak tawa yang terjadi setelah Jeffrey melontarkan sebuah candaan.
Sera mendekatkan tubuhnya ke arah sang putra, menyiapkan telinga untuk mendengar apapun yang Baskara hendak sampaikan.
"Besok Baskara pulang, ya?" pinta Baskara.
Permintaan itu tidak lantas diiyakan oleh Sera begitu saja. Perempuan itu malah menyuruh Baskara untuk melakukan hal lain sebagai gantinya. "Coba bilang sama Papa." Katanya.
Baskara jelas mendelik. "Kan Mama yang minta Baskara dirawat."
"Kata siapa? Orang Papa yang kekeuh mau kamu dirawat." Kata Sera enteng.
Baskara ingin menganggap itu sebuah lelucon. Tetapi, kenapa Sera sama sekali tidak kelihatan sedang bercanda?
"Minta sama Papa," ulang Sera lagi.
__ADS_1
Akhirnya, Baskara pun melayangkan tatapannya kepada sang ayah yang berdiri tegak di samping kiri ranjang.
"Pa," panggilnya, membuat Jeffrey yang hendak membuat guyonan lagi praktis mengurungkan niatnya.
"Kenapa, Bas?" tanya lelaki itu.
"Besok Baskara pulang, ya?" tanyanya.
Kalau dipikir mengajukan permintaan kepada Jeffrey itu lebih mudah, itu pemikiran yang salah. Karena tanpa berpikir pun, lelaki itu langsung menggelengkan kepala.
"Kenapa, sih? Kan, Baksara udah baik-baik aja." Rengek Baskara tidak terima.
"Yakin udah baik-baik aja?" tantang Jeffrey.
Baskara yang sok malah menggerakkan seluruh anggota tubuhnya secara asal, hingga terdengarlah rintihan kesakitan kala gerakannya itu menghasilkan nyeri yang kembali datang dari bagian punggungnya.
"Nah, kan. Kamu itu masih sakit, jadi anteng aja di sini." Titah Jeffrey.
Baskara cemberut, apalagi saat semua orang yang ada di sana, bahkan termasuk Sabiru, menertawakan kegagalannya membujuk sang ayah.
"Tahu nih, udah enak disuruh istirahat, malah sok-sokan mau minta pulang. Lagian kan, enak, lo nggak harus hadir di kelasnya Pak Subroto." Celetuk Reno, serta-merta membuat Baskara mendelik.
"Mata lo enak!" serunya. "Yang ada gue nanti nggak lulus kelas dia!"
"Tenang, nanti Papa yang ngomong sama Pak Subroto." Jeffrey malah ikut-ikutan. Sialnya, ide itu diangguki oleh semua orang yang ada di sana.
"Nggak!" Baskara menjadi satu-satunya yang menolak. "Itu namanya penyalahgunaan wewenang, Papa."
"Sesekali mah nggak apa-apa," ucap Jeffrey enteng. "Udah ah, nggak usah ribut minta pulang mulu. Kamu kalau sakit, yang pusing tuh Papa. Nggak tahu kan kamu, kalau Mama suka ribut terus tiap kamu sakit? Yang nggak bisa tidur nyenyak lah, yang nggak bisa makan enak lah. Duh, pusing deh pokoknya Papa tuh." Jeffrey malah mengadu, sontak saja Baskara semakin kesal.
"Ya itu derita Papa sebagai suami," gumam Baskara. Kemudian ia melipat tangan di depan dada dan sok-sokan merajuk karena keinginannya tidak dituruti.
Gelak tawa kembali terdengar di sekitarnya. Namun fokus Baskara sudah tidak lagi tertuju pada keriuhan itu. Sebab kini, matanya benar-benar terpaku pada sosok Sabiru yang ada di hadapannya, tengah menatapnya dengan seulas senyum tipis yang tersisa dari gelak tawa yang sebelumnya.
Cantik. Cuma itu yang bisa Baskara bisikkan di dalam hati. Secara otomatis ia mengaktifkan mode ekstra untuk mengabadikan sisa-sisa senyum di wajah gadis itu di dalam otaknya. Karena tidak lama setelahnya, senyum itu sepenuhnya pudar dan yang bisa Baskara temukan dari sorot mata itu hanyalah kebencian yang tak berujung.
__ADS_1
Bersambung