Taruhan

Taruhan
Terjebak Badai


__ADS_3

Tidak pernah terbayangkan oleh Fabian bahwa Sabiru dan sekotak martabak telur adalah perpaduan yang sempurna untuk melewati malam berhujan tanpa ketakutan. 


Sebab, selama bertahun-tahun, malam yang berhujan adalah momok bagi Fabian, yang selalu berhasil membuatnya terbangun di tengah malam dengan keadaan tubuh menggigil kedinginan. 


Saat hujan turun deras dan petir menggelegar memekakkan telinga, Fabian akan teringat pada luka di dada kirinya berkali-kali lipat lebih banyak ketimbang hari-hari biasanya. Hujan dan badai selalu menghadirkan kembali mimpi buruk yang telah susah payah ia usir dari dalam kepala, dan itu menyebalkan.


Tapi kini, bersama Sabiru dan sekotak martabak telur yang sudah lebih dari setengahnya mereka lahap, gelegar petir di luaran bahkan tidak lagi terdengar menyeramkan. 


Sabiru bagaikan lentera, yang membawa terang di tengah kegelapan yang nyaris menenggelamkan seorang Arkafabian ke dasar dunia.


"Tahu nggak, apa yang paling gue benci kalau turun hujan badai malam-malam begini?"


Fabian menoleh ke arah Biru yang nangkring di atas kasur. Ada remahan kulit martabak di sudut bibir gadis itu, membuat tangan Fabian seketika refleks memungut remahan itu kemudian ia buang ke tong sampah yang sengaja ia tarik mendekat ke sisi ranjang.


"Apa?" tanya Fabian usai memusatkan kembali perhatiannya kepada Biru.


"Mati listrik," jawab Biru, lalu ia menyuapkan sepotong lagi martabak telur. 


Minyak dari martabak yang ia pegang menggunakan tangan terasa mengganggu, dan rupanya ia sudah terlalu malas untuk sedikit bergerak ke arah nakas demi mencomot selembar tisu.


Maka dengan tidak tahu dirinya, ia usapkan tangannya yang penuh minyak ke lengan kaus Fabian sehingga membuat pemuda resik itu menggeplak tangannya kasar.


"Aw! Sakit, anjir!" Biru memekik. 


"Ya lo kurang ajar! Dikata baju gue lap kali,"


Dimarahi begitu malah membuat Biru mendelik. Jangankan kata maaf, niat untuk mengakui bahwa dirinya salah pun sama sekali tidak ada. 


Sadar tidak ada yang bisa dia harapkan dari seorang Sabiru, Fabian memilih untuk mengangkat bokongnya dari tepian kasur, hanya untuk dia daratkan kembali tidak sampai dua detik kemudian setelah menyambar tiga lembar tisu. 


Kemudian, diraihnya tangan Biru, dengan telaten diusap bekas minyak yang masih tersisa sampai benar-benar bersih. 


"Lanjutin," ucapnya setelah selesai mengelap tangan Biru dan membuang tisu bekas ke tong sampah. "Kenapa emangnya kalau mati lampu? Lo takut gelap? Atau karena jadi panas soalnya AC mati?"


Biru menggeleng pelan. "Gue nggak takut gelap, nggak takut juga kepanasan karena AC ikutan mati."


"Terus?"


"Gue ... takut tiba-tiba bakal nangis." Bibir Biru menipis, pandangannya berubah menerawang ketika maniknya jatuh pada jemari tangannya sendiri yang berada di atas pangkuan.


Suasana yang semula masih terasa cerah di tengah badai yang menerpa tanpa ampun hingga menimbulkan suara berisik dadi luar jendela, kini berubah menjadi mendung. Sebuah mendung yang Fabian sangat akrab dengannya, sebab perasaan ini juga ia miliki dan pelihara selama bertahun-tahun lamanya.


Hening berputar mengelilingi mereka selama beberapa saat, sampai kemudian Biru mengangkat kepala dan memaksakan secuil senyum yang bahkan tidak sampai ke kedua matanya.


"Gue suka kangen sama orang tua gue kalau lagi mati listrik. Soalnya, mereka pasti langsung lari ke kamar gue cuma buat bilang kalau gelap itu sama sekali nggak menakutkan, sekaligus ngasih reassurance kalau mereka bakal tetap ada di samping gue sampai lampunya nyala lagi,"

__ADS_1


Di titik ini, Fabian akhirnya tahu bahwa tebakannya tidak pernah salah. Sabiru memang gadis kesepian, sama seperti dirinya.


"Tapi sekarang udah nggak bisa lagi, soalnya udah beda dunia hehe..."


"They did," Fabian berucap setelah melemparkan tatapannya ke arah pintu balkon. Sebab raut wajah Biru terlalu sendu untuk dia pandangi saat ini. "Mereka masih selalu ada buat jagain lo," sambungnya.


Seperti bagaimana ia percaya bahwa setidaknya Raya juga menyayanginya meskipun hanya sekali dalam seumur hidup perempuan itu, Fabian juga ingin Biru percaya bahwa kedua orang tuanya tidak pernah ke mana-mana. Raga mereka boleh mati, wujud mereka boleh jadi tidak nampak lagi, tetapi jiwa mereka tetap tinggal untuk menyertai orang-orang yang mereka kasihi.


"Mereka masih di sini, Biru. Untuk memastikan anak gadisnya baik-baik aja," dan nggak akan dibuat patah hati sama cowok brengsek kayak gue.


Dan semoga saja, kalimat terakhir yang Fabian bisikkan kepada diri sendiri itu didengar oleh Tuhan. Semoga ia dan Biru tidak akan berjalan semakin jauh, untuk saling menyakiti di kemudian hari.


...****************...


Setengah satu dini hari, hujan masih belum reda juga. Fabian sudah terkantuk-kantuk di sofa ruang tengah apartemen milik Biru. Sedangkan si empunya rumah malah asik mengunyah permen karet sambil menonton serial drama melalui televisi besar yang ada di hadapan mereka.


"Hujannya kapan berhenti sih, anjir? Ini gue mau pulang," rengek Fabian, persis seorang bocah yang merengek kepada ibunya untuk segera dibawa pulang karena sudah bosan bertamu di rumah orang.


Berbanding terbalik dengan Fabian yang sudah hampir emosi karena hujan yang turun hari ini seolah meledeknya agar tidak bisa segera pulang, Biru malah tetap bersikap santai. Seolah menampung seorang laki-laki yang baru dikenalnya beberapa hari di apartemennya dengan kondisi kaki yang cedera bukanlah sebuah masalah besar.


"Kayaknya nggak bakalan reda, deh." Kata Biru sembari menoleh ke arah Fabian yang sudah menampakkan muka lelah. "Nginep aja," usulnya kemudian, hanya untuk membuatnya dihadiahi sebuah pukulan di kepala.


Biru percaya bahwa kepala merupakan salah satu bagian tubuh paling sakral yang tidak boleh semua orang menyentuh apalagi sampai memukul. Jadi ketika Fabian dengan entengnya melayangkan pukulan itu ke kepalanya, ia membalas dengan menendang tubuh Fabian hingga pemuda itu jatuh tersungkur ke atas lantai yang keras.


Kabar buruknya, kaki yang ia gunakan untuk menendang Fabian adalah kakinya yang sedang cedera. Sehingga bukannya puas, ia malah meringis kesakitan.


Sedangkan Fabian harus bersusah payah bangkit dari lantai dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengomel ketika mendapati Biru tengah meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya.


Secara kasat mata, memang tidak terlihat adanya luka. Tetapi berdasarkan seberapa kuat Biru menendangnya tadi, Fabian tahu kalau rasa sakit yang Biru derita pasti bukan main.


Sejujurnya, Fabian sudah sangat lelah. Ia mengantuk, dan energinya sudah terkuras banyak untuk melakukan berbagai hal sejak kedatangannya ke apartemen Biru beberapa jam yang lalu. Jadi kalau dia harus menggotong Biru ke kamar agar gadis itu bisa beristirahat, rasanya Fabian sudah tidak sanggup lagi.


Akan tetapi, sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, ia tetap melakukannya. Dibopongnya tubuh Biru setelah berhasil mengumpulkan sisa-sisa energi yang sudah berpencar ke mana-mana.


"Emang paling bener tuh lo tidur," ucapnya sembari berjalan dengan Biru digendongnya.


Air mata masih mengalir membasahi pipi Biru ketika Fabian menurunkan tubuhnya di ranjang. Dan ketika tangan Fabian bergerak menyentuh pergelangan kakinya, tangis Biru malah semakin pecah.


Hal itu mengundang kepanikan lain bagi Fabian. Ia pikir, gerakan tangannya telah membuat rasa sakit yang Biru derita semakin parah.


"Sakit banget, ya?" tanyanya panik. Dan ia hanya mendapatkan sebuah anggukan sebagai jawaban.


"Duh, bentar, gue cari es batu dulu di kulkas." Fabian sudah akan membalikkan badan, namun Biru malah menahan lengannya sehingga membuatnya mau tidak mau harus mengurungkan niat.


"Apa?" tanyanya pada Biru yang hidungnya kini sudah memerah karena menangis.

__ADS_1


"Jangan ke mana-mana, please..." cicit Biru.


"Cuma ke dapur bentar, ambil es batu buat kompres kaki lo."


Tapi Biru malah menggeleng. "Boleh ... peluk aja nggak sih?" pintanya tiba-tiba.


"Hah?!" Fabian setengah berteriak. Lalu detik berikutnya, ia merasa bersalah. Sepertinya, pukulan yang dia daratkan di kepala Biru terlalu kencang sehingga membuat beberapa bagian di otak gadis ini berserakan.


Setelah mengusap cairan bening yang keluar dari lubang hidungnya menggunakan lengan kaus, Biru kembali berucap, "Dulu, kalau gue lagi terluka, nyokap gue suka peluk biar sakitnya cepat ilang."


"Tapi gue bukan nyokap lo?"


"Ya gimana, nyokap gue kan udah nggak ada!" yang tadinya menangis terisak-isak, Biru telah dalam sekejap kembali ke mode galak. "Adanya cuma lo sekarang, jadi apa salahnya sih lo bantuin gue? Toh, lo nggak akan rugi apa-apa."


"Ini bukan masalah rugi atau nggak," potong Fabian. Tangan Biru yang masih memegang lengannya dia lepaskan paksa. "Masalahnya, di luar lagi badai, dan kita cuma berduaan di sini. Dan lo minta gue buat peluk lo? What the hell is on your mind, Sabiru? Lo nggak takut gue apa-apain?"


"Lo nggak akan berani,"


"Kata siapa?"


"Kata gue," Biru bergerak pelan-pelan membenarkan posisi duduknya agar tidak semakin memperparah nyeri di pergelangan kakinya. "Kalau mau macam-macam, pasti udah lo lakuin dari tadi."


"Lo nggak akan pernah tahu apa yang ada di kepala gue," Fabian sedikit mencibir. Bukannya senang dengan kepercayaan diri Biru, ia malah merasa prihatin. Karena, bagaimana jadinya kalau yang sedang Biru ajak bicara sekarang ini bukan dirinya?


Bukan apa-apa, ia juga bukannya ingin membanggakan diri sendiri, tetapi di antara teman-teman dan circle di sekitar mereka, Fabian cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa pengendalian dirinya cukup baik.


Bahkan, di antara semua anggota Pain Killer, hanya dia yang tidak tertarik untuk tidur dengan gadis-gadis yang sering mereka jumpai, baik di Mega maupun di setiap agenda taruhan yang sedang berlangsung.


"Nggak usah banyak omong, Bi." Biru menyela. "Kalau emang nggak nggak mau bantu, mending mulut lo diam."


Astaga... sepertinya keputusan untuk menerima kesepakatan dengan gadis ini adalah langkah paling bodoh yang pernah Fabian ambil. Karena dalam sekejap saja, dia sudah lupa caranya menolak.


Tubuhnya yang semula berdiri menjulang di sisi kasur mendadak rubuh, jatuh terduduk di pinggiran kasur seiring dengan kedua lengannya yang terulur meraih tubuh kecil Biru.


"Lo jangan coba-coba minta kayak gini ke cowok lain," bisiknya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Biru.


"Kenapa?"


"Nggak usah banyak tanya." Nada bicara Fabian mulai berubah sedikit ketus. "Lo nggak pernah tahu gimana liarnya isi kepala laki-laki, Bi. Jadi nggak usah coba-coba buat mancing, cuma demi ngetes seberapa tangguh lo bisa membela diri."


Tidak ada kalimat yang kemudian keluar menyahuti. Bibir Biru terkunci rapat, dan ia mulai menyesali satu lagi hal yang ia putuskan hari ini.


Padahal, ia sengaja mendramatisir rasa sakit di pergelangan kakinya, mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa rasa sakitnya begitu parah sehingga air matanya bisa jatuh supaya dia bisa meminta dipeluk oleh Fabian. Supaya dia bisa membuat Fabian telah mendapatkan akses lebih banyak, agar lebih mudah juga baginya untuk meyakinkan Fabian bahwa hubungan mereka tidak akan hanya sekadar soal taruhan.


Tetapi, ia malah berakhir tertampar. Sebab sekali lagi, ia menemukan sisi baik dari dalam diri Fabian. Sisi yang berbanding terbalik dengan si brengsek Baskara, yang telah dia kutuk sebanyak ratusan kali di dalam kepala.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2