Taruhan

Taruhan
Rest in Peace, Samara Jasmine


__ADS_3

Biru dengar, kematian Jasmine akhirnya dinyatakan sebagai kasus bunuh diri. Hal itu didasarkan pada ditemukannya kadar obat penenang yang berlebih di dalam tubuh Jasmine setelah dilakukan proses autopsi. Adanya rekam medis yang menunjukkan bahwa Jasmine memang mengonsumsi obat penenang sejak beberapa bulan terakhir untuk membantu mengatasi kecemasan dan beberapa gangguan mental lain yang dimiliki juga menjadi bukti lain yang mendukung. Selain dua hal tersebut, unggahan terkahir di akun Twitter Jasmine juga semakin memperkuat bahwa hilangnya nyawa gadis itu memang berdasarkan keinginannya sendiri. 


Bagian kurang ajarnya, tepat setelah kabar meninggalnya Jasmine tersiar di base kampus, komentar-komentar jahat yang semula bertebaran di sana tiba-tiba saja lenyap tanpa jejak. Orang-orang jahat itu sibuk menghapus semuanya, berusaha cuci tangan agar tidak ikut terkena masalah. Jahat sekali, bukan?


Bukan cuma menghapus komentar, manusia-manusia biadab itu kini juga turut datang ke pemakaman. Pura-pura memasang wajah sendu dan mengeluarkan suara yang dibuat-buat prihatin kala mengucapakan bela sungkawa kepada seorang wanita paruh baya yang kemudian diketahui sebagai ibunda Jasmine. Mereka bahkan seakan tak pernah berbuat dosa, saat meletakkan satu tangkai bunga mawar di atas jasad Jasmine yang terlelap cantik di dalam peti mati yang belum ditutup. 


"Munafik." Biru mendesis. Sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berubah menjadi reog kala seorang gadis yang dia tahu paling gencar memusuhi Jasmine datang dengan berlinangan air mata, bersimpuh di dekat peti mati Jasmine seolah menjadi orang yang paling terpukul atas kepergian sang gadis. 


"Lo mau tetap di sini sampai prosesi pemakaman selesai?" bisik Fabian yang berdiri di sisi kirinya.


Biru tak menoleh, tak pula menjawab pertanyaan itu karena matanya kini sibuk menguliti sekumpulan gadis yang datang berbondong-bondong, bersimpuh di kaki ibunda Jasmine dengan berderai air mata. Memohon ampun, katanya. Tapi tak satupun dari mereka yang berniat menjelaskan untuk apa permintaan maaf itu dibuat.


Nyeri sekali rasanya hati Biru saat melihat ibunda Jasmine tampak sudah lelah menangis. Air matanya tak lagi bisa keluar, tapi kabut bening jelas masih menyelimuti kedua matanya yang sayu. Biru mengerti dengan baik bagaimana perasaan ibunda Jasmine. Sebab bertahun-tahun yang lalu, ia juga pernah ada di posisi itu. Terlebih lagi, ternyata Jasmine merupakan anak tunggal, satu-satunya keluarga yang dimiliki di tengah dunia yang kejam ini. Pantas jika kematian gadis itu membuat sang ibu tampak tak punya daya lagi untuk berpijak di muka bumi.


Muak menyaksikan segala macam drama yang ada, Biru akhirnya memutuskan untuk menyingkir. Ia berjalan melewati orang-orang yang tengah mengantre untuk melihat jasad Jasmine untuk terakhir kalinya. Kakinya terus melangkah, tak peduli akan teriakan pelan Fabian yang memanggil-manggil namanya. Hingga akhirnya ia tiba di halaman depan tempat persemayaman sementara di mana terhampar luas di depannya taman bunga beraneka warna. 


Biru berjalan menuju satu bangku kayu, duduk di sana sambil merapatkan kain hitam yang bertengger di kepalanya lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku dress hitam yang ia kenakan. Tak lupa pula pemantik yang sudah menjadi satu paket dengan rokoknya. 


Tapi belum sempat ia menarik satu batang rokok untuk dinyalakan, perhatiannya tercuri kala menemukan sosok yang tak asing berdiri di seberang jalan. 


...****************...


Suara heels menggema memenuhi ruangan, membuat orang-orang serempak mengalihkan perhatian ke sumber suara yang asalnya dari pintu depan. Seorang perempuan berjalan masuk dengan langkah yang anggun. Heels berwarna hitam setinggi 10 sentimeter dengan ujung runcing yang dikenakan tampak serasi dengan dress di bawah lutut dengan warna yang senada. Kehadiran kacamata hitam yang bertengger di hidung bangir sang perempuan juga menjadi satu hal lain yang menarik perhatian lebih banyak. Alih-alih seseorang yang sedang menghadiri pemakaman, perempuan itu justru tampak seperti seorang artis yang hendak pergi ke pesta dengan dress code serba hitam.


Sera, perempuan itu melepaskan kacamata hitamnya dengan gerak perlahan, tepat ketika kaki jenjangnya berhenti melangkah di samping peti mati Jasmine. Ia sedikit merunduk, menatap jasad Jasmine yang dirias sedemikian rupa dan dipakaikan gaun berwarna putih tulang. Lalu, tangan Sera terulur, membelai pipi dingin Jasmine dengan penuh cinta. "Tidur yang nyenyak, Sayang." Bisiknya.


Orang-orang di sekitar masih tidak bersuara. Bahkan Baskara yang tampak terkejut dengan kehadiran sang ibunda pun hanya bisa diam di sisi Fabian, Reno dan Juan, sembari memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh Sera.


Sera menyunggingkan senyum tipis, lalu menunduk lebih dalam hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Jasmine yang pucat. "Mimpi yang indah, dan ... sampai bertemu di neraka." Bisiknya lagi dengan suara teramat pelan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar ucapannya selain dirinya sendiri.


Setelahnya, Sera menegakkan kembali tubuhnya. Ia meraih satu tangkai bunga mawar dari meja di sampingnya, lantas meletakkannya di atas tubuh Jasmine, tepat di bagian tangan gadis itu yang saling bertaut di atas perut. Kemudian, ia berbalik. Matanya bergelak pelan, lalu ia kembali tersenyum kala menemukan seorang wanita paruh baya yang tatapannya tampak sayu.


Sera berjalan menghampiri wanita itu, tanpa permisi menarik tubuh sang wanita masuk ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak naik turun, mengusap punggung sang wanita yang tampak layu kemudian berbisik, "Turut berduka atas kepergian Jasmine. Semoga Tuhan menempatkan malaikat kecil kita di tempat yang jauh lebih indah." Kemudian, ia menarik diri dari pelukan.


Air mata sang wanita yang semula tampak sudah mengering, tiba-tiba mengalir lagi ketika Sera mengusap punggung tangannya dengan gerakan pelan.


"Saya ibunda dari salah satu teman Jasmine. Kalau sekiranya ada yang bisa saya bantu, apapun itu, tolong jangan sungkan untuk beri tahu saya." Kata Sera lagi, memainkan perannya sebagai malaikat tak bersayap dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


Diberi dukungan moral seperti itu ketika dunianya serasa runtuh, jelas membuat ibunda Jasmine tersentuh. Pikirnya, anak gadis yang dia besarkan seorang diri telah tumbuh menjadi sebaik-baiknya manusia sehingga ketika ia mati, orang-orang di sekitarnya turut berduka.


Malang sekali nasib wanita itu. Yang tak pernah tahu bahwa hanya segelintir orang saja dari sekian banyak yang datang itu, yang benar-benar tulus peduli pada Jasmine. Ia hanya wanita tua, yang tidak tahu bahwa ternyata, hidup putrinya tidak pernah baik-baik saja.


Ia tidak tahu putrinya menjadi sugar baby untuk bayak pria hidung belang, demi membantu perekonomian mereka yang hancur setelah ayahnya melarikan diri. Ia tidak pernah tahu bahwa putrinya haus kasih sayang, hingga pergi berkelana mencari kasih sayang semu yang ditawarkan oleh laki-laki biadab yang hanya menginginkan tubuhnya saja. Ia pikir putrinya bahagia, padahal tidak sedikit pun anak itu tahu apa itu bahagia.


"Terima kasih..." lirihnya, di tengah isakan yang mulai mereda.


Sera mengangguk kecil, menepuk-nepuk punggung tangan ibunda Jasmine seakan tengah memberikan kekuatan.


Sementara itu, Baskara mulai tidak bisa berdiri dengan tenang di tempatnya karena merasa ada sesuatu yang salah.


...****************...


Prosesi pemakaman Jasmine akhirnya selesai juga. Peti mati milik gadis itu kini telah terkubur di dalam tanah, bersama dengan benda-benda kesayangan sang gadis juga beberapa tangkai bunga mawar yang dibiarkan tetap ada di sana sebagai hadiah terakhir dari teman-teman yang datang.


Sera yang sedari tadi terus berada di sisi ibunda Jasmine, mulai bergerak menjauh. Membiarkan wanita paruh baya itu bersimpuh di pusara sang putri sementara ia bergerak menghampiri putranya sendiri.


"Ikut Mama." Titahnya sembari menarik lengan Baskara. Tak dihiraukannya keberadaan teman-teman Baskara yang lain dan terus saja melangkah sambil menyeret putranya yang menurut saja mengikuti langkahnya.


Sampai di area luar pemakaman, barulah Sera melepaskan lengan Baskara. Ia lalu berbalik, menatap Baskara serius dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. "Nginep di mana kamu semalam?" tanyanya.


Sera mendecih, sebab tahu bahwa putranya sedang berbohong. "Mama telepon maminya Reno, nggak ada tuh kamu nginep di sana."


Ketahuan bohong, Baskara malah cengengesan. "Yah, ketahuan." Gumamnya.


"Jadi, nginep di mana?" tagih Sera. Tatapannya sudah melunak, tapi keingintahuannya tentang keberadaan Baskara jelas masih harus dipenuhi. Karena gara-gara bocah itu tidak pulang, dan tidak juga bisa dihubungi, ia kembali berdebat hebat dengan Jeffrey.


"Ada, di rumah teman."


"Teman yang mana? Teman kamu cuma Reno sama Juan."


Merasa ada yang janggal, Baskara terdiam sejenak untuk berpikir. Setelah ketemu, barulah ia membuka mulutnya. "Fabian kan juga teman Baskara."


"Kamu nginep di rumah dia?" tanya Sera.


Baskara menggeleng, "Enggak, sih ... hehe." Katanya sembari menggaruk kepala bagian belakang yang sejatinya tidak terasa gatal sama sekali. "Baskara nginep di rumah Biru." Sambungnya setelah berpikir sebentar.

__ADS_1


Sera tampak menaikkan sebelah alisnya, "Biru?"


Baskara mengangguk, "Cewek cantik yang ada di samping Baskara tadi loh. Itu namanya Biru."


"Pacar kamu?" tanya Sera dengan tatapan menyelidik.


"Iya. Cantik, kan?"


Alih-alih anggukan tanda setuju, Baskara malah mendapatkan pukulan pelan di bahunya. "Siapa yang suruh nginep di rumah cewek? Kalau khilaf gimana?!" omel Sera. Matanya melotot, nyaris copot kalau saja otot-otot yang menahannya tidak kuat.


"Nggak akan khilaf, kok. Tenang aja."


"Tahu dari mana?"


"Iman Baskara kuat."


"Cih!" Sera mencibir. "Masih ingat bawa-bawa iman kamu? Ibadah aja nggak pernah."


"Sstt ah, jangan bongkar aib." Baskara menempelkan jemari telunjuk di depan bibirnya sendiri sambil celingukan seperti maling.


"By the way," ucap Baskara setelah hening sempat terjadi sesaat. Ia menatap Sera serius, sudah sepenuhnya hilang raut jenaka dari wajahnya. "Mama kenapa bisa datang ke sini?" tanyanya penuh selidik.


Sudah tahu pertanyaan itu akan dilontarkan nyatanya tidak serta-merta membuat Sera terhindar dari yang namanya salah tingkah. Ia berdeham berkali-kali, seperti hendak meluruhkan apapun yang menyumbat tenggorokannya hingga membuatnya sulit bicara.


Sedang Baskara justru semakin menatap curiga kala jawaban yang ia inginkan tak kunjung diterima. "Ma?" tagihnya.


"Dia kan teman kamu. Ya apa salahnya kalau Mama datang ke pemakaman dia?"


Baskara tampak tidak puas dengan jawaban itu, terlihat dari caranya mendecih dan tatapan menyelidik yang tak kunjung pudar.


Sebelum diberondong pertanyaan lain yang lebih memusingkan, Sera telah memutuskan untuk kabur saja. Toh tujuannya untuk menyampaikan salam terakhir pada Jasmine juga sudah terpenuhi. Jadi malam nanti, dia bisa tidur dengan nyenyak sembari memimpikan pertemuannya dengan Jasmine di neraka nanti. Oh, ya tentu. Kematian gadis itu tidak akan menjadi akhir dari upayanya untuk meminta bayaran atas kelancangan yang gadis itu buat. Bahkan setelah kematian nanti, Sera masih berniat untuk menuntut balas.


"Duh, Mama ada schedule lain. Duluan, ya. Nanti malam jangan lupa pulang." Ucap Sera sambil terburu-buru mengambil ancang-ancang untuk kabur.


"Loh, Baskara belum selesai ngomong. Ma-!" tak sempat Baskara mengejar sang ibunda yang lari pontang-panting dan hampir beberapa kali tersandung.


Gerak-gerik Sera yang aneh jelas membuat Baskara menaruh curiga. Apa jangan-jangan ... Sera datang ke sini karena memiliki hubungan dengan Jasmine, yang tidak dia ketahui? Tapi hubungan semacam apa?

__ADS_1


"Anjir!" Baskara memekik saat satu kemungkinan muncul di kepalanya. "Jangan bilang ... Papa sempat jadi sugar daddy-nya Jasmine? Terus Mama ke sini buat ... nyukurin kematian Jasmine?"


Bersambung


__ADS_2