
Satu notifikasi yang muncul di bagian kanan bawah komputer miliknya ketika ia sedang asyik bermain game membuat fokus Fabian terpecah. Ia tidak bisa lagi mencurahkan perhatian pada karakter di dalam game yang sedang dimainkan, sehingga karakter itu berakhir mati mengenaskan terkena tembakan musuh yang dilancarkan secara bertubi-tubi.
Kesal, sudah pasti. Tapi menyesali apa yang sudah terjadi—terlebih itu hanya sekadar karakter game yang mati—bukanlah sesuatu yang gemar Fabian lakukan. Jadi, alih-alih mengumpat, dia hanya dengan tenang melepaskan headphone yang menyumbat telinganya, membiarkannya menggantung di leher sementara tangannya mulai menggerakkan mouse sehingga kursor di layar komputernya bergerak menuju tanda notifikasi yang tadi muncul.
Bukan pesan, bukan juga notifikasi sistem untuk pembaruan, ia malah menemukan satu pesan masuk ke dalam akun e-mail pribadinya. Sesuatu yang aneh sebab akun itu hanya dia gunakan untuk hal-hal penting di luar urusan perkuliahan. Paling banter, hanya anggota Pain Killer saja yang mengetahui alamat e-mail yang ini. Tapi nama yang tertera sebagai pengirim e-mail dengan subjek yang tidak jelas ini jelas bukan merupakan milik anggota Pain Killer yang lain.
Ketika e-mail itu dibuka, isinya adalah sebuah tautan dengan pesan yang memintanya untuk meng-klik tautan tersebut. Dan karena dari awal dia sudah curiga, maka keputusan akhir yang dia buat adalah dengan langsung menghapus e-mail tersebut tanpa mau bersusah payah untuk meng-klik tautan seperti yang diminta. Karena siapa tahu saja, itu adalah salah satu bentuk modus penipuan yang baru—dan dia akan berakhir kehilangan beberapa juta dari dalam rekeningnya.
"Mau kaya tuh kerja, bukan nipu." Omelnya kepada seseorang yang entah siapa. Setelah itu, dia kembali memasang headphone dan lanjut bermain game lagi.
...****************...
Sampai mobilnya parkir di depan bangunan apartemen Biru, Baskara masih tidak banyak bicara. Pikirannya benar-benar tertuju pada e-mail yang dia terima. Ingin cepat-cepat memeriksa, tapi dia tidak yakin untuk melakukannya ketika masih ada Biru di sampingnya. Ia hanya khawatir, bagaimana jika apa yang ada di dalam e-mail tersebut merupakan sesuatu yang buruk? Sesuatu yang mungkin lebih baik jika tidak dia lihat sama sekali.
"Bas," tangan lembut Biru yang terasa dingin karena efek pendingin ruangan di dalam mobil, menyentuh punggung tangannya yang masih ada di atas kemudi. Baskara menoleh, menemukan gadis itu menatap khawatir. "Kenapa?" tanya gadis itu lembut.
Baskara ingin berkata tidak apa-apa, tapi hal itu jelas mustahil karena Biru tidak akan percaya. Akhirnya, yang bisa dia lakukan adalah menarik napas begitu dalam, meraih tangan Biru lalu menggenggamnya erat. "Gue lagi nggak oke," ucapnya. Tak berani memaku tatap dengan Biru, jadi dia lebih memilih menatap tangan Biru di genggamannya. "Tapi gue nggak bisa kasih tahu ke lo kenapa gue merasa nggak oke sekarang, karena ... gue pun belum tahu alasan jelasnya."
Di kursi penumpang, Biru membuka telinganya lebar-lebar. Tak perlu dijelaskan lebih banyak, dia tahu Baskara memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi kalau nyatanya pemuda itu memang belum bisa megatakan kepada dirinya mengenai apa yang mengganggu pikirannya lebih banyak, dia bisa apa? "It's oke." Bisik Biru. Satu tangannya terulur, mengusap belah pipi Baskara yang halus. "Lo bisa kasih tahu gue nanti, kapan pun itu, kalau lo udah siap."
Memiliki Sabiru di dalam hidupnya adalah salah satu keberuntungan besar bagi Baskara. Meskipun tahun demi tahun terlewati dengan kesalahpahaman yang membuat jarak terbentang begitu jauh di antara mereka, pada akhirnya gadis itu tetap menjadi sosok yang paling mengerti dirinya, ketika Tuhan akhirnya memberikan mereka jalan untuk kembali bersama. Baskara tahu dia mencintai Sabiru sehebat itu, sama seperti ketika dia percaya bahwa gadis itu pun merasakan hal yang sama.
Dengan isi kepala yang masih ribut, Baskara mengeratkan genggamannya di tangan Sabiru. Akhir-akhir ini, tangan gadis itu menjadi salah satu bagian tubuh yang dia gilai. Yang rasa-rasanya ingin terus dia genggam, agar tidak ada lagi jarak yang terbentang memisahkan mereka. "You know, Blue?" kali ini, Baskara akhirnya berani menatap gadisnya lagi. "Gue mungkin udah menyerah sama hidup ini, kalau bukan karena lo. Kalau bukan karena gue mau pertaruhkan segala hal yang gue punya buat bikin lo bahagia. Kalau bukan ... kalau bukan buat bisa genggam tangan lo kayak gini lagi. Gue mungkin udah lama mati, and you saved me."
__ADS_1
Sama. Itu yang terlintas di kepala Biru sesaat setelah Baskara selesai bicara. Dia juga mungkin sudah lama menyusul kedua orang tuanya, kalau saja dendam itu tidak muncul di dalam dirinya, membuatnya memiliki tekad yang bulat untuk membalaskan sakit hatinya terhadap Baskara. Walaupun dendam itu kini sudah habis tak bersisa, dan dia hanya berakhir menjadi gadis yang jatuh cinta kembali pada Baskara, alasan untuk dia masih hidup sampai sekarang tetap saja adalah pemuda itu.
"Jangan kepikiran buat mati," ucap Biru. "Kita harus tunggu sampai Tuhan jemput, jangan coba-coba buat pulang sendiri."
"As long as you love me, gue rasa gue bisa hidup bahkan sampai seratus tahun lagi." Ucap Baskara sungguh-sungguh, tapi Biru justru meresponsnya dengan gelak tawa renyah. "Gue serius." Kata Baskara lagi dengan mata yang mendelik.
Biru menghentikan gelak tawanya, menggantinya dengan senyum tipis disusul anggukan kepala pelan. "I know," ucapnya.
Setelahnya, tak ada lagi yang bersuara di antara mereka ketika tahu-tahu saja—entah siapa yang memulai lebih dulu—bibir mereka telah bertemu. Hanya menghasilkan sebuah kecupan, tidak lebih. Lalu mereka kembali menciptakan jarak dengan senyum yang terbit di bibir masing-masing.
...****************...
Sampai di rumah, Baskara menemukan huniannya dalam keadaan kosong. Ayahnya sudah pasti masih berada di kantor mengingat sekarang baru pukul 7 malam. Tapi ibunya ... ke mana perempuan itu pergi? Sudah beberapa hari dia menemukan perempuan itu sering berpergian—entah untuk urusan apa. Padahal sedari dulu, Sera bukan tipilan yang suka keluyuran. Perempuan itu selalu lebih senang di rumah, bereksperimen dengan berbagai menu masakan, lalu memaksanya untuk mencicipi hasil masakannya—yang tak jarang gagal dan rasanya tidak keruan.
Kondisi kamarnya masih gelap karena memang tidak ada yang dia ijinkan masuk selain dirinya sendiri. Jadi, yang pertama kali dia lakukan setelah membuka pintu kamarnya adalah menekan saklar lampu yang terletak di sisi kanan pintu sehingga bohlam berwarna putih terang itu akhirnya menyala. Sinarnya merambat dengan cepat, menelan habis kegelapan yang semula membayang di sejauh mata memandang.
Baskara lalu berjalan menuju meja belajarnya, duduk di atas kursi dan merenung cukup lama sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celana. Aku e-mail pribadinya dibuka, untuk memunculkan satu pesan masuk yang masih belum dibaca. Username yang muncul sama sekali asing. Seperti dibuat asal dan sama sekali tidak mengandung inisial nama atau apapun yang biasa orang-orang pakai untuk mengatur alamat e-mai mereka.
Dari penampakan awal saja, itu sudah terlihat mencurigakan. Tapi mau bagaimana pun, dia tetap harus memeriksanya segera.
Maka, sambil berdoa, Baskara meng-klik e-mail masuk dengan subjek 'secret' itu. Di bagian isinya, ia menemukan sebuah link beserta pesan berbunyi 'Klik, kalau lo mau tahu seberapa busuk keluarga lo yang sebenarnya'.
Sebuah suara berbisik, memintanya untuk tidak membuka tautan itu karena siapa tahu saja itu merupakan salah satu modus penipuan yang baru, tapi bodohnya Baskara malah meng-klik tautannya hingga dia dibawa pergi menuju sebuah halaman baru—yang kemudian menunjukkan sebuah file audio berukuran cukup besar.
__ADS_1
Sudah kepalang basah, Baskara sekalian saja menceburkan diri. Dibukanya Fila audio itu, lalu terdengarlah sebuah suara yang tidak asing—disusul suara lain, yang sama-sama tidak asing.
Boleh dibilang, otak Baskara cukup cerdas. Walaupun kecerdasannya sering kali tertutup kelakuan absurd yang kadang-kadang di luar batas, tapi dia jelas memiliki IQ di atas rata-rata. Tapi selama mendengarkan rekaman audio itu, kecerdasan yang dia miliki seolah tidak berarti apa-apa. Ia mendadak berubah menjadi orang dungu, tak bisa menangkap maksud dari percakapan yang terjadi di antara dua orang—yang kemudian dia yakini sebagai ayah dan ibunya.
"Please, lah, Sera. Kamu boleh menjauhkan Fabian dari aku, ayah kandungnya. Tapi kamu nggak bisa juga memaksa dia untuk nggak berada di dekat Baskara. They're siblings, Sera. Ada darah aku yang mengalir deras di tubuh mereka, jadi wajar kalau mereka punya ikatan batin yang kuat antara satu sama lain."
"Jeff, mereka bukan saudara."
"They are, Sera. Mau kamu bilang enggak sebanyak satu juta kali pun, mereka tetap saudara. Nggak akan ada yang bisa merubah itu,"
"Jeff!"
"Cukup. Tolong jangan bahas soal ini lagi. Udah cukup kamu nggak mengijinkan mereka untuk saling mengetahui fakta bahwa mereka adalah saudara. Kamu nggak perlu sejauh itu untuk melarang mereka berteman juga."
Lalu hening. Tidak ada lagi suara orang berdebat yang berlanjut. Tapi, keramaian itu lantas berpindah ke kepala Baskara. Kedunguannya berlangsung cukup lama. Bahkan untuk mencoba memahami apa yang dia dengar, rekaman itu dia putar ulang sebanyak lima kali.
Semakin didengarkan, semakin ribut kepalanya. Semakin tidak bisa pula dia memahami situasinya. Semakin dia merasa, kemampuan otaknya untuk berpikir nyaris tidak ada.
Dia dan Fabian adalah saudara? Seayah? Lelucon apa lagi ini? Tidakkah cukup lelucon demi lelucon hadir di tengah kehidupannya yang semrawut?
"Ini ... ini apa lagi, Tuhan?" lirihnya, masih dengan pikiran yang mengawang di udara.
Bersambung
__ADS_1