
Belum ada satu jam sejak Fabian pertama kali terlihat bersama Biru, nama mereka sudah bertengger di base kampus dan menjadi perbincangan hangat.
Banyak yang membuat cuitan dengan narasi yang beragam. Ada yang bilang kalau Biru adalah target taruhan yang selanjutnya, namun ada juga yang menduga kalau kedatangan Fabian ke fakultas Biru adalah untuk merekrut gadis itu agar mau bergabung menjadi anggota ke-lima Pain Killer.
Bukan tanpa alasan mengapa sampai ada yang mengatakan soal Biru yang hendak direkrut, karena beberapa bulan sebelumnya, memang telah beredar kabar bahwa Pain Killer sedang mencari anggota baru berjenis kelamin perempuan untuk menjadi pelengkap. Dan kriteria yang mereka cari benar-benar pas dengan karakter Biru. Yaitu gadis independen, tidak cengeng dan memiliki sisi kuat yang akan membuat orang-orang menjadi segan.
Ramainya base kampus tentu saja tidak luput dari perhatian Baskara selaku pentolan Pain Killer, sekaligus si manusia paling update di Neosantara. Hal itu membuat jalannya kelas pertama sama sekali tidak kondusif bagi para anggota Pain Killer. Karena bukannya memperhatikan dosen yang sedang mengajar di depan kelas, mereka malah saling melemparkan bisikan sembari menunjuk beberapa cuitan yang ada di base kampus.
"Ini gara-gara congor lo yang asal jeplak kalau ngomong, makanya orang-orang beneran ngira kita mau nyari anggota ke-lima." Cibir Reno, sembari memicing ke arah Baskara yang duduk di antara dirinya dan Fabian.
Baskara yang diomeli begitu tidak ambil pusing, malah dengan santainya menyahuti, "Kayaknya asik juga kalau si Biru kita jadiin anggota baru," yang seketika membuatnya dihadiahi geplakan maut di kepalanya oleh Reno.
Geplakan maut itu sakit, demi Tuhan! Jadi Baskara tidak bisa menahan diri dari pekikan, yang berujung membuatnya dilempari tatapan tajam oleh dosen perempuan berusia akhir lima puluhan yang sedang mengajar di depan kelas.
"Kalau mau ribut, jangan di sini! Keluar kamu!" tunjuk si dosen, yang membuat Baskara seketika kicep sambil terus mengusap kepalanya yang berdenyut.
Tatapan si dosen masih terlempar tajam ke arah Baskara, sampai kemudian ditatapnya satu persatu anggota Pain Killer yang lain, juga beberapa mahasiswa yang memang sedari tadi sedikit gaduh.
"Saya nggak peduli kalian anaknya siapa," ucap si dosen begitu tatapannya kembali terarah kepada Baskara. "Yang jelas, selama kelas saya, kalian semua adalah mahasiswa dan kalian harus patuh pada aturan yang saya buat. Kecuali kalian mau tidak saya luluskan dari mata kuliah saya." Tegas si dosen.
Tidak seperti anak-anak orang berpengaruh pada umumnya, yang gemar menggunakan jabatan orang tua sebagai tameng untuk bisa berbuat semena-mena, anggota Pain Killer memilih untuk menjadi diri mereka sendiri. Memanfaatkan sedikit fasilitas yang ada untuk kemudian membangun image mereka sendiri agar mereka disegani sebagai Pain Killer, bukan sebagai anak-anak dari orang berpengaruh di Neosantara.
Jadi, ketika si dosen berkata demikian, Baskara dan kawan-kawan dengan rendah hati menganggukkan kepala, tanda setuju bahwa mereka akan mengikuti kelas dengan tenang.
Seisi kelas yang lain juga turut menganggukkan kepala. Barulah kemudian kelas kembali berjalan serius seperti semula.
"Nanti kita bahas lagi," bisik Reno yang terakhir kali sebelum akhirnya benar-benar senyap.
__ADS_1
...****************...
Biru sudah terbiasa mendengar bisik-bisik selama kelas berlangsung, dan dia juga terbiasa untuk mengabaikannya.
Namun, ketika namanya tiba-tiba dibawa, tentu saja dia tidak akan tinggal diam.
Sejak kedatangan Fabian ke fakultasnya, Biru sudah tahu kalau mereka menjadi pusat perhatian. Yang sekaligus membuatnya sadar kalau ternyata reputasi Fabian dan kawan-kawannya di Neosantara memang tidak bisa dianggap remeh.
Tapi tetap saja, ia masih tidak terbiasa untuk menjadi pusat perhatian. Menjadi bahan omongan orang-orang, sekalipun itu adalah hal yang baik, merupakan sesuatu yang benar-benar dia benci sedari dulu. Hal yang sekaligus membuatnya tidak pernah mau dipublikasikan sebagai pacar oleh Baskara ketika mereka masih menjalin asmara dulu.
Biru tahu bocah kurang ajar itu memang selalu pandai menarik perhatian, membuat dirinya menjadi paling mencolok di antara yang lain bahkan tanpa perlu banyak usaha.
Dulu, Biru menyukai hal itu. Karena kepribadian Baskara yang cerah berhasil membantunya yang introvert parah untuk lebih berkenan menerima energi positif dari sekitar.
Tapi sekarang, hal itu menjadi alasan terbesarnya membenci Baskara. Karena tidak peduli seberapa bajingan pemuda itu, orang-orang tetap memiliki alasan untuk mencintainya.
Biru menoleh ke samping kiri, menemukan salah satu dari dua gadis pembuat onar di kelasnya bertanya dengan tatapan yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lebih ramah ketimbang biasanya. Bahkan ada senyum tipis yang tersungging meskipun tidak kentara.
Di samping gadis itu, temannya juga ikut-ikutan menanti jawaban. Meskipun tatapannya masih tidak ramah dan raut wajahnya masih sangat menyebalkan.
"Omong kosong," sahut Biru, kemudian dia kembali melemparkan tatapan ke depan.
Dosen yang mengajar hari ini terkenal paling acuh, tidak peduli meskipun ada keributan besar yang terjadi di dalam kelas karena berprinsip yang penting dia datang ke kelas untuk mengajar. Masa bodoh materi yang dia sampaikan bisa diterima dengan baik oleh mahasiswa atau tidak, yang penting dia tidak kelihatan makan gaji buta.
Dan hal itu membuat Biru kesal setengah mati. Sebab, gara-gara sikap acuh itu, seisi kelas benar-benar ribut dan kepalanya serasa mau pecah mendengar gunjingan-gunjingan di mana namanya selalu ikut disebut.
"Kalau gitu, berarti lo target taruhan yang selanjutnya."
__ADS_1
Meksipun tidak menoleh, Biru tahu suara itu datang dari gadis yang satunya. Saking seringnya mendengar mereka bergunjing, ia jadi hafal suara mereka meskipun tanpa menatap muka.
"Agak aneh sih tapi kalau mereka jadiin lo bahan taruhan."
Begitu Biru menoleh, ia menemukan si gadis tidak ramah itu menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, kemudian kembali menatap datar ke arahnya setelah selesai memindai.
"Soalnya dilihat dari segi manapun, nggak ada yang kelihatan menarik dari lo." Cibir gadis itu.
Kalau mereka berpikir Biru akan terpancing, mereka tentu salah besar. Setelah perpisahannya dengan Baskara, dan tidak ada lagi yang bisa membelanya dari orang-orang kurang ajar semacam dua gadis ini, Biru telah belajar untuk membela dirinya sendiri. Dengan cara yang elegan, anggun, namun tetap bisa membuat lawan bicaranya mati kutu.
Maka, dengan begitu tenangnya, Biru merubah posisi duduknya agak menyerong agar bisa menatap gadis tidak ramah itu dengan lebih jelas. Kaki kanannya naik, disilangkan di atas kaki kiri sementara kedua tangannya terlipat di depan dada secara otomatis. Punggungnya juga sedikit bersandar ke kursi, dan ia menyuguhkan senyum miring yang khas dirinya sekali.
"Mau jadi anggota ke-lima ataupun bahan taruhan, itu sama sekali nggak ada urusannya sama lo berdua." Katanya dengan nada super tenang. "Gue tahu kalian ngebet banget buat di-notice sama anggota Pain Killer," sambungnya, kemudian memberi jeda sedikit hanya untuk mencondongkan tubuhnya ke arah dua gadis yang kini sudah terlihat tegang.
"Tapi sayangnya, mau kalian jungkir balik sekalipun, mereka nggak akan pernah ngelirik kalian. Tahu kenapa?" senyum miringnya semakin menjadi-jadi, berbanding terbalik dengan raut wajah dua gadis di depannya yang seketika berubah penuh kekesalan dan amarah yang berusaha ditahan mati-matian. "Karena mereka nggak level sama cewek murahan kayak kalian, yang hobinya bergosip dan cuma bisa nyinyirin orang."
"Lo-"
"So you guys better shut up." Potong Biru bahkan sebelum salah satu dari mereka menyelesaikan ucapannya. "And be nice to me, siapa tahu nanti gue berbaik hati untuk bujuk mereka supaya mau kasih kalian kesempatan," Biru menjauhkan tubuhnya dari dua gadis itu, kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Untuk numpang tenar." Pungkasnya.
Setelah itu, tidak dihiraukannya lagi reaksi yang muncul dari dua gadis di sampingnya itu.
Karena kini, Biru justru memutar otak, memeras setiap bagian di sana untuk diajak bekerja lebih keras demi menemukan cara paling efektif untuk tetap mendekati Fabian karena berkat berita ini, pemuda itu mungkin saja akan memutuskan untuk mundur.
Pokoknya, dia harus bisa masuk ke dalam circle pertemanan Fabian, untuk mulai menghancurkan Baskara secara perlahan.
Bersambung
__ADS_1