Taruhan

Taruhan
Step Two : Text Her


__ADS_3

Kembali ke misi taruhan ...


Besoknya, setelah menyelesaikan total empat kelas yang ada, anggota Pain Killer berkumpul di sebuah ruangan yang letaknya di belakang bangunan fakultas. Ruangan itu dulunya merupakan ruang untuk klub fotografi, namun sejak satu tahun terakhir, ruangan itu mereka jadikan markas ketika harus menggelar rapat penting terkait strategi mereka untuk melaksanakan misi.


Tolong jangan lupakan bahwa mereka adalah anak-anak dari orang-orang berpengaruh di Universitas, jadi bukan hal sulit bagi mereka untuk mengambil alih satu ruangan kecil di kampus tersebut.


"As you can see, Tuan Muda Pramudya Baskara yang Terhormat, nggak ada satu pun permintaan pertemanan dari kita yang di acc sama si Avatar." Reno menjadi yang pertama kali mengajukan komplain.


Sebab semalam, setelah membahas tentang villa mana yang akan mereka booking untuk liburan semester beberapa bulan lagi, dia menekuri ponselnya untuk waktu yang cukup lama, hanya untuk menemukan tidak adanya notifikasi bahwa permintaan pertemanan yang telah dia kirimkan kepada gadis bernama Biru itu telah diterima.


Reno kesal, jujur saja. Sebab baru kali ini dia mendapati target mereka begitu acuh, seolah buta dan tidak tahu siapa yang sedang dihadapi sekarang. Dia berani bertaruh, kalau si Biru Avatar itu tahu bahwa dia dan teman-temannya lah yang telah mengirimi permintaan pertemanan, gadis itu pasti akan langsung melompat-lompat kegirangan.


"Kalem, boy." Sahut Baskara, lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.


Reno, Juan dan Fabian yang duduk menggelesot di lantai saling pandang sebentar, sebelum akhirnya serempak menoleh ke arah Baskara yang duduk sendirian di atas sofa, bak seorang raja yang didampingi tiga pengawal setia.


Tidak sampai satu menit kemudian, ketiganya mendengar ponsel Baskara berdenting nyaring. Si empunya, sembari menarik ujung permen batang dari dalam mulutnya, bergerak menegakkan punggungnya yang semula bersandar di sofa.


Tiga yang lain masih diam, menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Baskara.


Sampai akhirnya, terdengar suara notifikasi dengan dering yang berbeda, namun datang di waktu yang bersamaan.


Reno, Juan dan Fabian segera merogoh saku celana untuk menarik ponsel mereka masing-masing.


Di room chat grup, Baskara baru saja mengirimkan informasi nomor ponsel Biru.


"Kalian gunain dengan bijak tuh nomor hape, mahal gue bayarnya buat dapetin itu doang." Kata Baskara, ketika dia rasa tiga temannya sudah selesai mencerna informasi yang dia berikan.


"Emang da best, lah, Tuan Muda Baskara ini." Puji Juan, disertai kekehan ringan.

__ADS_1


Baskara tidak bisa dipuji. Karena sedikit saja mendengar pujian, kepalanya akan membesar. Jadi, ketika pujian itu terlontar dari bibir Juan, dan meskipun dia tahu itu hanya guyonan, Baskara dengan bangga membusungkan dada, menepuk-nepuk dada kirinya pelan seolah dia adalah pahlawan yang baru saja berhasil menyelamatkan negara.


"Najis," cibir Reno, dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Baskara sebenarnya mendengar cibiran itu, tetapi dia memutuskan untuk pura-pura tuli dan tetap membanggakan dirinya sendiri di depan Juan dan Fabian yang semakin dibuat tergelak dengan tingkahnya.


"By the way," Reno memotong interaksi antara Baskara, Juan dan Fabian.


Ketiganya lalu menoleh, memfokuskan perhatian pada Reno agar pemuda itu bisa melanjutkan omongannya yang belum selesai.


"Malam ini ada party di Mega, kan?" tanyanya.


Ketiga temannya mengangguk, serempak, seperti gerak tubuh mereka memang sudah disinkronkan sejak awal.


"So, why don't we use the party as an excuse?"


Selama beberapa saat, tidak ada yang buka suara. Baskara, Juan dan Fabian tampak berpikir, sedangkan Reno diam karena dia memang sedang menunggu jawaban.


Reno mengetikkan satu kata di sana. Lalu saat dia sadar ketiga temannya hanya bengong, dia kembali berdecak.


"Lo pada ngapain malah bengong ngeliatin gue?!" sentaknya. "Buruan chat si Avatar!" lanjutnya, masih dengan nada tinggi yang sudah tidak membuat teman-temannya itu heran.


Bak dikomando, Fabian dan Juan secara serempak mengangkat ponsel lalu mengetikkan sesuatu di sana. Lalu, pada hitungan ke-tiga (entah siapa yang awalnya berinisiatif untuk mulai menghitung), pesan yang mereka ketikkan di ponsel masing-masing pun dikirim di waktu yang bersamaan.


"Dah, tinggal tunggu aja si Avatar respon." Kata Reno, langsung diamini oleh teman-temannya dan mereka kembali sibuk dengan kegiatan mereka yang lain, sejenak melupakan soal si Biru Avatar dan segala misi taruhan mereka.


...****************...


Selama kelas terakhirnya berlangsung, fokus Biru beberapa kali terpecah karena ponsel yang yang ada di dalam saku celananya terus-menerus bergetar, menandakan adanya notifikasi beruntun yang entah datangnya dari aplikasi yang mana.

__ADS_1


Tadinya, Biru mau membiarkan saja dan berniat memeriksa ponselnya nanti ketika kelas telah selesai. Tetapi karena terlanjur geregetan, Biru akhirnya diam-diam mengeluarkan ponsel dari saku sambil sesekali mengawasi dosen pengajar di depan kelas agar dirinya tidak tertangkap basah sedang bermain ponsel selama kelas.


Begitu layar kunci terbuka, biru menemukan ada tiga pesan masuk dari tiga nomor tidak dikenal, selebihnya adalah notifikasi dari beberapa aplikasi yang lupa tidak dia mute.


Setelah menimbang selama beberapa saat, Biru memutuskan untuk memeriksa tiga pesan yang masuk tersebut.


Pesan yang pertama dan ke-dua berisi kata sapaan sesingkat hai, tanpa embel-embel apapun di belakangnya. Tidak tertarik untuk membalas, Biru melanjutkan ke pesan yang ke-tiga.


Tidak seperti pesan pertama dan ke-dua yang sudah template sekali digunakan oleh orang-orang untuk memulai sebuah perkenalan, pesan yang ke-tiga berhasil mencuri perhatian Biru dalam sekejap.


Pesan yang ke-tiga itu berbunyi, Lemonade, yang sama sekali tidak umum. Karena, orang gila macam apa yang akan mengajak seseorang berkenalan dengan menggunakan kata itu?


Awalnya Biru tidak berniat membalas tiga pesan itu, tetapi karena kata Lemonade cukup menarik perhatiannya, Biru akhirnya memutuskan untuk mengintip sedikit ke profil akun WhatsApp yang digunakan oleh tiga orang itu untuk mengirim pesan.


Satu persatu profil mereka (yang sama-sama tidak memunculkan foto profil) Biru klik, hanya untuk membuatnya berdecak sebal karena pada bagian info di ketiga nomor itu tertulis dua kata yang sama persis. Yaitu, Pain Killer.


Dari situ saja, Biru sudah tahu kalau tiga orang iseng ini tergabung dalam satu kelompok pertemanan yang menyebalkan, dan mereka mungkin sedang menjalankan permainan truth or dare atau semacamnya.


Biru tidak pernah tertarik untuk meladeni chat random semacam ini. Tetapi, sekali lagi, karena salah satu dari mereka menyebutkan kata Lemonade, maka Biru tertantang untuk mencari tahu sedikit bagaimana respon mereka jika dia membalas ketiga pesan itu.


Maka, Biru segera mengetikkan balasan. Berurutan, dari pesan yang pertama sampai yang ke-tiga.


Setelah itu, dia menunggu.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.

__ADS_1


Hampir dua menit, dan belum juga ada balasan. Biru kesal, jadi dia segera mematikan kembali layar ponsel dan memasukkan benda itu ke dalam tas lalu dia kembali fokus pada sisa kelas yang kurang dari lima belas menit.


Bersambung


__ADS_2