
Hari berikutnya, dari subuh sampai menjelang sore, Fabian benar-benar dibuat sakit kepala karena Baskara sama sekali belum menyerah dengan tawarannya untuk kabur berdua. Meksipun jelas-jelas ia menolak dengan keras, dan telah menjelaskan panjang lebar tentang kenapa mereka tidak bisa melakukan ide konyol itu, Baskara tetap merengek kepadanya.
Akhirnya, karena sudah bosan mendengar rengekan Baskara sekaligus tidak lagi punya daya untuk menjelaskan, ia pun menyeret Baskara dan memaksa pemuda itu untuk segera pergi meninggalkan kediamannya.
Tentu saja, adegan itu tidak berlangsung mudah. Karena lagi-lagi, Baskara berulah. Persis seperti anak anjing yang enggan ditinggal pergi oleh majikannya, Baskara bergelayut manja di lengannya. Kepala Baskara yang ditumbuhi rambut sedikit ikal dan sudah mulai memanjang digesek-gesekkan ke lengannya, membuatnya bukan cuma merasa geli tetapi juga sekaligus risih.
Perjuangan Fabian hanya untuk membuat Baskara bersedia masuk ke dalam mobil dan segera pulang tidak main-main. Jadi, ketika dia akhirnya berhasil, Fabian menghela napas lega sebagai sebuah bentuk penghargaan kepada dirinya sendiri.
Ketika si kampret Baskara beserta mobilnya tidak lagi nampak dalam jangkauan pandang, Fabian bergerak menuju garasi. Segera ia tunggangi motor miliknya, menyalakan mesin kemudian langsung menarik tuas gas setelah memastikan helm terpasang dengan baik di kepalanya.
Kuda besi kesayangannya melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang masih lengang di Minggu sore yang cerah. Langit di atasnya merupakan perpaduan warna oranye, merah muda, putih dan sedikit bercak kebiruan yang berpadu apik, serupa sebuah kanvas yang telah selesai dilukis oleh seniman paling hebat di seluruh jagad raya.
Setengah jam berkendara, Fabian sampai di komplek apartemen Biru. Motor ia parkirkan di basement dan ia bergegas naik ke unit milik gadis itu.
Selagi kakinya terayun menyusuri lorong, Fabian mengirimkan beberapa pesan pemberitahuan kepada Biru bahwa ia datang dan mereka harus berbicara tentang banyak hal.
Akan tetapi, sampai kini kakinya telah berhenti di depan pintu unit apartemen milik Biru, gadis itu masih belum membalas satu pun pesan yang ia kirimkan. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak.
Tatapan Fabian terpaku cukup lama pada gagang pintu berwarna hitam. Ada sedikit niat di hatinya untuk memasukkan kode keamanan dan masuk saja seperti yang biasa ia lakukan. Tapi niat itu luntur dengan cepat kala ia mengingat bahwa hubungannya dengan Biru sedang tidak baik ketika terakhir kali mereka berpisah. Lagipula, ia juga berpikir tidak baik untuk membiasakan diri langsung masuk ke dalam hunian milik orang lain.
Maka Fabian memutuskan untuk menelepon Biru terlebih dahulu. Ia berpikir Biru mungkin masih tidur, atau sedang berada di dalam kamar mandi sehingga tidak mendengar denting notifikasi dari pesan-pesan yang dia kirim sebelumnya.
Nada tunggu menggema memenuhi rungunya, membuatnya tanpa sadar menghitung setiap detik yang terbuang untuk menunggu sampai panggilan yang ia buat tersambung. Genap sepuluh detik terdengar, nada tunggu itu akhirnya berhenti, mendadakan bahwa panggilannya tidak direspons sama sekali.
Tidak menyerah, Fabian mencoba sekali lagi. Kali ini, dia sedikit tidak sabaran untuk bisa menghitung berapa detik lagi yang dia habiskan untuk menunggu. Selama nada tunggu terdengar, ia menggunakan waktunya untuk menggerutu.
__ADS_1
Panggilan ke-dua ternyata tidak tersambung juga. Fabian mulai mempertimbangkan untuk menelepon sekali lagi, atau langsung masuk saja dengan niat untuk memeriksa karena barang kali Biru sedang berada di dalam kesulitan seperti tempo hari—ketika kakinya terkilir di kamar mandi.
Opsi yang ke-dua menjadi pemenang. Enam digit angka segera diinput, dan gagang pintu diturunkan dengan gerak serabutan.
Yang pertama kali menyambut Fabian ketika pintu apartemen akhirnya terbuka adalah kegelapan. Entah karena sudah kebiasaan, atau dasarnya si Biru itu memang pemalas, Fabian memang lebih banyak mendapati lampu-lampu di unit apartemen ini tidak dinyalakan tepat waktu.
Beruntung, ia sudah beberapa kali berkunjung sehingga mulai hafal di mana letak saklar lampu dari masing-masing ruangan.
Satu persatu saklar, mulai dari yang ada di dekat pintu masuk dinyalakan, merembet ke dapur, kemudian ruang tengah. Setelah semua lampu menyala, ia mulai mengedarkan pandangan untuk menemukan sosok Biru yang bisa muncul dari mana saja.
Tapi sayangnya, sejauh mata memandang, Fabian sama sekali tidak mendapati keberadaan gadis itu. Pintu kamar mandi juga terbuka lebar, sehingga kemungkinan Biru sedang ada di dalamnya langsung gugur tanpa banyak pertimbangan.
Kini, hanya tinggal satu ruangan saja yang belum Fabian cek, yaitu kamar Biru.
Mulanya ragu-ragu, kemudian Fabian mengayunkan langkah mendekati pintu kamar Biru setelah mendapatkan sedikit keyakinan bersama tarikan napas yang dia ambil dalam-dalam. Satu tangannya terangkat, lalu mendarat di pintu kayu itu dengan beberapa kali ketukan yang dibuat sehalus mungkin—sebisa mungkin tidak membuat gaduh, tetapi cukup untuk bisa didengar oleh Biru jika gadis itu betulan ada di dalam kamarnya.
Hening. Tidak ada yang menyahut. Bahkan setelah ketukan-ketukan dan panggilan lain ia lakukan, Biru masih tidak menyahut.
Sampai tiba saatnya rungu Fabian menangkap suara seseorang yang tengah memasukkan kode keamanan ke pintu apartemen Biru, dan dia segera melesat ke depan untuk memeriksa.
Saat kakinya tiba di depan pintu, muncul sosok Biru dari balik pintu yang terbuka. Gadis itu tampil dalam balutan kaus oversize yang menelan habis celana pendek di atas lutut—membuatnya terlihat seperti tidak memakai celana—sambil menenteng goodie bag warna putih dengan logo dan tulisan nama salah satu restoran cepat saji. Sama seperti dirinya, gadis itu juga tampak terkejut saat tatapan mereka bertemu.
"Mau ngapain lo ke sini?"
...****************...
__ADS_1
"Mau ngapain lo ke sini?" tanya Biru setelah berhasil menormalkan kembali kinerja otaknya setelah syok terapi kecil yang muncul atas kehadiran Fabian yang tak terduga.
"Lo habis dari mana?" Fabian malah balik bertanya.
Biru tidak menjawab pertanyaan itu dan lebih memilih menutup pintu di belakang dengan gerakan yang sedikit membanting kemudian berjalan melewati Fabian begitu saja. Ia berjalan menuju ruang tengah, segera mendudukkan diri di sofa lalu menata kotak makan yang tadi dia tenteng ke atas meja.
Selera makannya sedikit berkurang saat mendapati kehadiran Fabian. Dia masih kesal karena pemuda itu melarangnya untuk membela diri. Akan tetapi, makanan yang telah ia beli dengan effort yang tidak main-main ini tiak boleh disia-siakan begitu saja. Ia harus tetap memakannya, meskipun harus menelan dengan susah payah karena keselannya terasa begitu menumpuk hingga menimbulkan sensasi mengganjal di tenggorokan.
Satu suapan yang berhasil masuk ke dalam mulut kemudian ia kunyah pelan-pelan selagi matanya mengawasi sosok Fabian yang menyusul ke ruang tengah. Saat Fabian berdiri di hadapannya, hasil kunyahan itu dia telan dengan susah payah.
Kemudian, selera makannya benar-benar habis dan dia tidak lagi berminat untuk menyentuh makannya sama sekali. Sendok di tangan ia campakkan ke atas meja, punggung sempitnya ia empaskan ke sofa selagi kedua tangannya bergerak cepat terlipat di depan dada.
"Ada kepentingan apa lo ke sini?" ketusnya, bonus tatapan tajam yang rasanya bisa mencabik-cabik tubuh lawan bicaranya menjadi tak berbentuk.
Tidak seperti dirinya yang sewot bukan main, pemuda yang ia ajak bicara itu justru kelihatan santai saja. Satu tangannya bahkan dimasukkan ke saku celana, satu lagi menggenggam ponsel di sisi tubuhnya.
Sungguh, itu adalah pose paling menyebalkan menurut Biru. Seolah kemarahannya sama sekali tidak berarti dan pemuda di hadapannya itu hanya sedang memandang remeh dirinya.
"Lo bisu?" sarkasnya. Tatapannya kian menajam, tak berniat sedikit pun untuk melunak.
Lalu "Sorry," menjadi satu kata yang sama sekali tidak pernah Biru sangka akan ia dapatkan dari Fabian. Satu kata ajaib yang sialnya berhasil membuat kekesalan Biru yang semula ada di level tinggi perlahan-lahan turun meskipun tidak bisa sampai hilang sama sekali.
"Gue salah karena udah marah-marah sama lo, when you're just trying to defend yourself." Kata pemuda itu. "Gue cuma khawatir sama lo, tapi cara gue buat menyampaikan kekhawatiran itu kayaknya salah dan akhirnya malah bikin lo berpikir gue ngeremehin kemampuan lo untuk membela diri."
"You're strong enough to defend yourself, I know that. So, forgive me?"
__ADS_1
Bersambung