
Sejak pertama kali bertemu dengan Fabian, Baskara memang sudah merasa ada keterikatan yang lain antara dirinya dengan pemuda itu. Seperti ada koneksi yang begitu dekat, yang dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Selama itu pula, dia tidak pernah berpikir untuk menolak perasaan tersebut. Dia biarkan dirinya larut dalam keterikatan itu tanpa tahu, bahwa ada alasan yang cukup masuk akal mengapa hal itu bisa terjadi.
Rekaman audio yang dia terima akhirnya dia putar lagi, totalnya menjadi 16 kali. Diulang-ulang hingga kini dia bisa mengucapkan kembali apa yang dia dengar dengan intonasi yang pas. Bahkan, bagaimana cara ayah dan ibunya berbicara, nada seperti apa yang mereka gunakan, semuanya bisa dia ikuti dengan baik. Seperti rekaman itu telah tertanam secara permanen di dalam otaknya, dan tidak ada cara untuk menghapusnya dari sana.
Di hadapannya kini, Jeffrey duduk dengan tubuh yang tampak gemetar. Ia baru saja memperdengarkan kepada lelaki itu rekaman audio yang dia terima. Memaksa lelaki itu membuka telinganya lebar-lebar seraya mempersiapkan argumen untuk membela diri—yang nyatanya sama sekali tidak muncul, bahkan ketika rekaman audio itu sudah sampai di detik terakhir.
Baskara menatap lurus mata Jeffrey, berusaha membaca apa saja yang terpancar dari sana—dan berhasil sia-sia karena ternyata dia tidak mengenal sosok ayahnya sebaik itu.
Ponsel miliknya yang telah kembali padam dan semula dia letakkan di atas meja, dia raih. Benda pipih itu kemudian menjadi sarana baginya untuk tersambung dengan seseorang, yang dia pikir harus tahu soal ini juga.
Fabian. Baskara sedang menekan nomor pemuda itu, agar si pemuda bisa mendengarkan secara langsung apa yang akan ayahnya jelaskan.
“Halo?” pemuda itu mengangkat telepon di dering ke-6.
Baskara menyalakan loud speaker, lantas meletakkan ponselnya di atas meja. “Lo lagi di mana?” tanyanya dengan suara pelan. Tatapannya sama sekali tak beralih dari Jeffrey, yang kini turut mencurahkan perhatian pada ponselnya yang menyala.
“Di rumah. Kenapa? Lo kangen sama gue?” sahut Fabian diakhiri kekehan ringan.
“Gue mau nanya sesuatu sama lo.”
“Apa?”
“Gimana kalau ternyata ... kita adalah saudara?” Baskara melihat Jeffrey mengangkat kepala, kemudian menggeleng pelan sebagai isyarat agar ia tak melanjutkan kalimatnya. Namun, dia keras kepala. Sudah terlanjur tenggelam, kenapa harus repot-repot berusaha naik lagi ke permukaan, kalau ujungnya dia tetap akan mati dan membusuk di dasar? “Gimana reaksi lo, kalau ternyata ayah yang selama ini nggak lo tahu wujudnya itu, adalah bokap gue?”
“Lo lagi mabok, ya?”
“Gue sadar, 100 persen.”
__ADS_1
“Nggak. Lo mabok. Lo cuma bakal ngomong yang aneh-aneh kayak gini kalau lagi mabok.”
Untuk beberapa saat, Baskara tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia ingin menegaskan lagi bahwa kondisinya saat ini adalah 100 persen sadar, dan pertanyaan yang dia lontarkan kepada Fabian bukanlah hasil dari pemikiran acak ketika dia sedang mabuk. Tapi ujung-ujungnya, dia malah mengembuskan napas panjang. “Kepala gue cuma lagi mumet aja. Sorry udah ganggu waktu istirahat lo. Ketemu besok di kampus, ya. Bye.” Lalu telepon diakhiri.
Ternyata, memang tidak semudah itu. Terlebih saat dia belum tahu apa-apa soal kebenarannya. Dia pikir akan lebih bagus jika bisa mendengar penjelasan dari ayahnya bersama Fabian, agar mereka sama-sama bisa berpikir dan dia tidak perlu bersusah payah mencari cara untuk menjelaskan kepada pemuda itu. Tapi ternyata dia salah. Hatinya masih tidak kuat.
“Sebaiknya Papa jelasin ke Baskara, sejelas-jelasnya, sekarang juga.” Pinta Baskara setelah menyingkirkan ponselnya jauh-jauh—sebagai antisipasi agar ia tidak kembali menelepon Fabian secara impulsif.
Untuk beberapa lama, Jeffrey tak kunjung buka suara. Lelaki itu sedang sibuk menenangkan gemuruh di dalam dadanya sendiri. Berusaha menahan sesak yang merambati dadanya agar tidak semakin melebar ke mana-mana—atau dia mungkin akan mati mengenaskan di depan putranya sendiri.
Sampai kemudian, ketika dia akhirnya mendapatkan sedikit keberanian untuk kembali menatap mata putranya yang sudah berkabut, Jeffrey mulai buka suara.
Dia ceritakan semuanya. Mulai dari siapa itu Raya dan apa hubungannya dengan keluarga mereka, sampai kenapa dia bisa berakhir membuat perempuan itu mengandung anaknya. Jeffrey juga menceritakan kepada Baskara alasan mengapa kebenaran ini disembunyikan. Mengapa dia tidak bisa bertanggung jawab atas Fabian, dan malah membiarkan anak itu tumbuh tanpa tahu siapa ayah kandungnya. Jeffrey menceritakan semuanya sambil berurai air mata, menyesali kebodohannya yang berakhir membuat putra tercintanya terluka—dan putranya yang lain kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang layak.
Jeffrey yang dikenal orang lain sebagai sosok yang sempurna, nyatanya tak lebih dari seorang pecundang, yang membawa kehancuran untuk hidup orang-orang yang dia sayang.
Selama ini, Baskara merasa dia yang paling menderita. Tanpa tahu, bahwa ternyata ada anak lain yang terpaksa menjalani kehidupan menyedihkan karena ulah kedua orang tuanya. Karena ayahnya yang tak bertanggung jawab, juga ibunya yang terlalu egois demi mempertahankan keluarga kecilnya sendiri. Baskara tahu ibunya terluka, tapi haruskah perempuan itu membiarkan anak lain terlantar? Apa seorang ibu memang selalu berpikir demikian? Bahwa anak-anak mereka adalah yang terpenting, dan anak-anak orang lain sama sekali tidak memiliki arti apa-apa.
Dunia Baskara serasa runtuh, tapi dia sadar dunia milik Fabian bahkan sudah lama hancur lebur. Dan di titik ini, tak ada hal lain yang kemudian bisa Baskara pikirkan selain Fabian. Segala andai-andai bertebaran di kepalanya. Andai dia dan Fabian lahir dari rahim yang sama. Andai ayahnya bisa lebih berani untuk memikul tanggung jawab. Andai ibunya betulan merupakan perwujudan malaikat tanpa sayap—seperti yang dia yakini selama ini. Dan masih banyak andai-andai lain yang pada akhirnya tak berarti apa-apa karena semuanya sudah terjadi.
“Maafin Papa, Bas.” Lirik Jeffrey, setelah terdiam cukup lama menikmati tangisnya.
Baskara mengusap satu tetes air mata yang jatuh membasahi pipinya, kemudian bangkit seraya meraih ponsel miliknya yang tersisih jauh di sudut meja. Sebelum berlalu, dia menatap Jeffrey cukup lama, lantas berkata. “Maaf itu juga seharusnya Papa ucapkan ke Fabian dan ibunya.”
Dada Baskara terasa semakin sesak ketika dia berbalik, memunggungi ayahnya yang terisak-isak di tempatnya duduk, kemudian mengayunkan langkah lebar-lebar menuju pintu depan. Dan, langkah itu bahkan tidak berhenti terayun meskipun dia menemukan ibunya muncul dari balik pintu, dengan raut wajah kebingungan ketika mata mereka bertemu.
“Kamu mau ke mana, Bas? Udah malam.”
__ADS_1
Baskara tak menyahut. Dia melewati tubuh ramping ibunya, berderap menghampiri mobilnya lalu segera masuk dan tancap gas meninggalkan rumah. Meninggalkan Sera terpaku di ambang pintu, juga Jeffrey yang semakin larut dalam tangis yang mendayu-dayu.
...****************...
Berkendara tanpa tujuan selama hampir dua jam akhirnya membuat Baskara kembali ke sini. Satu-satunya tempat yang bisa dia pikirkan ketika kepalanya serasa akan meledak—berubah menjadi kepingan-kepingan kecil tak berarti. Ia berdiri selama 15 menit di sana, di depan pintu apartemen Biru tanpa punya kekuatan untuk menggerakkan tangannya menekan bel.
Ini sudah hampir tengah malam, dan gadisnya mungkin sudah terlelap dalam tidur. Tapi, dia benar-benar tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Kalau bukan ke sini, dia mungkin akan menghabiskan malamnya di jalanan, berkelana bagai raga kosong tak bertuan.
Akhirnya, karena keberanian itu tak kunjung muncul dari dalam dirinya, Baskara memutuskan untuk duduk bersandar di depan pintu apartemen Biru. Ia sedikit mendongak, menatap langit-langit lorong yang berhiaskan lampu berwarna putih sebagai upaya untuk menahan tangisnya sendiri agar tidak luruh. Dadanya masih terasa sesak, bahkan semakin lama, dia semakin merasa kesulitan untuk bernapas.
Kepedihan terasa begitu menyayat hati, kala dia membayangkan, sesulit apa hidup yang Fabian sudah lalui selama ini karena keegoisan kedua orang tuanya? Ia mungkin masih hidup dengan kasih sayang yang dia terima dari ibunya, ketika dulu ayahnya pergi. Tapi Fabian bahkan tidak memiliki siapa-siapa. Anak itu sendirian. Tumbuh dengan perasaan kesepian, dan bahkan tidak pernah punya keberanian untuk menunjukkan kesedihannya di depan orang lain. Sebagai teman, dia tidak pernah bisa membantu banyak. Dan kini ketika dia tahu bahwa biar bagaimanapun, dia adalah seorang kakak, Baskara masih tidak tahu harus melakukan apa.
Baskara hanya ... takut. Bagaimana jika dia justru kehilangan Fabian, sebagai teman, ketika anak itu akhirnya tahu kenyataannya? Ketika anak itu akhirnya tahu bahwa teman yang dia bela-bela melebihi hidupnya sendiri, adalah alasan mengapa kelahirannya tidak diakui. Baskara takut Fabian membencinya. Perasan takut itu bahkan—ternyata—lebih besar daripada rasa takut kehilangan Sabiru dulu.
Sekuat apapun Baskara menahan air matanya agar tidak jatuh, pada akhirnya dia gagal juga. Ia menangis, sendirian di lorong apartemen yang sepi, dengan suara lirih yang begitu menyayat hati. Ia terisak-isak, dengan tangan yang berkali-kali memukuli dadanya sendiri berharap sesak itu mau berbaik hati untuk sedikit menepi. Kepalanya terasa berat, dan di titik ini, dia benar-benar sudah kepayahan untuk menarik napas.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, ketika tangisnya perlahan reda, dan dia merasakan pintu di belakangnya terbuka. Saat mendongak, dia menemukan Sabiru berdiri di ambang pintu. Gadis itu terlihat terkejut menemukan keberadaannya di sini, lalu dengan gerakan serabutan, gadis itu menarik lengannya untuk berdiri.
"Hei, what happened?" tangan lembut gadis itu menangkup wajahnya. Jemari lentiknya bergerak, mengusap jejak air mata yang masih terus bertambah di belah pipinya. "Sejak kapan lo di sini? Kenapa nggak pencet bel-nya, hmm?"
Baskara tidak sanggup membuka mulutnya. Yang bisa dia lakukan cuma menghambur ke dalam pelukan kekasihnya, menangis sejadi-jadinya selagi tangan Biru menepuk-nepuk punggung lebarnya, berusaha menenangkan.
"It's ok. Nggak apa-apa kalau lo belum bisa cerita. It's ok, I'm here. Lo boleh nangis sepuasnya." Bisik gadis itu. Tangannya masih terus menepuk-nepuk, sesekali merambat naik ke kepala, mengusap helaian rambutnya yang kusut.
Katanya, hidup memang perihal kehilangan. Datang dan pergi adalah sesuatu yang sudah lumrah, dan kita harus selalu siap kapanpun seseorang yang kita sayang pergi, jika itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Tapi kenyataannya, rela memang tak pernah semudah kata. Bahkan hanya bayangan saja, belum tentu benar-benar itu yang terjadi, tapi Baskara benar-benar merasa ketakutan setengah mati kalau nantinya Tuhan benar-benar akan menjauhkan ia dengan Fabian.
Larut malam, tangis yang keluar dari dirinya bukan cuma membuat Sabiru terjaga, tetapi juga beberapa penghuni apartemen lain yang kemudian mengintip keluar. Hendak mencari tahu, apa gerangan yang terjadi sehingga membuat seorang pemuda berbadan besar menangis tersedu-sedu seperti itu.
__ADS_1
Bersambung