
Setengah sebelas malam, kamar rawat Baskara kembali hening. Sang empunya sudah terlelap setelah menelan obat yang dokter resepkan, sedangkan empat teman yang sedari sore ikut memeriahkan suasana juga sudah pamit pulang sejak sebelum jam delapan.
Hening menguasai, membiarkan Sera dan Jeffrey yang terduduk diam di atas sofa saling bersahutan-sahutan dalam hal menarik dan membuang napas secara perlahan.
Sebenarnya, hubungan mereka belum bisa dikatakan baik. Hanya sebuah kesepakatan yang pada akhirnya mereka buat demi menjaga keluarga kecil mereka tetap utuh, dan Baskara tidak kehilangan sosok ayah maupun ibu.
Inti kesepakatan tidak jauh-jauh dari Jeffrey yang harus memutus segala usahanya untuk berdekatan dengan Fabian dan ibunya, sedangkan Sera juga telah setuju untuk tidak mengusik hidup mereka selagi Jeffrey menepati janjinya.
Interaksi yang mereka tunjukkan di depan Baskara memang palsu, tetapi demi Tuhan, kasih sayang yang mereka coba curahkan kepada anak itu adalah murni, datang dari lubuk hati paling dalam juga nurani sebagai orang tua yang tidak pernah mati.
Sera memandang ke arah ranjang Baskara, hendak memastikan apakah anaknya itu telah betul-betul jatuh terlelap atau masih tersisa sedikit kesadarannya. Dilihat secara kasat mata, anak itu memang sudah tidur. Naik turun napasnya juga teratur. Akan tetapi, Sera masih tidak yakin untuk mengajak Jeffrey berbicara di ruangan ini. Karena bisa saja Baskara terbangun di tengah obrolan mereka, dan semuanya akan kembali berantakan.
"Jeff," panggil Sera pada akhirnya. Ia menoleh ke arah sang suami, menatap lekat manik kembar yang binarnya sudah tidak sama lagi.
Jeffrey tidak menyahut, hanya balik menatap Sera sebagai tanda bahwa ia mendengarkan.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Sera. Suaranya mengalun begitu pelan, takut-takut akan mengganggu tidur putranya. "Di luar." Imbuhnya.
"Soal apa?" Jeffrey bertanya balik.
"Anak itu." Ucap Sera datar.
Sejujurnya, Jeffrey ingin menolak. Karena dia yakin, pembahasan mereka tidak akan berakhir baik jika topiknya adalah Fabian. Namun, ia tetap menganggukkan kepala. Tubuhnya dibawa bangkit dari sofa dan ia segera berjalan lebih dulu keluar dari kamar rawat Baskara.
Sera menyusul tidak lama setelahnya, kemudian mereka berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit yang sepi dengan beberapa lampu yang tampak padam.
__ADS_1
Suasana hening yang ada di sekitar masih tidak lebih horor ketimbang suasana hati Jeffrey saat ini, kala Sera akhirnya memutuskan untuk berhenti di salah satu kursi tunggu dan mendudukkan dirinya di sana tanpa sepatah katapun mempersilakan dirinya untuk ikut duduk bersama.
Jeffrey tetap mengambil posisi duduk di sebelah Sera, dengan menyisakan jarak satu kursi yang seolah mempertegas bahwa hubungan mereka memang tidak baik-baik saja.
Satu menit awal, Sera masih belum buka suara. Tatapannya malah tertuju lurus pada tembok rumah sakit yang putih pucat, sepucat perasaannya yang sekarat dan nyaris mati sejak ditinggal kabur oleh Jeffrey bertahun-tahun lalu.
Sementara Jeffrey juga tidak cukup punya inisiatif untuk membuka suara. Ia merasa serba salah. Merasa bahwa apapun yang akan keluar dari mulutnya, hanya akan membuat suasana kembali memanas.
Masuk menit ke-dua, yang terdengar hanyalah hela napas berat yang mengudara beberapa kali. Entah itu milik siapa. Entah milik Sera yang sedang mengumpulkan diksi paling baik untuk memulai obrolan, atau justru milik Jeffrey yang telah begitu frustrasi menunggu Sera berbicara. Atau mungkin, milik mereka berdua yang saling tumpang-tindih tidak keruan.
Di detik terakhir menuju menit ke-tiga, barulah Sera akhirnya berbicara. Dengan suara yang teramat pelan, nyaris hanya seperti desau angin yang sekadar lewat.
"Aku nggak suka anak itu terlalu dekat sama Baskara," begitu katanya.
Setidaknya, butuh beberapa detik bagi Jeffrey untuk mencerna ucapan Sera tersebut.
Selama bertahun-tahun terakhir, Jeffrey nyaris tidak lagi mengenali Sera sebagai perempuan yang ia cintai, meskipun raganya masih terus mengingatkan bahwa ia masih mencintai perempuan itu sebesar dulu. Ambisi Sera untuk menyingkirkan Raya dan Fabian telah mengubah banyak hal, dan Jeffrey tidak tahu lagi cara apa yang bisa ia gunakan untuk mengembalikan Sera-nya yang dulu.
"Kenapa?" tanyanya. Ada perasaan yang berusaha ia tekan kuat-kuat agar tidak mencuat keluar saat itu juga. Sebuah perasaan tidak rela ketika Sera juga bahkan tidak bersedia memberikan kesempatan bagi Fabian untuk berada di sekitar Baskara, yang notabene adalah kakaknya sendiri.
Sera membuang napas perlahan, kemudian menoleh kepada Jeffrey yang masih tak melepaskan pandangan barang sedetik. "Dekat dengan Baskara, berarti akan dekat juga dengan kamu. Aku nggak mau dia berada di sekitar kita, sesuai dengan kesepakatan yang udah kita buat tempo hari."
"Kamu ... nggak berusaha memanfaatkan pertemanan dia dengan Baskara untuk bisa tetap dekat dengan anak itu, kan?" selidik Sera.
Kalau bisa dihitung, mungkin lelahnya Jeffrey menghadapi sikap waspada Sera sudah sampai level paling mentok. Di mana ia sudah tidak punya lagi argumentasi untuk menentang setiap statement yang keluar dari bibir perempuan itu.
__ADS_1
Dasarnya Jeffrey memang lemah, dan ia telah salah bertemu dengan Sera yang aura dominannya terlalu kuat. Saat jatuh cinta dulu, dia mungkin terlalu buta sehingga kepercayaan dirinya untuk bisa menaklukkan Sera berkembang pesat dengan tidak tahu malu. Kini, ia sendiri yang kelabakan. Ia sendiri yang pusing, bahkan hanya untuk sekadar memperjuangkan hak dari darah dagingnya sendiri.
"Selama teman-teman Baskara datang tadi, apa kamu lihat aku berusaha mendekatkan diri ke Fabian?" tanya Jeffrey. Ia tahu Sera tidak suka nama anak itu disebut, tetapi sebanyak itu Sera tidak suka, ia juga tetap akan menyebutnya untuk membuat perempuan itu terbiasa. "Enggak, kan? Kamu cuma lihat aku berusaha berinteraksi dengan mereka secara wajar, sebagai ayah dari teman yang sedang mereka jenguk." Sambungnya.
"Tetap aja, aku nggak suka." Sera dengan kekerasan hati yang entah bagaimana meluluhkannya.
"Please, lah, Sera." Jeffrey mulai frustrasi. "Kamu boleh menjauhkan Fabian dari aku, ayah kandungnya. Tapi kamu nggak bisa juga memaksa dia untuk nggak berada di dekat Baskara. They're siblings, Sera. Ada darah aku yang mengalir di tubuh mereka, jadi wajar kalau mereka punya ikatan batin yang kuat antara satu sama lain."
"Jeff," Sera menekankan suaranya. "Mereka bukan saudara."
"They are, Sera. Mau kamu bilang enggak sebanyak satu juta kali pun, mereka tetap saudara. Nggak akan ada yang bisa merubah itu,"
"Jeff!" suara Sera kian meninggi. Ia menatap Jeffrey tajam, napasnya mulai tidak teratur seiring dengan emosi yang naik secara drastis.
"Cukup." Titah Jeffrey dengan suara pelan. "Tolong jangan bahas soal ini lagi. Udah cukup kamu nggak mengijinkan mereka untuk saling mengetahui fakta bahwa mereka adalah saudara. Kamu nggak perlu sejauh itu untuk melarang mereka berteman juga," keputusan Jeffrey sudah final. Ia tidak ingin mendengar sanggahan apapun. Perdebatan lain tidak akan terjadi malam ini, jadi ia segera bangkit dari kursi. Ia mengayunkan langkah lebar-lebar, meninggalkan Sera sendirian dengan kedua tangan yang terkepal erat di atas pangkuan.
Napas Sera makin memburu. Tatapan tajamnya seakan menguliti Jeffrey yang semakin menjauh dari jarak pandangnya. Emosinya meluap-luap bagai air mendidih di dalam panci, beberapa telah tumpah, beberapa lagi bergejolak di dalam wadah membuatnya perlahan-lahan terbakar habis.
Sementara itu, persis di balik tembok yang tadi menjadi pusat perhatian Sera selama beberapa menit, berdiri sosok Jasmine dengan senyum yang terkembang sampai ke telinga. Gadis itu menatap puas pada ponsel di tangan, yang telah berhasil merekam percakapan antara Jeffrey dan Sera yang isinya lumayan mengejutkan.
Fabian dan Baskara adalah saudara satu ayah, dan mereka tidak saling mengetahui satu sama lain? Itu adalah breaking news yang dijamin akan menggemparkan seluruh jagad Neosantara, lebih dari kabar-kabar lain yang pernah ada.
Siapa sangka, niat Jasmine menyelinap ke rumah sakit untuk mengintip keadaan Baskara justru membawanya mendapatkan jackpot sebagus ini?
"See, Jasmine? Dewi Fortuna memang selalu berada di pihak lo." Katanya kepada diri sendiri.
__ADS_1
Kemudian, Jasmine pergi dari sana dengan hati yang berbunga-bunga, juga senyum yang semakin cerah kala kepalanya mulai dipenuhi dengan rencana-rencana licik dalam upaya menguntungkan diri sendiri.
Bersambung