
"Gimana balapannya? Menang?" tanya Gerald sembari menyodorkan satu gelas Vodka yang baru ke hadapan Baskara.
"Menang, lah. Nggak pernah ada sejarahnya seorang Pramudya Baskara kalah balapan." Baskara menjawab dengan gaya tengil andalannya.
Gelas Vodka yang Gerald sodorkan diambil, tetapi isinya tidak langsung diambil dan hanya digoyang-goyangkan gelasnya sampai es batu yang ada di dalamnya ikut bergerak menabrak dinding gelas.
"Hadiah nya oke?" tanya Gerald lagi.
Berhubung hari sudah hampir pagi dan kemungkinan tidak akan datang lagi pelanggan yang baru, Gerald pun menarik sebuah kursi dan duduk menghadap Baskara. Dia bertopang dagu, menatap Baskara intens seolah pemuda itu membuatnya candu.
Sadar dirinya sedang diperhatikan dengan cara tidak lazim oleh Gerald, Baskara pun memundurkan tubuhnya dengan gerak dramatis dan raut wajahnya seketika berubah.
"Gue masih normal, Ger. Masih doyan perempuan!" Baskara melipat kedua tangannya di depan tubuh, membuatnya menjadi bentuk huruf X. Seperti sedang melindungi tubuhnya yang suci dari serangan tiba-tiba yang bisa saja dilancarkan oleh Gerald.
Menanggapi hal itu, Gerald berdecak dengan mata menatap julid ke arah Baskara. Padahal, bukan itu maksudnya.
Dia hanya kagum pada pemuda di hadapannya ini, karena meskipun terkenal sebagai anak urakan yang suka mabuk dan tidur dengan banyak perempuan, Baskara tidak pernah mau menyentuh perempuan manapun dengan sesuka hatinya.
Dia selalu hanya akan tidur dengan perempuan-perempuan yang memang sudah biasa menghabiskan waktu dengan para pria. Bukan perempuan lugu yang tidak tahu apa-apa, ataupun perempuan mabuk seperti tadi yang sangat mudah dimanfaatkan.
"Gue juga masih doyan perempuan!" sergah Gerald, kembali menegakkan punggungnya agar Baskara tidak semakin berpikir yang macam-macam.
"Lagian, kalaupun gue homo, gue pasti pilih-pilih dalam menentukan siapa yang bakal jadi uke gue." Lanjut Gerald.
"Lah, gue ganteng, anjir! Siapa yang nggak mau sama gue?" Baskara membanggakan diri sendiri, membusungkan dada setelah kedua tangannya disingkirkan dari sana.
"Ganteng dari sisi mana?" cibir Gerald. Matanya mulai menelisik setiap bagian tubuh Baskara, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
Sialan! Baskara memang tampan! Siapa yang akan meragukan ketampanan seorang Pramudya Baskara, yang dari masih dalam kandungan saja semua nutrisi dan kebutuhannya sudah terpenuhi dengan baik karena kedua orang tuanya yang kaya raya?
Tapi, kan, Gerald tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Karena kalau dia mengakui bahwa Baskara tampan, pemuda itu akan besar kepala. Lebih buruk lagi, Baskara akan semakin menuduhnya sebagai homo dan mulai menyebarkan rumor tersebut kepada anggota Pain Killer yang lain.
Oh, itu jelas tidak boleh dibiarkan. Dia tidak mau menjadi bahan guyonan untuk empat pemuda sengklek tersebut.
"Duit yang gue transfer ke lo udah banyak, kan? Pakai buat periksa mata sana, kayaknya lo mulai katarak!" Baskara mulai agak ngegas, tetapi Gerald tetap menanggapinya dengan santai.
__ADS_1
"Duit segitu cukupnya cuma beli makan gue tiga hari," celetuk Gerald.
"Makan apaan lo sampai habis segitu banyak? Pizza lapis emas?!" Baskara jelas ngotot. Masalahnya, uang yang dia transfer ke Gerald bukan nominal yang kecil. Tiga kali transfer saja, Gerald sudah bisa membeli satu unit motor baru.
"Pizza lapis emas kayaknya enak. Besok kita cari, yuk?" goda Gerald.
Baskara berdecak sebal. Namun tak lama setelah itu, dia meraih Vodka dan menyesapnya sedikit.
"Omong-omong, hari ini ada yang datang, nggak?" tanyanya. Dia baru ingat kalau sejak pulang dari kampus tadi, dia sudah tidak saling berbagi kabar dengan anggota Pain Killer yang lain.
Dia tahu Reno dan Juan harus pergi ke luar kota, tetapi Fabian sama sekali tidak memberi kabar apa-apa.
"Bian tadi ke sini," jawab Gerald, sembari melambaikan tangan kepada salah satu pengunjung yang pamit pulang. "Dia balik sekitar satu jam sebelum lo datang." Sambungnya, kembali menatap Baskara.
"Dia nggak minum banyak, kan?"
"Nggak, kok. Gue cuma kasih dia wiski satu gelas. Selebihnya, gue kasih dia Lemonade." Tiba-tiba saja, Gerald terkekeh saat mengingat soal Lemonade. Masih terasa jelas di kepalanya betapa Fabian meminum Lemonade buatannya sambil menggerutu.
"Lemonade?" Baskara keheranan, sementara Gerald cuma mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa Lemonade?"
Sesaat setelah dia memeriksa nama siapa yang muncul di layar, Baskara menaikkan pandangan, menatap Gerald.
"Siapa?" tanya Gerald penasaran, karena ekspresi wajah Baskara yang tiba-tiba saja berubah.
Baskara tidak menjawab, dan malah mengangkat ponselnya ke depan wajah Gerald untuk menunjukkan siapa yang sedang menelepon.
Tidak seperti Baskara yang mukanya langsung ditekuk, Gerald malah tersenyum sumringah. Akhirnya, dia punya bahan untuk mengerjai Baskara lagi.
Maka, tanpa menunggu lama, Gerald langsung menyambar ponsel dan menggeser log hijau sehingga panggilan video itu pun tersambung.
"Nah, kan, bener! Udah Mama duga kalau kamu pergi ke klub!" omel seorang perempuan dari seberang telepon.
Gerald tergelak, membuat Baskara mendelik ke arahnya.
__ADS_1
"Iya nih, Tante. Anaknya lagi mabok nih," tanpa aba-aba, Gerald membalikkan kamera ponsel sehingga perempuan yang di seberang telepon bisa melihat kondisi Baskara di depan meja bar.
"Kenapa lo balik kameranya, anjing!" omel Baskara, sudah terlambat baginya untuk menyembunyikan diri.
Karena tidak mau Gerald semakin bertindak semaunya sendiri, Baskara buru-buru merebut ponselnya dan kembali mengaktifkan mode kamera depan.
"Omongannya kasar! Siapa yang ngajarin?!" omel perempuan itu lagi, Rachel, ibunya Baskara.
"Gerald, Ma, yang ngajarin." Baskara menjawab dengan takut-takut. Nyalinya mendadak ciut, membuat Gerlad yang duduk di balik meja bar tergelak sejadi-jadinya sampai nyaris terjengkang ke belakang.
Melihat Baskara yang seketika berubah menjadi anak mami memang merupakan hiburan tersendiri di tengah lelah dan hati yang resah.
"Alasan! Pulang kamu sekarang! Kalau nggak pulang, Mama susulin kamu ke klub sekarang!"
"Jangan nyusul! Di sini banyak Om-om genit, nanti Mama digodain!"
"Biarin! Mama emang cantik, jadi wajar kalau banyak yang godain!"
"Mamaaaaa ihhh!"
Geli! Tawa Gerald semakin menjadi-jadi. Sungguh, dia masih tidak terbiasa melihat sisi Baskara yang menggemaskan seperti ini. Padahal, hujan badai angin ribut juga pasti akan pemuda itu terobos dengan penuh keberanian, tapi kalau sudah berurusan dengan ibunya, Baskara pasti langsung jadi penakut.
Kocak sekali!
"Cepetan pulang, Bas."
"Iya, iya. Baskara pulang sekarang. Tapi-"
Belum selesai Baskara bicara, telepon diputus begitu saja, meninggalkan dirinya terpaku menatapi layar ponsel yang padam dengan muka cengo.
"Mau gue maki-maki, tapi ini emak gue sendiri," gumamnya pada diri sendiri.
"Makanya, nurut apa kata mami, jangan suka keluyuran di klub apalagi sampai mabok." Goda Gerald, yang masih susah payah menahan gelak tawa.
"Bacot!" seru Baskara. Kemudian, dia bangkit dari kursinya, menenggak Vodka yang tersisa sampai benar-benar tandas lalu segera balik badan. Mengabaikan teriakan Gerald yang menyuruhnya naik taksi langganan saja, jangan mengemudi sendiri.
__ADS_1
Gerald masih terus berteriak, dan sebagai respon, Baskara mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi lalu mengacungkan jari tengah kepada lelaki. Kemudian dia berjalan keluar dari klub tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Bersambung