Taruhan

Taruhan
Menerapkan Batas


__ADS_3

Bagai sedang menaiki roller coaster, Baskara merasa dirinya masih ada di puncak ketika tiba-tiba saja, mesin yang mengoperasikan roller coaster tersebut rusak hingga ia terpaksa terjun bebas.


Pagi tadi, ketika atanya baru terbuka dan nyawanya bahkan belum sepenuhnya terkumpul, ayahnya menelepon, menyampaikan kabar bahwa ibunya tengah berada di kantor polisi guna menjalani pemeriksaan.


Tidak ada penjelasan lebih lanjut perihal pemeriksaan seperti apa yang akan dijalani oleh perempuan itu. Sampai Baskara memutuskan untuk mengendari mobilnya ke kantor polis secara ugal-ugalan hingga nyaris kecelakaan. Hanya untuk menerima kenyataan bahwa ibunya ada di sini untuk sebuah kasus pembunuhan.


Bukan orang lain. Perempuan itu telah menghilangkan nyawa ibunda Fabian, perempuan yang dia anggap sebagai rival dan selalu ingin dia singkirkan sejak lama. Melalui mulut ayahnya, Baskara tahu bahwa tujuan ibunya datang ke rumah Raya subuh tadi adalah untuk menghabisi Raya dan Fabian. Dan sayangnya, Jeffrey tidak berhasil menyelamatkan nyawa Raya sementera Fabian kini telah sepenuhnya tahu semuanya—dan anak itu berakhir membenci mereka semua.


Belum lama ini, Baskara menyadari bahwa raut wajah Fabian banyak berubah. Anak itu lebih sering tersenyum dan tidak lagi terlihat muram setiap kali harus pulang ke rumah. Tadinya, dia hanya berpikir bahwa mungkin Fabian sedang jatuh cinta. Barangkali ada seorang gadis yang pada akhirnya berhasil membuat hati pemuda itu luluh. Tapi berkat kejadian ini, dia akhirnya tahu kalau alasan Fabian menjadi lebih bahagia adalah karena hubungannya dengan sang ibunda berangsur membaik.


"Kenapa harus sejauh ini?" pertanyaan itu sejatinya ingin dia lontarkan langsung pada ibunya. Sayangnya, perempuan itu masih belum bisa dikunjungi karena masih banyak pemeriksaan yang harus dijalani. Akhirnya, karena hanya ada ayahnya di sini, Baksara menanyakan pertanyaan itu kepadanya. Barangkali, sebagai suami istri, mereka sempat membagikan pikiran mereka kepada satu sama lain.


Tak mendapatkan jawaban, Baskara menoleh ke arah sang ayah. Lelaki itu tampak mendundukkan kepalanya dalam-dalam. Kedua tangannya saling bertaut di atas pahanya yang terbuka lebar.


"Kenapa Mama harus berubah menjadi iblis, hanya untuk sebuah keluarga bahagia yang nyatanya tetap nggak bisa terwuju sama sekali? Kenapa Baskara dan Fabian sebagai anak harus menjadi korbannya? Kenapa orang-orang dewasa seperti kalian ... selalu memaksakan segala sesuatunya agar sesuai dengan apa yang kalian inginkan?"


"Kenapa Papa nggak memiliki sedikit aja keberanian? Kenapa ..." Baskara tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Rasanya, sebanyak apapun pertanyaan tentang kenapa itu dia lontarkan, dia tetap tidak akan mendapatkan jawaban. Karena pemikiran rumit para orang tua memang tidak pernah mudah untuk dia pahami dengan kapasitas otaknya yang minim.

__ADS_1


Untuk beberapa lama, Baskara ikut-ikutan merenung. Berkali-kali dia menarik dan membuang napas dengan begitu frustrasi. Seakan jika salah sedikit saja dalam caranya menarik napas, dia mungkin akan mati.


Lalu, karena ayahnya tak kunjung bicara dan dia enggan membiarkan hening menelannya hidup-hidup, Baskara bangkit dari duduknya. Dia tidak mengatakan apa-apa kepada Jeffrey. Tidak sudi berbaik hati memberitahukan ke mana dia akan pergi, atau setidaknya mengucapakan kalimat perpisahan karena dia mungkin tidak akan kembali lagi.


Siang ketika matahari bersinar begitu terik di atas kepalanya, Baskara pergi meninggalkan kantor polisi yang seumur-umur baru kali ini dia sambangi. Dia dan teman-temannya memang berengsek. Sering mabuk-mabukan, sering balapan liar dan bahkan melakukan transaksi jual beli jablay yang tentu saja ilegal. Tapi untuk menginjakkan kaki di sini, bahkan hanya untuk sekadar menjadi saksi, sama sekali tidak terpikirkan olehnya.


Dari kantor polisi, Baskara berkendara menuju rumah sakit. Dia tahu. Sepenuhnya sadar bahwa kehadirannya mungkin akan semakin membuat Fabian terluka. Tapi dengan sedikit pembelaan diri bahwa dia datang sebagai seorang teman, bukan sebagai anak dari perempuan yang sudah menghilangkan nyawa ibunya, Baskara tetap memberanikan dirinya menyusuri koridor rumah sakit yang ramai lalu-lalang manusia.


Sampai akhirnya, dia tiba di sebuah ruangan yang letaknya paling ujung. Sebuah ruangan yang sebisa mungkin dihindari oleh siapa saja, karena di dalamnya mengandung begitu banyak tangis kehilangan.


Tak kuasa menahan sesak yang merambat secara perlahan, Baskara kembali menutup pintu. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Fabian di deretan kursi tak jauh dari kamar mayat yang dia sambangi tadi.


Di sana, Baskara duduk sendirian, menikmati sesak yang terasa di dadanya, juga beban berat yang terasa menghantam kepalanya berkali-kali. Sekelilingnya seakan tampak berputar, dan dia mungkin akan pingsan sebentar lagi.


Tapi sebelum itu semua terjadi, suara dua langkah kaki yang berbeda lantas membawanya kembali ke alam sadar. Fabian dan petugas medis yang tadi berjalan keluar dari kamar mayat. Kemudian, Fabian menghentikan langkahnya ketika tatapan mereka bertemu, sementara sang petugas medis tetap melanjutkan langkahnya setelah pamit undur diri.


Untuk beberapa lama, Baskara terpaku. Sepanjang pertemanannya dengan Fabian, ini kali pertama ia menemukan anak itu memandangnya dengan sorot tidak suka seperti sekarang. Tidak peduli seberapa banyak mereka berdebat untuk hal-hal, baik yang kecil sampai yang serius sekalipun, Fabian tetap akan memandangnya dengan sorot mata teduh yang menenangkan.

__ADS_1


Kini, sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya itu benar-benar terlihat seperti seseorang yang asing. Sosok yang sama sekali tidak dia kenali, yang telah menelan sosok teman yang dia sayangi. Atau barangkali, memang beginilah wujud asli Fabian yang akhirnya muncul karena hidupnya sudah terlalu banyak diusik dan hatinya disakiti.


Karena Fabian tak kunjung mengayunkan langkahnya kembali, Baskara pun berinisiatif untuk menjadi orang pertama yang mengambil langkah maju. Dia berjalan dengan hati-hati, sembari memperhatikan setiap perubahan di dalam ekspresi Baskara seiring dengan langkahnya yang semakin dekat.


"Bi," panggilnya. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Sebenarnya, dia bahkan tidak tahu harus berkata apa, ketika kenyataannya yang membuat temannya berubah menjadi seperti ini adalah ibunya sendiri. Baskara hanya merasa ... dia tidak pantas untuk melakukan apa-apa.


"Nyokap gue udah mati."


Baskara mencelos saat mendengar ketidakramahan dalam nada suara Fabian. Lagi-lagi, yang seperti itu adalah sesuatu yang asing untuknya.


"Bi, gue—"


"Maaf lo nggak berguna, karena nyokap gue nggak akan hidup lagi dengan kata maaf itu. Lebih dari itu, kalian—lo dan bokap lo—nggak perlu susah payah minta maaf, karena yang seharusnya minta maaf sekarang ini adalah nyokap lo. Dia yang udah bikin nyokap gue pergi untuk selama-lamanya, tapi dia sama sekali nggak kelihatan merasa bersalah." Fabian berjalan mendekat, hanya dua langkah, lalu kembali berhenti ketika dirasa jarak antara dirinya dengan Baskara sudah paling pas. "Gue nggak benci sama lo, Bas. Tapi untuk saat ini, tolong jangan muncul di depan gue dulu. Atau gue mungkin akan ngehajar lo sebagai pelampiasan karena gue nggak bisa lakuin itu ke nyokap lo."


Itu merupakan kalimat terkahir yang Baskara dengar dari bibir Fabian sebelum pemuda itu pergi meninggalkannya, dengan hati yang semakin terasa teriris.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2