
Biru tahu ada yang tidak beres dengan dirinya saat ia tak kunjung terlelap meskipun telah memejamkan mata sejak satu setengah jam yang lalu. Berbagai macam gaya tidur juga sudah dia coba. Mulai dari telentang, miring ke kanan, miring ke kiri, bahkan tengkurap sekalipun. Namun tak satupun dari posisi tidur itu yang berhasil membuatnya terlelap.
Tidak cuma mengatur posisi tidur saja, Biru juga mencoba berbagai macam cara untuk membantunya lebih rileks supaya bisa membuatnya cepat tidur. Bahkan, cara-cara random yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelum ini pun telah ia coba. Seperti memandangi bohlam di atas langit-langit kamarnya tanpa berkedip, misalnya. Bukannya mengantuk, ia malah merasakan perih yang luar biasa di matanya karena memaksa tidak berkedip.
Akhirnya, karena segala upaya yang ia lakukan tidak kunjung membuahkan hasil juga, Biru menyerah. Ia bangkit dari posisi terakhirnya, yang setengah tengkurap, beringsut merapatkan selimut hingga membalut seluruh tubuhnya kemudian duduk bersandar di ranjang.
Tatapannya mulai kembali mengawang, menembus langit-langit kamar yang sepi tanpa ada hiasan apapun. Di titik ini, bayangan wajah Baskara yang tengah menahan kesakitan malam tadi kembali terpampang jelas di depan matanya, menghadirkan kembali perasaan tidak nyaman yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengusirnya.
Biru benci Baskara. Itu adalah sesuatu yang telah ia tanamkan kepada dirinya sendiri sejak pemuda itu meninggalkannya. Dan balas dendam atas sakit hati yang ia rasakan adalah tujuan utama sehingga ia bisa berdiri di tempatnya sampai sekarang.
Tapi, kenapa ia justru merasakan sesak yang teramat di dadanya saat melihat Baskara terluka? Bukankah seharusnya ia tidak perlu peduli lagi pada apapun yang terjadi pada pemuda itu? Apakah sebenarnya ... ia masih menyayangi Baskara?
"Ough!" Biru menggeleng keras atas pemikiran tersebut. Sebuah tamparan juga ia labuhkan ke pipinya sendiri, demi mengembalikan kesadarannya yang mendadak minim di jam setengah dua dini hari.
"Dia manusia, lo manusia. Adalah wajar untuk merasa simpati terhadap manusia lain yang sedang tertimpa musibah." Nasihatnya kepada diri sendiri. Tak lupa juga ia ingat-ingat lagi kejahatan apa yang telah Baskara lakukan kepada dirinya. Demi memupuk niat melancarkan balas dendam agar tidak tergerus begitu saja hanya karena melihat pemuda itu sedikit terluka.
Sekian detik kemudian, ia kembali melamun. Dagunya berpangku pada lengan yang ia tumpukan di atas lutut yang tertekuk. Pikirannya kembali penuh dengan skenario-skenario balas dendam yang kini sedikit tercemar oleh pikiran-pikiran lain yang tidak seharusnya hadir.
Kata seandainya mulai banyak bermunculan setelahnya. Memperburuk isi kepalanya yang memang sudah berantakan sejak lama.
Seandainya Baskara menjelaskan apa yang terjadi sebelum pergi. Seandainya kedua orang tuanya tidak mati. Seandainya ia memutuskan untuk tetap menjadi Sabiru yang dulu.
Biru jadi mempertanyakan banyak hal dengan berbekal seandainya itu. Ia hanya penasaran, akankah jalan hidupnya menjadi berbeda, jika ada sedikit saja hal-hal yang dirubah dari masa lalunya?
__ADS_1
Ada yang bilang, tengah malam adalah jam-jam rawan untuk overthinking. Itu sebabnya, Biru tidak suka membiarkan dirinya larut dalam insomnia yang membuatnya terjaga sampai pagi. Karena banyaknya pemikiran yang ada di kepalanya sampai sejauh ini nyatanya telah berhasil membuatnya merasa pusing bukan main. Suasana hatinya juga mendadak buruk, dan ia tidak tahu harus memvalidasi yang mana dulu dari sekian banyak perasaan yang campur aduk.
Entah apa yang Biru pikirkan ketika ia malah bergerak mendekati nakas, mencomot ponsel yang padahal sudah ia matikan lalu menyalakannya kembali dengan harap-harap cemas yang konyol.
Setelah ponsel menyala, dan sinarnya menerangi kamar yang ia biarkan gelap gulita, Biru hanya bisa tersenyum sumir kala mendapati tiga pesan yang semuanya berasal dari Fabian. Isinya tidak jauh-jauh dari bertanya apakah ia sudah tidur, atau apa ada yang ingin ia lakukan sebelum terlelap.
Konyolnya, Biru malah merasa kecewa, karena pertanyaan itu tidak datang dari Baskara.
"Mau lo tuh sebenarnya apa, sih, Bi?" tanyanya kepada diri sendiri.
"Please, jangan labil. Lo bukan Biru yang dulu lagi, lo itu udah bertransformasi jadi Biru yang lebih kuat. Remember that, you dumb." Ia menepuk kepalanya sendiri. Mungkin karena tamparan pelan saja memang tidak cukup ampuh untuk membuat kesadarannya kembali.
Bermenit-menit selanjutnya, yang Biru lakukan adalah diam bagai tubuh tak bernyawa. Tatapannya kosong, berbanding terbalik dengan dadanya yang kembali terasa penuh dan sesak.
...****************...
Fabian tahu, hubungannya dengan Biru hanya sebatas kesepakatan yang akan segera berakhir dalam hitungan hari. Akan tetapi, mendapati pesannya tidak terbalas oleh gadis itu, entah kenapa tetap saja menimbulkan perasaan tidak nyaman di hatinya.
Gara-gara memikirkan itu saja, Fabian bahkan sampai terjaga hingga lewat tengah malam. Dengan kondisi kamar yang gelap gulita, ia duduk bersandar di atas ranjang. Selimut tebal yang semula membalut tubuhnya kini sudah teronggok tak berdaya di atas lantai. Pun dengan satu bantal yang terjun bebas setelah tidak sengaja ia tendang ketika kakinya terasa keram akibat terlalu lama duduk bersila.
Kemelut di hati Fabian sebenarnya tidak hanya datang dari pesan-pesannya yang diabaikan oleh Biru, tetapi juga dari hal-hal yang ia temui selama perjalanan ke rumah sakit sampai ketika ia mengantarkan gadis itu pulang.
Fabian menyadari sesuatu, bahwa Biru menjadi berkali-kali lipat lebih pendiam dari biasanya. Gadis itu juga terkesan enggan untuk berinteraksi dengan Baskara, padahal dengan Juan dan Reno, gadis itu masih mau berbicara dan bahkan saling beradu tatap untuk waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Tidak boleh berpikir macam-macam tanpa ada dasar yang kuat. Begitu prinsip yang dicetuskan oleh Baskara saat pertama kali membentuk Pain Killer dulu. Prinsip yang akhirnya berhasil membuat mereka menjadi solid dan tidak saling mencurigai satu sama lain.
Tapi berkat interaksi antara Baskara dan Sabiru yang terkesan aneh, prinsip itu agaknya tidak bisa lagi Fabian pegang sekuat dulu. Ia hanya merasa ... ada sesuatu di antara Baskara dan Sabiru yang luput dari pengetahuan dirinya dan anggota Pain Killer yang lain.
Sayangnya, nyali yang Fabian miliki sedari dulu memang minim. Sehingga ia tidak bisa mendekati Baskara untuk menanyakannya secara langsung. Jadilah ia hanya bisa menerka-nerka, dibuat pusing dengan pemikiran yang ia hadirkan dan pelihara sendiri.
Makin dekat dengan subuh, kepala Fabian semakin ribut. Ia juga tidak tahu lagi bagaimana caranya menghentikan pikiran-pikiran acak yang terus-menerus datang membombardir kepalanya.
"Ah, pikirin aja terus, Bi. Pikirin sampai kepala lo meledak." Sarkasnya kepada diri sendiri. Saking tidak kuatnya menahan keributan di kepala, Fabian akhirnya melompat turun dari ranjang. Ia menyeret langkah keluar dari kamar, kemudian berjalan mengendap-endap menuruni tangga untuk memastikan ibunya tidak ada di sekitar.
Setelah yakin aman, Fabian mulai menegakkan tubuh dan berjalan dengan lebih percaya diri.
Seluruh rumah dalam keadaan gelap, seperti biasa. Tetapi hal itu tidak menghalangi niat Fabian untuk akhirnya menerobos masuk ke dalam gudang penyimpanan alkohol milik ibunya.
Di sana, bagai menemukan surga, mata Fabian berbinar cerah. Satu botol wine yang sudah cukup lama disimpan di gudang itu ia ambil, lalu ia bawa menuju salah satu kursi.
Hanya tiga detik setelah pantatnya menyentuh kursi, penutup botol wine ia buka, dan dalam sekejap cairan pekat itu telah berhasil lolos melewati tenggorokannya.
Seteguk. Dua teguk. Tiga teguk. Sampai tidak terhitung lagi berapa teguk yang berhasil masuk ke dalam saluran pencernaannya.
Sayangnya, bukannya mereda, kepala Fabian malah semakin berdenyut. Hasil dari banyaknya alkohol yang masuk, juga pemikiran-pemikiran acak yang semakin menumpuk.
Bersambung
__ADS_1