
Pengakuan Baskara soal dirinya dan Biru berbuntut panjang sampai enam hari kemudian. Selama enam hari itu, Renobmendiamkan Baskara, tak menganggap kehadiran pemuda itu di setiap perkumpulan mereka.
Tapi anehnya, hal itu tidak berlaku untuk Sabiru. Tidak seperti Baskara yang dianggap sebagai angin lalu, Reno justru memperlakukan gadis itu dengan baik. Bahkan, ia selalu meminta Fabian untuk membawa serta gadis itu setiapbmereka berkumpul ke markas besar. Kalau gadis itu menolak untuk datang, maka Baskara juga tidak akan diperkenankan hadir.
“Ini kayaknya gue udah resmi dikeluarin dari Pain Killer nggak, sih?” bisik Baskara kepada Juan yang kini sedang tiduran di pangkuannya.
Di teras depan sana, Biru dan Reno sedang merokok bersama. Berbagi lintingan tembakau sambil menyaksikan bagaimana titik-titik hujan yang jatuh ke pekarangan.
Juan terkekeh pelan. Permen lolipop rasa jeruk yang sedang dia kulum dikeluarkan dari dalam mulut, kemudian dioper ke dalam mulut Baskara. “Belum resmi, kok. Kan belum ada rapat pengambilan suara.” Guraunya.
“Sialan.” Baskara mendesis. Permen milik Juan yang kini menghuni mulutnya dia sesap kuat-kuat. Rasa asam yang datang dari sana seketika menguasai setiap bagian lidahnya, membantu merangsang sel-sel lain di tubuhnya untuk kembali terjaga.
“Dia cuma masih gengsi aja buat ngajakin baikan.” Tiba-tiba, Fabian muncul dari arah dapur. Pemuda itu datang membawa dua kaleng bir, satu sudah dibuka—dan sepertinya juga sudah diminum—dan satu lagi masih dalam keadaan tersegel. “Santai aja, dikit lagi juga balik normal sikapnya.” Sambung pemuda itu seraya mengulurkan kaleng bir yang masih tersegel tadi kepada Juan.
“Buat gue mana?” tagih Baskara, saat sadar dirinya tidak kebagian bir.
“Nggak ada. Lo harus anterin Biru pulang nanti, nggak boleh minum.” Tutur Fabian.
Baskara mencebik, lebih-lebih saat melihat Juan yang sudah bangkit dari posisi tidurnya tampak menyesap birnya dengan tampang mengejek. “Muka lo biasa aja!” serunya saat Juan semakin menjadi-jadi menngejeknya.
Yang diomeli malah tergelak. Bir yang belum sempat ditelan juga nyaris menyembur keluar.
“Wey, si anjing!” Baskara sewot sendiri sambil menjauhkan diri dari Juan. Takut-takut kalau pemuda itu betulan akan menyemburnya.
Fabian menggelengkan kepala pelan, lalu meletakkan kaleng bir miliknya yang setengah kosong ke atas meja. “Bagi rokok, Bas, gue mau nyebat di depan.” Pintanya pada Baskara.
Baskara tak bicara apa-apa, langsung mengeluarkan rokok dari dalam saku celana lantas mengulurkannya pada Fabian. “Sisa tiga batang, jangan dihabisin.” Pesannya.
“Duit lo banyak, beli rokok sama pabrik-pabriknya juga nggak susah kali.” Sahut Fabian seraya menarik satu batang rokok dari dalam bungkus.
“Bukan masalah duitnya! Gue mager buat belinya lagi!” Baskara berkilah.
“Napas kalau nggak otomatis juga pasti lo mager.” Cibir Fabian. Kemudian, dia ngeloyor menuju teras sebelum bibir cerewet Baskara kembali mengoceh.
“Heh! Gue lagi ngomong! Fabian!” Baskara berseru, tapi tentu saja tidak berguna karena Fabian sudah terlanjur menghilang dari pandangan. “Teman lo kelakuannya!” omelnya, kali ini beralih ke Juan yang padahal sedang diam saja menikmati bir-nya.
“Si bego, pacar lo kan itu.” Juan tak ambil pusing, kembali menikmati bir-nya dengan khidmat.
“Sembarangan, pacar gue mah namanya Sabiru!”
“Ngapain bawa-bawa nama gue?”
Baskara dan Juan menoleh secara serempak ke arah pintu. Biru berdiri di sana, dengan tatapan bingung karena beberapa saat sebelumnya namanya sempat disebut oleh Baskara. “Ada masalah?” tanya gadis itu lagi.
“Gue nggak ikutan.” Juan seketika bangkit dari duduknya, lalu berjalan santai menuju pintu depan. Mau kabur, ceritanya. Malas terlibat prahara rumah tangga orang lain.
Baskara mendelik ke arah Juan yang tidak menoleh lagi ke belakang sampai akhirnya sosoknya menghilang. “Teman-teman nggak berguna.” Gerutunya.
“Lo kenapa sih?” tanya Biru yang masih tidak mengerti kenapa Baskara ngoceh-ngoceh sendiri setelah menyebut namanya.
“Nggak apa-apa. Udahan ngerokoknya? Mau pulang sekarang?” Baskara berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Nanti. Si Reno lagi order pizza buat kita. Makan dulu, nanti baru pulang.” Biru berjalan mendekat, lalu duduk di sebelah Baskara.
“Order Pizza? Tumben. Itu anak kan nggak terlalu suka sama pizza.” Ucap Baskara keheranan.
Biru hanya mengendikkan bahu. Melihat ada lollipop yang nganggur di tangan Baskara, gadis itu dengan santainya merebut lollipop tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulut.
“Wey, itu bekas gue!” seru Baskara yang terkejut.
“Ya terus?” tanya Biru. “Nggak boleh emang kalau bekas lo masuk ke mulut gue?”
“Masalahnya, sebelum masuk mulut gue, itu permen juga masuk ke mulutnya Juan.”
Rasa asam dari lollipop yang semula terasa segar tiba-tiba saja terasa hambar setelah Biru mendengar penjelasan Baskara. Ia membeku selama beberapa detik, kemudian segera melepehkan lolipop hasil curian itu setelah kesadarannya kembali. “Kenapa nggak bilang?!” serunya. Satu gebukan dia layangkan ke bahu Baskara.
“Makanya jangan asal comot!” Baskara balik mengomel. Disentilnya dahi Biru agak kencang sehingga membuat sang gadis memekik.
__ADS_1
“Ya kan ada di tangan lo permennya.” Lirih Biru sambil merengut. Tangannya mengusap pelan dahi yang agak nyut-nyutan karena ulah Baskara.
“Cuma karena itu permen ada di tangan gue, bukan berarti lo boleh comot gitu aja. Gimana kalau ternyata permen itu boleh gue ambil dari lantai karena sebelumnya dijatuhin sama anak-anak yang lain? Gimana kalau ternyata permen itu udah abis dijilat sama lalat dan gue niat buat buang dia ke tempat sampah. Gimana kalau—”
“Eugh! Cerewet banget laki gue.” Serobot Biru, membuat Baskara seketika mengatupkan bibirnya. Salah fokus pada kata laki gue yang Biru ucapkan.
“Apa tadi?” tanyanya. “Laki apa?”
“Laki gue.”
“Ulangin lagi coba.”
“Laki gue, puas?!”
Senyum Baskara terbit dan seketika melebar. “Lo bini gue dong berarti? Kapan emang kita nikahnya? Besok?” godanya.
Biru mengibaskan tangan di depan wajah Baskara, membuyarkan khayalan indah yang baru akan dimulai. “Mbahmu nikah! Kuliah dulu yang benar!”
“Siapa yang mau nikah?” sahut sebuah suara tiba-tiba.
Reno, berjalan ke arah mereka sambil menenteng dua dus pizza. Juan dan Fabian menyusul masuk tak lama kemudian.
“Nggak ada. Emang ada yang nyebut soal nikah?” kilah Biru. Untuk menyembunyikan salah tingkahnya, dia meraih dua dus pizza dari tangan Reno lantas membantu pemuda itu menyajikannya di atas meja.
Untungnya, Reno tidak memperpanjang pertanyaan soal menikah. Pemuda itu malah berjalan menuju dapur, lalu kembali tak lama setelahnya sambil membawa satu kaleng bir dan dua botol air mineral.
“Nih.” Pemuda itu mengulurkan dua botol air mineral ke arah Biru. “Kasih yang satu buat pacar lo.” Sambungnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Baskara.
Biru menerima dua botol air mineral tersebut, lalu mengoper satu kepada Baskara sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh Reno sebelumnya.
Kemudian, Juan berinisiatif membuka salah satu dari dua kotak pizza. Aroma khas pun menyebar memenuhi ruang tamu, membangunkan cacing-cacing di perut yang seketika meronta minta diberi makan.
“Hmm….” Juan bergumam. “Seperti rasa favorit milik seseorang.” Sindirnya sembari melirik ke arah Reno dan Baskara secara bergantian. Diam-diam, ia tersenyum geli. Tak habis pikir dengan sikap tsundere Reno yang lebih memilih hal-hal seperti ini untuk dijadikan alat berbaikan, alih-alih langsung saja mengucap maaf dan bersalaman.
“I see, I see.” Fabian ikut-ikutan.
Biru yang tidak tahu apa-apa cuma bisa menatap empat pemuda yang mengelilinginya itu satu persatu. Apa memangnya yang salah dari seloyang pizza dengan taburan daging ayam, paprika dan keju mozzarella ini?
Fabian dan Juan saling pandang, saling bertukar senyum sebelum akhirnya mencomot satu slice pizza dari loyang lalu melahapnya dengan senang hati. Biru juga ikut mencomot satu, sementara Basakara malah terpaku menatap Reno.
Lalu tiba-tiba saja, Baskara memeluk Reno, membuat pemuda itu seketika mencak-mencak. “Anjing! Ngapain?!” pekik Reno, berusaha melepaskan diri dari pelukan Baskara.
“Lepasin!” teriaknya lagi. Makin heboh dia menggeliat sebagai upaya melapaskan diri. “Bas! Nggak lo lepas, kepala lo yang gue lepas!"
Tapi Baskara seakan tuli. Boro-boro dilepaskan, yang ada pelukannya semakin dieratkan. Dan seolah tidak puas membuat kehebohan, pemuda itu malah melabuhkan satu kecupan di leher Reno. “Gue tahu lo memang bucin sama gue, Ren. Makasih, ya.” Ujar Baskara dengan penuh percaya diri.
“Najis!” Reno meraup wajah Baskara, mendorongnya menjauh. “Bisa kena rabies gue nanti!”
“Ya enggak dong. Itu tadi ciuman yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Lo harusnya bangga bisa dapetin itu.”
“MATAMU!”
“Mataku ada dua.”
“ANJING! JANGAN CIUMIN GUE TERUS!!!”
Adegan yang terjadi selanjutnya tidak perlu diceritakan lagi, biar itu menjadi sesuatu yang hanya bisa disaksikan oleh Juan, Biru dan Fabian sebagai hiburan di malam minggu yang berhujan ini—ditemani pizza penuh keju mozzarella yang meleleh di dalam mulut.
...****************...
Bagai sudah habis disedot nyawanya, Reno berjalan gontai memasuki kamarnya dengan dibantu oleh Juan yang siap siaga memegangi lengganya sejak saat turun dari mobil.
Semua ini adalah efek dari tindakan bar-bar Baskara yang sama sekali tak mau melepaskan pelukan, serta terus-menerus mendaratkan kecupan basah di leher dan pipi mulusnya.
“Euwh!” Reno bergidik ngeri kala ingatan tentang kejadian di markas besar tadi muncul lagi. Masih terasa jelas bagaimana sensasi yang dia rasakan ketika bibir basah Baskara menyentuh kulitnya. Demi Tuhan, itu menjijikkan.
“Baskara anak setan!” serunya tiba-tiba, membuat Juan yang masih memegangi lengannya terlonjak kaget. “Ingetin gue buat bunuh dia besok kalau ketemu lagi.” Sambungnya sembari menoleh ke arah Juan. Tatapannya yang semula tampak kosong, kini berubah nyalang dan penuh kebencian.
__ADS_1
Juan tidak berkata apa-apa, hanya manggut-manggut sambil menarik pelan lengan Reno dan menuntunnya menuju kasur. “Istirahat dulu, biar besok punya kekuatan buat bunuh Baskara.” Tuturnya.
Reno mendesah pelan. Tangan Juan yang ada di lengannya dia hempaskan pelan. “Malam ini gue tidur sendirian deh. Masih agak trauma gue dekat-dekat sama orang lain.”
“Kok?”
Reno mendelik, “Kenapa? Nggak suka?”
“Ya … nggak gitu.” Cicit Juan. “Terus gue tidur di mana?”
“Kamar di rumah ini nggak cuma satu, Juananda. Tinggal pilih aja mau yang mana, jangan kayak orang susah.”
“Masalahnya komputer gaming gue ada di sini.”
“Lebih penting komputer gaming daripada gue?”
Skak mat. Oke, baiklah. Memang sudah paling benar iyakan saja apa yang Reno inginkan. Sungguh tak berguna melakukan perlawanan. Sungguh percuma memberikan argumen. Ujung-ujungnya cuma akan kalah dan dibuat makan hati.
“Ya udah, gue tidur di kamar sebelah.” Dengan bibir yang cemberut, Juan berjalan keluar dari kamar. Tak lupa dia bawa bantal kesayangannya supaya malam ini bisa tidur dengan nyenyak.
Setelah Juan pergi, Reno melompat ke atas kasur, merebahkan tubuh lelahnya lalu memejamkan mata. Banyak hal yang berseliweran di kepalanya ketika matanya terpejam. Obrolannya dengan Biru sore tadi, di mana dia bertanya bagaimana bisa gadis itu menerima Baskara lagi setelah semua yang terjadi. Kelakuan absurd Baskara yang memeluk serta menciuminya dengan brutal. Sampai yang paling sering datang adalah sosok Clarissa yang tak sedetik pun pernah absen dari pikirannya.
Bersama dengan hela napas panjang yang dia loloskan, Reno membuka kembali matanya. Sialnya, ia malah menemukan wajah Clarissa yang seolah tampak begitu jelas di depan matanya. Gadis itu masih cantik, dengan sepasang lesung pipi yang muncul tiap kali senyumnya tersungging. Matanya yang berwarna cokelat terang dengan hiasan bulu mata lentik seakan memanggil dirinya untuk berjalan mendekat, meraih tangannya, lalu mendekap tubuhnya dengan erat.
“Fxck, I miss her so much.” Gumamnya. Ia mengusap wajahnya kasar, dan hal itu ternyata membuat bayangan wajah Clarissa seketika menghilang.
Tapi bukan berarti semuanya menjadi lebih baik setelah bayangan wajah gadis itu menghilang. Malahan, dia jadi semakin mengawang. Tatapannya tampak kosong, tertuju pada langit-langit kamarnya.
“Perjuangin, Ren. Buktiin kalau lo memang masih sayang sama dia. Semarah apapun dia, kalau lo memang masih punya tempat di hatinya, dia pasti bakal kasih lo kesempatan ke-2.”
Potongan percakapannya dengan Biru sore tadi kembali menggema. Selain memberinya semangat untuk memperjuangkan Clarissa lagi, gadis itu juga memberikan kiat-kiat, berdasarkan sudut pandangnya sebagai sesama perempuan.
“Turunin gengsi lo sedikit. Lebih baik menahan malu—seandainya ditolak—daripada lo menyesal karena nggak pernah berusaha memperjuangkan dia sama sekali.” Saran yang ini datangnya dari Fabian. Si jomblo abadi yang justru punya kemampuan untuk menemukan solusi atas masalah-masalah percintaan yang terjadi di hubungannya, Juan dan juga Baskara.
“Hah….” Reno menghela napas rendah. Kemudian, dia mendudukkan diri di atas kasur. Tangannya merogoh ke dalam saku jaket, lalu mengeluarkan ponsel dari sana. Sejenak, dia pandangani ponselnya yang padam sambil menimbangbapakah dia harus memulai langkah pertamanya malam ini.
Setelah berpikir cukup lama, Reno pun akhirnya menyalakan ponselnya. Jemari panjangnya bergerak lincah di atas keypad, mengetikkan beberapa kata untuk dikirimkan kepada Clarissa.
Tak ingin gengsinya kembali muncul, Reno buru-buru menekan tombol kirim, kemudian melemparkan ponselnya ke atas kasur lalu berlarian menuju kamar mandi. Sungguh, dia tidak siap menerima balasan dari Clarissa. Dia juga belum menyiapkan mental kalau Clarissa menolak ajakannya untuk lari pagi di taman kota besok pagi.
...****************...
Di kamar sebelah, Juan malah nongkrong di pojok kamar, duduk di atas kursi kayu dengan sebuah gitar berada di pangkuan. Malam semakin pekat, hujan yang turun belum juga menampakkan tanda-tanda akan reda dalam waktu dekat. Suasana seperti ini memang paling cocok untuk dihabiskan dengan menyenandungkan lagu-lagu sendu dan diiringi oleh petikan gitar.
Malam ini, berhubung dia sedang tidak bersedih hati, ia memilih untuk menyanyikan sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering berseliweran di banyak media sosial yang dia miliki. Sebuah lagu cinta sederhana bertajuk “komang” yang diciptakan oleh seorang musisi bernama Raim Laode, sebagai persembahan untuk sang kekasih hati. Wujud dari betapa besar rasa syukur yang ia miliki telah dipertemukan dengan seseorang yang begitu sempurna di dalam pandangan matanya.
Senar-senar gitar mulai dipetik. Intro mengalun lembut di tengah suara gemerisik hujan di luar sana. Juan memejamkan mata, berusaha meresapi setiap bait yang terputar di kepala sebelum ia lontarkan melalui bibirnya.
Intro telah habis, sudah waktunya Juan mulai menyanyi. Ketika itulah ia membuka mata, melabuhkan padangannya pada jendela kaca yang kini berembun terkena tampias air hujan.
“Dari kejauhan, tergambar cerita tentang kita, terpisah jarak dan waktu. Ingin kuungkapkan rinduku lewat kata indah, tak cukup untuk dirimu. Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata. Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu.”
“Dan apabila tak bersamamu, ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin. Sederhana tertawamu sudah cukup, lengkapi sempurnanya hidup bersamamu.”
“Jika hari kulalui tanpa hawamu, percuma senyumku dengan dia.”
“Sebab kau terlalu indah untuk sekedar kata. Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu….” Juan mengakhiri nyanyiannya dengan senyum tipis yang menjalar sampai ke mata.
Di sepanjang bibirnya terbuka, menyenandungkan lagu itu, hanya satu nama dan satu sosok yang memenuhi kepalanya. Zahira Cassanova. Gadis cantik berkerudung mahasiswi kedokteran yang diam-diam sudah mencuri hatinya sejak beberapa bulan terakhir.
Senyumnya yang indah, matanya yang terus menatap teduh, suaranya yang mengalun lembut dan sikap gadis itu yang sopan santun benar-benar menjadi daya tarik tersendiri bagi Juan. Di matanya, Zahira serupa oasis di tengah padang pasir yang tandus. Hadir untuk menolongnya dari bencana kekeringan yang mengerikan.
“Kalau aja gue nggak terlanjur jadi berengsek, gue mungkin akan penuh percaya diri buat deketin lo, Za.” Bisiknya pelan.
Benar. Perasaan itu tetap dia pendam sendirian. Tak satupunbdari anggota Pain Killer yang tahu, apalagi Zahira. Baginya, dia masih jauh dari kata baik untuk bisa mendekati gadis sempurna seperti Zahira. Karena rasanya agak kurang ajar bagi orang berengsek seperti dirinya untuk menginginkan makhluk sesempurna Zahira.
Jadi alih-alih ngoyo untuk mendekati gadis itu, Juan hanya membiarkan dirinya menjadi pengagum rahasia, mengagumi dan mengamati Zahira dari kejauhan sambil berdoa; siapun itu yang nanti berhasil mendapatkan hati gadis itu, semoga ia adalah laki-laki baik yang tahu bagaimana caranya menghargai perempuan.
__ADS_1
“Semoga selalu bahagia, Zahira Cassanova.” Pesan terakhirnyansebelum genjrengan gitarnya membawanya ke suasana yang lain mengikuti lagu-lagu selanjutnya yang dia nyanyikan sebagai bentuk penghiburan untuk dirinya sendiri.
Bersambung