Taruhan

Taruhan
Trauma


__ADS_3

Fabian tahu, di mana pun dia berada, kehadirannya akan selalu menjadi pusat perhatian.


Meksipun begitu, dia masih tidak terbiasa menerima tatapan dari orang-orang yang ia lewati di sepanjang perjalanan menuju fakultas Biru. Alih-alih merasa tersanjung, ia justru merasa sedang dikuliti.


Biasanya, ada anggota Pain Killer yang lain berada di sisinya. Jadi ketika tatapan-tatapan itu tertuju, ia bisa memanipulasi pikirannya sendiri bahwa tatapan-tatapan itu ditujukan bukan kepada dirinya, melainkan kepada teman-temannya.


Tapi sekarang, karena dia datang sendirian, Fabian terpaksa bekerja lebih keras untuk meyakinkan diri bahwa orang-orang itu tidak sedang membicarakan dirinya.


Meskipun akhirnya segala afirmasi positif yang ia katakan kepada dirinya sendiri itu seketika sirna saat satu persatu kalimat terdengar dari bisik-bisik orang di sekitar.


"Fabian ke sini mau ngapain ya? Tumben sendirian aja?"


"Mau nemuin target taruhannya nggak sih? Gue dengar mereka udah nentuin target baru."


"Targetnya dari fakultas kita?"


"Gue dengar sih gitu?"


"Wah, gila ya! Kayaknya mereka emang mau nyobain semua mahasiswi di sini satu persatu nggak sih?"


"Gue curiga lama-lama mereka juga bakal deketin dosen yang masih muda."


"Tapi Fabian ganteng banget nggak sih? Kayaknya, kalau gue yang jadi target taruhannya, gue nggak bakal mikir lama deh buat bilang iya."


"Nggak cuma lo yang mikir gitu. Semua yang ada di kampus ini dan tahu gimana reputasi Pain Killer, pasti nggak akan mikir dua kali untuk nerima ajakan pacaran dari mereka, walaupun cuma untuk satu bulan ke depan."


"Gila, padahal kita udah tahu mereka red flag, tapi kenapa masih suka ya?"


Dan masih banyak selentingan lain yang masuk ke dalam telinganya, namun Fabian berusaha untuk tidak membawanya masuk ke dalam kepala untuk diproses lebih lanjut.


Langkah yang ia ayunkan lebar-lebar akhirnya membawanya tiba di depan ruang kelas Biru. Dari celah pintu yang terbuka, ia melihat gadis itu sedang duduk sendirian di salah satu kursi sambil memainkan ponsel.


Berusaha untuk tetap menjaga sopan santun, Fabian melabuhkan beberapa kali ketukan ke pintu sehingga membuat Biru mengangkat pandangan ke arahnya. Gadis itu tersenyum, begitu manis sampai-sampai ia merasa kadar manisnya bisa membuatnya menderita diabetes seketika.


Bukan dipersilakan masuk, Fabian malah mendapati Biru bangkit dari duduknya sembari menenteng tas selempang dan membawa sekaleng minuman ringan yang tadi difotokan, berjalan ke arahnya.


Senyum gadis itu masih tidak luntur bahkan ketika sosoknya telah berada tepat di hadapannya. Dan, Fabian tidak punya pilihan selain membalas senyum itu meskipun hanya sekenanya.


"Nih," kaleng minuman disodorkan ke arahnya.


Karena sebelumnya ia sudah tahu tentang kaleng minuman itu, maka Fabian segera menerimanya, menatapi note yang masih menempel di sana sebelum mencabutnya dan menyimpannya ke dalam saku jaket.

__ADS_1


"Thanks," ucapnya, sembari mengangkat kaleng minuman itu setara dada kemudian membuka dan langsung menenggak isinya sedikit—sebagai bentuk penghargaan kepada Biru yang mau repot-repot membelikannya minuman itu.


"By the way," Fabian menjauhkan kaleng minuman dari bibirnya, kemudian menatap Biru lekat-lekat. "Semalam kenapa lo tiba-tiba matiin telepon?" tanyanya. Dia masih bingung karena Biru tiba-tiba memutus sambungan telepon.


Bukan apa-apa, Fabian cuma takut kalau Biru menutup telepon ternyata untuk menangis sesenggukan seorang diri. Karena meskipun cover yang berusaha Biru tunjukkan kepada semua orang adalah dirinya yang tangguh dan tak tersentuh, Fabian tetap tahu kalau Biru sebenarnya cuma seorang gadis rapuh yang butuh tempat untuk menyandarkan kepalanya yang keruh.


"Ah ... baterai hape gue habis." Biru beralasan.


Fabian tidak percaya, tetapi dia memutuskan untuk menganggukkan kepala saja supaya tidak perlu memperpanjang obrolan soal mengapa telepon dimatikan. Sebab, ia punya sesuatu yang lebih penting untuk dikatakan.


"Gue temani lo makan di tempat Indah lagi," ucapnya, setelah menenggak minuman kaleng pemberian Biru sekali lagi. "Kapan pun lo mau, just tell me. Gue bakal langsung samperin lo untuk anterin lo ke sana."


Gadis di hadapannya itu tersenyum penuh arti. Jenis senyum yang sudah lama sekali tidak ia dapati dari orang-orang di sekitarnya. Sekaligus senyum yang membuatnya merasa bersalah karena harus melanjutkan kesepakatannya dengan Baskara dan anggota Pain Killer yang lain untuk bisa menjadikan Biru pacar dalam kurun waktu tiga minggu ke depan.


Di rapat yang digelar di markas besar kemarin, mereka sudah sepakat bahwa tenggat waktu untuk Fabian menjadikan Biru pacar adalah tiga minggu. Tidak boleh lebih kalau mau dianggap taruhan mereka berhasil. Bahkan tidak boleh lewat meskipun cuma satu atau dua menit.


Fabian bukan tipikal yang akan tiba-tiba mundur kalau sudah terlanjur maju, jadi dia akan melancarkan aksinya sampai akhir. Sambil terus berdoa semoga di perjalanan mereka nanti, tidak ada satu pun di antara dia ataupun Biru yang jatuh cinta. Karena itu hanya akan membuat semuanya jadi runyam.


Obrolan mereka berlanjut lebih banyak. Mereka berjalan beriringan keluar dari ruang kelas, menuju kantin Fakultas Sastra yang tentu saja keberadaan mereka menarik lebih banyak perhatian.


"Lo emang se-famous ini, ya?" tanya Biru, mulai menjalankan perannya sebagai gadis lugu yang tidak tahu apa-apa.


Satu tangannya bergerak masuk ke dalam saku celana, hanya untuk ia kepalkan erat-erat di dalam sana demi menahan gejolak tidak nyaman yang kembali muncul di dadanya karena bisik-bisik yang terdengar oleh telinganya mulai berganti dengan sesuatu yang ia jelas tahu hanyalah imajinasinya semata.


"Lihat, deh. Fabian kan nggak punya ayah."


"Mamanya Fabian seram, kayak nenek sihir."


"Kok Fabian nggak pernah dijemput lagi sama mamanya? Kok sama pengasuh terus sih?"


"Kata mama aku, Fabian itu anak haram."


Semakin jauh langkahnya terayun, Fabian merasa bisikan-bisikan halu yang ia dengar semakin keras dan mengganggu. Bahkan mengepalkan tangannya erat dan mencengkeram tali tas punggung yang hanya ia sampirkan di salah satu sisi bahu sudah tidak mampu untuk meredam ketidaknyamanan itu.


Tidak bisa. Ia tidak bisa bertahan lebih lama dalam kondisi ini. Dan, ia juga tidak mungkin membiarkan Biru mencium gelagat mencurigakannya itu.


Maka, tepat sebelum mereka tiba di kantin Fakultas Sastra, Fabian menghentikan langkahnya. Yang tentu saja diikuti juga oleh Biru yang kemudian melayangkan tatapan keheranan ke arahnya.


"Ada masalah?" tanya Biru.


Fabian berusaha memulaskan senyum walaupun tanpa dia ketahui, wajahnya kini sudah sangat pucat. "Kayaknya gue harus cabut sekarang, deh. Gue lupa kalau ada janji sama teman gue untuk bahas something." Katanya, berusaha menekan perasaan tidak nyaman agar tidak memengaruhi nada suaranya.

__ADS_1


Kebingungan jelas terpancar dari kedua bola mata Biru, namun Fabian tidak punya cukup waktu untuk meyakinkan gadis itu bahwa semuanya baik-baik saja dan dia hanya perlu segera pergi menemui teman-temannya.


Maka tanpa menunggu sampai Biru menganggukkan kepala, atau bahkan malah mengajukan pertanyaan yang akan membuatnya semakin sakit kepala, Fabian membalikkan badan, mengayunkan langkah cepat guna melarikan diri dari perasaan menakutkan yang bisa menelannya hidup-hidup.


...****************...


Ternyata, kakinya sudah tidak sekuat itu untuk dia bawa kembali ke Fakultas Teknik. Jadi daripada dia memperlihatkan kekacauan dirinya kepada orang banyak, Fabian memutuskan untuk melipir ke toilet yang ada di Fakultas Satra, setelah ia dapati di area itu tidak ada terlalu banyak orang.


Fabian segera masuk ke bilik paling ujung, memutar kunci sampai dua kali dan mendudukkan dirinya di atas closet yang telah ditutup.


Dengan gerakan serabutan, Fabian merogoh tasnya, mencari-cari benda kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana sejak empat tahun terakhir.


Setelah mengubek-ubek tasnya hingga beberapa isi di dalamnya berhamburan keluar, Fabian akhirnya menemukan apa yang dia cari. Yaitu sebuah botol kecil berwarna putih yang di dalamnya terdapat puluhan butir obat penenang.


Botol itu kemudian ia buka tutupnya, untuk kemudian dia keluarkan sebutir obat dan langsung ia telan tanpa menggunakan bantuan air—hanya mengandalkan air liur yang tidak seberapa.


Fabian memejamkan matanya sejenak, sambil mendongakkan kepala agar kepalanya bisa bersandar di dinding kamar mandi bagian belakang.


Suara-suara yang dia dengar mulai perlahan-lahan menepi seiring dengan efek obat yang mulai bekerja. Deru napasnya juga mulai berangsur teratur, pun dengan detak jantungnya yang tidak lagi berdentam-dentam bagai tabuhan genderang perang.


Dirasa sudah cukup tenang, Fabian menegakkan kembali kepalanya seiring dengan matanya yang perlahan terbuka. Lalu, dipungutinya satu persatu benda yang jatuh dari dalam tasnya tadi. Semuanya bisa langsung dimasukkan kembali ke dalam tas, kecuali satu benda yang malah dia pandangi untuk waktu yang cukup lama.


Itu adalah pemantik bergambar kupu-kupu kesayangan miliknya. Salah satu benda wajib yang akan selalu dia bawa selain botol obat penenang tadi.


Seperti yang sudah pernah dia bilang, pemantik itu ia buat sendiri desainnya, sementara pengaplikasian desain itu dilakukan oleh seseorang yang cukup penting dalam hidupnya. Seseorang yang membantunya bangkit, sekaligus membuatnya percaya bahwa kehadirannya di dunia bukanlah sebuah kesalahan.


Orang itu adalah Dokter Abraham, psikiater yang sudah menemani jatuh bangun perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun ke belakang. Kalau bukan karena lelaki itu, Fabian mungkin sudah memasrahkan diri kepada sang ibu, untuk dibunuh dan dilenyapkan dari dunia yang penuh tipu-tipu ini.


Dalam sekejap saja, nama dan wajah Dokter Abraham sudah berhasil menginvasi seluruh bagian di otaknya, membuatnya tiba-tiba saja merindukan sosok lelaki itu dan berniat berkunjung ke klinik tempat lelaki itu bekerja karena memang sudah beberapa minggu terakhir ia tidak datang ke sana.


Karena Dokter Abraham bukanlah seseorang yang punya banyak waktu luang, dan ia cukup tahu diri untuk tidak datang dengan semena-mena, maka Fabian segera mengeluarkan ponselnya untuk mengatur jadwal dengan lelaki itu.


Setelah mengirimkan pesan, Fabian memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana dan segera bangkit dari duduknya.


Pintu toilet dibuka, lalu ia melongokkan kepala sedikit untuk memeriksa apakah ada orang di luar. Dan ketika tidak ia dapati siapapun, Fabian segera keluar dari toilet dan memperlebar langkahnya untuk segera sampai ke Fakultas Teknik sebelum kelas pertamanya dimulai.


Sayangnya, karena terlalu terburu-buru, Fabian malah secara tidak sengaja menjatuhkan botol obat yang belum dia masukkan dengan benar ke dalam tasnya. Sehingga botol itu kini berpindah tangan setelah ditemukan oleh seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.


"Lapor, Bos. Saya menemukan sesuatu yang baru soal anak itu." Kata seseorang itu, yang merupakan seorang mahasiswa laki-laki, kepada seseorang melalui sambungan telepon.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2