
Berusaha mengabaikan keberadaan jaket milik Baskara, Fabian pun bergabung dengan Sabiru di atas sofa. Namun, baru saja bokongnya menyentuh sofa yang empuk, perhatiannya kembali tercuri kala ponsel milik Sabiru yang tergeletak di atas meja di depan mereka menyala.
Si empunya meraih benda itu dengan gerakan serabutan, jelas terlihat panik kala bibirnya terbuka dan berucap pelan, "Tante gue telepon. Gue tinggal bentar ya," kemudian gadis itu bangkit dan segera melesat keluar dari apartemen.
Fabian hanya bisa pasrah menerima keadaannya. Tak berusaha mendebat lebih jauh bahkan ketika ia melihat dengan jelas bahwa yang tertera di layar ponsel gadis itu tadi adalah nama Baskara, bukan nama tante seperti yang Sabiru sebutkan. Sekali lagi, ia bisa apa? Di saat statusnya hanya pacar pura-pura?
Sementara itu, di luar apartemen, Biru berjalan agak jauh dari pintu hanya untuk memastikan Fabian tidak akan tiba-tiba muncul dan mendengarkan percakapannya dengan Baskara.
"Halo, Bas?" sapanya pada Baskara yang tak kunjung bersuara dari seberang telepon.
"Fabian masih di apartemen lo?" pertanyaan itu jelas membuat Biru kebingungan. Dari mana Baskara tahu kalau Fabian sedang ada di apartemennya?
"Lo tahu dari mana kalau Fabian lagi ada di sini?"
"Masih?" ulang Baskara, dengan nada yang kedengaran tidak senang.
Biru membuang napas kasar, lantas menjawab, "Masih. Kenapa?"
"Ngapain dia di sana?"
"Cuma ngajarin gue masak."
"Gue nggak suka lo dekat-dekat sama Fabian, Blue. Gue cemburu."
Demi apapun, Biru ingin tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai berguling-guling di lantai saat ini juga, kalau itu mungkin. Sebab apa yang barusan dia dengar rasanya jauh lebih lucu ketimbang seluruh lelucon yang pernah dia dengar selama hidupnya.
"Ada hak apa lo cemburu? Kan, kita udah lama putus." Kata Biru dengan entengnya. Karena walaupun ia sudah mendengar semua penjelasan dari kepergian Baskara dulu, ia merasa hubungannya mereka masih tidak baik-baik saja. Oh, soal ciuman ... anggap saja ia hanya sedang terbawa suasana.
"Mana ada orang udah putus masih ciuman sampe ngos-ngosan?" celetuk Baskara dengan nada super duper menyebalkan.
Bukannya tersipu malu, Biru malah merasa kesal. Kalau saja bocah tengik itu ada di depannya sekarang, Biru akan pastikan lehernya patah supaya tidak bisa berkata sembarangan lagi.
"Mulut lo nggak pernah disekolahin?"
"Enggak. Pernahnya dicium sama lo hehe." Baskara malah cengengesan. Biru mengepalkan tangan erat di samping tubuh, benar-benar sudah siap untuk meninju apapun yang ada di sekitarnya untuk bahan pelampiasan.
__ADS_1
"BERCANDA! GUE TAHU LO LAGI SIAP-SIAP MAU HAJAR GUE, KAN?!"
Astaga. Biru refleks menjauhkan ponsel dari telinga seraya memejamkan mata karena suara Baskara begitu membahana. Kini, Biru mulai sedikit menyesal karena sudah memberikan kesempatan bagi Baskara untuk masuk ke dalam hidupnya lagi. Sebab mulai hari ini, ia tahu hidupnya tidak akan tenang. Akan selalu ada tingkah absurd nan menyebalkan yang harus ia saksikan setiap hari, yang jelas semuanya disuguhkan oleh manusia bernama Paramudya Baskara—yang pernah ingin dia bunuh menggunakan tangannya sendiri.
"Lo nggak usah banyak bacot," ucap Biru setelah menempelkan kembali ponsel ke telinga. "Butuh apa? Lo nggak mungkin telepon cuma buat nanyain soal Fabian, kan?"
"Pertama, gue emang telepon lo buat mastiin Fabian udah pergi atau belum. Kedua, gue mau minta tolong lo simpan jaket gue yang ketinggalan di apartemen lo."
"Jaket?" tanya Biru dengan satu alis yang terangkat. "Jaket apaan?"
"Jaket yang gue pakai kemarin, ketinggalan di apartemen lo. Gue juga lupa sih naro di mana, kayaknya di sofa ruang depan deh."
Biru memutar bola mata malas, "Ya udah, nanti gue cari. Mau lo ambil kapan?"
"Nanti, kalau Fabian udah pulang. Makanya lo cepat usir dia, biar gue bisa ke sana."
"Kok ngatur?"
"Karena lo cewek gue. Udah ah, gue mau siap-siap buat ke apartemen lo. Buruan lo suruh Fabian balik, setengah jam lagi gue jalan ke sana."
Sayangnya, bukan nyamuk tadi yang mendengar umpatannya, melainkan sosok Fabian yang berdiri cengo di depan pintu, agaknya kebingungan mencari siapa gerangan yang barusan diumpati olehnya.
Biru salah tingkah sendiri karena kepergok mengumpat. Ia berdeham pelan, kemudian berjalan mendekat ke arah Fabian yang masih saja diam mematung di posisinya. "Mau balik?" tanyanya sebagai upaya pengalihan.
"Iya, takut kemaleman."
Biru mengangguk. "Next time kita coba menu baru lagi, ya?"
Butuh beberapa lama sampai Fabian menganggukkan kepala. Entah apa yang menjadi pertimbangan bagi Fabian, padahal pemuda itu sendiri yang mengusulkan untuk mengajarinya memasak.
"Kalau gitu gue cabut," pamit Fabian, kemudian berlalu melewati Biru tanpa sedikitpun menoleh lagi.
Biru terdiam cukup lama di depan pintu apartemennya, menyaksikan bagaimana punggung lebar Fabian perlahan-lahan menjauh sebelum akhirnya betulan menghilang di balik belokan.
Tepat ketika tangannya menyentuh kenop pintu, ponselnya berdenting. Tadinya dia pikir itu adalah Baskara, rupanya justru pesan itu datang dari Fabian.
__ADS_1
Ganti password di pintu lo. Usahain ganti tiap 3 bulan sekali buat kemanan.
Begitu saja, Biru merasa tersentuh. Ia tidak memiliki sebanyak itu orang yang peduli, jadi hal-hal kecil semacam ini sudah cukup untuk membuatnya merasa dikasihi.
Tanpa sadar, Biru tersenyum. Hatinya kembali terasa hangat, berkat hal-hal kecil yang Fabian lakukan untuknya.
...****************...
"Lo tadi ngapain aja sama Fabian?" todong Baskara langsung bahkan sebelum pemuda itu mendudukkan bokongnya di sofa.
Biru mendelik, gemas sekali ingin menendang kepala pemuda itu hingga copot. "Nggak usah mulai. Gue bilang, kita udah putus. Lo nggak ada hak buat nanya ini itu."
"Dan gue bilang, kita belum putus. Lo cewek gue, gue cowok lo. Titik." Kekeuh Baskara.
Bisa saja Biru mendebat lebih jauh, namun ia memutuskan untuk tidak melakukannya karena energi yang ia miliki sekarang tidak sebanyak itu. Jujur saja, capcay yang ia santap bersama Fabian tadi belum cukup untuk memenuhi ruang di perutnya. Ia masih sangat lapar.
"Lo dengerin gue, nggak?"
"Diam." Sentak Biru kala Baskara menyodorkan wajah di depannya. "Lo diam, gue lagi laper sekarang, jangan sampai kepala lo gue lepas terus gue makan."
Mungkin Biru berpikir raut wajahnya sekarang sudah sangat garang. Padahal sebenarnya, di mata Baskara sekarang, gadis itu justru tampak menggemaskan. Membuat Baskara tak sanggup menahan dorongan dari dalam dirinya untuk mencubit kedua belah pipi gadis itu.
"Sakit!" Biru menggeplak tangan Baskara, namun tindakannya itu tetap tidak mengurungkan niat sang pemuda itu tetap mencubit gemas pipinya. "Bas!"
"Lo kalau semakin marah, justru semakin gemas tahu nggak sih, Bi?" satu cubitan terakhir Baskara berikan, kemudian mengulurkan tangan.
Biru, sambil mengusap kedua pipinya yang terasa kendur akibat ulah Baskara, sontak menatap uluran tangan itu dengan dahi yang berkerut.
"Night ride? Sambil cari makan," ucap Baskara sambil menyunggingkan senyum manis madu.
Siapa memangnya manusia di dunia ini yang akan bisa menolak saat ditawari makan, terlebih saat kondisi perut memang sedang sangat lapar? Sama. Biru juga tidak bisa. Maka dengan menepikan ego serta kekesalan yang membuncah terhadap Baskara, Biru meraih uluran tangan itu.
"Let's goooo!!!" seru Baskara begitu senangnya. Tangan Biru ia genggam erat sekali, membuat si empunya cuma bisa menggeleng kecil sambil mengulum senyum.
Bersambung
__ADS_1