Taruhan

Taruhan
There's Something Wrong


__ADS_3

Selagi Fabian dan Baskara keluar, Biru harus menghadapi tatapan menyelidik dari Gerald sendirian. Sedari saat Fabian pergi menyusul Baskara, Gerald sudah duduk di balik meja bar dengan tangan yang terlipat di depan dada. Bibirnya memang tidak bicara apa-apa, tetapi tatapan matanya jelas menyiratkan berbagai pertanyaan yang agaknya Biru bisa sedikit menebak apa isinya.


Hiruk pikuk yang terjadi di Mega hanya berasal dari percakapan-percakapan acak yang saling tumpang-tindih. Tak ada musik yang berdentam-dentam seperti biasanya, membuat Biru jelas kesulitan untuk mencari pengalihan atas penghakiman yang sedang Gerald lakukan dalam diam.


Biru melirik ke arah gelas Lemonade-nya yang telah kosong. Otaknya diperas sedemikian rupa agar mampu memanfaatkan gelas kosong tersebut untuk memecah keheningan yang mencekam antara dirinya dengan Gerald.


Namun, belum sempat bibirnya terbuka untuk mengutarakan niat, Gerald lebih dulu bersuara. Pemuda itu menurunkan kaki kanannya yang semula bersilang di atas kaki kiri, tubuhnya sedikit condong ke depan sementara kedua tangannya masih tetap terlipat di depan dada. "Explain," ucap pemuda itu.


"Soal apa?" tanya Biru sok polos. Sejatinya ia sudah tahu, ke mana arah pembicaraan yang hendak Gerald ciptakan.


Di hadapannya, Gerald berdecak pelan. "Soal kamu dan Fabian."


"Kami kenapa?" masih dengan tampak polos tak berdosa, membuat Gerald geregetan.


Walaupun sudah gemas setengah mati dan rasanya ingin meremas pipi tirus Biru menggunakan kedua tangannya yang berotot, Gerald tetap berusaha menahan diri demi bisa mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan, "Kalian pacaran?" yang dia lontarkan dengan tingkat ingin tahu yang tinggi.


Jawaban tidak langsung datang kepadanya seperti yang Gerald perkirakan. Karena sebelum menjawab, gadis di hadapannya itu malah menyodorkan gelas Lemonade yang telah kosong ke arahnya. "Tolong isi ulang dulu," pintanya dengan nada suara yang ... arghhhhhh menggemaskan! Bagaimana ia bisa menolak permintaan gadis itu kalau begini caranya?


Tentu tidak akan pernah ada di dalam sejarah di mana seorang Gerald menolak permintaan perempuan. Apalagi kalau orangnya adalah Sabiru. Selain karena imut, ia juga harus mengingat bahwa Tante Maya telah berulang kali mewanti-wanti dirinya untuk menjaga gadis ini. Oh, dia jadi penasaran, apakah gadis ini tahu bahwa tante kesayangannya bahkan rela menelepon diam-diam hanya untuk memastikan keponakannya aman?


"Ger,"


"As you wish, Tuan Putri." Jawab Gerald agak kesal. Ia bangkit kemudian membawa gelas kosong tersebut untuk diisi ulang.


Beberapa saat kemudian, ia kembali. Satu gelas Lemonade yang menyegarkan dia letakkan di atas meja bar dengan gerakan yang sedikit membanting, membuat beberapa tetes yang berharga jatuh ke atas meja dengan sia-sia. "Silakan diminum." Katanya, masih dengan mempertahankan nada ketus yang dibuat-buat.


Sabiru menerima Lemonade-nya dengan senang hati. Minuman menyegarkan itu dalam sekejap telah diteguk sedikit demi sedikit hingga tersisa setengah penuh. Gerald cuma bisa menyaksikannya saja, sambil bertanya-tanya dalam hati apakah tidak ada minuman lain yang bisa gadis itu pesan selain Lemonade?


"So?" Gerald menagih kembali jawaban yang masih belum dia terima setelah Biru melupakan gelas Lemonade-nya.


Si gadis tampak menarik napas lalu membuangnya secara perlahan. Kemudian, dua lengan yang besarnya tidak seberapa itu dilipat di atas meja bar selagi mata mereka saling bersinggungan. "Yes, we are dating." Kata gadis itu dengan tenang.


Oke. Sekarang, Gerald agak merasa bimbang. Di satu sisi, dia senang karena si Fabian yang terkenal anti-perempuan akhirnya berkencan, terlebih lagi gadis yang dikencani adalah Sabiru, yang kualitasnya sudah tidak perlu diragukan lagi—setidaknya dalam penilaiannya. Akan tetapi, di sisi lain, ia agak merasa aneh dengan cara Baskara menyebut Biru sebagai pacar Fabian. Seperti pemuda itu hendak menekankan sesuatu, yang Gerald sendiri tidak tahu apa.

__ADS_1


"You sure?" tanyanya memastikan.


Sabiru mengangguk, "Kenapa?" pertanyaan balik yang sudah diduga.


Gerald tidak menjawab. Lebih tepatnya, tidak sempat menjawab karena matanya sudah lebih dulu menangkap kedatangan Fabian dan Baskara yang datang dari arah pintu masuk. Dua pemuda itu jalan beriringan, dengan lengan Baskara mengalung manja di bahu Fabian. Sedangkan Fabian—seperti biasa—pasrah saja menerima perlakuan Baskara terhadap dirinya.


"We'll talk about it later," bisiknya kepada Sabiru sebelum dua pemuda tadi sampai di hadapan mereka.


Dalam hitungan detik, mereka pun sampai. Baskara tampak menarik lengannya dari bahu Fabian, kemudian mengambil posisi duduk di sebelah kiri Sabiru sedangkan Fabian mengambil posisi di sebelah kanan. Sabiru yang kecil mungil kini tampak seperti bunga di tengah-tengah pohon tinggi yang tumbuh subur.


"Punya lo?" Gerald mengamati bagaimana Baskara menunjuk gelas Lemonade milik Biru dan matanya yang menatap lekat ke arah sang gadis. Juga ... ada seulas senyum tipis yang tersungging. Dan itu terasa agak asing.


"Iya." Sabiru menjawab singkat. Tidak seperti Baskara yang terlihat ingin membangun lebih banyak interaksi, Gerald menemukan Sabiru justru seolah ingin menarik diri.


Keanehan semakin Gerald rasakan saat Baskara dengan semena-mena meraih gelas Lemonade tersebut, kemudian menenggak isinya hingga habis tak bersisa. Gerald bahkan bisa melihat bagaimana Sabiru kelihatan tidak nyaman, namun Baskara malah menampakkan raut wajah biasa seolah itu bukan masalah besar.


Memang bukan masalah besar, kalau gelas yang dia rebut itu adalah milik Fabian atau anggota Pain Killer yang lain. Faktanya, gelas itu milik orang lain, di mana Gerald tahu betul bahawa Baskara bukan tipikal yang akan mau berbagi gelas dengan siapapun kecuali anggota Pain Killer. Agaknya, tidak salah jika Gerald semakin menaruh curiga. Bukan begitu?


"Manis," celetuk Baskara tiba-tiba. Lagi-lagi, Gerald menjadi saksi bahwa ketika Baskara mengatakannya, tatapan pemuda itu jelas tertuju pada bibir Sabiru yang polos tanpa polesan lipstik.


Seiring langkahnya yang semakin menjauh dari tiga orang yang duduk berdampingan dalam atmosfer yang terasa aneh, semakin banyak pula asumsi yang muncul di kepala Gerald. Dan dari sekian banyak pertanyaan, ia paling tertarik untuk tahu satu hal: apa hubungan antara Baskara dengan Sabiru sebenarnya?


...****************...


Hujan yang Baskara perkirakan akan turun malam ini nyatanya baru bertandang ketika kaki panjangnya melangkah keluar dari bangunan Mega, tepat pukul sebelas malam. Di belakangnya, Fabian dan Sabiru berjalan beriringan. Reno dan Juan masih tinggal di Mega, bersama beberapa teman lain untuk mendiskusikan sesuatu yang tidak terlalu menarik minatnya.


Curah hujan yang turun lumayan tinggi. Tetes-tetes yang jatuh terasa begitu mengganggu kala menyentuh permukaan kulitnya, walau hanya dalam waktu sepersekian detik ketika ia berlari masuk ke dalam mobil. Rasanya seperti ia sedang menjalani proses akupuntur, di mana jarum-jarum tajam mulai ditusukkan dengan sengaja ke beberapa titik syaraf di tubuhnya.


"Kita antar Sabiru dulu, kan?" ia menoleh ke belakang, pada Sabiru yang sudah duduk anteng di jok penumpang. Gadis itu hanya menatap datar ke arahnya, seperti yang sudah-sudah.


"Iya. Jaraknya lebih dekat ke apartemen Sabiru." Fabian menjawab sambil sibuk memasang seatbelt. Baskara yakin pemuda itu tidak akan sadar kalau dia mencuri pandang sedikit lebih lama ke arah Sabiru.


Puas memandangi wajah cantik sang pujaan hati, Baskara kembali menatap ke depan. Tapi tiga detik setelahnya, ia kembali mencuri pandang melalui kaca spion tengah. Entahlah, wajah Sabiru memang secandu itu untuknya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dulu bisa bertindak bodoh meninggalkan gadis itu.

__ADS_1


"Perlu telepon bokap lo dulu nggak buat konfirmasi kalau lo udah dalam perjalanan pulang?" tanya Fabian tepat setelah mobil mereka melaju menembus hujan.


Baskara terpaksa menarik pandangannya cepat-cepat karena Fabian tahu-tahu ikut melirik ke arah spion tengah. "Nggak usah. Yang tadi dia bilang itu cuma basa-basi, aslinya dia nggak terlalu peduli kalau gue pulang subuh sekalipun."


"Dia beneran kelihatan khawatir sama lo," Fabian berusaha menyangkal.


Baskara terkekeh dengan raut wajah meremehkan. "Berarti lo udah kemakan sama sandiwara dia."


"Nah, I don't think so."


Mobil berhenti di lampu merah. Hujan yang turun semakin deras, membuat wiper bekerja keras menyeka air-air yang jatuh di kaca mobil agar pandangan Fabian ke jalan tetap jelas.


Terdengar suara Baskara berdecak. Pemuda itu lalu mengempaskan punggungnya keras-keras ke kursi. "Kayaknya lo yang lebih pantas jadi anaknya bokap gue, deh." Celetuknya.


"Huh?" Fabian terlihat tidak mengerti.


"Lo belain dia terus, anjir." Baskara mendelik.


"Nggak ada gue belain dia."


"Ada! Lo selalu belain dia. Se-la-lu. Selalu!"


"Nggak!"


"Iya!"


"Nggak!"


"Iya! Titik!"


Selagi dua pemuda itu berdebat, ada Biru yang cuma bisa menghela napas pasrah karena tidak punya daya untuk menghentikan perdebatan mereka. Satu-satunya yang bisa dia lakukan kemudian hanyalah menyandarkan kepala di jendela mobil, memejamkan mata sambil berusaha menulikan telinga karena perdebatan semakin terdengar memanas sampai mobil kembali melaju menembus jalanan yang basah.


"Gue niat mau balas dendam, anjir. Kenapa belum apa-apa malah udah ngeliat mereka berdebat soal hal lain?" —suara hati Sabiru.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2