
Kerumunan terlihat di beberapa titik di Neosantara. Mulai dari gerbang depan hingga bangunan fakultas yang letaknya paling ujung belakang, kerumunan itu tampak begitu mencolok karena masing-masing dari mereka menampakkan raut wajah yang berbeda. Ada yang tampak terkejut, ada yang tampak mengulum senyum, ada pula yang seperti kehilangan kata-kata sehingga yang mereka bisa lakukan cuma diam menekuri ponsel di mana sumber kerumunan itu sepertinya berasal.
Biru bukan tipikal yang terlalu suka mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi di sekitar, jika itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya atau orang-orang terdekat, tetapi melihat reaksi orang-orang yang tampak tidak biasa, ia akhirnya terpancing juga untuk merogoh ponsel dari dalam tas, kemudian langsung menuju ke base kampus di mana semua informasi tentang mahasiswa di Neosantara ada di sana.
Seperti sebagian kecil orang yang tampak kehilangan kata-kata, Biru pun merasakannya kala matanya menemukan sebuah unggahan dari akun milik Jasmine. Di sana, gadis ular itu menuliskan kalimat tak biasa, serupa kalimat pamit seolah ajalnya akan datang sebentar lagi. Unggahan itu dibuat empat jam yang lalu, ketika seluruh kegiatan perkuliahan sedang berlangsung sehingga baru sekarang kehebohan itu terjadi.
Semua penghuni Neosantara tahu bahwa Jasmine bermuka dua, dan terkadang suka sekali melakukan hal-hal di luar nalar untuk sekadar menarik perhatian dari orang-orang sekitar. Tapi kalau sampai menuliskan kalimat yang seolah menjadi surat bunuh diri, Biru tidak yakin gadis itu akan benar-benar melakukannya. Dilihat dari segi manapun, Biru yakin Jasmine masih memiliki kewarasan yang cukup untuk tidak merenggut nyawanya sendiri dengan cara yang menyedihkan.
"Mungkin ada masalah yang kita nggak tahu?"
Biru menoleh pada sumber suara, di mana itu berasal dari seorang gadis berambut keriting sepunggung yang berbicara dengan teman perempuannya yang berambut pendek sebahu. Mereka berjalan lambat melewati Biru, sehingga percakapan yang terjadi di antara mereka masih bisa tertangkap oleh telinganya.
"Seberat apa, sampai harus bunuh diri? I mean ... dia nggak kelihatan mau mengakhiri hidupnya sendiri?" sahut yang berambut pendek. Entah bagaimana, mereka malah memutuskan untuk duduk di bangku taman tak jauh dari tempat Biru mendudukkan dirinya sejak setengah jam yang lalu. Hal itu jelas membuat Biru semakin bisa menguping.
"Depression kan kadang memang nggak terlihat. Orang yang kelihatannya baik-baik aja, ternyata punya luka batin yang nggak bisa diungkapkan ke orang lain. Apalagi, Jasmine kan nggak punya teman dekat. Bisa jadi itu yang akhirnya bikin dia merasa sendirian?" si rambut keriting berbicara panjang lebar.
Si rambut pendek tampak terdiam sebentar, kemudian kembali melayangkan pandangan ke layar ponsel dan tidak bicara apa-apa setelahnya.
Biru pun turut melakukan hal yang sama. Ia kembali memandangi layar ponselnya sendiri, lalu tergerak untuk menggulir ke bawah, melihat-lihat komentar yang diunggah orang-orang untuk menanggapi unggahan Jasmine.
Mirisnya, Biru malah melihat begitu banyak orang yang menuduh Jasmine hanya sedang mencari perhatian.
Seperti contohnya komentar yang diunggah oleh seseorang dengan username @balonkuadalima yang berbunyi, "Caper aja ini mah. Besok juga nongol anaknya ke kampus buat nyari mangsa baru." atau komentar lain dari @netijenjulid yang mengatakan, "Palingan cuma lagi ditinggalin sama suggar daddy-nya. Cuma lagi mau menarik simpati aja itu, biar cepat dapat sugar daddy baru."
Dan masih banyak komentar-komentar negatif lain yang diunggah, yang sama sekali tidak merepresentasikan mereka sebagai orang-orang berpendidikan. Biru menarik napas dalam-dalam karena, kalimat-kalimat yang ia baca terlalu menyakitkan. Terlepas dari seberapa buruk kelakuan Jasmine, bukankah dia tetap manusia? Bukankah setidaknya, ada satu sisi kemanusiaan dari orang-orang di sekitar untuk mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan Jasmine, dan apakah gadis itu memerlukan bantuan? Apakah ketika seseorang terlalu banyak melakukan kesalahan, itu secara otomatis membuat mereka tidak layak mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitar?
Biru selalu percaya bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan hati manusia itu sifatnya dinamis. Ia terus bergerak. Dari satu titik ke titik lain, mengikuti bagaimana bumi mengelilingi matahari. Ia bisa jadi penuh benci, bisa pula berubah dipenuhi cinta bagai tiada hari esok untuk memuja. Maka seperti hati yang dapat berubah-ubah sesuai dengan apa yang ia lewati, Biru percaya manusia itu sendiri pun dapat berubah. Jasmine mungkin menyebalkan, tetapi Biru yakin ada satu momen di mana gadis itu hanya akan terlihat seperti seorang gadis kesepian yang butuh teman.
Lantas, pantaskah orang-orang ini menghakimi Jasmine, seperti mereka adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah berbuat dosa terhadap orang lain?
Tentu tidak.
Tapi, Biru sadar ia tidak bisa mengendalikan orang lain. Maka yang bisa dia usahakan sebagai manusia yang masih memiliki hati nurani adalah bangkit dari duduknya, kemudian menelepon seseorang yang ia yakini juga masih memiliki sisi baik seorang manusia.
Selagi menunggu teleponnya tersambung, Biru mengayunkan langkahnya lebar-lebar menuju parkiran. Matanya beberapa kali bersirobok dengan kerumunan lain dan yang ia dapati dari sana adalah ekspresi yang lebih beragam daripada sebelumnya.
Tepat ketika kakinya sampai di samping mobil, telepon akhirnya tersambung. Sebuah suara berat nan serak menyapa dari seberang, sedikit membuatnya tergelitik karena rasanya sudah lama suara itu tidak datang menyapa dirinya dengan tambahan aksen serak khas orang baru bangun tidur seperti sekarang.
__ADS_1
"Lo nggak ngampus?" tanyanya heran. Sekarang jam 3 sore, wajar jika dia mempertanyakan keberadaan pemuda itu yang semakin jelas baru bangun tidur ketika ia mendengar suara menguap yang cukup keras.
"Gue bangun kesiangan." Sahut yang di seberang, membuat Biru menghela napas rendah. "Kenapa, Yang?"
"Jangan panggil Yang, jijik."
"Lah, lo pacar gue?! Salahnya di mana kalau gue manggil lo dengan sebutan Sayang?!" Baskara mencak-mencak.
Biru kembali menghela napas sambil memutar bola mata malas. Kalau saja keadaannya sedang tidak genting, ia mungkin akan mendebat Baskara seharian hanya karena sebuah panggilan sayang. Tapi untuk saat ini, biar dia telan dulu segala argumen yang ia punya, karena mereka punya misi yang lebih penting untuk dilakukan sekarang.
"Gue lagi nggak mau ribut sama lo soal beginian, so listen to me karena gue punya hal yang lebih penting buat diomongin."
"Apa?!" Baskara kedengaran sewot.
"Ini soal Jasmine."
Seperti dugaannya, pemuda itu lantas melenguh ketika nama Jasmine keluar. Bukan sesuatu yang aneh, karena hampir semua orang di Neosantara pun akan melakukan hal yang sama. Rata-rata dari mereka tidak ingin nama itu disebut di dalam sebuah percakapan. Karena ketika itu terjadi, kemungkinannya cuma satu; mereka akan terlibat masalah.
"Kenapa lagi? Dia gangguin lo?"
"Posting apaan?"
"Ya lo lihat aja di base!" Biru agak ngegas. Kemudian, ia menurunkan kembali tensinya. "Gue ke markas kalian, ya. Nanti kita diskusiin soal ini di sana."
Suara dengusan terdengar jelas. Namun tak lama setelahnya, suara serak Baskara kembali terdengar hanya untuk mengatakan sebuah "Oke." kemudian telepon ditutup secara sepihak.
Biru tak terlalu ambil pusing soal itu. Ponsel ia masukkan kembali ke dalam tas, kemudian ia segera masuk ke dalam mobil lalu mengendarinya keluar dari parkiran kampus.
...****************...
Pemilihan markas besar sebagai tempat pertemuan dengan Baskara sepertinya salah. Karena di luar dugaan, sudah ada dua mobil yang mejeng di halaman depan ketika Biru sampai di sana. Naasnya lagi, pemilik dari salah satu mobil itu tiba-tiba muncul dari pintu sehingga tidak ada waktu baginya untuk melarikan diri. Sudah kepalang basah, Biru akhirnya membelokkan mobil ke halaman lalu memarkirkannya di sebelah mobil Fabian.
"Hai," sapanya kikuk pada Fabian yang masih tak melepaskan tatapan sejak ia berjalan keluar dari dalam mobil. Pemuda itu tampak heran akan kehadirannya, namun seperti tak punya keberanian untuk menanyakan lebih dulu soal kedatangannya yang tidak diprediksi.
"Juan sama Reno ada di dalam juga?" tanya Biru lagi. Pokoknya, ia akan menanyakan apapun yang terlintas di kepalanya untuk membuat suasana tidak canggung. Sekalian memikirkan alasan yang tepat kalau tiba-tiba saja Fabian bertanya untuk apa ia datang ke sini.
"Ada." Si pemuda menjawab singkat.
__ADS_1
Entah bisa dikatakan beruntung atau tidak, tapi pemuda itu tidak menanyakan apa-apa dan hanya menggiringnya masuk menemui Juan dan Reno yang tengah duduk santai di atas sofa sambil nyemil keripik kentang.
"Oh, Avatar!" seru Reno kala mata mereka bertemu. Pemuda itu tampak sumringah, mengangkat tangan ke udara dengan telapak tangan yang mengarah kepadanya—seperti hendak melakukan high five.
Biru tersenyum tipis menanggapi sapaan tak biasa dari Reno lalu berjalan mendekat. Tubuhnya bergerak secara otomatis nyempil di tengah-tengah dua pemuda itu kala Juan dengan sukarela menggeser posisinya untuk menyisakan ruang.
"Dari kampus?" tanya Juan seraya menyodorkan sekaleng minuman ringan. Biru menyambut kaleng minuman tersebut, lantas menganggukkan kepala.
"Masih rame?" tanya Juan lagi. Tak perlu berpikir keras untuk menebak ke arah mana pertanyaan itu tertuju. Jadi Biru lagi-lagi menganggukkan kepala.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Seolah mereka berempat sama-sama sedang memikirkan baik-baik apa yang akan keluar dari mulut mereka masing-masing.
Sampai kemudian, Biru mengambil inisiatif menjadi orang pertama yang membuka suara. Hitung-hitung sekalian memberikan jawaban tentang pertanyaan mengapa ia ke sini, sebelum pertanyaan itu benar-benar dilontarkan.
"Sebenarnya ... gue datang ke sini untuk ngajak kalian ngecek keadaan Jasmine." Ungkapnya. Lalu diamatinya satu persatu ekspresi yang tampak di wajah ketiga pemuda itu untuk tahu, apakah ide yang ia sampaikan mendapatkan respons yang baik atau justru sebaliknya.
Untuk Baskara, Biru yakin pemuda itu tidak keberatan dengan idenya. Karena Biru percaya Baskara tidak sebrengsek itu untuk tutup mata pada hal-hal seperti ini. Tapi untuk tiga temannya ini ... Biru masih tidak tahu. Bahkan Fabian sekalipun, Biru masih tidak bisa membaca apakah pemuda itu akan punya cukup kepedulian terlebih untuk public enemy seperti Jasmine.
Dan keragu-raguan itu sirna kala kepala Juan mengangguk disusul dengan suara beratnya yang berkata, "Gue juga kepikiran untuk cek kondisinya."
"Tapi masalahnya, nggak ada yang tahu di mana Jasmine tinggal." Reno menyahut. Keripik kentang yang semula ia dekap posesif, diletakkan ke atas meja dengan gerak lambat yang dramatis. Kemudian pemuda itu menatap Biru lekat, seolah ingin mentransfer segala hal yang membuatnya ragu-ragu untuk bertindak. "Harus ke mana kita pergi untuk cek kondisi dia?" sambung pemuda itu.
Biru termenung. Jakarta ini luas. Menyisir apartemen atau kos-kosan yang letaknya masih di sekitaran Neosantara juga pasti membutuhkan waktu. Apalagi kalau ternyata Jasmine tinggal di lokasi yang lebih jauh. Akan semakin banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari keberadaan gadis itu saja. Salah-salah, mereka malah kehilangan momen. Iya kalau Jasmine memang hanya sedang mencari perhatian seperti yang dituduhkan oleh orang-orang. Tapi bagaimana kalau ternyata gadis itu memang sedang dalam kondisi tidak baik, dan mereka terlambat memberikan pertolongan?
Di tengah keputusasaan yang terasa sampai membuat kepalanya berdenyut, Biru mendengar Reno bergumam pelan di sampingnya. Ia sontak menoleh, meminta pemuda itu mengulangi kalimatnya sekali lagi.
Kontak mata terjadi selama beberapa detik antara dirinya dengan Reno. Sampai pemuda itu menghela napas pelan sebelum membuka mulutnya dan berkata, "Sebenarnya ... gue kenal salah satu orang yang sempat jadi sugar daddy dia. Mungkin orang itu bisa bantu kasih kita informasi."
Entah hanya perasaannya saja, atau Reno memang mengatakannya dengan suara yang teramat pelan dan terkesan tak bertenaga sama sekali.
"Siapa?" todongnya. Berusaha mengabaikan kejanggalan yang ia rasakan dari nada suara Reno.
Lagi-lagi, Reno menghela napas. Sejauh ia mengenal pemuda ini, baru sekarang Biru melihat Reno tampak begitu frustrasi—entah karena hal apa.
"Bokap gue." Tutur sang pemuda, yang lantas membuat ia, Juan dan Fabian terdiam dengan mulut yang setengah terbuka.
Bersambung
__ADS_1