
Minum alkohol sebelum tidur adalah pilihan yang buruk. Lain kali, Fabian akan mengingat hal itu di kepalanya agar tidak terulang kembali. Sebab kini, ia mendapati kesulitan untuk bangun dari ranjang, padahal kelasnya akan dimulai kurang dari satu jam lagi.
Ia semakin tidak mengerti kenapa ibunya suka sekali menghabiskan waktu di gudang penyimpanan alkohol sampai pingsan, kalau efeknya sama sekali tidak menyenangkan seperti ini.
Sadar bahwa ia tidak bisa hanya berdiam diri, Fabian pun berusaha bangkit dari kasur. Dengan kepala yang pusing dan perut yang terasa tidak nyaman memaksa berjalan menuju kamar mandi. Shower dinyalakan, tetapi ia malah terduduk diam di atas closet sambil melamun.
Suara air yang mengucur dari shower hanya terdengar seperti musik latar bagi Fabian yang kini kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Sisa-sisa overthinking yang ia bawa semalam masih menimbulkan efek yang lumayan signifikan terhadap suasana hatinya, dan itu sangat tidak enak.
"Ha...." Fabian mengembuskan napas panjang. Kalau dituruti, kegiatan melamun ini bisa berjalan sampai matahari kembali ke peraduan. Tentu Fabian tidak ingin hal itu terjadi karena ada lebih banyak hal yang harus ia lakukan.
Maka, kucuran air dari shower akhirnya tidak lagi ia abaikan. Setelah melucuti semua pakaian dan melemparkannya asal, Fabian berjalan mendekati shower. Dinginnya air yang menyentuh kulih kepalanya lebih dulu berhasil membuat kesadarannya kembali berkali-kali lipat lebih cepat. Sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak tadi alih-alih hanya melamun seperti zombie yang kekurangan asupan otak.
Kurang dari dua puluh menit kemudian, Fabian sudah selesai dengan kegiatan mandi. Ia keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Sementara tubuh bagian atasnya yang terekspos kini tampak berkilauan akibat sisa-sisa air yang tertimpa sinar lampu.
Kemudian, Fabian berjalan menuju lemari pakaian, menarik kaus polos warna putih, celana jeans dan jaket kulit warna hitam. Itu adalah outfit mode standar yang biasa Fabian kenakan. Ia tidak suka memakai pakaian yang terlalu heboh dengan warna yang gonjreng. Maka yang bisa dilihat di dalam lemari pemuda itu adalah pakaian dengan warna-warna monokrom.
Selesai berpakaian, Fabian merapikan rambutnya sedikit. Tidak perlu menggunakan sisir, ataupun menambahkan gel khusus untuk membantu helaian rambut hitamnya agar terlihat teratur. Ia hanya menggunakan jemari panjangnya untuk menyugar helaian rambut tersebut, memberikan sedikit sentuhan pada rambut bagian depan kemudian tersenyum tipis kala menemukan tatanan rambutnya sudah dirasa paling pas dengan outfit yang kini dia kenakan. Tidak terlalu rapi, sedikit terlihat berantakan tetapi tidak serta-merta membuatnya terlihat urakan.
Setelahnya, Fabian meraih tas punggung di meja belajar lalu memasukkan dompet dan ponsel yang ia sambar dari nakas ke dalamnya. Tas itu kemudian ia sampirkan ke satu sisi bahu, lalu ia berjalan keluar dari pintu usai meraih kunci motor yang ia gantung dekat saklar lampu.
Sebelum mengayunkan langkahnya lebar-lebar, Fabian masih menyempatkan diri berhenti di depan pintu kamar sang ibu yang tertutup rapat. Beberapa hari ini, ibunya benar-benar tenang. Sama sekali tidak ada keributan yang terdengar. Gudang penyimpanan alkohol yang semula menjadi tempat favorit bagi perempuan itu untuk menyendiri pun sepertinya sudah lama tidak disambangi. Hal itu Fabian sadari semalam, kala ia tidak menemukan adanya botol-botol kosong yang berserakan di lantai seperti hari-hari biasa ketika ia harus menyeret ibunya yang pingsan keluar dari sana.
__ADS_1
Cukup lama Fabian terdiam di sana, sampai kemudian matanya menangkap kenop pintu yang bergerak perlahan, menandakan bahwa ibunya hendak menerobos keluar.
Tidak ingin tertangkap basah, Fabian pun segera mengayunkan langkah. Buru-buru ia menuruni anak tangga, melesat pergi sebelum pintu di belakangnya berhasil dibuka.
Yang Fabian tidak tahu, tepat sebelum tubuhnya menghilang di balik belokan, Raya sudah sempat menangkap keberadaannya. Perempuan itu menatap punggungnya dengan mata yang berkabut, lalu tak lama setelah itu, Raya menangis.
...****************...
Kabar mengenai Baskara yang mengalami kecelakaan selama sesi balapan semalam telah menyebar ke seluruh penjuru Neosantara. Orang-orang, terutama para fans garis keras, mulai sibuk menerka-nerka sendiri tentang kondisi pemuda itu pasca kecelakaan yang menimpanya. Beberapa bahkan sibuk sekali mencari informasi tentang di mana pemuda itu dirawat dan berniat untuk datang menjenguk. Beberapa yang lain cuma bisa bergumam resah sambil menggigiti kuku jari, seolah yang sedang kecelakaan itu adalah anggota keluarga mereka sendiri.
Biru yang dasarnya sudah tahu kondisi Baskara yang sesungguhnya mungkin bisa duduk dengan lebih tenang selama kelas. Meksipun demikian, bisik-bisik yang terdengar di telinganya tetap saja membuat konsentrasinya terpecah.
Selama kelas, tidak banyak materi yang berhasil Biru pahami. Sebagian besar hanya lewat, seperti masuk melalui telinga kanan untuk kemudian keluar dari telinga kiri.
Sudah bertahun-tahun. Sudah susah payah juga ia berusaha melupakan bahwa manusia bernama Baskara itu pernah hidup di dunia. Tapi hanya karena sebuah tragedi kecelakaan yang bahkan tidak seberapa, hatinya malah kembali menjadi gusar.
Semakin Biru berusaha mengenyahkan pemikiran bahwa ia masih peduli dan sedang merasa khawatir terhadap pemuda itu, semakin lantang pula sebuah suara muncul di kepalanya, mengatakan kepada dirinya bahwa ia hanyalah manusia munafik yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya sendiri.
"F*ck." Biru mengumpat, dengan suara yang teramat pelan. Satu tangannya mengepal erat di atas meja, satu lagi yang ada di atas paha meremas celana.
Tak lama setelah umpatan itu keluar, kelas akhirnya selesai. Tanpa menunggu lama, seolah sudah kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, Biru bergerak serabutan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kemudian bergegas keluar dari kelas.
__ADS_1
Langkah terburu-buru yang ia ayunkan membuatnya beberapa kali menabrak mahasiswa lain yang berjalan dari arah berlawanan, dan ia tidak punya cukup waktu untuk berbasa-basi meminta maaf sehingga entah sudah berapa banyak makian yang ia terima dari orang-orang yang ia tabrak itu.
Tepat ketika kakinya menyentuh lantai parkiran, matanya menangkap kehadiran Fabian dari kejauhan. Pemuda itu tampak mengayunkan langkah lebar-lebar, berusaha mengabaikan tatapan kagum yang dilayangkan oleh beberapa mahasiswi yang ia lewati.
Biru akhirnya diam di tempat, menunggu sampai pemuda itu tiba di hadapannya untuk mendengar apa yang hendak disampaikan sampai harus datang jauh-jauh ke sini.
"Mau cabut?" itu pertanyaan pertama yang Fabian tanyakan bahkan sebelum pemuda itu menghentikan langkah.
Biru mengangguk. "Kenapa? Lo ada perlu?" tanyanya. Dalam hati, ia berharap Fabian tidak sedang ingin mengajaknya pergi ke manapun karena sebetulnya, ia telah berencana untuk menyelinap diam-diam ke rumah sakit demi memastikan sekali lagi bahwa kondisi Baskara memang baik-baik saja.
"Gue mau ajak lo jenguk Baskara, kalau lo nggak keberatan." Kata pemuda itu.
Biru membulatkan mulutnya, berusaha menahan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat datar di saat sesungguhnya ia begitu berterima kasih karena Fabian sudah secara tidak langsung membantu melancarkan rencananya.
"So?" tagih pemuda itu.
Kesempatan tidak akan selalu datang dua kali, itu yang Biru yakini. Jadi, ia menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Naik mobil gue aja," ucapnya, sembari mengulurkan kunci mobil kepada Fabian.
Pemuda di hadapannya menerima kunci mobil tanpa banyak protes. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
Sebelum memulai perjalanan, Biru berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan sekarang ini semata-mata hanya untuk memastikan bahwa kondisi Baskara cukup baik, agar bisa menerima pembalasan dendam darinya.
__ADS_1
Karena menurutnya, pemuda itu tidak boleh terluka karena hal lain, selain dirinya.
Bersambung