
Hari pemakaman Raya menjadi kali terakhir Fabian bertemu dengan teman-temannya. Malam setelah dia mengantarkan Biru pulang, Fabian memutuskan untuk memutus akses dengan teman-temannya—tanpa terkecuali. Dia juga tak lagi muncul di kampus, memutuskan keluar demi merayakan patah hati terhebat atas kepergian sang ibu.
Hari ini, tepat seminggu berlalu, Fabian akhirnya membuat keputusan yang jauh lebih besar.
Kanada. Dia akan pergi ke sana.
Tiga hari sebelumnya, Jeffrey datang mengunjungi rumahnya. Lelaki itu bersikeras minta dibukakan pintu, walaupun Fabian sudah berkali-kali mengatakan padanya untuk pergi saja karena dia malas untuk bertemu.
Sampai pada akhirnya, Fabian terpaksa membukakan pintu karena tidak tega melihat Jeffrey berdiri di bawah guyuran hujan yang lebat. Petir menyambar-nyambar, kilatnya bahkan serupa blitz kamera yang membutakan. Selain itu, angin juga bertiup cukup kencang, sehingga Fabian khawatir Jeffrey mungkin akan terluka jika dibiarkan tetap berada di luar gerbang rumahnya.
Tanpa berniat menawarkan kepada lelaki itu untuk masuk ke dalam rumah demi mengerikan tubuhnya terlebih dahulu, Fabian langsung menodongnya dengan pertanyaan “Ada apa?” dan bahwa dia hanya akan memberi lelaki itu waktu selama 15 menit untuk mengutarakan semua niatnya. Selesai tidak selesai, dia akan mengusir Jeffrey setelah 15 menit yang dia berikan habis.
Luka di hatinya masih terlalu basah, masih terlalu dini untuk terlibat lebih banyak dengan ayah yang sama sekali tak mengakui keberadaannya selama 20 tahun lebih.
Malam itu, di beranda rumahnya yang gelap karena lampu depan sengaja tidak dinyalakan, dia dan Jeffrey duduk dengan terpisah meja bundar. Sebisa mungkin, dia melarikan pandangan ke arah lain, tak mau beradu tatap dengan Jeffrey karena khawatir akan muncul rasa iba kala melihat mata lelaki itu yang sayu.
Tiga menit pertama dari 15 menit yang dia berikan, Fabian masih tidak mendengar apa-apa. Jeffrey malah kedapatan terus menatap ke arahnya dan samar-samar, Fabian bisa melihat beberapa tetes air mata jatuh ke pipi pucat lelaki itu. Sampai kemudian, memasuki menit ke-empat, lelaki itu mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat yang dia bungkus plastik bening agar tidak terkena tampias air hujan.
Map itu kemudian disodorkan kepadanya, sambil lelaki itu menunjukkan gestur agar dia membuka map tersebut untuk mengintip isi di dalamnya.
Mulanya, Fabian enggan. Dia tidak ingin menemukan fakta-fakta lain yang mungkin akan membuat lukanya semakin parah. Tapi kemudian, Jeffrey mengatakan bahwa isi di dalam map itu adalah peninggalan dari Raya. Harapan terakhir yang ingin perempuan itu wujudkan sebelum kematian akhirnya memeluk perempuan itu di dalam keabadian.
Segala sesuatu tentang Raya dan bagaimana hidup perempuan itu berjalan telah menjadi hal yang Fabian selalu utamakan. Jadi saat Jaffrey berkata demikian, dia akhirnya meraih map tersebut dan membukanya perlahan.
Ternyata, map tersebut berisi 2 tiket pesawat tujuan Jakarta ke Kanada, 2 visa, 2 paspor dan beberapa lembar uang cash. Fabian yang masih tidak mengerti mengapa benda-benda itu diserahkan kepadanya pun menoleh ke arah Jeffrey, meminta penjelasan lebih lanjut.
“Kalian seharusnya terbang ke Kanada, 3 hari lagi. Saya sudah siapkan semuanya, dan Raya juga sudah setuju untuk mengambil keputusan ini. Di sana, kalian seharunya bisa memulai lembaran baru, tanpa dibayangi ketakutan perihal Sera.” Jeffrey menjelaskan panjang lebar. Penyesalan tergambar jelas dari sorot mata lelaki itu. Namun, meskipun Fabian tahu, dia berusaha untuk tidak peduli.
“Mama saya mau kami pergi ke sana?” tanyanya dengan suara datar dan terkesan dingin. Tatapannya kembali tertuju pada visa dan paspor atas nama dirinya dan sang ibu. Lantas bertanya-tanya, sejak kapan semua ini disiapkan tanpa sepengetahuan dirinya?
__ADS_1
“Iya. Raya ingin memulai hidup baru bersama kamu di sana. Dan saya ... saya sudah berniat, bahkan untuk memalsukan kematian kalian demi membuat Sera percaya bahwa tidak ada lagi yang harus dia khawatirkan soal kalian.”
Apa yang Fabian tangkap dari ucapan Jeffrey hanya sampai pada statement bahwa ibunya ingin mereka pindah ke Kanada. Selebihnya, dia tidak dengarkan. Sebab persoalan Sera dan segala hal yang melingkupi iblis berkedok malaikat itu, sama sekali tidak menarik minatnya.
Tak terasa, 15 menit yang dia janjikan kepada Jeffrey telah habis. Dan karena dia bukan tipikal yang suka mengingkari janji, maka dia segera bangkit dari duduknya sebelum menit-menit lain berlangsung. Segala hal yang dia keluarkan dari dalam map dia masukkan kembali, lalu dia menyimpan map tersebut di sisi tubuhnya.
“Terima kasih sudah menyampaikan amanat terakhir mama saya. Silakan pulang, hati-hati di jalan.” Ucapnya pada Jeffrey, kemudian tanpa peduli pada lelaki itu betulan pergi atau justru tetap termenung di tempatnya, Fabian pergi meninggalkan beranda rumah. Dia masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu besar itu dan menguncinya rapat-rapat—serapat hatinya yang kini tidak bisa dijajak oleh siapapun juga.
Tiga hari berlalu, dan di sinilah dia sekarang. Berdiri di antrean, menunggu proses verifikasi agar dia bisa terbang menggunakan pesawat yang sudah disiapkan. Tiket, visa dan paspor milik Raya pun dia bawa serta. Selain itu, dia juga turut membawa ponsel dan buku jurnal milik Raya yang sejak hari pertama dia temukan, selalu dia simpan dekat di sisinya.
Sesekali, dia akan menoleh ke belakang, seolah sedang mengucapkan salam perpisahan kepada teman-teman terkasihnya yang tidak bisa dia sampaikan secara langsung.
Sore itu, ketika langit Jakarta didominasi warna merah jambu dan biru yang cantik, Fabian mengayunkan langkahnya menuju chapter hidup yang baru. Tanpa ibunya, tanpa teman-teman yang selalu ada di sisinya, juga tanpa Sabiru—gadis yang sempat mencuri perhatiannya dulu.
...****************...
Sementara itu, kepergian Fabian yang tak diketahui oleh siapapun menyisakan kekosongan besar, terutama bagi anggota Pain Killer yang tersisa—Reno dan Juan. Keduanya menjalani hari-hari dalam gelombang ketidakpastian. Menerka-nerka apakah Baskara—yang juga turut absen dari perkuliahan—dan Fabian akan memutuskan kembali ke kampus setelah kondisi mereka membaik.
Berkat itu, tensi Reno naik drastis. Dia tidak mengerti mengapa dunia—beserta manusia di dalamnya—begitu cepat berubah. Sampai seminggu yang lalu, mereka bahkan masih dielu-elukan, dipuja-puja bagai mereka adalah Dewa Agung yang turun ke bumi untuk menebarkan sukacita. Tapi kini, mereka justru dicerca, dihujani kalimat-kalimat makian yang seumur hidup, tidak pernah mereka duga akan dapatkan.
“Well, si kupret Baskara ternyata benar. Eksistensi dia di Pain Killer memang nggak main-main. Sekarang, sewaktu nggak ada dia, kita cuma dianggap sampah.” Juan berkomentar. Seperti biasa, selalu ada rokok dan sekaleng minuman beralkohol yang menemani ketika mereka sedang dalam mode darurat.
“Mereka yang sampah.” Sahut Reno. Ia turut menenggak alkohol miliknya, lalu kembali melabuhkan pandangan ke luar jendela. Warna langit di atas sana tampak cantik, berbanding terbalik dengan suasana hati mereka yang porak poranda.
Kemudian, kembali hening. Di markas besar, di mana mereka biasanya mereka menghabiskan waktu untuk berdiskusi perihal hal-hal penting terkait taruhan, sore ini malah mereka habiskan untuk merenungi banyak hal. Setahu mereka, hubungan Baskara dan Fabian memburuk karena Sera merupakan pelaku pembunuhan Raya. Mereka tidak tahu, bahwa ada masalah lain yang jauh lebih serius.
“Baskara masih nggak kasih kabar apapun?” Juan beringsut mendekat. Sepulang dari pemakaman Raya, anak itu masih berkabar, mengirimkan lokasi terakhir tempat di mana dia berada setelah kabur karena Reno memaksa. Tapi keesokan paginya, anak itu menghilang, seperti ditelan bumi.
Ketika Juan mencoba mengirimkan pesan, bubble chat yang dia kirimkan hanya berakhir centang satu. “Atau mungkin Biru? Dia juga nggak kasih kabar apapun?” sambungnya.
__ADS_1
“Biru udah 3 hari nggak masuk kelas.” Ucap Reno dengan lesu. Sekarang ini, benar-benar tidak ada yang bisa mereka lakukan selain terus menunggu kabar dari dua orang teman mmereka
Seiring dengan kumpulan awan di langit senja yang berarak menjauh, Reno dan Juan kembali hanya bisa menghela napas panjang secara berbarengan.
...****************...
Di sudut kota yang sepi, Baskara menghabiskan sorenya dalam kesunyian yang panjang. Tidak ada suara klakson, suara deru kendaraan yang saling bersahut-sahutan, apalagi suara teman-temannya yang berisik memperebutkan minuman.
Di tempat ini, sebuah tanah lapang bekas proyek pembangunan apartment yang mangkrak, Baskara benar-benar ditinggalkan sendirian.
Puntung rokok berserakan di hadapannya, memenuhi rerumputan hijau yang tingginya sudah hampir menyentuh betisnya. Saking lebatnya rerumputan itu, kalau dia memutuskan untuk mati di sini, mungkin tidak akan ada yang berhasil menemukan mayatnya sebelum hanya tinggal kerangkanya saja.
Tapi, dia tidak datang untuk itu.
Baskara datang ke sini untuk berpamitan, pada kenangan manis yang pernah dia ukir bersama teman-temannya selama beberapa tahun terakhir. Dia terlalu pengecut untuk menyampaikan salam perpisahan itu secara langsung, jadi dia datang ke sini. Berteriak bagai orang gila, berharap angin yang berembus menerpa tubuhnya itu bersedia menyampaikan pesannya kepada teman-teman yang berada jauh dari jangkauannya.
Dia akan melarikan diri, anggap saja begitu. Sebab berada di kota ini hanya akan membuatnya semakin sakit. Membuatnya semakin merasa bersalah untuk hal-hal yang sebenarnya mungkin tidak berhak untuk dia akui sebagai kesalahannya.
Mungkin satu tahun, atau dua, atau bahkan tiga. Entahlah. Baskara tidak merencanakan dengan pasti seberapa lama dia akan melarikan diri. Selama apapun waktu yang harus dia ambil, jika itu bisa membuatnya kembali dengan keadaan yang lebih baik, maka rasanya dia tidak akan keberatan.
Tidak jauh-jauh. Dia tidak akan pergi ke luar negeri karena kepalang berjanji pada Sabiru untuk tetap menemani gadis itu apapun yang terjadi. Tuhan sudah berbaik hati memberinya kesempatan memiliki Sabiru lagi, jadi dia tidak seharusnya berbuat tidak tahu diri dengan melepaskan gadis itu untuk yang ke-dua kali.
Maka, keputusan paling tepat yang rasanya bisa dia ambil adalah pergi bersama gadis itu. Membawanya kabur, karena hanya itu satu-satunya jalan agar agenda kaburnya tidak terlalu berlebihan.
Atau sebenarnya, dia malah mengembalikan gadis itu ke tempat yang seharusnya?
Karena, mereka akan pergi ke Surabaya. Win win solution yang sebenarnya pertama kali ditawarkan oleh Sabiru.
“Gue pamit, guys.” Ucapnya terakhir kali, sebelum akhirnya bangkit setelah memunguti puntung rokok miliknya dan membawanya pergi. Dia akan membuangnya setelah menemukan tong sampah nanti. Atau kalau bisa, dia akan menyimpannya, sebagai kenang-kenangan sebelum dia benar-benar pergi.
__ADS_1
Bersambung