
Ketika Fabian sampai di Mega, dia sudah terlambat. Baskara sudah tidak ada di sana, pun dengan Juan dan Reno. Yang bisa dia temui cuma Gerald, yang sedang mengoceh karena harus menyeret satu lagi orang mabuk yang berbuat onar.
Malam sudah larut, tapi hingar bingar di Mega sama sekali belum surut. Seolah setiap ada satu manusia mabuk yang cabut dari sana, akan langsung digantikan oleh dua atau bahkan tiga orang waras lainnya, yang sudah siap untuk teler sampai pagi menjelang.
Fabian agak kesusahan membelah lautan manusia yang melenggak-lenggokkan tubuh di lantai dansa, suara musik yang berdentam-dentam juga menyulitkannya untuk memanggil Gerald yang masih belum menyadari keberadaanya. Sedari tadi, dia hanya memandangi lelaki berotot itu dari jauh.
"Wanna dance with me, baby?"
Fabian bergidik geli sewaktu seorang perempuan dengan make up tebal dan pakaian kurang bahan yang menampakkan belahan dada juga paha mulus tiba-tiba saja membelai lehernya. Sumpah demi Tuhan, itu adalah area sensitif dan Fabian tidak pernah mengijinkan siapapun menyentuhnya dengan cara seduktif seperti itu.
"Sorry, gue nggak minat," ketusnya, buru-buru menepis tangan nakal si perempuan sebelum tubuhnya yang suci semakin digerayangi.
Langkah yang dia ambil dipercepat, beberapa kali dia sengaja mendorong orang-orang yang tidak mau memberinya jalan--pikirnya, masa bodoh kalau orang-orang itu marah dan harus terjadi keributan, dia tidak takut.
Setelah upaya yang tidak main-main, Fabian akhirnya berhasil juga keluar dari kerumunan manusia gila tadi. Matanya langsung fokus pada Gerald yang kini sudah berdiri di belakang meja bar yang kosong, tampak terkejut mendapati kehadirannya yang tidak terduga.
"Gue kira lo nggak datang," itu kalimat pertama yang Gerald katakan. Alih-alih bertanya apakah harinya baik-baik saja, seperti yang biasa lelaki itu katakan kepadanya di hari-hari sebelumnya.
Karena apa yang Gerald katakan bukanlah sebuah pertanyaan, Fabian merasa dirinya tidak punya kewajiban untuk menjawab. Jadi, dia balik bertanya. "Yang lain udah pulang?" tepat setelah dia mendudukkan bokongnya di stool bar.
"Reno sama Juan baru aja balik, lewat pintu belakang. Baskara udah dari setengah jam yang lalu balik sendirian." Gerald menjelaskan, selagi tangannya mulai sibuk meracik minuman.
Fabian tidak menyahut lagi. Sebab sesaat setelah Gerald mengatupkan bibir, ponsel di saku celananya bergetar.
Dia mengeluarkan ponsel itu, hanya untuk dibuat tersenyum tipis saat menemukan satu pesan singkat yang dikirimkan oleh Biru.
__ADS_1
Arrived home safely?
Cuma sebuah pertanyaan biasa, yang biasanya juga dia dapatkan dari si kampret Baskara--walaupun bahasanya sedikit berbeda. Tetapi, berkat satu pesan singkat sederhana itu, Fabian jadi mendapatkan sedikit keyakinan bahwa kehadirannya diterima oleh Biru, setidaknya untuk saat ini.
"Mereka bertiga kelihatan kusut,"
Fabian mengalihkan perhatiannya sejenak, meskipun masih enggan meluruskan kembali bibirnya yang masih terangkat membentuk sebuah senyuman. Di hadapannya, Gerald menatapnya curiga, menelisik ke dalam manik matanya seolah sedang mengais sebuah jawaban.
"Cuma lo yang kelihatan sumringah malam ini. What happened?" todong Gerald setelah gelas berisi whisky dia letakkan di hadapan Fabian.
"Kusut?" Fabian malah balik bertanya. "Anak-anak datang ke sini dengan keadaan kusut?" ulangnya. Sebab setahu dia, mereka bertiga masih baik-baik saja. Reno dan Juan cuma sedikit uring-uringan karena tidak direspon oleh Biru, tapi bukan berarti hal itu cukup mampu untuk membuat keduanya menjadi kusut. Lantas, ada apa pula dengan Baskara? Soal ayahnya lagi?
Gerald mengangguk, tangannya sudah sedari terlipat di depan dada dan dia masih terus menelisik ke dalam manik mata Fabian.
"Gue mencium ada yang nggak beres sama kalian," Gerald dengan analisanya yang sembilan puluh sembilan persen akurat.
Gerald berdecak sebal, lalu semakin mengintimidasi Fabian dengan tatapannya.
"Lo kira, kalian bisa bohongin gue?" tantang Gerald, lalu dia menggelengkan kepala sembari menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri sebanyak enam kali. "Feeling gue bahkan bisa jadi lebih kuat ketimbang nyokap lo semua," sambungnya, kembali melipat tangannya di depan dada.
"Nyokap gue nggak punya feeling, btw." Fabian meralat ucapan Gerald sebelumnya, kemudian menyambar whiski dan menyesapnya sedikit.
Gerald memutar bola mata jengah, merutuki dirinya sendiri yang membawa-bawa kata nyokap karena jelas Fabian akan bereaksi seperti ini.
"Pokoknya, gue tahu kalian lagi nggak oke. Just tell me, biar gue urus masalah kalian sampai tuntas." Seperti biasa, Gerald mengatakan itu dengan perasaan yang menggebu-gebu, bersikap seperti seorang kakak tertua di dalam keluarga yang hendak membasmi semua masalah yang adik-adiknya sedang hadapi.
__ADS_1
Namun, melihat itu, Fabian justru terkekeh. Apanya yang mau dibasmi, kalau akar masalahnya saja mereka bahkan tidak tahu?
Kekehan Fabian itu membuat Gerald sewot sendiri. "Gue serius ya, bangsat!" serunya, membuat beberapa orang setengah mabuk menoleh ke arah mereka.
"Gue nggak ngomong sama kalian!" pekiknya kepada orang-orang tadi, yang langsung membuat mereka segera mengalihkan pandangan.
Usai memastikan dia dan Fabian tidak lagi menjadi bahan tontonan, Gerald kembali menatap Fabian. "Gue serius, Bi. Kalian ada masalah apa?" desaknya.
Namun lagi-lagi Fabian cuma mengendikkan bahu, menyesap lagi whiski-nya sedikit lalu malah kembali asik menatapi layar ponsel.
"Bi,"
"Masalah kita masih sama aja kayak yang kemarin-kemarin kok," sela Fabian, sama sekali tidak mengalihkan tatapan dari layar ponsel. Jemarinya mulai bergerak, menari-nari di atas keypad demi menuliskan balasan untuk pesan yang Biru kirimkan.
Ponsel diletakkan ke atas meja bar setelah balasan berhasil dikirimkan. Lalu, Fabian mengangkat pandangan, menatap Gerald dengan senyum sumir yang terlihat samar.
"Coba, kasih tahu gue gimana caranya supaya gue bisa dapetin cinta-nya nyokap gue? Gimana caranya supaya bokap-nya Baskara nggak kabur-kaburan lagi? Gimana caranya supaya Reno dan Juan nggak dipaksa buat pura-pura jadi anak dari keluarga cemara lagi? Tell me, Gerald Octariast."
Gerald terdiam cukup lama. Kepercayaan diri yang semula dia pupuk tinggi, tahu-tahu saja sudah habis tak bersisa. Bahunya yang semula tegap nan jumawa, tahu-tahu merosot dan dia sama sekali tidak lagi punya daya.
"Gue mau ke belakang sebentar, stok es batu habis." Kata Gerald, buru-buru membalikkan badan kemudian kabur. Karena kalau urusannya sudah keluarga, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Memang seharusnya dia tidak usah sok mau membantu empat cecunguk itu, biarkan saja mereka menghadapi masalah mereka sendiri.
Sementara Gerald merutuk atas kebodohannya sendiri, Fabian cuma bisa geleng-geleng kepala dengan senyum yang kembali terkembang. Dia tahu Gerald memang peduli, dan dia berterima kasih untuk itu. Hanya saja, ada beberapa hal yang seharusnya tidak dicampuri oleh siapa pun. Karena bahkan terhadap sesama anggota Pain Killer saja, masih ada hal-hal yang saling mereka tutupi dari satu sama lain.
Usai menandaskan whiski di dalam gelas, Fabian bangkit. Meninggalkan Mega dengan perasaan yang campur aduk, dan dia tidak tahu bagaimana mengatasinya.
__ADS_1
Bersambung