
Padahal, air matanya sudah dikuras habis hingga membuat matanya bengkak parah dan suaranya menjadi serak, tapi Baskara masih tidak merasa lebih baik. Dadanya masih terasa sesak, seperti ada sesuatu yang besar menyumbat saluran napasnya sehingga oksigen yang dia hirup susah payah tidak bisa dibawa menuju jantung.
Di balkon apartemen Biru, ia duduk sendirian, terpaku menatapi jemari kakinya yang telanjang dengan isi kepala yang semakin tidak keruan. Asbak di atas meja sudah penuh dengan belasan puntung rokok, bersama dengan serpihan abu yang beberapa beterbangan tertiup angin. Puntung rokok itu bukan cuma miliknya, beberapa adalah milik Sabiru yang sampai satu setengah jam lalu masih berkeras kepala menemaninya menerobos dinginnya angin malam jam 2 dini hari.
Ia telah memaksa Biru untuk tidur karena gadis itu memiliki kelas di jam 9 pagi ini. Awalnya gadis itu menolak, tentu saja, tipikal Sabiru si keras kepala yang dia kenal selama ini. Tapi setelah dibujuk dan diyakinkan bahwa keadaannya akan membaik ketika pagi tiba, gadis itu pun akhirnya setuju untuk merebahkan dirinya di atas kasur.
Walaupun pada akhirnya, kata membaik itu mungkin tidak akan terwujud untuk waktu yang cukup lama. Karena dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia bahkan belum mengatakan apapun kepada Biru, hanya membiarkan gadis itu melihatnya menangis semalaman tanpa tahu hal apa yang sudah menyakiti hatinya begitu dalam.
“Ha….” Baskara mengembuskan napas panjang. Satu batang rokok lagi dia keluarkan dari dalam bungkus, stok terakhir dari bungkus ke-2 yang dia buka mala mini.
Kepulan asap berputar-putar di udara, mencemari udara dini hari yang masih jernih—semakin memperburuk kualitas oksigen yang dia hirup. Merokok di saat menarik napas saja terasa sulit adalah pilihan yang buruk, tapi Baskara tidak punya pilihan lebih baik karena ternyata menangis pun tak cukup mampu untuk membuat perasaannya membaik. Well, rokok juga tidak. Tapi setidaknya, gerakan mengisap dan mengembuskan asap rokok itu sedikit membantu mengurai kerumitan yang ada di kepalanya.
Untuk saat ini, satu-satunya yang terpikirkan oleh Baskara adalah langkah melarikan diri. Dia mungkin tidak akan pulang ke rumah dalam beberapa hari ke depan. Dia belum siap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, untuk mendengarkan pembelaan yang belum sempat ibunya lontarkan karena dia keburu meninggalkan rumah.
Baskara mungkin juga akan berusaha menghindari interaksi dengan Fabian. Karena setiap melihat anak itu, ia yakin rasa bersalah akan kembali menghantuinya, membuatnya menderita hingga pikiran bahwa mati lebih baik akan datang lebih sering ketimbang hari-hari sebelumnya.
Dia benar-benar perlu menjernihkan kepala, memikirkan apa langkah terbaik yang bisa dia ambil selanjutnya dengan kondisi kepala yang lebih baik.
Rokok yang Baskara hisap terus-menerus semakin terbakar habis, merubah wujudnya yang semula seukuran jari telunjuk, kini hanya setinggi satu ruas jari. Ia mengisap rokoknya untuk yang terakhir kali, sebelum mencampakkannya di atas asbak lalu dia berjalam masuk ke kamar Sabiru—membiarkan bara api yang masih menyala menjadi saksi betapa hancurnya dia subuh itu.
Di atas ranjangnya, Biru terlelap dengan selimut tebal yang membalut seluruh bagian tubuhnya kecuali kepala. Baskara melangkah pelan mendekati ranjang, lalu terpaku cukup lama memandangi wajah polos Biru yang terlelap. Banyak hal yang telah berubah selama mereka berpisah, tapi raut wajah polos ini, masih tidak berubah semenjak dulu.
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua hal yang terjadi memiliki alasannya tersendiri. Sama seperti ketika Tuhan mengijinkan dia untuk bisa memeluk Sabiru lagi. Alasannya mungkin karena Tuhan tahu, jika tidak ada gadis ini di sampingnya, maka dia mungkin akan menyerah saat ini juga.
Baskara kembali mengembuskan napas panjang—entah sudah kali ke berapa dia lakukan sejak semalam. Lalu, dia bergerak pelan, menyusupkan dirinya ke dalam selimut—bergabung dengan Biru yang sedang asyik mengarungi mimpi.
Tubuh kecil itu dia dekap erat. Seakan hanya dari sana dia bisa mendapatkan kekuatan. Kemudian, deru napas Biru yang stabil serupa lullaby bagi Baskara—menuntunnya menuju dunia mimpi.
Prank!!!
Satu lagi koleksi vas mahal yang menjadi korban kekesalan Sera. Itu sudah yang ke-11, dan agaknya perempuan itu belum hendak berhenti walaupun sudah berjam-jam dia mengamuk bagai orang gila setelah mendengar penjelasan dari Jeffrey tentang apa yang terjadi dengan Baskara.
Pecahan beling berserak di mana-mana, memenuhi lantai ruang tengah yang temaram karena lampu gantung di atas meja juga tak luput dari amukan Sera. Perempuan itu melemparkan salah satu koleksi vas kesayangannya hingga mengenai lampu gantung itu, membuatnya hancur berkeping-keping dan beberapa serpihan yang terlempar jauh sempat mengenai pipi Jeffrey—meninggalkan luka gores yang terpaksa lelaki itu terima dengan lapang dada. Darah yang mengalir dari luka gores itu bahkan dia biarkan mengering dengan sendirinya. Karena Jeffrey terlampau sibuk mencari cara untuk menengkan Sera yang menggila.
“Bangsat kamu, Jeff!” Sera kembali berteriak kesetanan. Dia berderap maju, menginjak pecahan beling tanpa khawatir sepatunya robek dan kakinya mungkin akan terluka. Telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah Jeffrey, menatap nyalang mata lelaki yang menjadi sumber Bahagia—sekaligus sumber kesakitannya itu. “Susah payah aku sembunyikan semuanya, Jeffrey. Jungkir balik aku menjaga supaya rahasia itu tetap aman, dan anak kita nggak terluka. Tapi kamu malah dengan entengnya ngomong semuanya ke Baskara!”
“Rekaman itu jelas memuat suara kita, Sera. Aku nggak punya pilihan selain menjelaskan semuanya.” Jeffrey berucap dengan suara rendah. Tidak seperti Sera yang sudah seperti kehilangan kewarasan, Jeffrey masih berusaha untuk tetap tenang. Karena akan percuma jika dia membalas teriakan demi teriakan yang Sera lontarkan dengan nada tinggi yang sama, itu hanya akan memperkeruh suasana. “Lagipula, cepat atau lambat, kebenaran ini pasti akan terungkap juga. Sepintar apapun kita menyembunyikannya, Baskara tetap akan tahu.”
“Itu nggak akan terjadi kalau kamu nggak keras kepala untuk bertanggung jawab atas anak haram itu!” sergah Sera. “Aku udah berbaik hari membiarkan mereka tetap hidup, tapi kamu malah lebih memilih untuk mencari cara menunjukkan diri kamu di hadapan mereka dan mengorbankan anak kamu sendiri. Kamu bajingan, Jeffrey! Bajingan!” Sera memukul-mukul dada bidang Jeffrey, dan lelaki itu sama sekali tidak berusaha untuk menangkisnya. Dia sepenuhnya sadar bahwa pukulan-pukulan itu bahkan tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan luka yang dia berikan kepada Sera, Raya dan kedua putranya yang terpaksa menjadi korban atas kesalahan fatalnya.
__ADS_1
Seakan sudah habis air matanya, Sera sama sekali tidak menangis. Tiga pukulan lagi dia arahkan ke dada Jeffrey, lalu dia menarik diri. Tidak. Bukan berarti emosinya sudah mereda. Tidak sama sekali. Yang ada, kepalanya semakin terasa seakan meledak—dan dia perlu melakukan sesuatu untuk menenangkannya.
Sera berjalan naik ke kamarnya, meninggalkan Jeffrey yang hanya diam mematung melihat kekacauan yang ada di dalam rumahnya.
Tak lama berselang, Sera kembali, membawa sebuah tas tangan berukuran lebih besar dengan miliknya yang dia tinggalkan di atas sofa.
“Mau ke mana kamu?” tanya Jeffrey.
“Nyari Baskara. Karena kamu nggak akan cukup peduli untuk mencari di mana keberadaan anak aku. Yah … apa yang ada di dalam kepala kamu kan, memang cuma anak haram itu.” Ketus Sera sembari merogoh tas miliknya yang ada di sofa, mengelurkan ponsel, dompet dan kunci mobil dari sana lalu memindahkannya ke dalam tas yang dia bawa.
“Kamu mau cari dia ke mana subuh-subuh begini?” Jeffrey menahan lengan Sera, namun perempuan itu segera menepisnya dengan kasar.
“Ke mana pun. Ke ujung dunia sekalipun, akan aku cari. Baskara cuma punya aku, jadi aku nggak akan biarin dia sendirian.”
Kemudian Sera berlalu dari sana. Langkahnya terayun lebar, sementara Jeffrey tidak punya lagi daya untuk mencegah istrinya pergi.
Sesungguhnya, mencari Baskara adalah sebuah alasan yang dia buat agar Jeffrey tidak curiga. Dia tidak perlu bersusah payah mengerahkan tenaga untuk mencari di mana keberadaan putranya, karena dia sudah menugaskan dua orang yang expert untuk membuntuti kemana pun anak itu pergi. Baskara adalah harta yang paling berharga untuk dirinya, jelas tidak akan dia biarkan
mara bahaya mengancam keselamatannya.
Mobil yang Sera kendarai secara ugal-ugalan akhirnya berhenti di pinggir jalan, di seberang sebuah rumah dengan pagar tinggi menjulang. Ia tidak menyangka akan berada di tempat ini lagi, setelah sekian lama sejak terakhir kali dia berkunjung untuk membuat kesepakatan dengan Raya.
Sera tidak terlalu ingat kapan pastinya ketika dia meminta Abraham untuk membelikannya senjata api tersebut. Mungkin 13 tahun yang lalu? Entahlah. Yang jelas, revolver itu sudah cukup lama dia simpan di sebuah tempat yang dia yakini tidak akan dijamah oleh orang lain selain dirinya. Awalnya, Sera meminta Abraham membeli revolver itu karena merasa dia membutuhkan sesuatu untuk perlindungan. Karena siapa tahu saja, dia akan dihadapkan pada situasi di mana dia harus membela diri dan revolver itu bisa menjadi senjata untuk menyelamatkan nyawanya.
Siapa yang menyangka kalau benda itu akhirnya berguna juga, setelah sekian lama hanya berdiam diri di kotak penyimpanan?
"Kesabaran aku udah terlanjur habis, Jeff. Anak aku udah terlalu banyak terluka, jadi sekalian aja kita hancur sama-sama." Gumam Sera sembari menatap revolver di tangannya dengan sorot mata dingin.
Kemudian, Sera keluar dari mobil. Dia berjalan melewati gerbang yang sedikit terbuka, menyusuri halaman rumah tersebut sambil bersenandung, menggumamkan lagu kematian untuk mengantarkan penghuni rumah ini menuju tidur lelap yang panjang.
...****************...
Jeffrey mengemudikan mobilnya seperti orang gila. Tapi tak peduli seberapa lihai dia berkendara, dia tetap saja tertinggal jauh di belakang mobil Sera.
Saat perempuan itu bilang hendak mencari Baskara, Jeffrey jelas tidak percaya begitu saja. Apalagi, ketika dia tak sengaja melihat sebuah benda mencurigakan tampak menyembul dari dalam tas yang perempuan itu bawa. Pencahayaan di ruang tengah memang remang-remang, tapi Jeffrey yakin kalau apa yang menyembul itu adalah sebuah pistol.
Setelah sempat kehilangan jejak, Jeffrey akhirnya menemukan mobil Sera. Benar saja, perempuan itu pergi ke rumah Raya.
Tanpa mau membuang-buang waktu, Jeffrey segera turun dari mobilnya, menerobos gerbang yang sedikit terbuka kemudian berlari tunggang-langgang sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Tadi, selama dalam perjalanan ke sini, dia sudah sempat menelepon polisi untuk sekadar berjaga-jaga. Mereka mungkin masih dalam perjalanan sekarang, jadi Jeffrey harus mengupayakan yang terbaik agar Sera tidak menyakiti siapapun sebekum polisi tiba.
__ADS_1
Tapi, belum juga sampai kaki Jeffrey di depan pintu rumah Raya, langkahnya sudah dipaksa berhenti saat sebuah suara tembakan memecah keheningan. Tubuh Jeffrey bergetar hebat, menerka-nerka tubuh siapa yang sudah menjadi sasaran peluru panas yang Sera tembakkan.
Dengan dada yang sesak, Jeffrey menerobos pintu. Dan seketika itu juga, dia dibuat mematung saat menemukan Raya telah berbaring di atas lantai. Darah merembes mengotori pakaian perempuan itu, sementara Sera dengan revolver di tangan, masih berdiri angkuh tak jauh dari tempat Raya terbaring lemah. Di sisi Raya, ada Fabian yang terlihat bergetar kala menyentuh wajah ibunya. Pemuda itu berbisik pelan, meminta agar ibunya tetap membuka mata sebab ia begitu takut ditinggalkan sendirian.
Air mata yang keluar membasahi wajah Fabian dan rintihan yang terdengar lirih dari bibir Raya yang pucat membuat Jeffrey terdiam cukup lama di tempatnya. Sampai kemudian, dia kembali dibawa ke alam sadar ketika terdengar suara Sera yang kembali menari pelatuk, siap menembakkan satu peluru lagi.
Tak berpikir panjang, Jeffrey berlari mendekat. Dia menubruk tubuh Sera, tepat sebelum perempuan itu melepaskan pelatuk sehingga peluru yang tadinya diarahkan kepada Fabian, meleset jauh mengenai tembok di belakang mereka.
Sekuat tenaga Jeffrey merebut revolver dari tangan Sera, lalu membuangnya jauh dari jangkauan istrinya. Tubuh Sera lantas dia peluk erat-erat dari belakang, sama sekali tidak dia kendurkan agar perempuan itu tidak memiliki celah untuk kembali menyakiti Fabian.
"Lepas!" Sera meronta. "Anak itu harus mati, Jeffrey!"
"Jangan, Sera. Aku mohon...." Jeffrey memohon dengan penuh kerendahan hati. Dengan kesadaran bahwa semua bencana ini berawal dari dirinya, dan dia lah yang harus bertanggung jawab atas semuanya. "Jangan mengotori tangan kamu lagi, aku mohon."
"Kamu nggak peduli sama aku! Kamu begini karena kamu nggak mau anak haram itu mati!"
"Lepas!!!"
Selagi Jeffrey berusaha menenangkan Sera yang kesetanan, Fabian setengah mati menahan sesak karena mata ibunya semakin terlihat memejam. Semakin banyak darah yang keluar, membuat rona di wajah perempuan itu perlahan-lahan menghilang.
"Tetap buka matanya, Ma. Tolong ... jangan pergi." Fabian menepuk pelan pipi Raya, berusaha membuat ibunya tetap sadar. "Bertahan ya, Ma, kita cari bantuan."
"Bi...." lirih Raya. Rasanya, dia sudah tidak sanggup lagi. Dadanya terasa sakit, napasnya sudah tersengal-sengal dan matanya sudah menolak untuk tetap dia ajak terbuka. Tapi, dia tidak bisa membiarkan dirinya pergi tanpa mengatakan apa-apa kepada putranya. Jadi dengan sedikit sekali tenaga yang masih dia punya, Raya berusaha menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Fabian.
"Ma-maafin Mama, Bi. Mama ... Ma-mama belum bisa j-jadi ibu yang baik buat ka-mu. Ma-mama...."
Fabian menggeleng kuat-kuat. "Jangan banyak ngomong. Mama harus simpan energi Mama. Kita cari bantuan ya, Fabian telepon ambulans segera." Kalang kabut Fabian merogoh saku celananya. Dengan tangan yang gemetar, dia menelepon layanan darurat.
"Halo? Tolong ... tolong kirim ambulans ke alamat saya sekarang. Mama saya terluka parah. Tolong cepat. Saya takut ... Mama saya ... Mama saya berdarah."
"Bi," lirih Raya lagi. "Ma-mama sayang kamu. Mama ... sayang ... kamu, Fabian."
"Ma..." Fabian tak kuasa menahan tangisnya lagi. Seseorang dari seberang telepon masih terus berbicara, menggumamkan sesuatu yang entah apa. Fabian tidak bisa lagi memfokuskan dirinya pada telepon tersebut. Karena kini, di atas pangkuannya, ibunya benar-benar sedang meregang nyawa. "Fabian juga sayang Mama. Jadi, tolong jangan pergi. Tetap di sini, oke?" bisiknya. Ia mengusap pipi Raya yang mulai dingin menggunakan tangannya yang berlumuran darah.
"Sa-sakit, Bi. Mama nggak ... ng-nggak kuat." Tangis Fabian semakin pecah saat merasakan tangan Raya yang masih berada di pipinya perlahan terasa lemas, lalu sepenuhnya terkulai seiring dengan mata perempuan itu yang benar-benar terpejam erat. Dada Raya tak lagi naik turun, tak terdengar pula embusan napas perempuan itu yang berati, Raya telah mati.
Fabian berteriak kencang. Dipeluknya tubuh dingin Raya, didekap erat-erat karena dia masih tidak percaya bahwa ibunya benar-benar telah meninggalkan dia untuk selamanya.
Subuh itu, satu nyawa lagi melayang, hanya karena ambisi Sera untuk membentuk sebuah keluarga kecil yang bahagia—yang pada akhirnya tetap tidak akan terwujud karena dinginnya jeruji besi sudah membayang tepat di pelupuk mata.
__ADS_1
Bersambung