
"Anyway, chat yang gue kirim ke lo tadi bukan soal ini. So, lo bisa cek sebelum nanti pesannya gue tarik lagi." Begitu kata si gadis biru, yang kemudian sosoknya pergi menjauh dan tidak butuh waktu lama untuk sepenuhnya menghilang dari jangkauan pandang Fabian.
Setidaknya, butuh delapan belas detik penuh bagi Fabian untuk berpikir sebelum akhirnya dalam gerakan lambat mengeluarkan ponsel dari tas. Benda pipih itu kemudian ia ketuk dua kali di bagian layar sehingga tampaklah berondongan pesan yang tadi Biru kirimkan kepadanya. Jumlahnya masih sama, ada tujuh.
Lima detik Fabian gunakan untuk menatap layar ponselnya tanpa melakukan apa-apa, dua detik untuk menekan pop up notifikasi pesan yang muncul dan entah berapa detik yang kemudian ia habiskan untuk membaca satu persatu pesan yang dirimkan oleh si gadis biru.
Lo oke?
Muka lo pucat banget tadi
Nggak lagi ada masalah serius, kan?
Hellow??? Answer me?
Fabian?
Aight, I know you're not okay. Gue bakal samperin lo selesai kelas, jangan ke mana-mana.
You got me? Yes. Okay, good.
"Random banget anjir," gumam Fabian usai membaca semua pesan tersebut.
Ternyata, sia-sia saja dia khawatir setengah mati, sampai merasakan perutnya mual dan kepalanya pusing karena berondongan pesan itu, karena nyatanya apa yang gadis itu kirimkan sama sekali tidak berkaitan dengan cuitan yang ada di base kampus. Yah, meskipun pada akhirnya mereka tetap membicarakannya secara langsung, dan malah membuat kesepakatan konyol seperti tadi.
"Woy! Ngapain?!" suara Reno yang kas mrenginterupsi lamunan Fabian. Si pemuda mungil itu berjalan ke arah Fabian sambil menyakui satu tangan sementara tangan yang lain memegang lolipop warna merah.
"Lagi nyari wangsit," Fabian menyahut ketika Reno sudah berdiri tepat di depannya.
Jawaban itu tentu tidak memuaskan, terlihat dari ekspresi Reno yang seketika berubah dan bibirnya yang mulai komat-kamit tak jelas.
"Ayo balik, keburu ujan." Kata Reno lagi. Lolipop yang sedari tadi dia anggurkan mulai dia lahap. Rasa manis dan asam seketika memenuhi lidahnya ketika lolipop berbentuk bulat itu berhasil masuk ke dalam mulut, sedikit efektif melunturkan emosi yang mulai perlahan-lahan timbul karena jawaban asal yang Fabian berikan tadi.
"Lo ke sini cuma buat ngajakin gue balik?" sambil bertanya, Fabian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Reno mengangguk. "Disuruh sama pacar lo."
"Hah?!"
"Baskara." Ralat Reno, kala menemukan kebingungan dari raut wajah Fabian.
"Gue masih normal, anjing!" seru Fabian. Namun Reno tampak acuh dan hanya mengendikkan bahu kemudian berbalik. Pemuda mungil itu berjalan lebih dulu, begitu santai seolah tidak punya beban hidup sama sekali.
Sedangkan Fabian mengikuti langkah Reno sambil berdecak, dan sesekali menggerutu karena masih tidak terima Reno menyebut Baskara sebagai pacarnya.
...****************...
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Fabian dibuat keheranan saat menemukan Raya sedang duduk anteng di ruang tamu. Penampilan wanita itu rapi, dan dari raut wajahnya yang berseri, Fabian tahu kalau ibunya itu tidak sedang dalam pengaruh alkohol seperti biasanya.
Mendapati Raya tidak dalam keadaan mabuk adalah kejadian langka, yang tentu saja membuat Fabian bertanya-tanya tentang apa sekiranya yang menjadi dasar wanita itu tidak menenggak alkohol favoritnya.
Mulanya, Fabian ingin mengabaikan keberadaan Raya begitu saja. Ia ingin bersikap seolah tidak melihat eksistensi wanita itu di sana, seperti yang memang sudah mereka sepakati sebelumnya. Tetapi, sebelum langkahnya kembali terayun, suara Raya yang terdengar parau membuatnya terpaksa menoleh.
"Duduk sebentar, saya mau ngomong sama kamu."
Supaya semuanya menjadi cepat, Fabian menurut saja dan langsung mengambil posisi duduk di seberang Raya.
"Dokter Abraham nanti datang untuk kunjungan," ucap Raya. Raut wajahnya datar, benar-benar tanpa ekspresi sama sekali. "Saya harap, kamu nggak ngomong yang macam-macam."
"Macam-macam gimana maksudnya?"
"Jangan bilang kalau saya sering mabuk, dan sering skip minum obat anti-depresan yang dia resepkan." Sama sekali tidak Fabian dapati tatapan keibuan dari mata Raya yang kini menatapnya datar. Seolah menghabiskan waktu sembilan bulan di perut wanita itu bukanlah apa-apa, dan mereka tidak saling punya ikatan batin layaknya ibu dan anak pada umumnya.
"Itu namanya bohong,"
"Saya nggak peduli." Raya menyela. "Nggak ada untungnya juga buat kamu kasih tahu Dokter Abraham semua tentang saya."
Sebagai manusia yang kewarasannya masih lebih banyak daripada milik Raya, Fabian memutuskan mengalah. Dia mengiyakan permintaan Raya, kemudian segera bangkit dan pergi meninggalkan ibunya.
Fabian naik ke kamarnya, langsung mandi dan beres-beres kamar sebentar kemudian kembali turun ke ruang tamu untuk menanti kedatangan Dokter Abraham.
Ternyata, Raya masih ada di ruang tamu, dan posisi wanita itu bahkan masih belum berubah dari saat terakhir kali Fabian meninggalkannya hampir setengah jam yang lalu.
Raya hendak bangkit untuk membukakan pintu, namun gerakannya kalah cepat dari Fabian yang sudah melesat lebih dulu ke arah pintu. Tak lama setelahnya, Fabian kembali bersama Dokter Abraham yang langsung memaku tatap dengannya.
"Malam, Raya." Sapa Dokter Abraham disertai senyum tipis yang tersungging menghiasi wajah tampannya.
"Malam." Raya membalas sapaan itu singkat, dan menggunakan tangannya untuk mempersilakan lelaki itu untuk duduk di seberangnya.
Dokter Abraham segera duduk, kemudian Fabian juga ikut duduk di sebelahnya.
"Bagaimana kondisi kamu akhir-akhir ini?" tanya Dokter Abraham dengan suara yang kelewat lembut.
"Saya baik."
Cih! Fabian diam-diam mencibir jawaban yang ibunya berikan. Sebab kenyataannya, tidak pernah ada yang benar-benar baik dari wanita itu.
"Obat yang saya resepkan, kamu minum secara teratur, kan?" tanya Dokter Abraham lagi.
Raya mengangguk. Terlihat begitu tenang di saat jawaban yang ia lontarkan semuanya adalah kebohongan.
Dokter Abraham tersenyum, tapi jika diperhatikan lebih teliti, lelaki itu sebenarnya mulai membaca ekspresi wajah Raya. Ia sedang berusaha menemukan kebohongan dari sorot mata Raya yang dingin dan datar. Dan, tentu saja dia menemukan kebohongan itu dengan mudah.
__ADS_1
"Mimpi buruk? Masih suka datang?"
"Nggak sama sekali." Untuk membuat kebohongannya lebih meyakinkan, Raya memaksakan sebuah senyum. "Berkat Dokter, kondisi saya jauh lebih baik."
Omong kosong! Fabian menjerit di dalam hati. Namun sekali lagi, ia tidak bisa berbuat banyak karena kadung berjanji untuk tidak buka suara pada Dokter Abraham.
Sesi konsultasi berlangsung selama hampir satu jam. Kemudian, Dokter Abraham pamit undur diri setelah meresepkan obat baru untuk Raya.
Fabian secara sukarela mengantarkan Dokter Abraham sampai ke mobilnya, sementara Raya masih bertahan duduk di tempatnya dan hanya menatap datar kepergian dua laki-laki itu dari hadapannya.
Di luar rumah, sebelum Dokter Abraham masuk ke dalam mobil, lelaki itu kembali bertanya kepada Fabian tentang kondisi Raya yang sesungguhnya. Untuk mengonfirmasi analisanya tentang kebohongan yang Raya sampaikan.
"Dia sering mabuk," adu Fabian setelah akhirnya terkena bujuk rayu dari bibir manis Dokter Abraham. Ia mengingkari janjinya kepada Raya, karena menurutnya Dokter Abraham harus tahu yang sebenarnya agar Raya bisa dibantu keluar dari kekalutan di dalam kepala.
"Obat yang saya resepkan juga sering dia skip, kan?" tanya Dokter Abraham.
Fabian mengangguk. "Hampir nggak diminum sama sekali. Makanya, saya nggak pernah nemuin dia dalam keadaan waras setiap kali pulang ke rumah." Hati Fabian rasanya sakit sekali saat mengingat betapa buruk hubungannya dengan sang ibu sampai sekarang. Ia bahkan tidak pernah merasakan yang namanya dipeluk, atau sekadar ditanyakan bagaimana kondisinya.
Melihat raut sedih Fabian, Doter Abraham turut bersimpati. Dilabuhkan tepukan di bahu pemuda itu, guna memberikan semangat agar bahu itu tetap tegak demi kesembuhan dirinya dan sang ibu.
"Saya akan cari cara supaya Raya nggak skip obatnya lagi. Supaya kondisinya membaik dan kalian bisa menjalani hidup dengan nyaman.
"Terima kasih, Dok." Cuma seulas senyum yang bisa Fabian berikan untuk mengiringi ucapan terima kasih itu.
"Udah jadi tugas saya untuk membantu kalian, jadi jangan sungkan." Senyum kebapakan yang selalu Dokter Abraham berikan kepadanya nyatanya mampu membuat sudut hati Fabian terasa diketuk perlahan. Rasanya, seperti ia disadarkan bahwa setidaknya masih ada orang yang peduli padanya, sekalipun ibu kandungnya sendiri mengabaikan dirinya.
"Kalau gitu, saya pamit." Pamit Dokter Abraham, lalu masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Fabian.
Dilihatnya mobil Dokter Abraham sudah tidak nampak, Fabian kembali ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarnya.
...****************...
Sekitar lima ratus meter dari rumah Fabian, Dokter Abraham menepikan mobilnya. Hanya untuk mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi seseorang yang telah menunggu update dari dirinya.
"Ya?" seseorang di seberang menyahut setelah telepon tersambung.
"Sesuai dugaan, Raya memang nggak minum obat yang aku kasih." Dokter Abraham langsung ke intinya.
"Terus, apa rencana kamu selanjutnya?"
"Aku akan gunakan Fabian untuk bikin Raya minum obatnya. Perempuan itu nggak boleh berangsur membaik, betul?"
"Ya. Dia harus jadi segila mungkin, sebelum nanti tiba waktunya aku singkirkan dia dari dunia."
Dokter Abraham mengulum senyum. "Aku paham. Akan aku usahakan yang terbaik untuk kamu, Sera." Lalu telepon ditutup dan Dokter Abraham kembali melajukan mobilnya dengan serangkaian rencana jahat yang sudah tersusun rapi di kepala.
__ADS_1
Bersambung