Taruhan

Taruhan
You're Beautiful


__ADS_3

"Lo beneran nggak mau nemenin gue nonton film horor?" tanya Biru sekali lagi sebelum dia keluar dari mobil. Ini sudah pertanyaan ke-enam belas sejak mobil melaju dari kampus sampai kini berhenti di depan gedung apartemen, kalau Fabian tidak salah hitung.


"Nggak." Tegas Fabian. Malahan, pemuda itu mendorong pelan tubuh Biru agar si gadis segera enyah dari mobilnya karena ia harus segera menyusul kawan-kawannya yang sudah menunggu di markas besar. Yah, kalau dia tidak mau berakhir menjadi bulan-bulanan Reno si tukang ngomel.


Akan tetapi, bukan Sabiru namanya kalau tidak ngeyel. Bukannya segera turun, dia malah memeluk erat lengan Fabian yang mendorong tubuhnya, membuat si empunya mendengus sebal dan menatap tajam ke arahnya.


"Lo tuh kenapa, sih?" kesal Fabian. Susah payah dia berusaha melepas lengannya dari jeratan Biru, namun berakhir sia-sia. Gadis itu sudah menjelma macam lintah yang sekalinya menempel akan sulit sekali untuk dilepaskan. "Ih, sumpah, ya! Lo kenapa sih, anjir!"


Biru beringsut dengan kekuatan memeluk lengan yang masih sama. "Gue tuh target taruhan lo," bisiknya sambil memajukan tubuh, seperti hendak menyosor wajah Fabian yang mulai pucat.


"Ya terus kenapa?"


"Ya lo usaha kek! Gimana caranya biar taruhannya lancar!" Biru bersungut-sungut. "Mentang-mentang udah bikin kesepakatan, terus lo pasrah aja gitu nggak ada usaha buat PDKT sama gue?"


"Harus PDKT macem gimana lagi, sih?!" satu tangan Fabian yang bebas terpaksa ikut andil untuk membantunya mendorong wajah Biru agar menjauh. "Ini udah level mentok. Sama target taruhan yang lain, mana pernah gue sampai sudi masak dan ngeluarin isi dompet gue buat isi kulkas mereka?"


Wait. Jangan salah paham. Fabian tidak sedang berusaha mengungkit apa yang sudah dia lakukan sejauh ini untuk Biru, kok. Dia melakukan itu semua murni karena dia mau, bukan semata-mata karena Biru adalah target taruhan yang ingin ia taklukkan.


"Lah, terus? Lo biasanya ngapain buat dapetin hati mereka?" tanya Biru. Makin-makin saja dia mendekatkan wajahnya, sampai kini punggung Fabian bahkan sudah mentok di pintu mobil.


Merasa posisinya tidak menguntungkan, Fabian akhirnya terpaksa mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membalikkan keadaan. Tubuh Biru yang sejak tadi terus meringsek maju menjajah daerah teritorialnya itu ia dorong hingga si empunya pasrah ketika punggungnya mendarat cantik di kursi penumpang.


"Pakai ini," bisik Fabian dengan posisi wajah hanya berjarak beberapa senti di depan wajah Sabiru. Alisnya bergerak naik turun, seirama dengan sudut bibirnya yang perlahan-lahan terangkat membentuk senyum jahil yang kurang ajar. "Senjata utama gue, ya muka gue ini. Gue nggak perlu banyak effort karena cewek-cewek itu udah cinta mati sama gue sejak awal."


Oh. Kalau ini gadis lain, sudah pasti mereka akan langsung pingsan saat ditatap begitu intens oleh seorang Arkafabian Syailendra. Tetapi karena ini adalah Sabiru, maka yang gadis itu lakukan justru berdecak dengan bola mata yang berputar jengah. Seakan sudah muak dengan tingkat kepercayaan diri Fabian yang tiada tandingannya itu.


Dengan sewot, Biru mendorong tubuh Fabian sehingga pemuda itu terhempas ke kursi pengemudi. "Muka lo nggak ganteng-ganteng amat, nggak usah terlalu pede." Sinisnya.

__ADS_1


Bukannya tersinggung, Fabian malah tergelak. Memang tidak salah ketika dia ngotot untuk tetap melanjutkan taruhan. Sebab Sabiru ini memang unik.


"Nggak mau tahu, lo harus temenin gue nonton film horor."


Yah, soal film horor lagi yang dibahas. Padahal Fabian pikir penolakan yang dia berikan sudah cukup untuk membuat gadis ini menyerah.


"Memangnya, gue bakal dapat apa kalau mau nemenin lo nonton film horor?" tantangnya. Tentu harus ada sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya, benar?


Tak mau kalah, Biru menampakkan tampang sok yang seolah-olah tidak takut apa-apa. "Lo maunya apa?"


Tidak tahu saja dia, kalau setelah itu, Fabian kembali bergerak mendekat. Tanpa aba-aba menyentuh belahan bibirnya yang sedikit terbuka, mengusapnya menggunakan ibu jari dengan tatapan yang terlihat begitu penuh puja. "Kiss." Bisik pemuda itu. "I want to kiss you."


...****************...


Kalau dipikir sebuah ciuman yang Fabian minta akan membuat Biru mengurungkan niatnya untuk membawa pemuda itu nonton film horor bersama, itu salah besar.


Setelah melayangkan tendangan yang tepat mengenai pusat tubuh Fabian, dan membuat pemuda itu meronta sejadi-jadinya di dalam mobil, Biru dengan tega menyeret Fabian masuk ke dalam apartemennya. Bahkan dari caranya membawa pemuda itu masuk pun sangat jauh dari kata manusiawi. Seperti sedang mengangkat seekor kucing yang tercebur di got, ia menarik bagian belakang baju Fabian dan memaksa pemuda itu untuk mengikuti langkahnya yang lebar.


Biru yang merasa sedang dipuji, dengan percaya diri mengembangkan senyum serta menepuk pelan dada sebelah kiri. "Gue nggak seceroboh yang lo pikir." Katanya.


Layar televisi di hadapan mereka masih memutar film horor yang sama, tetapi sejak hampir satu jam film itu diputar—dan berkali-kali telah muncul adegan penampakan—sama sekali tidak terdengar teriakan baik dari Biru maupun Fabian.


Kedunya menonton film horor seperti menonton film kartun. Sama sekali tidak terlihat ekspresi ketakutan. Malahan, Fabian beberapa kali menggelengkan kepala dan berkomentar bahwa beberapa adegan terlihat terlalu tidak masuk akal.


"Gue heran, kenapa orang-orang percaya banget sama hantu?" celetuk Fabian. Selagi bibirnya berbicara, tangannya bergerak meraih popcorn yang ada di dalam wadah di atas pangkuan Biru. Sayangnya, matanya yang meleng membuatnya dihadiahi pukulan keras di bahu karena tidak sengaja menyentuh jemari Biru karena gadis itu juga sedang mengambil popcorn di saat yang bersamaan.


"Sakit!" pekik Fabian. Bola matanya seperti nyaris copot saat ia melotot ke arah gadis di sampingnya itu.

__ADS_1


"Lagian, modus." Kata Biru santai. Popcorn yang berhasil dia ambil lalu berpindah cepat ke mulut, mulai dikunyah selagi matanya kembali sibuk menatap layar televisi.


"Modus matamu," gerutu Fabian pelan.


Sebenarnya Biru mendengar gerutuan itu, tetapi ia memilih untuk tidak menyahuti dan kembali memasukkan lebih banyak popcorn ke dalam mulut.


Sementara Biru mulai kembali tenggelam dalam jalannya film yang—demi Tuhan—tidak ia mengerti, Fabian diam-diam mencuri pandang ke arah gadis itu. Matanya mulai bekerja lebih intens meneliti setiap inci bagian wajah Biru yang sebelumnya tidak ia perhatikan sebanyak ini.


Bagaimana cara mendeskripsikannya? Wajah Biru terlihat menarik bahkan tanpa pulasan make up sedikit pun. Anak-anak rambut gemas yang terlihat menyembul dari kepala bagian tengah membuat kesan garang yang timbul di wajah Sabiru sedikit tersamarkan. Hidung tingginya yang berpadu apik dengan bibir tipis yang tidak bisa diam kalau sudah merepet itu juga semakin menambah kecantikan natural yang gadis itu miliki. Ah, hampir lupa. Bulu mata gadis itu juga lentik, meskipun Fabian sadar kelentikannya masih tidak mampu menyaingi miliknya yang sungguh paripurna.


Lebih dari sekadar cantik, Fabian akan lebih senang menyebut Biru dengan kata indah.


"Udah pernah ada yang bilang belum, kalau lo tuh indah?" celetuknya. Usai tanpa sadar mengambil bulu-bulu halus yang menempel di helaian rambut Biru yang kali ini dicepol asal.


Si empunya rambut menoleh, terlihat bingung karena ditodong pertanyaan tak biasa di saat yang tak terduga. "Indah?" tanyanya heran.


Fabian mengangguk. "Bukan cantik, tapi indah."


Biru tampak berpikir sebentar sebelum melontarkan pertanyaan lain alih-alih jawaban. "Indah itu berarti di atasnya cantik?" dengan tatapan polos yang sangat jauh dari kesan garang dan mematikan.


Ough! Ada sesuatu yang terasa bergerak di perut Fabian ketika binar polos yang terpancar dari mata Biru semakin terlihat jelas. Koloni kupu-kupu? Persetan! Apalah itu orang-orang menyebutnya. Yang jelas, Fabian merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.


"Yup. Udah ada yang pernah bilang gitu ke lo?" tanyanya, setelah mati-matian menahan gejolak asing yang kurang ajar sekali berani mampir ke tubuhnya.


Senyum kemudian muncul di wajah Fabian ketika Biru menggelengkan kepala dengan polosnya. Sungguh manis.


"Kalau gitu, gue akan jadi yang pertama. You're so fcking beautiful, Sabiru."

__ADS_1


Demi semesta dan seluruh isinya, tolong ingatkan lagi kepada Fabian untuk tetap ingat bahwa mereka hanya sedang dalam kesepakatan. Tolong, jangan biarkan ia jatuh cinta pada Sabiru, yang hanya akan membawanya menuju lorong gelap tanpa jalan keluar.


Bersambung


__ADS_2