Taruhan

Taruhan
VIP


__ADS_3

Sebelum pulang ke apartemen, Biru melipir dulu ke minimarket untuk mengisi perutnya yang kosong.


Meskipun kemarin Tante Maya sudah mengomelinya habis-habisan untuk tidak makan sembarangan, tetapi Biru tetap nekat menyantap Odeng dan Onigiri rasa Tuna Mayo yang dia beli.


Di teras minimarket, Biru menikmati makanannya dalam hening, sembari memandangi lalu-lalang kendaraan yang semakin hari volumenya semakin bertambah.


Langit di atas sana berwarna violet, sebuah pemandangan yang tidak terlalu menyenangkan untuk Biru karena warna langit itu menyimpan kenangan buruk untuknya. Hari di mana pesawat yang ditumpangi kedua orang tuanya dinyatakan hilang kontak, langit Jakarta kala itu juga sedang berwarna violet seperti sekarang.


Embusan napas berat mengiringi berakhirnya kegiatan makan. Sisa Onigiri di dalam mulut dia telan meskipun belum yakin apakah kunyahannya sudah cukup halus. Bungkus-bungkus bekas makanan dia ambil, lalu dibuang ke tempat sampah di pojokan.


Kemudian, Biru berjalan menghampiri mobilnya, mengulurkan uang pecahan sepuluh ribu kepada tukang parkir dan langsung tancap gas.


Meskipun volume kendaraan terbilang banyak, tetapi untungnya tidak terjadi kemacetan yang membuatnya harus benar-benar stuck di jalanan. Biru hanya dua kali terjebak lampu merah, selebihnya mobil masih bisa melaju walaupun dengan kecepatan pelan.


Seperti biasa, Biru akan selalu menyalakan radio untuk mendistraksi otaknya dari pikiran-pikiran buruk yang hilir mudik di kepala. Lagu Bertaut milik Nadin Amizah mengudara tepat setelah sang penyiar selesai mengatakan kalimat-kalimat positif seperti biasa.


Biru terdiam, hanya meresapi setiap bait yang teralun merdu tanpa mau untuk ikut bernyanyi bersama. Sebab, lagu itu mengingatkannya kepada mendiang ibunya berkali-kali lipat lebih parah ketimbang sebelumnya.


Dan meskipun dadanya kembali terasa sesak dan air mata mulai merembes membasahi wajahnya, Biru masih enggan untuk mematikan radio, atau sekadar mengganti salurannya. Dia selalu begini, selalu membiarkan rasa rindu itu menggerogotinya sesuka hati. Biru tidak akan menyangkalnya, tidak pula berusaha untuk mengenyahkan perasaan sakit yang datang bersama rindu yang menghantam secara bertubi-tubi.


Sebab, dari rasa rindu itu dia tahu, setidaknya masih ada satu tempat di hatinya, di mana kedua orang tuanya bisa hidup dalam keabadian di sana.


Empat puluh lima menit mengarungi perjalanan panjang bersama derai air mata dan sesak yang menyiksa, Biru akhirnya tiba komplek apartemen. Mobil dilajukan menuju basement, diparkiran di tempat biasa dan dia segera bergegas menuju lift untuk naik ke unitnya.


Sejenak, sembari menunggu pintu lift terbuka untuk bisa membawanya naik, Biru terdiam menatapi pantulan dirinya sendiri di pintu lift. Di sana, dia melihat seorang gadis dengan mata yang sembab, rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai sedikit berantakan, dan tidak ada senyum menghiasai wajahnya yang putih pucat.


Lalu lama-kelamaan, sosok itu berubah menjadi seorang gadis yang sedikit lebih pendek ketimbang sosok sebelumnya. Seorang gadis berseragam SMA yang matanya berbinar cerah, rambut panjangnya diikat satu, dan senyum terbit menghiasi wajahnya yang merona alami tanpa pulasan make up.

__ADS_1


Semakin lama dilihat, gadis itu tersenyum makin lebar. Sampai kemudian, sosoknya perlahan pudar ketika pintu lift terbuka dan menampilkan tiga orang perempuan dewasa yang berebut keluar dari sana.


Biru menghela napas pelan, segera masuk ke dalam lift setelah tiga orang tadi keluar. Tombol angka 9 dipencet, dan lift mulai bergerak naik. Membawa Biru bersama lebih banyak kenangan yang timbul satu-satu.


...****************...


Rambutnya masih dipenuhi busa sampo ketika Biru terpaksa berlarian keluar dari dalam kamar mandi karena air tiba-tiba mati.


Dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya dan mata yang terpejam karena menahan pedih akibat busa sampo yang nyasar, Biru berjalan menuju kasur. Tangannya meraba-raba untuk mencari keberadaan ponsel yang seingatnya dia letakkan di sana terakhir kali.


Setelah benda itu dia dapatkan, Biru memaksakan diri membuka sebelah matanya, hanya untuk dibuat berdecak kesal karena busa sampo terus-menerus menyerang matanya.


Dengan perih yang semakin terasa, Biru menggulir layar, mencari nomor kontak pengelola untuk melaporkan perihal aliran air yang tiba-tiba saja mati di saat dia tengah mandi.


Namun, sudah berkali-kali dia mencoba menelepon, tidak juga ada jawaban dari yang bersangkutan.


Karena kesal, Biru membanting ponsel tak berdosa ke atas kasur dan berlarian menuju dapur.


Tanpa pikir panjang, Biru mengambil dua botol air mineral lalu membawanya ke dalam kamar mandi. Digunakannya dua botol air mineral itu untuk membilas rambutnya yang penuh busa, sedangkan tubuhnya hanya dibasuh sekenanya meksipun dia tahu itu agak jorok dan bisa menimbulkan jerawat punggung yang menyebalkan.


Yang penting sekarang, rambutnya sudah bersih dari busa dan dia bisa segera memakai bajunya. Karena demi Tuhan, dia sudah kedinginan.


Selesai dengan urusan membilas rambut dan telah berganti pakaian, Biru berjalan menuju meja rias, duduk anteng di atas kursi dan segera menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.


Setelah selesai, Biru berjalan menuju kasur dan langsung merebahkan dirinya di sana. Matanya terpejam sebentar, selagi dia menarik dan membuang napas secara teratur untuk meredam emosinya yang masih meluap-luap perkara aliran air yang tiba-tiba mati dan pihak pengelola yang tidak merespon panggilannya.


Kemudian, Biru membuka matanya kembali saat teringat bahwa ada tiga pesan masuk yang belum dia baca. Tiga pesan masuk dari tiga nomor berbeda yang menginterupsi fokusnya selama kelas terakhir berlangsung sore tadi.

__ADS_1


Biru meraih ponselnya, membuka aplikasi WhatsApp dan mulai membaca tiga pesan itu mulai dari deretan paling bawah.


Pesan pertama dibuka, bunyinya :


Gue Reno, anak sipil. I just want to inform you kalau malam ini di Mega Club akan ada party. Come if you want, gue traktir.


"Cih, sebanyak apa duit lo sampai sombong banget mau traktir gue?" cibir Biru, memutuskan untuk tidak membalas pesan dari seseorang bernama Reno itu dan langsung memasukkan nomornya ke dalam daftar hitam.


Lalu Biru beralih ke pesan selanjutnya,


It's me, Juan. I just want to invite you to the Mega Club's party tonight. Fyi aja, ini special invitation, cuma orang-orang tertentu aja yang dapat. And yeah, lo termasuk ke dalam salah satunya. So, see you there, I guess?


"Makan tuh special invitation. Lo kira gue nggak tahu kalau ini cuma modus lo sama teman lo untuk menggaet mahasiswi baru? Najis banget," sama seperti yang dia lakukan terhadap nomor Reno, Biru juga langsung memasukkan nomor Juan ke daftar hitam.


Biru sudah tidak berniat untuk memeriksa satu pesan lagi. Tetapi saat dia ingat bahwa satu pesan itu dikirimkan oleh seseorang yang menyapanya dengan kata Lemonade, minat Biru seketika muncul lagi.


Dia tidak berharap banyak saat hendak memeriksa pesan yang terakhir. Dia pikir, isinya pasti sama saja, cuma soal ajakan minum di Mega Club dengan iming-iming ditraktir atau apalah itu.


Tetapi, saat pesan itu akhirnya terbuka, Biru lagi-lagi dibuat ternganga. Pesan terakhir itu berbunyi,


Mega Club, 19.45. Gue traktir Lemonade sampai kembung.


Lemonade. Sampai kembung. Dua kata kunci yang seketika membuat Biru langsung bisa menebak siapa dalang dibalik nomor WhatsApp ini.


Maka, dengan gerakan serabutan dan kepercayaan diri yang di atas ambang batas, Biru mengetikkan balasan untuk pesan yang terakhir.


VIP?

__ADS_1


Kemudian, Biru mulai menunggu dengan cemas. Di satu sisi dia berharap tebakannya benar, tapi di sisi lain, dia juga berharap kalau VIP yang dia temui malam itu bukanlah pemuda kurang ajar yang suka main truth or dare bersama teman-temannya seperti yang orang-orang ini sedang lakukan kepadanya sekarang.


Bersambung


__ADS_2