
Fabian sama sekali tidak melepaskan tatapan dari Baskara yang baru saja kembali—entah dari mana. Tadi, di tengah-tengah perdebatan dengan Reno, anak itu tiba-tiba saja pamit pergi tanpa menjelaskan dia hendak ke mana dan akan melakukan apa.
"Dari mana lo?" tanya Reno, masih tetap sewot, terlebih karena Baskara pergi begitu saja.
"Berak," celetuk Baskara asal. Kemudian, anak itu menatap ke arah Fabian dan Juan yang masih tetap mempertahankan peran sebagai pendengar. "Cabut, yuk. Ke markas," ajaknya.
Fabian dan Juan saling pandang sebentar, kemudian berbarengan bangkit dari kursi lalu segera memasukkan ponsel, rokok dan pemantik ke dalam tas masing-masing.
"Lo atau gue yang bawa mobil?" tanya Fabian sembari mengeluarkan kunci mobil dari saku celana.
"Lo aja," jawab Baskara. Kemudian, dia berbalik dan melangkah lebih dulu.
Reno masih duduk di tempatnya, menatapi kepergian Baskara dengan mata yang memicing tidak suka dan bibir yang berkomat-kamit tanpa suara.
"Ren," panggil Juan.
"Iya, sabar!" ketus Reno. Lalu dia bangkit dari kursi dan menyambar tas dari atas meja. "Lo yang bawa mobil," sambungnya. Dilemparkannya kunci mobil ke arah Juan, dan pemuda itu dengan sigap menangkapnya.
Reno berjalan lebih dulu, menyusul Baskara yang sudah tak terlihat batang hidungnya. Sementara Fabian dan Juan berdiri cukup lama di tempatnya, menatapi punggung kecil Reno yang lama-kelamaan menghilang dari pandangan.
"Laki bini kalau lagi berantem ngeri," komentar Juan, yang seketika membuat Fabian terkekeh.
Memang, mereka suka mengatai Reno dan Baskara sebagai sepasang suami istri karena dua anak itu paling suka berdebat satu sama lain.
"Ayo, jangan bikin mereka makin murka." Ajak Fabian, dan Juan segera mengiyakan.
Mereka berjalan beriringan keluar dari area kantin menuju parkiran. Seperti biasa, kehadiran mereka membuat belasan pasang mata langsung tertuju hanya pada mereka, seolah hal-hal lain di sekitar sama sekali tidak berarti.
__ADS_1
"Fans lo makin banyak aja gue lihat-lihat," celetuk Juan, ketika mereka melewati segerombolan mahasiswi yang menatap lurus ke arah Fabian.
Fabian cuma terkekeh pelan, sama sekali tidak tertarik untuk menoleh ke arah para gadis yang menatapnya penuh puja.
Di parkiran, Reno dan Baskara sudah menunggu. Reno nangkring di atas kap mobil milik Fabian, sedangkan Baskara berjongkok di samping badan mobil sembari mengisap rokok dan bermain ponsel.
"Lelet banget lo berdua, kayak siput!" omel Reno begtiu matanya menangkap kehadiran Juan dan Fabian.
Reno kemudian melompat turun, segera berjalan menuju mobilnya sendiri lalu masuk dan duduk anteng di kursi pengemudi.
"Bini lo hobinya ngomel-ngomel mulu," cibir Juan, ditujukan kepada Baskara yang mulai bangkit dari posisinya.
Rokok yang masih sisa setengah Baskara buang ke tanah, dia injak menggunakan ujung sepatu sehingga bara yang tersisa seketika padam.
"Nggak usah bacot, buruan susulin masuk ke mobil, sebelum kepala lo dipenggal sama tu anak." Baskara sembari menaikkan dagunya, menunjuk ke arah mobil Reno.
Belum juga Juan menjawab, mereka bertiga dibuat tersentak saat klakson dari mobil Reno tiba-tiba dibunyikan. Cuma sekali, tapi ditekan terus sehingga suara yang keluar begitu nyaring dan panjang.
Tidak ingin Reno semakin bar-bar menekan klakson, Juan segera berlari menghampiri pemuda itu. Sedangkan Fabian lagi-lagi cuma menggeleng pelan sembari tersenyum tipis.
"Nggak usah senyum-senyum! Buruan!" Baskara menggeplak bahu Fabian, kemudian berjalan lebih dulu ke sisi mobil bagian penumpang.
Fabian menyusul, dan segera masuk ke dalam mobil lalu duduk di balik kemudi. Mesin dinyalakan, sabuk pengaman dikencangkan dan kakinya sudah siap menginjak pedal gas.
Mobil yang Reno kendarai sudah melaju lebih dulu setelah sekali lagi membunyikan klakson panjang. Lalu, Fabian menyusul. Pedal gas diinjak tidak terlalu dalam sehingga mobil melaju pelan-pelan meninggalkan area parkiran.
Di kursi penumpang, Baskara sedikit mengatur kursi agar bisa dia pakai untuk setengah rebahan. Tangannya sudah memegang ponsel, dan dalam sekejap matanya sudah fokus menatapi layar ponsel miliknya.
__ADS_1
Tepat ketika mobil yang Fabian kendarai keluar dari gerbang kampus, barulah Baskara bersuara.
"Bokap gue kayaknya bakal balik lagi ke rumah," ceritanya. Ponsel yang sedari tadi dia mainkan disimpan ke dalam saku jaket, lalu kursi diatur menjadi posisi tegak supaya dia bisa duduk dengan nyaman. "Tadi pagi kami sarapan bareng," sambungnya. Ia menatap Fabian lekat, meskipun yang dipandang tetap menatap lurus ke depan.
"Bagus, dong." Fabian menanggapi. "Lo jadi bisa punya kesempatan buat nanya alasan dia jarang pulang selama ini."
Detik saat Fabian menoleh sebentar untuk memeriksa ekspresi Baskara, dia malah menemukan pemuda itu merengut.
"Gue nggak yakin bisa nanya itu ke dia," ucap Baskara sedih.
"Kenapa?" tanyanya. Dan karena kini dia masih harus fokus mengemudi, Fabian terpaksa menarik kembali pandangannya untuk dilayangkan ke jalanan.
"Pagi tadi, dia bersikap biasa aja ke gue dan Mama. Seolah nggak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Seolah hubungan kami baik-baik aja. Seolah jarak yang dia buat sama sekali nggak pernah ada."
Seharusnya, Baskara senang karena ayahnya bersedia untuk bersikap seperti dulu lagi. Tetapi, perubahan yang terlalu drastis itu justru membuatnya ketakutan. Ia khawatir perubahan itu hanya akan bertahan sementara, untuk kemudian berbalik lagi menjadi sesuatu yang lebih buruk ketimbang sebelumnya.
"Gue takut, kalau gue nanya soal itu, Papa malah bakal merasa nggak nyaman terus memutuskan buat pergi lagi dari hidup gue." Hanya kepada Fabian, Baskara berani mengatakan ketakutannya ini. Sebab di depan orang lain, Baskara hanya akan terus berpura-pura bahwa dia tidak peduli apakah ayahnya masih mau kembali atau tidak.
"Lo jelas tahu gimana hancurnya gue sejak kehilangan figur seorang ayah, Bi."
Fabian mengangguk. Iya, dia tahu. Dia mungkin yang paling tahu bagaimana hancurnya kehidupan seorang Pramudya Baskara setelah ayahnya tiba-tiba menarik diri.
"Kalau gitu, let it flow aja." Kata Fabian. Pas sekali lampu lalu lintas sedang berwarna merah, sehingga dia bisa menghentikan laju mobil dan kembali menoleh ke arah Baskara.
"Kalau dengan nggak mencari tahu bisa bikin hubungan lo dan bokap lo kembali baik, maka gue rasa nggak ada salahnya untuk menahan diri." Fabian menatap Baskara lekat-lekat. Di beberapa kesempatan, dia merasa ada keterikatan yang lebih erat antara dirinya dengan Baskara, yang dia sendiri tidak tahu alasannya.
Sebelum lampu lalu lintas kembali berubah hijau, Fabian melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Karena kadang, ada hal-hal yang emang seharusnya nggak usah lo tahu, demi menjaga hidup lo tetap berjalan baik dan nyaman." Kemudian mobil kembali melaju, bersamaan dengan hening yang merayap diam-diam dan menelan dua anak manusia itu tanpa ampun.
Bersambung