Taruhan

Taruhan
Too Late


__ADS_3

Berkat usaha yang tidak bisa dikatakan mudah, mereka akhirnya berhasil mengantongi satu alamat tempat Jasmine tinggal. Mereka lantas bergegas menuju ke sana, menggunakan satu mobil dengan Juan sebagai sopir dan Baskara duduk di kursi penumpang depan untuk menemani dan mengarahkan jalan. Sementara di bangku penumpang belakang ada Reno, Biru dan Fabian dengan formasi Biru duduk di tengah.


Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit sampai akhirnya mereka tiba di depan bangunan apartemen mewah yang jaraknya kurang lebih hanya 5 kilometer dari Neosantara.


Juan menepikan mobilnya, kemudian berderap turun disusul yang lainnya.


Tapi sayangnya, mereka tampaknya sudah terlambat.


Di area parkir depan, sudah ada dua unit mobil polisi serta satu unit mobil ambulans yang parkir. Beberapa orang tampak berkerumun, mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi di kediaman mereka sekarang ini. Kerumunan itu sedikit melebar ketika dari arah pintu masuk ke gedung utama, muncul beberapa petugas berseragam serba putih mendorong tandu yang mengangkut seseorang yang seluruh tubuhnya ditutupi kain berwarna putih—yang menandakan bahwa, seseorang yang ada di atas tandu itu sudah tidak bernyawa lagi.


Biru refleks meremas tangan Fabian yang berdiri di sampingnya saat satu tagan milik seseorang itu jatuh terkulai, memperlihatkan sebuah tato bergambar kupu-kupu di bagian pergelangan. Tato itu membuat Biru yakin bahwa seseorang yang berbaring di atas tandu itu memang benar Jasmine. Sebab tiga hari yang lalu, ia sempat melihat gadis itu memosting sebuah foto di akun Instagram pribadinya untuk memamerkan tato kupu-kupu yang baru dibuatnya itu.


Ketika tandu akhirnya dimasukkan ke dalam ambulans dan pintu ambulans ditutup, Biru tak sanggup lagi melihat apa yang ada di depan sana. Ia bergerak lebih dekat ke arah Fabian, lalu menyembunyikan wajahnya di bahu tegap sang pemuda. Perasaannya campur aduk. Antara marah—tapi tak tahu marah kepada siapa—dan menyesal karena mereka terlalu lama mencari keberadaan Jasmine sehingga tidak sempat menyelamatkan nyawanya.


Sementara di barisan paling dari mereka berlima, Baskara memperhatikan semuanya. Bagaimana Biru merapatkan tubuh ke arah Fabian sampai kemudian wajah ayu itu terbenam di bahunya. Ia cemburu, itu sudah pasti. Tapi telah mereka telah sepakat untuk menjalani hubungan ini secara diam-diam selagi mencari cara untuk menjelaskan situasi mereka yang sebenarnya kepada teman-teman yang lain. Maka dengan kerelaan hati yang begitu besar, Baskara menekan rasa cemburu itu kuat-kuat, menyingkirkan egonya jauh-jauh agar segalanya tidak kembali rusak.


Suara sirine lantas menggema memenuhi udara ketika ambulans mulai melaju melewati mereka. Dua mobil polisi mengiring di belakang dengan bunyi sirine yang tak kalah memekakkan telinga. Orang-orang yang semula berkerumun mulai membubarkan diri, menyisakan beberapa yang kemudian beringsut ke pos jaga untuk mencari informasi.

__ADS_1


Kemudian, Reno menjadi satu-satunya yang memiliki keberanian untuk berderap menuju pos jaga demi ikut mendapatkan informasi. Sisanya cuma bisa memandangi punggung lebarnya yang berjalan menjauh, tak memiliki keberanian yang sama untuk mendengar secara langsung tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Selagi menunggu Reno kembali dengan informasi yang didapat, Biru perlahan-lahan menjauhkan wajahnya dari bahu Fabian. Tatapannya langsung tertuju pada Baskara yang berdiri jauh dari posisinya. Lalu tubuhnya serta-merta membeku kala menemukan sorot mata pemuda itu yang jelas sekali menampakkan ketidaknyamanan. Refleks, Biru menjauhkan tubuhnya dari Fabian. Salah tingkah ia berusaha menjelaskan kepada Baskara melalui gerak tubuhnya bahwa, ia tidak bermaksud apa-apa. Semata-mata hanya tidak mampu menahan diri dari perasaan yang terlalu sulit untuk dijelaskan kala menemukan Jasmine terkulai tak bedaya, dan hanya Fabian yang berada paling dekat dengan dirinya.


Namun, yang Biru dapati justru Baskara menarik pandangan sebelum ia benar-benar mendapatkan jawaban bahwa pemuda itu mengerti situasinya.


Sedang dari sudut pandang Baskara sendiri, ia menarik pandangan karena rasanya terlalu sulit untuk menahan cemburu bila terus-menerus bersitatap dengan Biru. Rasanya, dia bisa saja menerjang Fabian yang tidak berbuat apa-apa ketika gadis itu menempel padanya, seolah memang itu lah yang Fabian inginkan sejak awal. Jadi daripada membuat keributan, lebih baik Baskara berpura-pura tidak melihat apapun.


Menit demi menit mereka habiskan untuk diam menunggu. Sampai akhirnya Reno kembali dengan raut wajah yang suram, terlalu asing untuk ditemukan dari pemuda yang lebih sering terlihat mencak-mencak tersebut.


"Gimana?" Baskara bergerak mendekat, dan yang pertama kali dia dapatkan dari Reno justru hela napas rendah.


"Katanya, tubuhnya masih hangat sewaktu ditemuin sama petugas keamanan, jadi kemungkinan besar dia masih hidup selagi kita pontang-panting nyari alamat dia." Ungkap Reno, ketika setidaknya ia telah berhasil menguasai diri. "Kita telat, Bas. Dan ... ini semua gara-gara gue." Sambungnya penuh penyesalan.


"Bokap lo yang keras kepala buat nggak ngasih tahu di mana lokasi Jasmine, jadi ini sama sekali bukan salah lo." Baskara berusaha menenangkan. Bahu Reno yang tampak terkulai jatuh ia usap berkali-kali, seperti hendak menyalurkan kekuatan sekaligus menyebarkan keyakinan bahwa ini bukan salah Reno—atau siapapun di antara mereka berlima.


Bukankah setidaknya mereka sudah berusaha? Tidak seperti orang-orang yang hanya sibuk mencaci dan menuduh Jasmine sedang mencari sensasi, bukankah setidaknya mereka sudah berupaya untuk mencari keberadaan gadis itu? Kalau ternyata sekarang nyawa Jasmine tetap tidak tertolong, maka itu bukan kesalahan siapa-siapa.

__ADS_1


Sementara Reno masih berusaha menjernihkan kepalanya yang kian dipenuhi rasa bersalah, Baskara beralih menatap yang lain satu persatu. Lalu tatapannya terhenti pada sosok Biru yang kini terlihat sekali menciptakan jarak yang kentara baik dengan Fabian maupun Juan.


"Bukan salah lo juga." Ucapnya. Sebab dari sorot mata itu, ia tahu Biru juga sedang menyalahkan diri sendiri. "Kita nggak akan ada di sini buat mengusahakan keselamatan Jasmine kalau bukan inisiatif dari lo. That's enough. Lo udah berusaha untuk tetap jadi manusia, jadi jangan pernah berpikir kalau ini salah lo." Kemudian, Baskara beralih kepada Juan dan Fabian lagi. "Begitu juga dengan kalian. Nggak ada yang bersalah di sini, semuanya udah terjadi dan kita nggak bisa berbuat apa-apa untuk itu." Pungkasnya.


Sore itu, di bawah langit yang bergerak merubah warnanya dari jingga menuju abu-abu gelap, mereka berlima terpaku cukup lama. Hanya untuk meyakinkan diri bahwa apa yang terjadi memang sudah menjadi kehendak Tuhan, dan bukan merupakan kesalahan siapa-siapa.


...****************...


Setengah sepuluh malam, Biru masih termenung di sofa ruang depan apartemennya. Tak banyak yang dia lakukan, hanya lebih sering melamun sambil sesekali menghela napas panjang selagi matanya membaca lagi satu persatu komentar jahat yang ada di unggahan terakhir Jasmine.


Sampai saat ini, kabar meninggalnya Jasmine masih belum sampai di telinga penghuni Neosantara yang lain karena kasusnya pun masih didalami oleh pihak kepolisian. Hal itu membuat komentar jahat masih terus berdatangan, tanpa mereka tahu bahwa sang empunya akun bahkan sudah tidak ada lagi di dunia.


Ini benar-benar memprihatinkan. Bagaimana bisa orang-orang begitu enteng menggerakkan jemarinya untuk menulis sesuatu yang menyakitkan, bahkan jika itu dibaca oleh orang lain yang tidak bersangkutan? Bagaimana bisa di era yang begitu canggih ini, orang-orang justru seperti kehilangan empati dan rasa kemanusiaan yang seharusnya tetap dimiliki? Bagaimana bisa, kesehatan mental dan isu bunuh diri dijadikan bahan lelucon, bahkan hanya dianggap sebagai upaya mencari sensasi?


Biru hanya tidak mengerti, apakah makin ke sini, manusia memang di-setting untuk menjadi jahat demi mengutamakan kepentingan dan kepuasan diri sendiri?


"Tidur, udah malam."

__ADS_1


Biru mengangkat kepala, menemukan seorang pemuda muncul dari dapur dengan membawa sebotol air mineral yang kemudian disodorkan kepadanya. Ia tak punya pilihan selain menerima botol air mineral tersebut, kemudian kembali terpaku dengan tatapan kosong.


Bersambung


__ADS_2