
Buka pintunya
Biru berdecak sebal kala membaca pesan yang Fabian kirimkan. Padahal, bocah itu tinggal memasukkan enam digit angka dan pintu dapat terbuka.
Lo buka aja sendiri, mager.
Buka.
"Wah, si anjing." Biru semakin berdecak. Ponsel yang dia pegang dilempar begitu saja ke atas kasur, kemudian ia berjalan keluar dari kamar dengan kaki yang masih pincang. Ngilu masih sesekali terasa, dan itu membuatnya terpaksa harus ekstra hati-hati ketika memijakkan kaki untuk menghindari cedera yang lebih parah.
Setelah bersusah payah, Biru sampai juga di pintu depan. Sambil memberengut, ia memutar kenop, dan nampaklah sosok Fabian yang menatap datar ke arahnya sebelum menerobos masuk seperti manusia yang tidak punya adab sama sekali.
Pintu kembali Biru tutup, lalu ia menyusul Fabian yang berjalan ke ruang tengah. Saat sampai, ia mendapati pemuda itu sudah duduk di atas sofa dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas lutut. Posisi tubuh pemuda itu agak menjorok ke depan, dengan kepala sedikit mendongak sehingga tatapan mereka bisa bertemu.
"Duduk," titah Fabian.
Biru, yang sejatinya adalah si tuan rumah, malah menurut saja dengan mengambil posisi duduk di sebelah pemuda itu. Dan selama perpindahannya dari posisi berdiri sampai menjadi duduk, ia tahu bahwa Fabian terus mengawasinya. Persis seperti seekor singa yang tengah dengan sabar mengintai rusa buruannya untuk dia terkam dan dijadikan makan siang.
"Lo udah gila," ucap Fabian dengan tatapan yang mulai menajam. "Gue nggak ngerti apa yang lo harapkan dari bikin postingan itu, tapi lo jelas-jelas udah gila." Sambungnya.
Biru tidak menjawab. Lebih tepatnya, masih malas untuk mengeluarkan kata-kata karena dia tahu si cerewet Fabian masih punya banyak stok kalimat untuk diucapkan kepadanya.
"Dan," Fabian mengubah posisi duduknya menghadap Biru, memastikan gadis itu menatapnya dengan benar sebelum melanjutkan. "Lo nggak seharusnya ganggu Jasmine."
"Dia duluan yang ganggu gue," ucap Biru tidak terima. "Dia duluan yang ngatain gue pelacur, gue cuma berusaha membela diri."
"Tinggal lo hapus komentarnya, terus lo block akun dia, nggak repot."
"Terus gimana sama harga diri gue?" Biru semakin menggebu-gebu. "Apa gue harus diem aja waktu dikatain pelacur sama orang yang lebih pantas buat menyandang status itu?"
Fabian menghela napas frustrasi. Diusapnya wajahnya pelan beberapa kali, untuk sekadar menjernihkan kepala demi bisa mendapatkan susunan kata yang lebih pas untuk membuat Biru mengerti. Bahwa berhadapan dengan seorang Samara Jasmine tidak sesederhana itu.
"Kalau lo ada di posisi gue, apa lo akan diam aja?" tanya Biru setelah hening selama beberapa saat. "Atau, kalau ada anggota keluarga lo yang dikatain pelacur sama orang, apa lo akan diam aja?"
"Tapi yang lo hadapi sekarang ini adalah Samara Jasmine, Biru. Bukan orang lain,"
__ADS_1
"Apa masalahnya? Mau itu Jasmine atau siapapun, kalau ada yang nyenggol gue duluan, ya gue bakal bela diri gue."
"Dengerin gue," sela Fabian sebelum Biru semakin menjadi-jadi. "Jasmine itu licik, dia nekat dan manipulatif. Bahkan anak-anak di kampus nggak ada yang berani ganggu dia even mereka juga sering ngomongin dia di belakang. Lo tahu kenapa?"
Biru tidak merespons, hanya terus menatap Fabian lekat-lekat sampai pemuda itu kembali bersuara.
"Karena bekingan dia bukan orang sembarangan. Lo pikir, dia bisa bertahan kuliah di kampus elit sekelas Neosantara dengan reputasi dia yang buruk itu karena apa kalau bukan karena bekingan dia punya power." Fabian berusaha menjelaskan dengan cara paling sederhana, berharap Biru akan mengerti dan tidak lagi memulai perdebatan tentang Jasmine.
Tetapi, Biru tetaplah Biru. Gadis itu tidak akan dengan mudah mengalah dalam sebuah perdebatan, apalagi kalau itu ada hubungannya dengan keharusan membela diri.
"Gue nggak peduli bahkan sekalipun dia adalah anaknya presiden. Kalau nggak mau diganggu, dia nggak harusnya ganggu orang lain." Kata gadis itu.
"Lo terlalu naif," Fabian tersenyum miris. Kenapa hidupnya dikelilingi begitu banyak orang keras kepala? Ibunya, Baskara, dan sekarang Biru. "Lo pikir, hidup akan selalu berjalan baik dengan prinsip lo itu? Nggak, Biru. Dunia ini nggak sesimpel apa yang ada di kepala lo."
Biru sudah muak mendengar ocehan Fabian. Entah karena dia tidak suka diomeli, atau karena dia kecewa karena Baskara ternyata tidak menunjukkan reaksi apa-apa atas keributan yang dia timbulkan. Yang jelas, Biru merasa sangat kesal sekarang. Saking kesalnya, rasa-rasanya dia bisa saja menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya, termasuk Fabian.
Maka sebelum emosinya semakin mengambil alih dan menggusur sedikit kewarasan yang masih dia miliki, Biru pun bangkit. Ia menunduk, menatap datar ke arah Fabian. "Kalau lo ke sini cuma untuk bicara omong kosong, mendingan lo pulang sekarang." Usirnya. Kemudian, ia berbalik pergi, berjalan terseok-seok menuju kamarnya dan sengaja membanting pintu kamarnya sekuat tenaga hingga menimbulkan bunyi debaman yang luar biasa kerasnya.
Fabian sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, dia hanya bisa memandangi pintu berwarna cokelat tua itu sebelum mengembuskan napas pelan.
Unggahan yang Biru buat sudah dihapus, tetapi hal itu tidak terlalu banyak memberikan efek lanjutan karena Neosantara sudah terlanjur dibuat geger. Dan sebagai pencetus agenda taruhan kali ini, Baskara merasa harus bertanggung jawab atas keributan yang ditimbulkan oleh Biru.
Sebelum melajukan mobilnya untuk menyusul Reno dan Juang yang sudah lebih dulu pergi, Baskara menyempatkan diri untuk membuat sebuah cuitan klarifikasi. Tidak perlu sampai men-tag akun base kampus karena para pengikutnya di Twitter sudah pasti dengan mudah menerima notifikasi dari cuitannya tersebut.
Di sana, Baskara menulis : Calm down, guys. It was just a misunderstanding. Gue yang urus.
Tak sampai sepuluh detik, cuitan itu sudah ditanggapi dengan berbagai komentar balasan.
Kalau our king bilang cuma salah paham, berarti emang cuma salah paham, guys.
Woy, yang udah posting ulang fotonya Fabian, buruan take down anjir, our king udah speak up nih!
Emang paling bener nunggu our king yang klarifikasi sih.
Dah, nggak usah pada ribut lo pada. Dah dikasih tahu tuh sama suhu-nya.
__ADS_1
Lain kali jangan gitu ya maniezz.
Hati gue nggak jadi potek, uhuy!
Dan masih banyak balasan lain yang kemudian tidak sempat Baskara baca. Setidaknya, ia sudah memastikan bahwa base tidak lagi gempar. Ia juga mendapati beberapa unggahan telah dihapus, pun dengan beberapa komentar nyeleneh yang nyasar ke salah satu unggahan di base kampus, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan masalah ini.
Baskara tahu, menenangkan fans mereka saja tidak cukup, karena masalah utamanya ada di orang lain. Masih ada satu orang lagi yang harus dia tenangkan, atau lebih tepatnya, dia peringatkan untuk tidak mengusik Sabiru.
Iya, orang itu adalah Jasmine. Si gadis ular itu tidak boleh bertindak lebih cepat.
Tanpa pikir panjang, Baskara menggulir layar ponselnya untuk menemukan kontak Jasmine. Dan begitu dapat, ia langsung menelepon gadis itu.
Gayung bersambut, telepon diangkat pada dering ke-enam. Suara Jasmine yang merdu menelusup masuk ke dalam indera pendengarannya. Kalau saja dia tidak tahu seperti apa watak Jasmine yang sebenarnya, Baskara mungkin akan dibuat jatuh cinta oleh suara itu.
"Hai, Bas. Need something?" tanya gadis itu.
"Jangan ganggu Biru," kata Baskara to the point.
"Biru? Who's that?"
"Nggak usah pura-pura tolol,"
"Ah ... you mean, cewek yang posting foto Fabian? Pelacur kalian yang baru itu?"
"Jangan panggil dia pelacur, dia nggak lagi jual diri." Geram Baskara. Satu tangannya mencengkeram erat kemudi.
Baskara justru mendengar suara gelak tawa yang begitu renyah dari seberang telepon. Membuat emosinya semakin naik, dan rasa-rasanya ingin dia tampar wajah Jasmine agar gadis itu segera menutup mulutnya.
"Ada sesuatu, right? Karena lo nggak pernah belain target taruhan kalian sampai segininya."
"Ada sesuatu atau nggak, sama sekali bukan urusan lo. Intinya, jangan ganggu Biru. Karena kalau sampai dia kenapa-kenapa, gue bakal jamin hidup lo nggak akan nyaman lagi." Telepon ditutup, Baskara melemparkan ponsel ke jok penumpang, kemudian langsung menginjak pedal gas dan mengebut di jalanan.
Hujan yang semula turun begitu deras, kini berangsur mereda, berbanding terbalik dengan gerimis di hati Baskara yang lama-kelamaan justru berubah menjadi badai dahsyat yang terlalu sulit untuk diredakan.
Bersambung
__ADS_1