Taruhan

Taruhan
Memasang Perangkap


__ADS_3

Sekali melihat Baskara diantar ke kampus oleh ayahnya memang mengherankan, tetapi masih bisa diterima akal sehat karena bisa jadi ayahnya yang merupakan petinggi di kampus memang memiliki sesuatu yang harus dilakukan di kampus ini.


Tapi, kalau sampai dua kali, terlebih lagi berturut-turut, itu sudah bukan mengherankan lagi, melainkan sesuatu yang agaknya bisa saja dimasukkan ke dalam daftar tujuh keajaiban dunia.


Fabian yang datang tepat sebelum mobil Baskara parkir, cuma bisa terbengong-bengong melihat sepasang ayah dan anak yang turun bersamaan dari mobil. Si ayah, Jeffrey, langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, kemudian berhenti pada dirinya—yang ia sendiri tidak tahu mengapa. Sedangkan si anak, Baskara, sembari menggendong tas punggung di bahu sebelah kiri langsung berjalan mendekatinya lalu melabuhkan sebuah tinjuan ringan.


"Lagi?" bisiknya pada Baskara, sembari melirik ke arah Jeffrey yang masih memaku tatap padanya.


Sejujurnya, senyum yang kini Jeffrey sunggingkan meskipun samar terlihat begitu menyeramkan. Alih-alih ramah, Fabian justru merasa itu adalah sebuah senyum yang hanya akan disunggingkan oleh sang predator kepada mangsanya. Ia telah berperan sebagai seorang predator sejak pertama kali bergabung dengan Pain Killer, jadi dia jelas bisa memahaminya.


"Biarin aja, gue nggak mau nanya macem-macem. Asal dia nggak tiba-tiba bikin ribut di kampus aja sih," Baskara balas berbisik. Kemudian, pemuda itu menarik lengannya agar lebih dekat dengannya ketika Jeffrey berjalan mendekat ke arah mereka.


Fabian menemukan Jeffrey malah semakin intens menatapnya ketika lelaki itu berdiri di hadapannya dan Baskara. Bahkan, ia merasa kehadiran Baskara malah sama sekali tidak terlihat di mata lelaki itu.


"Nanti sore Papa jemput," ucap Jeffrey. Fabian tahu kalimat itu ditujukan kepada Baskara, tetapi anehnya tatapan lelaki itu masih tertuju padanya.


Merasa risi karena Jeffrey seolah sedang menelanjangi dirinya, Fabian melepaskan lengan Baskara yang bergelayut manja di lengannya. "Gue jalan duluan deh, mau ke kantin dulu." Ucapnya pada Baskara yang terlihat kebingungan karena lengannya dihempas pelan-pelan.


Baskara menatap heran, namun tetap menganggukkan kepala sehingga ia bisa kabur secepatnya.


Fabian mengayunkan langkahnya lebar-lebar setelah berbasa-basi sebentar dengan Jeffrey. Namun, sejauh langkah yang ia ambil, perasaan tidak nyaman yang ditinggalkan akibat tatapan yang Jeffrey berikan kepadanya masih terus terbawa.


"Nggak mungkin kalau Om Jeff naksir sama gue, kan?" gumamnya. Lalu, ia bergidik sendiri saat membayangkan ayah Baskara yang tampan paripurna itu ternyata penyuka sesama jenis. "Euwh... nggak lah, ya!" serunya, kemudian ia setengah berlari agar segera sampai ke kantin dan sepenuhnya hilang dari pandangan Jeffrey juga Baskara.


Sementara Fabian kabur, Baskara masih berdiri di sisi mobilnya menatapi kepergian temannya itu dengan sedikit tanda tanya.


"Bas?"


Baskara menoleh ke arah Jeffrey, kemudian menghela napas pelan. Wajar sih kalau Fabian kabur begitu, wong ayahnya sekarang ini terlihat begitu creepy dengan senyum tipis dan tatapan yang aneh.


"Terserah Papa aja," ucap Baskara setelahnya. Lalu sebelum dia pergi menyusul Fabian, ia kembali melanjutkan. "Lain kali, jangan ngelihatin teman Baskara sampai segitunya. Seram." Kemudian kakinya terayun meninggalkan Jeffrey sendirian.

__ADS_1


Selepas kepergian Fabian dan Baskara, Jeffery bergegas pergi dari posisinya. Ia datang ke sini untuk mencari tahu, cecunguk mana yang telah mengadu pada Sera soal pertemuannya dengan Fabian kemarin karena ia yakin semua cecunguk yang ia tahu sudah ditutup mulutnya. Yang itu artinya, ada mata-mata baru di sini, yang jelas harus ia waspadai.


...****************...


Kelas masih sepi ketika Biru melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Wajar saja, jam pertama baru akan dimulai satu jam mendatang. Dan, entah kesurupan setan apa, ia bersedia datang jauh lebih awal ketimbang biasanya.


Kursi di deretan tengah di sisi kiri kelas menjadi tempat favorit untuk ia gunakan duduk selama kelas. Jadi sebelum ada orang lain yang datang menyusul dan menyerobot tempat itu, Biru segera mendukkan diri di sana.


Tas selempang yang ia kenakan dilepas dari bahu, kemudian diletakkan di atas meja setelah ia mengeluarkan ponsel, kertas note kecil dan sebuah pulpen.


Ponsel diletakkan di atas meja, bersebelahan dengan tas selempang miliknya. Sementara kertas note kecil dan pulpen langsung ia gunakan untuk menulis.


Dalam sekejap saja, ia sudah larut dalam dunianya sendiri. Dunia baru yang dia buat untuk menjalani perannya sebagai mangsa dari geng paling disegani di Neosantara.


Iya, Biru berencana menjalani peran sebagai anak polos tak berdosa yang akhirnya jatuh ke dalam perangkap Fabian. Menjadi pacarnya, masuk ke dalam lingkungan pertemanannya, kemudian melancarkan balas dendam kepada Baskara sebelum ia ditendang keluar jika waktu berlakunya taruhan telah habis.


"Wait for me, Loser." Gumamnya usai menyelesaikan sebaris kalimat yang ia tulis di atas kertas note.


"Done." Ia berucap bangga.


Tidak lama setelah foto itu ia kirimkan, balasan datang dari Fabian. Mengundang senyumnya untuk terbit lebih cerah ketika sebaris kalimat muncul di layar ponselnya.


Thanks. Lo ngga perlu anterin, gue yang ambil ke fakultas lo.


Balasan pesan itu selesai ia baca dalam waktu singkat. Dan dalam waktu singkat itu pula, ia mengirimkan sebuah ok sebagai jawaban.


"Target sudah masuk perangkap, Komandan. Harap bersiap untuk langkah selanjutnya." Bisiknya, kepada diri sendiri.


Dengan senyum yang masih terpatri, Biru memandangi kaleng minuman ringan di tangannya sembari menunggu kedatangan musuh ke area kekuasaannya.


...****************...

__ADS_1


Baru juga kakinya menapak di lantai kantin, Fabian merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Jadi, mau tidak mau, ia keluarkan dulu ponsel itu untuk memeriksa siapa yang telah mengiriminya pesan.


Tepat ketika nama Biru muncul di layar, dan ia hendak membuka pesan yang gadis itu kirimkan, sosok Baskara muncul dari kejauhan dan dalam sekejap sudah berdiri di hadapannya—seolah pemuda itu memiliki kemampuan untuk berpindah tempat dalam waktu singkat.


"Mau makan apa? Biar gue yang pesan," tawar Baskara.


"Bentar, Bas, gue harus cek isi chat ini dulu." Sembari menggoyangkan ponselnya di depan wajah Baskara.


Melihat Baskara yang langsung menganggukkan kepala, Fabian tahu kalau pemuda di hadapannya itu sudah paham siapa yang mengiriminya pesan. Jadi tanpa membuang waktu, Fabian segera membuka pesan yang Biru kirimkan.


Ternyata Biru mengirimkan sebuah foto kaleng minuman ringan dengan note kecil yang tertempel di sana. Fabian mencubit layar untuk bisa membaca tulisan di dalam note itu dengan lebih jelas.


Di sana tertulis, May your day goes as bright as the sun is today!


Menyusul foto itu, ada sebaris kalimat lain yang Biru kirimkan melalui pesan teks. Bunyinya, Gue mau share the good vibes supaya hari lo menyenangkan, bisa gue antar ke lo sekarang?


Fabian berpikir sejenak, sebelum akhirnya menuliskan balasan yang langsung ia kirimkan kepada Biru.


Thanks. Lo ngga perlu anterin, gue yang ambil ke fakultas lo. Begitulah balasan yang ia kirimkan.


"Kenapa?"


Sejenak, Fabian lupa kalau ada Baskara di sana. Jadi, ketika suara pemuda itu menginterupsi, ia segera menaruh perhatian penuh.


"Gue nggak jadi makan, ada panggilan mendadak." Jelasnya, yang kabar baiknya, Baskara langsung cepat tanggap.


"Biru?" tanya pemuda itu, dan Fabian mengangguk.


"Lo mau nyamperin dia ke fakultasnya?"


"Yup!" sembari memasukkan kembali ponsel ke saku celana. "Nanti gue report ke lo perkembangannya." Sebuah tepukan ia labuhkan ke bahu Baksara, kemudian ia berlalu dari sana tanpa mau mendengarkan sahutan apa-apa dari Baskara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2