Taruhan

Taruhan
Duality


__ADS_3

Ketika subuh menjelang, hujan baru bersedia mereda, meninggalkan sisa-sisa hawa dingin yang sampai juga ke pori-pori kulit Fabian saat ia mengendap-endap keluar dari apartemen Biru sebelum gadis itu terbangun.


Jaket yang dikenakan ia eratkan, kedua tangan ia masukkan ke dalam saku selagi langkahnya mengayun lebar-lebar menuju basement tempat di mana motornya dia parkirkan.


Sebenarnya, Fabian berniat untuk pamit kepada Biru agar tidak terlihat seperti pemuda brengsek yang pergi begitu saja setelah diberi tempat menginap. Tetapi, ia terlalu menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan sehingga ia memutuskan untuk tidak mengganggu tidur Biru, dan berniat untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Biru melalui pesan teks begitu ia sampai di rumah nanti.


Dingin masih terasa sampai menusuk ke tulang bahkan ketika ia belum melajukan motornya keluar dari bangunan apartemen. Membuatnya sejenak ragu apakah ia harus melanjutkan perjalanan atau menunggu sedikit lebih lama sampai matahari terbit dan sinarnya mampu membantu mengusir hawa dingin yang ada.


Tapi pada akhirnya, Fabian nekat juga. Setelah memastikan helm terpasang dengan benar, Fabian menyalakan mesin motor dan langsung menarik tuas gas. Suara deru motor menggema memenuhi seluruh area basement yang sepi, dan dalam sekejap motor besar itu telah berhasil membawa Fabian pergi dari bangunan apartemen yang sunyi.


Jalanan ketika subuh hari masih lengang, hanya ada beberapa truk pengangkut barang yang berseliweran dengan kecepatan tinggi. Lampu lalu lintas diterobos, mentang-mentang tidak ada kendaraan lain yang terlihat di sepanjang mata memandang. Padahal menurut Fabian, itu justru berbahaya. Sebab tidak akan pernah ada yang tahu kapan kendaraan bisa tiba-tiba muncul dari arah samping dan menghantam kendaraan kita.


Untuk itu, Fabian memelankan laju motornya, tetap tertib menghentikan motor di belakang garis putih ketika lampu lalu lintas berubah merah. Bahkan, setelah lampu berganti warna menjadi kuning sepersekian detik sebelum berubah lagi menjadi hijau, Fabian dengan sabar menunggu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa keadaan aman untuknya kembali melaju.


Kalau jalanan sedang sepi begini, seharusnya Fabian bisa sampai di rumahnya kurang dari 30 menit. Tetapi karena di sepanjang perjalanan dia malah kembali sibuk memikirkan tentang Sabiru, perjalanan yang hanya 30 menit itu benar-benar molor sampai 49 menit 18 detik.


Seperti biasa, tidak akan ada yang sukarela membukakan gerbang untuknya meksipun suara motornya begitu membahana dan bisa saja membangunkan seluruh penghuni kompleks. Ibunya yang gila mungkin saja masih berada di gudang penyimpanan bir dan sedang berpesta dengan cairan-cairan pekat itu sampai pingsan seperti hari-hari biasanya. Dan Fabian tidak cukup punya nyali untuk membunyikan klakson berkali-kali demi menarik perhatian ibunya, karena dia hanya akan berakhir menjadi bulan-bulanan warga.


Gerbang yang tinggi menjulang itu akhirnya Fabian buka sendiri. Dia dorong dengan sisa-sisa tenaga, kemudian dia tutup kembali setelah berhasil membawa masuk motornya ke halaman dengan cara dituntun.


"Welcome to the hell, Arkafabian." Sebuah sambutan yang meluncur bebas dari dan untuk dirinya sendiri. Karena dia tahu, tidak akan ada yang menyambutnya begitu pintu besar di hadapannya itu dia buka.


Fabian mengulurkan tangan, memutar kenop dengan santai dan sudah bersiap-siap untuk melesat masuk, ketika ia malah dikejutkan dengan keberadaan ibunya. Perempuan itu terlihat duduk sendirian di ruang tamu dengan pencahayaan yang redup, masih dengan pakaian yang dikenakan kemarin ketika menyambut kedatangan Dokter Abraham.


Saking tidak percayanya pada penglihatan sendiri, Fabian sampai mengucek matanya beberapa kali. Bukan tidak mungkin kalau dia jadi berhalusinasi setelah hanya tidur selama kurang lebih dua jam, benar?


Tetapi, seberapa banyak pun mata itu ia kucek, sosok Raya tetap tidak menghilang dari sana. Fabian menyimpulkan kalau sosok itu berarti memang nyata, bukan sekadar halusinasinya saja.


"Ngapain duduk sendirian di situ?" tanyanya setelah mendapatkan kembali kesadaran yang sempat melayang-layang di udara.


Pintu di belakangnya kembali Fabian tutup, dan ia mengayunkan langkah mendekati Raya yang kini menatap datar ke arahnya.


Alih-alih jawaban, Fabian malah mendengar sebuah perintah yang berakhir membuatnya mendengus kemudian tersenyum miris.


Kata Raya, "Jangan temui Dokter Abraham lagi,"


Itu adalah perintah paling tidak masuk akal yang Fabian pernah terima dari ibunya. Lebih tidak masuk akal ketimbang saat ibunya menyuruhnya untuk menenggelamkan dirinya sendiri di bak mandi ketika usianya baru menginjak delapan tahun.


Alkohol yang perempuan itu konsumsi selama bertahun-tahun sepertinya memang sudah merusak seluruh organ di kepalanya, sehingga akal sehatnya sudah tidak berjalan lagi dan bahkan kini menolak untuk diselamatkan oleh orang-orang yang peduli.


Fabian mulai lelah. Rasanya energi yang dia miliki benar-benar sudah habis untuk sekadar membantu ibunya keluar dari kegelapan yang selama ini melingkupi. Dan pada akhirnya, Fabian sadar bahwa sekeras apapun usahanya untuk membuat kondisi ibunya membaik, tetap tidak akan ada yang berubah.


Karena setahu Fabian, Raya hanya ingin dia mati.


Enam belas detik beradu tatap dengan Raya yang selalu terlihat tanpa emosi, Fabian akhirnya memalingkan muka. Kemudian, tanpa menolak ataupun mengiyakan perintah ibunya, Fabian kembali mengayunkan langkah. Berderap naik ke lantai dua untuk melanjutkan tidurnya. Sebab itu jauh lebih baik ketimbang dia harus meladeni Raya, dan berakhir dirinya sendiri yang akan menjadi gila.

__ADS_1


...****************...


Prediksi cuaca untuk hari ini lagi-lagi gagal. Saat Fabian sudah menyiapkan diri untuk membolos kelas karena dikatakan badai yang semalam akan berlanjut selama seharian, matahari nyatanya malah bersinar begitu tinggi. Begitu jemawa memamerkan sinarnya yang terik, yang bahkan bisa menembus sampai ke celah-celah ventilasi udara yang ada di kamar Fabian, membuat si empunya berkali-kali berdecak sebal karena harus sering merubah posisi tidur agar tidak terkena silau cahaya mentari.


Akhirnya, karena sudah tidak tahu lagi harus mengambil posisi bagaimana agar tidurnya kembali nyenyak, Fabian pun memutuskan untuk sepenuhnya bangun. Ia urungkan niatnya untuk membolos, kemudian sambil bersungut-sungut ia berjalan ke dalam kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang telah bermandikan keringat meskipun air conditioner telah dia nyalakan dengan suhu paling rendah.


Sekarang baru pukul setengah delapan pagi, masih ada dua jam sebelum kelas pertamanya dimulai, jadi setidaknya Fabian bisa mengguyur badannya menggunakan air dingin untuk mengusir hawa panas sialan yang dibawa oleh sang matahari.


Namun, realita tidak pernah berjalan sesuai dengan ekspektasi. Saat Fabian memutar keran shower, ia malah tidak mendapatkan satu tetes pun air yang keluar dari sana. Ini menyebalkan, demi Tuhan. Karena seluruh tubuhnya sudah bau keringat dan ia sama sekali tidak akan sudi datang ke kampus dengan keadaan bau dan kucel seperti sekarang. Sedangkan untuk memeriksa apakah ada yang salah dengan aliran air di rumah juga terlalu merepotkan. Sebab meteran air ada jauh di halaman belakang, di mana dia harus berjalan melewati gudang penyimpanan bir milik ibunya untuk sampai ke sana.


Keadaannya serba salah, tetapi Fabian memutuskan bahwa dia tetap harus mandi, entah bagaimana pun caranya.


Dan, tahu apa yang kemudian terlintas di kepalanya?


Sabiru.


Di saat datang ke kampus dalam keadaan buruk rupa adalah momok baginya, mendatangi apartemen Biru untuk menumpang mandi malah menjadi satu-satunya ide yang terdengar paling masuk akal untuknya. Toh, pikirnya, ia dan Biru tidak akan terlibat ke dalam hubungan apapun, sehingga ia tidak perlu membangun citra baik di mata gadis itu.


Maka tanpa berniat untuk memikirkan ide itu sekali lagi, Fabian melesat keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri lemari pakaian, menarik satu celana jeans robek-robek warna biru, kaus oblong warna putih dan jaket kulit warna hitam andalannya kemudian memasukkannya ke dalam paper bag yang kebetulan ia temukan di dekat lemari. Tidak lupa juga dia memasukkan underwear dan peralatan mandi di dalam travel kit yang selalu siap sedia untuk dibawa bepergian kapan saja.


Semua perlengkapan beres, kemudian Fabian meraih ponsel dari atas nakas dan mulai mengetikkan beberapa kata untuk dikirimkan kepada Biru.


Air di rumah gue mati, boleh numpang mandi di apartemen lo? tulisnya.


Izin sudah didapat, jadi Fabian segera bergerak menyambar kunci mobil yang tergantung di dinding dekat pintu lalu segera berlarian keluar dari kamar.


Untungnya, ia tidak lagi mendapati Raya ada di ruang tamu ketika ia sampai di sana. Karena kalau sampai perempuan itu masih berada di tempat yang sama setelah berjam-jam lamanya, Fabian akan mulai mempertimbangkan untuk menyeret paksa perempuan itu untuk mendapatkan perawatan maksimal di rumah sakit jiwa.


"Gue nggak tahu lo lagi mau caper sama siapa, tapi lo anjing banget pagi ini." Gerutu Fabian, ditujukan kepada matahari yang bersinar tepat di atas kepalanya ketika ia sampai di garasi.


"Kalau sampai satu atau dua jam mendatang lo masih sombong kayak gini, gue sumpahin lo kena karma, biar mampus nggak bisa bersinar lagi selama seratus tahun!" sambil menunjuk matahari, seolah-olah benda langit itu serupa manusia yang bisa dia ajak bicara.


Setelah puas memaki-maki matahari—karena ia tidak punya cukup keberanian untuk memaki Tuhan yang menciptakannya, Fabian masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas.


Dia tidak akan pernah tahu, bahwa kepergiannya disaksikan oleh Raya, yang diam-diam mengintip dari jendela kamarnya.


...****************...


Basa-basi berupa kalimat anggap aja rumah sendiri benar-benar Fabian terapkan begitu ia tiba di apartemen Biru. Setelah mendapat izin untuk membuka pintu sendiri, ia langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi bahkan sebelum si empunya rumah keluar dari dalam sarang.


Setidaknya butuh 20 menit untuk Bian akhirnya menyelesaikan ritual mandi. Kini, tubuhnya sudah terasa segar dan energinya perlahan-lahan terisi kembali.


Berbagai peralatan mandi yang ia keluarkan dari dalam pouch kecil yang tadi dibawa, mulai dimasukkan kembali satu persatu, dia tata sesuai dengan urutan dan tata letak yang sama persis seperti semula. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, mungkin karena dulu ia sering mendapati Raya mencak-mencak ketika ia tidak mengembalikan mainan ke tempatnya semula.


Ketika Fabian baru muncul dari balik pintu kamar mandi, ia sudah disambut dengan kehadiran sosok Biru yang nangkring di atas kursi meja makan. Definisi sesungguhnya dari nangkring karena kini gadis itu duduk di atas kursi dengan posisi berjongkok sambil memeluk kedua lututnya sendiri.

__ADS_1


Fabian baru pertama kali melihat ada orang yang duduk dengan posisi begitu, jadi wajar saja jika dia menggelengkan kepala pelan selagi kakinya terayun mendekati si gadis biru.


"Kaki lo udah sembuh?" tanyanya, sambil mencuri pandang ke arah pergelangan kaki Biru. Mendadak ia merasa ngilu, khawatir kalau posisi duduk Biru yang sekarang bisa membuat kondisi kakinya yang keseleo semakin parah.


Oh, tidak. Fabian tidak sedang berusaha menjadi manusia yang perhatian. Ia hanya tidak sudi kalau harus memeluk Biru lagi seperti semalam karena gadis itu terus merengek tentang kakinya yang katanya terasa nyaris putus.


"Masih sakit," cicit Biru, tetapi gadis itu tidak kunjung merubah posisinya sehingga membuat hela napas berat lolos begitu saja dari belah bibir Fabian.


"Terus ngapain duduknya begitu? Nanti yang ada kaki lo makin sakit," Fabian menarik kursi di sebelah Biru, masih tidak melepaskan tatapan dari pergelangan kaki gadis itu yang terlihat sedikit memerah.


"Lo tumben kelihatan ganteng," Biru malah bicara omong kosong.


Fabian mendelik, tanpa aba-aba menggeplak lengan Biru yang memeluk lutut sehingga membuat posisi jongkok Biru sedikit oleng dan mau tidak mau gadis itu akhirnya kembali ke posisi duduk yang normal. "Diajak ngomong apa, jawabnya apa. Mabok lo?"


"Iya, mabok pesona lo."


Wah ... kesambet apa manusia satu ini? Batin Fabian. Bukannya tersanjung dibilang ganteng, Fabian malah bergidik ngeri. Sangat tidak lucu kalau ternyata yang sedang berbicara dengannya sekarang ini adalah sosok makhluk astral yang menyerupai Biru.


Karena, ia tahu Sabiru tidak akan secara sukarela menyebutnya tampan tiba-tiba.


"Periksa gih, takutnya ada yang salah sama isi kepala lo. Apa perlu gue bayarin? Kebetulan duit gue banyak banget, nggak habis-habis."


"Sombong banget mentang-mentang kaya," Biru mencibir. Hilang sudah niatnya untuk menggoda Fabian pagi ini. Karena sekarang justru dia sudah lebih dulu merasa kesal.


"Percuma kaya kalau nggak punya bapak," celetuk Fabian. Niatnya cuma bercanda, untuk sekadar menertawakan nasibnya sendiri. Tetapi dia malah berakhir ditatap oleh Biru, dengan cara yang 180 derajat berbeda ketimbang biasanya.


"Dih, kenapa lo?" tanya Fabian, mulai agak ngeri ketika mendapati ada kabut bening yang mulai tampak di mata gadis itu.


Jangan bilang kalau Biru akan menangis. Ugh! Demi apapun, Fabian malas kalau harus ada adegan berpelukan seperti semalam.


"Lo nggak punya bapak?" tanya Biru dengan suara super pelan.


"Emang semua orang harus punya bapak?" Fabian balik bertanya.


Biru terdiam, tampak sedang berpikir—terlihat dari bola matanya yang bergerak melirik ke atas selama beberapa saat. Kemudian, gadis itu kembali menatapnya dan menggelengkan kepala. "Yang harus mah punya ibu, kalau nggak punya bapak juga nggak apa-apa." Kata gadis itu dengan polosnya.


Sikap Biru yang berubah-ubah telah berhasil membuat kepala Fabian berdenyut. Ia jadi seolah dibuat buta, tidak diberi kesempatan untuk menerka seperti apa sosok Biru yang sebenarnya.


Dan, ketika sebuah tepukan berlabuh di bahunya diiringi sebuah senyum sumringah yang cerahnya melebihi sinar matahari di luar sana, Fabian jadi mempertanyakan kembali soal penilaiannya terhadap Biru.


"Nggak apa-apa, masih banyak anak-anak lain di luar sana yang nggak punya bapak. Nggak usah merasa diri lo adalah satu-satunya, karena yang punya bapak juga belum tentu bisa foya-foya kayak lo." Kata gadis itu.


Fabian mengembuskan napas, sekeras-kerasnya untuk mengenyahkan apapun yang mulai mengusiknya. Lalu dalam kenelangsaan yang begitu besar, ia berbisik kepada dirinya sendiri. *Lo salah, Fabian. Biru bukan gadis kesepian. Dia sinting, sama kayak lo dan teman-teman lo yang lain.


Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2