Taruhan

Taruhan
Kosong


__ADS_3

Hari di mana Baskara bisa kembali ke rumah setelah melewati tiga hari masa hukuman akhirnya tiba. Dengan semangat yang menggebu-gebu, pemuda itu berlarian menyusuri koridor rumah sakit hanya untuk segera sampai di halaman depan, di mana tiga anggota Pain Killer yang lain sudah menunggunya di sana.


Jeffrey dan Sera berjalan di belakangnya. Dengan Jeffrey yang menenteng satu tas berukuran sedang tempat di mana mereka meletakkan beberapa barang, dan Sera yang tampak sibuk memainkan ponselnya—entah apa yang dikerjakan.


Pertemuan antara Baskara dengan tiga teman yang begitu ia rindukan sudah seperti adegan di dalam film sedih. Di mana pemuda itu langsung menghambur ke dalam pelukan ketiga temannya, dan menenggelamkan wajah di dada bidang Fabian selaku orang yang berada paling tepat di hadapannya. Mereka berempat berpelukan, persis seperti Teletubbies lucu warna-warni.


"I hate to say it, but ... I miss you so much," ucap Reno seteleh pelukan mereka terlepas.


Baskara semakin berkaca-kaca. Bahkan Reno yang terkenal dengan tutur katanya yang pedas pun bisa sampai mengungkapkan kerinduannya. Bukankah dari situ saja ia tahu betapa beruntungnya dirinya bisa memiliki teman-teman seperti mereka?


"Kita udah siapin perayaan kecil-kecilan buat lo, kalau kondisi lo udah oke, kita eksekusi malam ini." Timpal Juan yang memilih menjaga jarak paling jauh. Pemuda itu bukannya tidak merindukan Baskara sebanyak yang teman-teman lain rasakan, ia hanya sedang gengsi saja. Malu pada otot besarnya kalau harus secara gamblang mengungkapkan kerinduan.


"Gue udah sehat," ucap Baskara dengan senyum tipis yang datang menyusul kemudian.


"Oke. Kalau gitu, gue bakal hubungin teman-teman yang lain untuk siapin semuanya." Mata Juan lagi.


Baskara tampak mengerutkan kening. "Teman-teman yang lain?"

__ADS_1


"Anak-anak di kelas kita. Mereka kasih usulan buat bikin party di Mega. They miss you just as much as we do." Fabian membantu menjelaskan.


Tapi hadirnya nama Mega justru membuat Baskara mendelik. Mengadakan perayaan untuk menyambut seseorang yang baru saja keluar dari rumah sakit di klub malam? Itu agak jauh dari bayangan.


"Gue tahu apa yang ada di otak lo," Reno kembali bersuara. "Tapi party di Mega malam ini nggak akan melibatkan alkohol dan hal-hal kayak gitu. We just want to spend the night with you."


"Oho ... kalian memang the best." Puji Baskara usai mendengar penjelasan dari Reno barusan. Yah, dia memang tidak seharusnya meragukan tiga temannya itu, benar?


"Kamu mau ikut mobil Mama dan Papa, atau gimana?"


Baskara menoleh kepada Jeffrey yang baru tiba di sampingnya. Sera tiba tak lama kemudian, masih terlihat sibuk dengan ponselnya. "Baskara ikut mobil Fabian aja."


Sebenarnya, melihat sikap ibunya yang diam-diam saja membiarkan dirinya pulang dengan mobil yang terpisah membuat Baskara agak merasa aneh. Karena, apa fungsi sebenarnya dari mengurung dirinya selama tiga hari, kalau pada akhirnya perempuan itu kembali membiarkannya bebas melakukan apa saja bersama teman-temannya?


Namun Baskara tidak mau terlalu ambil pusing. Dia hanyam menurut ketika Fabian menarik lengannya agar masuk ke dalam mobil supaya mereka bisa bergegas pulang sebelum senja berganti malam.


Tiga mobil kemudian melaju dengan formasi seperti ini: mobil Jeffrey berada di urutan paling depan, disusul mobil Fabian, kemudian barulah mobil Reno dan Juan. Mobil yang ditumpangi oleh Baskara sengaja ditaruh di tengah, agar bisa diawasi dengan baik oleh dua mobil lain yang mengapitnya.

__ADS_1


"Gimana situasi di Neo selama gue nggak ada?" tanya Baskara ketika mobil mereka sudah melaju setengah jalan.


"Anyep," sahut Fabian.


Terdengar suara kekehan ringan yang lolos dari bibir Baskara. "So, kehadiran gue memang sepenting itu?" celetuknya.


Alih-alih memberika sanggahan menyebalkan, Fabian malah mengangguk. "Neo tanpa lo udah kayak malam tanpa bulan—suram." Kata pemuda itu.


"Berarti branding gue berhasil," gurau Baskara. Dulu, saat awal masuk kuliah, dia memang sempat nyeletuk bahwa dia akan membangun citra diri sebagai seseorang yang akan dirindukan oh seluruh penghuni Neosantara jika suatu hari ia absen dari kegiatan perkuliahan. Well, sepertinya celetukannya telah menjadi kenyataan?


"Yeah, mereka semua mengeluh karena nggak ada yang bikin keributan. " Kata Fabian. Baskara tidak tahu apakah itu adalah sebuah pujian, atau justru hinaan. Ia hanya diam mendengarkan karena setelahnya Fabian masih melanjutkan.


"Nggak ada yang berisik karena kalah main game. Nggak ada yang iseng ngerjain adik tingkat yang nyasar sewaktu mau ke ruang sekretariat, tapi malah lo arahkan ke rektorat. Nggak ada yang mangkir bayar makan siang padahal duit di dompet lo jumlahnya ada puluhan—cuma biar lo ada alasan buat balik ke kantin sore harinya biar bisa godain Daniar. Neo tanpa lo benar-benar ..." Fabian memberi jeda untuk menoleh sebentar ke arah Baskara yang masih diam mendengarkan. "...kosong." Sambungnya.


Baskara yakin dia seharunya tertawa mendengar hal itu. Tapi entah kenapa, matanya malah berkaca-kaca dan ada perasaan tidak nyaman di dadanya.


Kemudian, satu pertanyaan yang begitu mengganggu muncul, membuat bibirnya tak mau terbuka hanya untuk memberikan tanggapan atas apa yang Fabian sampaikan kepadanya.

__ADS_1


"Apakah kehadiran gue memang sepenting itu untuk semua orang? Bagaimana dengan Papa? Lalu ... Sabiru? Apakah kehadiran gue juga penting untuk mereka?"


Bersambung


__ADS_2