Taruhan

Taruhan
Rumit


__ADS_3

Senja menjelang lebih cepat daripada biasanya. Matahari yang memang sedari siang tidak kebagian jatah untuk bersinar terang akhirnya kembali ke peraduan, merebahkan diri bersama lelah para manusia yang seharian ini ia amati berbagai aktivitasnya dari balik mendung yang berkuasa.


Di balkon kamar, Fabian duduk menghadap ke arah jalanan, memandangi pohon-pohon rindang yang tumbuh subur di tepi jalan tengah meliuk-liuk tertiup angin. Hujan sudah reda sejak setengah jam yang lalu, menyisakan aroma khas tanah basah yang dalam sekejap telah menguasai indera penciuman pemuda itu sejak ia duduk di tempatnya beberapa menit yang lalu.


Di belakangnya, lebih tepatnya di tengah-tengah pintu balkon yang terbuka lebar, Baskara duduk berselonjor. Tubuhnya sedikit rebah ke belakang dengan kedua lengan yang ia jadikan tumpuan. Tatapannya pun sama, terlempar jauh ke depan meksipun yang bisa dia lihat adalah pembatas berwarna putih yang tingginya setara perut orang dewasa.


Langit di atas mereka berwarna kelabu, sepenuhnya menelan warna oranye yang sempat mampir meskipun terlihat ragu-ragu. Dan sampai saat ini, Baskara masih belum punya niat untuk kembali ke rumah. Ayah dan ibunya mungkin belum selesai berdiskusi, atau mungkin mereka malah tidak melakukannya sama sekali.


Fabian sendiri tidak merasa keberatan dengan adanya Baskara di sini. Karena sejak pemuda itu datang, ia tidak lagi mendengar keributan yang dibuat oleh ibunya. Atau barangkali, ibunya memang sengaja menjadi lebih tenang karena ia telah menjanjikan sebuah kematian sebagai gantinya.


Ketika kemungkinan yang ke-dua mampir ke kepala, Fabian menyunggingkan senyum miris yang kentara. Mungkin, hidupnya memang harus berakhir secepatnya, agar sang ibu bisa menjalani hidup dengan lebih waras dan bahagia.


"Gue sebenarnya lagi kabur dari rumah," aku Baskara tiba-tiba, membuyarkan lamunan Fabian yang berisi angan tentang cara apa yang harus ia pilih untuk mengakhiri hidupnya nanti.


Fabian memutar kursi agar bisa menatap Baskara yang barusan buka suara. Ia mendapati Pemuda itu kini duduk bersila, dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas paha.

__ADS_1


"Tadi pagi, pas gue mau sarapan dan ngeliat ada Papa di meja makan, gue tiba-tiba aja kepikiran satu hal." Baskara mendongak, sehingga tatapan mereka bertemu di satu garis tak kasat mata. "Gimana kalau ternyata Mama dan Papa cuma bersikap baik-baik aja karena takut gue terluka? Terus, akhirnya gue ungkapin apapun yang selama ini jadi keresahan gue."


"Terus?" tanya Fabian. Ia sepenuhnya mencurahkan perhatian, tidak melepaskan kontak mata sama sekali selama menunggu bibir Baskara kembali terbuka.


"Gue ... minta mereka berdiskusi untuk menentukan apakah pernikahan mereka masih bisa dilanjut atau enggak. Gue cuma ... mikir kalau perceraian mungkin nggak seburuk itu. Siapa tahu aja, kan, dengan bercerai, hubungan mereka justru bisa lebih baik? Ya, at least, mereka mungkin bisa menjalankan peran mereka sebagai seorang ayah dan ibu dengan sebagaimana mestinya."


"Lo udah siap?" tanya Fabian, setelah dirasa Baskara tidak lagi berniat menambahkan apapun setelahnya.


Baskara mengendikkan bahu. Karena sejujurnya, dia sendiri tidak tahu apakah keputusan bercerai yang mungkin akan orang tuanya ambil bisa dia terima dengan lapang dada. "Siap nggak siap, tetap harus dijalani kalau waktunya udah tiba, right?"


Awan kelabu di atas mereka semakin terlihat gelap, lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan dan gerimis kembali jatuh bersamaan dengan hela napas milik Baskara dan Fabian yang diembuskan perlahan dan saling bersahutan-sahutan.


...****************...


Waktu yang diberikan Baskara kepada Sera dan Jeffrey untuk berdiskusi nyatanya sama sekali tidak dimanfaatkan oleh dua anak manusia itu. Alih-alih mengobrol demi mendapatkan jalan tengah paling baik untuk masalah yang tengah melanda, mereka malah memisahkan diri sejauh-jauhnya.

__ADS_1


Jeffrey mengurung diri di ruang kerja, sibuk berdebat dengan diri sendiri tentang rencana yang dia susun di kepala, apakah harus tetap dilaksanakan atau ia urungkan demi menjaga putranya Baskara dari rasa sakit yang tidak berkesudahan. Ia merasa serba salah, sebab baik Baskara dan Fabian sama-sama anaknya, darah dagingnya, dan ia tidak ingin mengorbankan salah satunya.


Jeffrey tidak menginginkan sebuah perceraian. Ia masih mencintai Sera dan Baskara sama banyaknya seperti hari-hari lalu ketika ia belum mengetahui keberadaan Fabian. Ia hanya ... ingin sedikit memberikan hak yang seharusnya Fabian terima. Hak untuk dicintai dan dibiayai secara langsung oleh dirinya, laki-laki pengecut yang telah lari dari tanggung jawab selama lebih dari dua puluh tahun lamanya.


Jeffrey hanya ingin memberikan Fabian kehidupan yang layak, agar anak itu berhenti merasa bahwa kelahirannya sama sekali tidak diinginkan. Ia juga ingin membebaskan Raya dari ketakutan, yang selalu datang menghampiri bersama bayang-bayang Sera yang selalu menghantui. Sungguh, Jeffrey hanya ingin membuat mereka semua ada di titik aman. Baik itu Sera, Baskara, Raya maupun Fabian.


Sementara Jeffrey memeras otak demi menemukan cara untuk menyelamatkan mereka semua, Sera membiarkan dirinya larut di dalam segala perasaan yang carut-marut di dalam dada. Ia duduk sendirian di sudut kamar. Tidak ada air mata yang jatuh, ekspresi wajahnya juga terkesan datar untuk seseorang yang tengah menanggung beban begitu besar di pundaknya.


Keinginan Sera untuk mewujudkan sebuah keluarga utuh nan bahagia masih sama besarnya seperti kemarin. Karena menurutnya, hanya itu yang bisa membuat Baskara bahagia.


Anak itu bisa saja mengatakan kepada dirinya akan menerima apapun keputusan yang dia dan Jeffrey mungkin ambil. Tetapi Baskara tetaplah darah dagingnya, yang tumbuh di dalam rahimnya selama sembilan bulan, dia bawa ke mana-mana sebelum akhirnya dilahirkan. Sera tahu betul bahwa Baskara sebenarnya ketakutan. Anak cengeng itu takut akan kehilangan sosok ayah untuk selamanya karena sebuah perceraian. Jadi, Sera tidak akan mewujudkan ketakutan itu. Ia tidak akan bercerai dengan Jeffrey, dan akan membuat laki-laki itu kembali menjadi sosoknya yang dulu, entah bagaimana pun caranya.


Sekalipun ia harus benar-benar melenyapkan Fabian dan ibunya dari dunia ini, dan mengubah dirinya sendiri menjadi seorang pendosa. Sera tidak keberatan, dia akan melakukan apapun untuk putranya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2