
"Bas," usai puas melamun, Biru akhirnya mencurahkan perhatian kepada Baskara yang setia menunggu di sampingnya. Sedari tadi, pemuda itu tak mengeluarkan suara sama sekali. Seolah mengerti bahwa yang dia butuhkan memang hanya ditemani, bukan diberondong dengan kalimat-kalimat omong kosong tiada arti.
Baskara berdeham, lantas beringsut mendekat untuk mendengarkan lebih banyak. Sebelum bibir gadis itu kembali terbuka, Baskara mengulurkan tangan, merapikan helaian rambut milik Biru yang terlepas dari ikatan. "Tell me," ucapnya setelah berhasil membuat helaian-helaian kecil itu kembali ke persatuan.
"Kenapa ya, orang-orang gampang banget ngetik hal-hal jahat buat orang lain?" suara Biru kedengaran sendu, seirama dengan raut wajahnya yang kehilangan rona alaminya.
"Karena mereka nggak pernah memosisikan diri di tempat orang lain." Sahut Baskara. Tubuh kecil Biru lantas ia tarik mendekat, untuk kemudian ia dekap erat dari belakang. Membiarkan sang empunya mengistirahatkan kepala yang ribut di dadanya yang bidang.
"Gue benci deh sama orang-orang kayak gitu. Tapi, gue juga nggak bisa apa-apa karena nggak punya daya buat atur gimana orang-orang itu harus bersikap." Biru menggerakkan jemari lentiknya, bergerilya di punggung tangan Baskara yang memeluk erat perutnya.
"Then just let them do whatever they want. Yang terpenting, lo nggak jadi bagian dari mereka." Bisik Baskara, persis di sebelah telinga Biru. Wangi sampo gadis itu menguar kuat, menginvasi seluruh saluran pernapasannya sehingga tak ada bebauan lain yang berhasil mampir.
Biru menggeliat pelan dari dalam pelukan Baskara, hanya untuk membuat posisinya menjadi setengah berbaring di atas sofa agar ia bisa bersandar lebih nyaman di dada Baskara. Lalu, ia mendongak. Hingga bertemulah matanya dengan mata Baskara yang menatap teduh ke arahnya. "Tapi gue masih kesal. Gue masih berpikir kalau seumpama ada satu aja dari mereka yang berusaha kasih tahu Jasmine kalau dia berharga, dia mungkin masih hidup sekarang. Dan lo tahu, gue nyesel karena nggak bisa jadi satu orang itu."
"Lo bukan tipikal orang yang pintar merangkai kata-kata, that's why lo nggak ikut berkomentar apa-apa. But you did your best, dengan langsung cari gue dan teman-teman gue untuk samperin Jasmine ke tempatnya. Meskipun akhirnya dia tetap mati, tapi paling nggak lo udah bersedia jadi satu dari segelintir orang yang peduli."
Biru kembali menundukkan kepalanya. Kali ini, jemarinya ia letakkan di atas jari-jari panjang Baskara yang saling bertaut, seakan membandingkan ukuran tangan mereka yang berbeda jauh. "Usaha segitu memangnya udah cukup?" gumamnya.
Di belakangnya, Baskara mengeluarkan hela napas rendah. Biru sedikit tersentak saat Baskara tiba-tiba menarik dan membalikkan tubuhnya hingga kini mereka kembali berhadap-hadapan. Tatapannya yang teduh serupa hujan di malam-malam pertama bulan Januari, meleburkan gersang yang menggerogoti dari bulan-bulan kering sebelumnya.
Dengan suara yang berat, pemuda itu lantas berkata, "Cukup. Memang cuma segitu kapasitas kita sebagai manusia, sisanya tetap Tuhan yang atur."
"Kita semua menyayangkan nyawa Jasmine yang melayang tanpa sempat mendapatkan pertolongan, tapi menyesali apa yang udah terjadi juga nggak akan bikin Jasmine hidup lagi. Jadi, kenapa kita nggak coba doain aja semoga Tuhan memperkenankan Jasmine pergi ke tempat yang lebih baik?"
Untuk beberapa saat, Biru terdiam. Bukannya menyerap apa yang pemuda di hadapannya itu katakan, ia malah salah fokus pada goresan kecil yang tampak kemerahan di leher pemuda itu. Dari mana goresan itu berasal? Sejak kapan ada di sana? Sakitkah? Tanpa sadar, tangan Biru terulur menyentuh luka gores itu dan sedikit menekannya untuk memeriksa apakah itu sakit atau tidak.
__ADS_1
"Ini kenapa?" tanyanya sembari kembali menatap lekat sosok Baskara.
"Jangan cari pengalihan, kebiasaan." Baskara menarik tangan Biru dari lehernya karena berpikir gadis itu hanya sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Biru mendelik, "Gue nggak lagi ngalihin pembicaraan." Sewotnya. Gadis itu kemudian meraih ponsel miliknya yang ada di atas meja, lalu membuka kamera agar Baskara bisa melihat sendiri luka gores yang ada di lehernya. "Tuh, lihat. Leher lo luka!"
Baskara terpaku sebentar melihat pantulan dirinya sendiri di kamera. Tapi setelahnya, ia menurunkan ponsel dan menyimpannya kembali ke atas meja. "Goresan kecil doang, nggak sakit." Ucapnya. Niatnya hanya supaya Biru tidak heboh, tapi berkat ucapannya yang seolah menyepelekan luka kecil, ia mendapatkan sebuah cubitan yang lumayan menyakitkan di lengannya.
"Sakit!" pekiknya seraya mengusap lengannya yang ia yakin akan membiru dalam waktu dekat.
"Ya lagian!" Biru lebih galak. "Mau kecil mau gede, yang namanya luka ya tetap luka." Omelnya dengan bibir yang merengut.
Baskara gemas, ingin mencium bibir yang manyun itu namun sadar timing-nya tidak pas. Yang ada dia malah akan kembali menerima kekerasan fisik.
"Nggak tahu, Bi. Sama sekali nggak kerasa perih." Jawab Baskara apa adanya. Karena memang ia tidak merasakan sakit. Mungkin karena terlalu hectic mengurusi persoalan Jasmine. "Udah, nggak usah urusin soal luka kayak gini." Tangan Biru kembali dia tarik, lalu ia genggam erat agar gadis itu tak bersikeras membahas tentang luka itu lebih jauh. "Udah malam, lo harus tidur." Titahnya.
Biru berdecak pelan, kemudian menarik tangannya dari genggaman Baskara. Ia melirik ke arah jam yang tertempel di dinding ruang depan. Pukul 11.45. Belum terlalu larut untuk ukuran manusia dewasa seperti dirinya. Terlebih lagi besok hari Sabtu, ia tidak harus bangun pagi-pagi untuk datang ke kampus. Jadi, kenapa Baskara terus-menerus memintanya untuk segera tidur?
"Karena gue tahu lo akan terus mikir yang aneh-aneh kalau nggak cepetan tidur." Seakan bisa membaca pikiran, Baskara mengatakan itu tepat ketika pertanyaan Biru selesai diucapkan di dalam kepala.
Biru mendengus pelan. Lalu tiba-tiba, ia membaringkan tubuhnya, menumpukan kepalanya di paha Baskara. "Di sini ribut banget, gimana caranya gue bisa tidur?" tanyanya sembari menunjuk keningnya sendiri. "Bisa bantu?"
"Sure." Jawab Baskara yakin. Satu kecupan kemudian ia berikan kepada Biru, tepat di keningnya dengan membiarkan bibirnya berdiam di sana cukup lama. "Udah gue sedot semua beban pikiran lo. Tidur sekarang." Titahnya.
Biru terkekeh pelan, kemudian memejamkan mata setelah merubah posisinya menjadi miring ke kiri. "Lo nggak akan ngapa-ngapain gue, kan?" gumamnya.
__ADS_1
"Nggak, lah. Emang muka gue kelihatan kayak cowok berengsek?"
Biru mengangguk masih dengan mata yang terpejam. "Banget."
"Sialan."
Mendengar umpatan itu, Biru tergelak. Bohong kalau dia bilang beban pikirannya memang sudah disedot oleh Baskara. Tapi setidaknya, dengan adanya pemuda itu di sini, kemungkinan untuk dia berpikir lebih banyak hal aneh bisa diminimalisir.
"Kalau gue tidur kayak gini, lo tidurnya gimana?"
"Nggak usah banyak bacot, tidur aja."
"Galak bener, sih."
"Tidur, atau gue cium?"
"Otak lo ngeres." Cibir Biru. Tapi anehnya, ia masih tak beranjak dari posisinya, tak juga membuka mata. Seakan dia percaya Baskara tidak akan berani menyentuhnya tanpa ijin.
"Tidur."
"Iya, iya. Bawel." Biru merapatkan kedua tangannya yang terlipat di depan dada, berdoa sebentar sebelum benar-benar menuju ke alam mimpi.
Sementara Baskara, malah sibuk memandangi wajah ayu Biru yang terlelap di pangkuannya. "Sleep well, Baby." Bisiknya disusul satu kecupan yang mendarat mulus di pipi Sabiru.
Bersambung
__ADS_1