Taruhan

Taruhan
All Alone


__ADS_3

Dalam sekejap, rumah yang biasa sepi itu berubah menjadi penuh sesak. Keramaian terjadi di sana sini. Garis polisi dibentangkan di depan pintu utama, seakan mendeklarasikan kepada semua orang bahwa di rumah ini, satu nyawa baru saja melayang dengan cara yang begitu tragis.


Fabian terduduk lesu di bagian belakang mobil ambulans selagi petugas medis mengobati luka di tangannya. Dia sendiri bahkan tidak ingat dari mana datangnya luka-luka itu. Karena yang sekarang dia ingat adalah kejadian subuh tadi yang akhirnya merenggut nyawa sang ibu.


Mungkin baru pukul 03.45, ketika dia terbangun dari tidurnya karena merasa tenggorokannya begitu kering. Melawan semua rasa malas yang ada, dia keluar dari kamar, berjalan menuruni tangga menuju dapur demi menghilangkan dahaganya.


Seperti biasa, dia tidak mau repot-repot menyalakan lampu, karena toh dia hanya akan pergi mengambil minum sebentar dan langsung kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.


Tapi, begitu dia kembali dari dapur dan hendak naik ke kamarnya, dia malah menemukan ibunya sedang berbicara dengan seseorang. Tubuh ibunya yang tinggi membuat Fabian kesulitan mengenali dengan siapa ibunya berhadap-hadapan. Jadi dia memutuskan untuk berjalan mendekat demi memeriksa.


Baru tiga kali kakinya terayun, dia dibuat terkejut saat sebuah suara tembakan menggema memekakkan telinga. Lalu tak lama setelahnya, ibunya ambruk ke lantai dan darah dengan cepat merembes memenuhi lantai berwarna putih tersebut.


Fabian tidak bisa berpikir. Kepalanya terasa kosong saat menemukan ibunya merintih kesakitan, sementara seseorang yang berdiri di depannya hanya diam tidak melakukan apa-apa. Ia berlari menghampiri ibunya, bersimpuh di samping tubuh ibunya lemah.


Bibirnya terkunci rapat, bahkan tidak bisa menuntut penjelasan kepada Sera yang mengacungkan moncong revolver tepat ke kepalanya. Dia sudah pasrah saja kalau peluru panas dari dalam revolver itu melesat menembus kepalanya ketika Sera benar-benar melepaskan tembakan. Tapi semuanya itu tidak terjadi karena Jeffrey, entah dari mana datangnya, tiba-tiba menubruk tubuh perempuan itu hingga membuat peluru yang seharusnya mengenai dirinya malah bersarang ke tembok.


Yang terjadi setelahnya benar-benar terasa cepat. Mulai dari ketika dia mencoba menelepon ambulans sampai kepala Raya terkulai lemah di pangkuannya, Fabian sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Dia bahkan mengira itu semua adalah mimpi, karena rasanya terlalu aneh mendapati ibunya ditembak mati, padahal beberapa jam sebelumnya perempuan itu baru saja mengantarkan segelas susu untuk dia minum sebelum tidur. Perempuan itu bahkan berjanji bahwa mereka akan pindah ke luar negeri secepatnya, memulai kehidupan kembali hanya berdua.

__ADS_1


Sampai detik ini, Fabian masih tidak mengerti alasan Sera datang ke rumah mereka pagi-pagi buta, dan berakhir menembak ibunya sampai mati. Dia juga masih tidak mengerti kenapa Sera memanggilnya anak haram, dan berpikir bahwa Jeffrey datang untuk melindungi dirinya alih-alih menyelamatkan perempuan itu dari hukuman yang lebih berat.


Kosong. Fabian benar-benar tidak memiliki praduga apapun atas kejadian tersebut.


"Sudah selesai."


Suara petugas medis perempuan yang merawat lukanya membuat lamunan Fabian buyar. Dia mengangkat kepala sebentar, hanya untuk mengucapkan terima kasih dengan suara yang mengalun pelan, lantas membiarkan petugas medis tadi meninggalkan dirinya dengan telapak tangan yang diperban.


Setelah kepergian petugas medis tadi, Jeffrey muncul dari kejauhan. Lelaki itu tampak menyeret langkahnya dengan berat. Wajar saja bila begitu, pikir Fabian. Karena lelaki itu baru saja menjebloskan istrinya sendiri ke dalam penjara. Tak berselang lama setelah ibunya mengembuskan napas terakhir, satu unit mobil polisi datang dan langsung meringkus Sera. Karena rupanya, Jeffrey sudah mempersiapkan semuanya. Dia dan Jeffrey harusnya juga ikut ke kantor polisi untuk diperiksa sebagai saksi. Tapi karena satu dan lain hal, mereka berdua diijinkan untuk tinggal sementara Sera sudah lebih dulu digelandang.


Fabian tak bisa menahan keterkejutan saat Jeffrey tiba-tiba saja menjatuhkan diri di hadapannya. Lelaki itu bersimpuh, menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh yang tampak bergetar hebat.


"Saya nggak tahu maaf itu untuk apa, jadi saya nggak bisa terima." Fabian menurunkan kakinya satu persatu. Lalu dengan mengabaikan luka di tangan kirinya yang diperban, Fabian membantu Jeffrey bangkit. "Tolong jelaskan lebih banyak, supaya saya bisa tahu apakah maaf itu memang pantas untuk saya berikan atau tidak."


...****************...


Di sepanjang mendengarkan penjelasan Jeffrey, Fabian hampir selalu menahan napas. Itu adalah satu-satunya cara agar sesak yang dia rasakan tidak merambat ke mana-mana, sekaligus upaya agar dia tidak melayangkan tinju ke wajah Jeffrey yang kini menangis tersedu-sedu di hadapannya.

__ADS_1


Jeffrey adalah ayah kandung. Fabian mengulangi kalimat itu sebanyak yang dia bisa. Tapi tak peduli seberapa banyak dia melakukannya, kenyataan yang lelaki itu suguhkan sama sekali tidak bisa dia terima.


Tidak sengaja karena mabuk? Itu alasan paling konyol yang pernah dia dengar sepanjang hidupnya. Karena, bukankah akal sehat lelaki itu hanya hilang sesaat, ketika dia mabuk saja? Lantas seterusnya bagaimana? Bukankah kewarasan itu datang tepat setelah efek alkoholnya menghilang? Tapi kenapa kegilaan itu dibawa terus-menerus, sampai harus mengorbankan dirinya dan Raya?


Oh, Fabian tidak pernah menempatkan dirinya di posisi korban karena itu menyedihkan. Tapi setelah mendengar semuanya, dia tidak tahu lagi harus menempatkan dirinya di posisi mana.


Dulu, dia hanya berpikir bahwa ibu dan ayahnya adalah sepasang kekasih yang jatuh cinta, lalu ayahnya pergi meninggalkan ibunya untuk menikah dengan perempuan lain, ketika ada dia yang telah tumbuh di dalam perut ibunya. Dia pikir, melihat wajahnya hanya akan selalu mengingatkan perempuan itu pada laki-laki yang telah mengkhianati cintanya, itu sebabnya Raya tidak pernah sudi memberikan kasih sayang seorang ibu kepada dirinya.


Tapi kenyataannya ... Raya bukannya tidak mau, tapi dia tidak bisa.


"Semua ini kesalahan saya, Bi. Saya minta maaf." Jeffrey kembali mengucapkan permintaan maaf itu.


"Tapi, Om ... maaf itu nggak akan bisa bikin Mama saya hidup lagi." Karena memang benar. Berjuta-juta kali lelaki itu mengucapkan maaf sekalipun, tidak akan ada artinya karena dia sudah terlanjur kehilangan Raya. "Saya cuma punya Mama di dunia ini, dan istri Om yang sempurna itu udah bikin saya jadi sebatang kara sekarang."


Fabian menarik napas dalam-dalam, kemudian dia bangkit dari posisinya. "Om tahu? Saya baru aja mulai menerima kasih sayang yang saya impi-impika selama ini dari ibu saya. Tapi semua itu sirna begitu saja karena keserakahan istri Om, juga ketidakmampuan Om untuk menjadi kepala keluarga."


"Dulu, saya sempat iri karena Baskara setidaknya masih memiliki ibu yang menyayangi dia sepenuh hati, di saat ayahnya pergi melarikan diri. Tapi sekarang, saya justru kasihan sama dia. Karena hidup dia ternyata jauh lebih berantakan daripada yang saya punya. Ibunya iblis, dan ayahnya cuma seorang pecundang yang nggak berani mengambil tanggung jawab atas apa yang udah dia lakukan."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Fabian berlalu. Dia melangkah menghampiri mobilnya sendiri, membawanya pergi meninggalkan halaman rumah yang masih ramai. Dia hendak pergi ke rumah sakit, menjemput jasad ibunya yang sedang dibersihkan untuk kemudian dia makamkan dengan layak.


Bersambung


__ADS_2