Taruhan

Taruhan
Reno, Juan dan Rumah


__ADS_3

Bagi Reno dan Juan, Pain Killer bukan cuma sekadar geng yang menjadi tempat bagi mereka untuk memamerkan diri. Lebih dari itu, Pain Killer adalah rumah. Definisi dari rumah yang selalu ingin mereka tuju setiap kali lelah dan resah menghampiri secara brutal.


Sebab sepasang sepupu itu telah lama kehilangan rumah mereka sendiri.


Sedari kecil, mereka telah terbiasa untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka senangi, hanya untuk memenuhi ekspektasi keluarga besar yang ingin mereka menjadi penerus tahta keluarga yang pantas untuk dibanggakan.


Reno dipaksa untuk mengikuti banyak les, khususnya les pelajaran akademik untuk menunjang kemampuan berpikirnya, di saat nyatanya dia lebih tertarik pada dunia seni.


Tidak jauh berbeda dari Reno, Juan dipaksa untuk mengikuti kelas bela diri. Sedari dini ditanamkan pemikiran bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh menangis, saat kenyataannya dia lebih tertarik untuk berkutat dengan berbagai jenis alat musik dan beberapa kali menulis lagu dengan lirik yang melankolis.


Reno dan Juan hidup di dalam sebuah keluarga yang kata orang-orang merupakan keluarga bahagia, namun pada kenyataannya ada begitu banyak borok yang disembunyikan dari khalayak umum.


Ayah Reno, yang merupakan sulung dari keluarga besar mereka, telah berselingkuh secara terang-terangan dan bahkan membawa selingkuhannya itu ke rumah. Dan, keluarga besar mereka menutupi hal itu, tanpa peduli pada perasaan ibu Reno karena bagi mereka, nama baik keluarga tetap yang paling utama.


Sedangkan ayah Juan, yang merupakan bungsu di keluarga itu seringkali terlibat masalah. Mulai dari judi online, perdagangan narkoba sampai perdagangan manusia. Si bungsu yang padahal di depan khalayak umum dikenal sebagai yang paling bersahaja dan merupakan sosok family man itu, nyatanya tidak lebih dari sekadar manusia problematik yang menyusahkan banyak orang.


Dan sekali lagi, keluarga besar mereka menutupi hal itu agar nama baik tetap terjaga. Prinsipnya, tidak masalah membuang banyak uang, asal bisa membungkam mulut-mulut orang yang terlibat dalam masalah yang mereka buat, agar nama baik keluarga tidak tercoreng.


Satu-satunya yang tidak pernah membuat masalah di keluarga mereka adalah si anak tengah, satu-satunya anak perempuan yang sayangnya malah mati di usia yang baru menginjak 26 tahun.


Namanya Tante Lily, dulu sewaktu Reno dan Juan masih umur belasan, dan mereka enggan datang ke tempat les seperti yang telah dijadwalkan oleh orang tua mereka masing-masing, Tante Lily akan menjadi tameng. Perempuan itu akan membantu mereka mencari alasan, agar mereka tidak perlu datang ke tempat les dan bisa menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang mereka senangi.


Tetapi setelah Tante Lily meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat beberapa tahun silam, Reno dan Juan benar-benar sudah tidak punya siapapun lagi yang bisa membantu mereka menghadapi kediktatoran yang ada.


Maka, sekali lagi mereka katakan, bahwa Pain Killer adalah rumah. Yang akan mereka datangi pertama kali ketika mereka sudah muak pada sandiwara yang mereka lakoni sendiri.


Sejak mereka kuliah dan bertemu dengan Fabian juga Baskara, Reno dan Juan mulai sedikit demi sedikit berani untuk tidak melakukan apa yang sekiranya mereka pikir berlebihan.

__ADS_1


Pemberontakan kecil-kecilan dilakukan. Meksipun masih ada beberapa hal yang tetap dipaksakan, tetapi setidaknya ada juga beberapa hal yang mulai boleh mereka lakukan sesuai keinginan. Yang penting satu, tetap jaga nama baik keluarga.


"Gue udah booking villa buat next holiday trip. Lo kabarin Fabian sama Baskara deh." Kata Reno, ketika Juan baru saja muncul dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek selutut. Dada bidangnya dibiarkan telanjang, dan rambutnya yang setengah basah dia usak sampai berapa tetes air dari sana menciprat mengenai wajah Reno yang sedang gegoleran di kasur.


"Bangsat! Kena muka gue!" pekik Reno, seketika terduduk di atas kasur.


Namun, Juan santai saja. Pemuda itu sama sekali tidak menanggapi omelan Reno dan malah mengambil posisi duduk di sebelahnya.


Reno ingin sekali memukul wajah tampan Juan ketika pemuda itu sekonyong-konyong merebut ponsel dari tangannya, namun urung saat dalam sekejap saja, dia temukan Juan telah fokus menggulir layar.


"Jangan di villa ini, deh." Kata Juan kemudian, sembari mengulurkan kembali ponsel milik Reno.


"Kenapa?"


"Lo nggak ingat kalau bokap lo dulu pernah bawa selingkuhannya nginep di sana pas kita lagi liburan keluarga?"


Seketika, ingatan Reno seperti ditarik mundur. Jauh ke masa bertahun-tahun silam ketika usianya masih sebelas tahun.


Reno yang kala itu masih terbilang bocah, senang-senang saja diajak liburan. Malahan dia begitu menanti acara liburan itu karena dia bisa sejenak meliburkan diri dari berbagai les yang membosankan.


Tetapi liburan mereka waktu itu tidak berjalan baik. Sebab di malam Natal yang seharusnya terasa hangat, Reno justru melihat ayahnya sedang bercumbu dengan selingkuhannya, yang usianya waktu itu mungkin baru awal dua puluhan.


Bukan cuma Reno saja yang melihat adegan itu, melainkan seluruh anggota keluarga besar mereka, termasuk ibunya.


Malam Natal yang seharusnya dipenuhi sukacita, mendadak berubah menjadi malam berdarah karena sang ibu, untuk pertama kalinya, kehilangan kesabaran.


Wanita itu secara impulsif bergerak mendekat, tanpa basa-basi langsung menarik rambut si selingkuhan dan membawanya ke dapur. Bertepatan dengan itu, air di dalam panci besar yang sedang di masak oleh asisten rumah tangga mereka yang kala itu juga turut diajak liburan, mendidih.

__ADS_1


Seperti sudah kehilangan akal, ibu Reno mendorong kepala si selingkuhan masuk ke dalam panci berisi air mendidih itu. Membuat si perempuan sundel berteriak kesakitan karena seluruh wajahnya melepuh.


Menyaksikan hal itu, seluruh anggota keluarga yang lain, termasuk Reno dan Juan yang masih bocah kala itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka cuma menonton, benar-benar cuma menonton sampai akhirnya ibu Reno merasa puas dan melemparkan tubuh sekarat si perempuan selingkuhan itu ke atas lantai.


Apa yang terjadi selanjutnya? Si perempuan sundel itu dibiarkan terkapar di atas lantai, merintih menahan sakit sampai pagi menjelang, dan barulah mereka mendatangkan seorang dokter kepercayaan keluarga mereka untuk merawat luka si perempuan.


"Bangsat! Kenapa lo ingetin lagi?!" Reno memekik kala kesadarannya telah kembali ke masa sekarang.


Kejadian malam itu sejujurnya menimbulkan trauma yang mendalam baginya. Mulai dari malam itu, dia sering bermimpi didatangi oleh sosok perempuan dengan muka yang rusak.


"Mending gue ingetin sekarang, lah. Daripada lo ingetnya nanti pas udah ada di sana? Apa nggak horor lo kalau tiba-tiba keinget muka rusaknya si cewek sundel itu?"


Reno berdecak. Omongan Juan memang ada benarnya. Nasib baik kenangan itu tidak hadir ketika mereka sedang di tengah-tengah acara liburan.


"Terus, mau sewa yang di mana? Yang keamanannya terjamin cuma villa itu doang." Kesal Reno, sudah mentok, tidak bisa lagi kalau disuruh memikirkan villa mana yang bisa mereka tinggali selama liburan nanti.


"Yang di Seminyak kan juga oke. Emang rada kecil, sih. Tapi masih oke lah kalau buat berempat doang, mah." Usul Juan.


Reno tampak berpikir sejenak, mengingat kembali visualisasi villa yang Juan sebutkan tadi.


Lalu, dia menghela napas panjang saat tidak punya alasan apapun untuk menolak usulan Juan.


"Ya udah, nanti gue booking yang di Seminyak." Finalnya.


Juan cuma mengangguk, sebab bocah itu kini sudah menekuri ponselnya, asik bermain game online.


Reno mendengus, kemudian kembali berbaring di atas kasur dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


Rasa-rasanya, dia ingin membeli sebuah rumah mewah untuk ditinggali bersama anggota Pain Killer yang lain. Supaya dia dan Juan tidak terus-menerus terjebak di rumah besar ini, bersama keluarga besar mereka yang otaknya sama-sama tidak waras.


Bersambung


__ADS_2