
"Lo habis menang balapan Jumat kemarin?" tanya Reno, ketika dia dan anggota Pain Killer yang lain sedang nongkrong di parkiran.
Kelas terakhir mereka dibatalkan, jadi mereka punya waktu lebih banyak untuk nongkrong sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Baskara yang sedang mengulum permen batang rasa lemon cuma mengangguk, matanya fokus menatapi layar ponsel yang kini dia gunakan untuk main mobile game.
"Gue dengar hadiahnya si Jasmine?" sahut Juan, lagi-lagi Baskara cuma mengangguk. Selain karena permen di dalam mulutnya yang membuatnya kesulitan bicara, sebenarnya Baskara juga harus berkonsentrasi pada game sehingga dia memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Juan dan Reno menggunakan kata-kata.
"Lo terima?" tanya Reno lagi.
Baskara mengangguk, lagi. Dan karena hal itu, Reno yang kesabarannya memang cuma setipis tisu wajah akhirnya merasa geram. Pemuda itu bergerak sewot menarik permen dari mulut Baskara, membuangnya ke tong sampah tak jauh dari tempat duduk mereka sehingga membuat sang empunya melenguh kesal.
"Permennya masih banyak!" protes Baskara. Menatap kesal ke arah Reno, namun sedetik kemudian menjadi ciut saat Reno justru balik melotot ke arahnya.
Meksipun badan Reno paling kecil, tapi pemuda itu bisa dibilang jadi yang paling ditakuti di antara mereka berempat. Karena tempramennya yang tinggi, juga karena kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya saat sedang marah.
"Kenapa, sih? Kan, gue udah jawab pertanyaan lo." Rengek Baskara, pasrah saja saat mobile game yang dia mainkan mati dan dia terpaksa log out lebih cepat, hanya untuk mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada Reno.
"Kenapa lo terima Jasmine?" tanya Reno, dengan tatapan yang terasa menusuk tepat ke manik mata Baskara.
Juan dan Fabian cuma jadi penonton. Karena kalau sudah melemparkan tatapan seperti itu, artinya Reno sedang dalam mode serius dan tidak ingin seseorang pun menginterupsi ucapannya.
"Gue cuma menerima hadiah karena menang balapan, Ren."
"Tapi lo jelas tahu gimana reputasinya seorang Samara Jasmine!" sergah Reno, membuat Juan dan Fabian ikutan terlonjak kaget dari tempat mereka duduk.
"Lo nggak takut kalau cewek ular itu ngejebak lo?"
"Ngejebak gimana, sih?" tanya Baskara, yang memang tidak paham mengapa Reno tiba-tiba bicara soal jebak menjebak.
Reno berdecak, merebut rokok dari tangan Juan kemudian mengisapnya sekali sebelum dikembalikan kepada sang empunya. Dia mengembuskan asap rokok dengan kasar, tepat ke depan wajah Baskara sehingga membuat pemuda itu terbatuk-batuk sembari mengibaskan tangan di depan wajah demi mengusir asap yang berputar-putar di sana.
__ADS_1
"Gimana kalau Jasmine ngejebak lo dengan ngaku hamil anak lo, hah?! Lo tahu, kan, dia sekarang jadi jablay karena sugar daddy dia udah nggak sudi ngasih uang bulanan lagi? Jadi, bisa aja dia cari cara buat dapetin ATM berjalan yang baru!"
Kali ini, giliran Baskara yang berdecak. Dia ikut-ikutan merebut rokok dari tangan Juan, menyesapnya sekali seperti yang dilakukan oleh Reno sebelumnya kemudian mengembalikan rokok itu kepada sang empunya, yang cuma bisa pasrah ketika rokoknya digilir oleh dua temannya sekaligus.
"Emang bakal ada yang percaya?" ucap Baskara santai, setelah dia mengembuskan asap rokok dengan cara yang lebih kalem ketimbang yang Reno lakukan tadi.
Tanpa diperingatkan oleh Reno sekalipun, dia juga sudah tahu kalau Jasmine memang memiliki niat terselubung di balik tindakan nekatnya yang bersedia dijadikan hadiah untuk balapan Jumat kemarin. Padahal, itu cukup berisiko karena Baskara bisa saja kalah dan perempuan itu terpaksa tidur dengan yang lain.
Tapi, Baskara maklum kenapa Reno begitu khawatir padanya. Karena pemuda itu tidak tahu bahwa dia punya banyak senjata untuk memukul mundur Jasmine sebelum perempuan itu bahkan bisa berbuat macam-macam dengannya.
Bukan cuma Jasmine saja sebenarnya, dia juga punya banyak senjata untuk melawan siapapun yang hendak mengusik hidupnya dan anggota Pain Killer yang lain. Tanpa teman-temannya tahu, Baskara telah melakukan banyak hal untuk melindungi mereka dari manusia-manusia ular sejenis Jasmine yang hendak mencari keuntungan dari mereka.
"Kalaupun dia beneran hamil anak gue, nggak akan ada yang percaya sama omongan dia. Kenapa? Karena seantero kampus udah tahu gimana liciknya dia." Akhirnya, cuma itu saja yang bisa Baskara jelaskan kepada Reno sebagai alasan yang cukup masuk akal.
"Tapi-"
"Ren," lerai Fabian, ketika Reno mulai memajukan tubuhnya, hendak memulai konfrontasi terhadap Baskara.
"Lo tenang aja, gue nggak seceroboh itu, kok." Baskara berusaha menenangkan kekhawatiran Reno.
...****************...
"Thanks," Baskara berucap pada Fabian yang baru saja mengantarnya pulang. Hari ini, dia memang tidak membawa kendaraan ke kampus karena terlalu malas menyetir.
Fabian, yang tadinya mau membiarkan Baskara langsung turun dari mobil, tiba-tiba saja mencekal lengan pemuda itu ketika ada yang terasa mengganggu di benaknya.
"Apa?" Baskara menatap Fabian setelah terpaku cukup lama pada tangan pemuda itu di lengannya.
"Soal Jasmine ... gue rasa, nggak ada salahnya lo tetap berhati-hati, Bas."
Baskara berdecak. Dia pikir, pembahasan soal Jasmine sudah berhenti di parkiran sore tadi. Rupanya, Fabian masih membawa masalah itu dan baru mengungkapkan isi kepalanya sekarang.
__ADS_1
"Gue udah bilang, nggak ada yang perlu dikhawatirkan soal itu."
"Tetap aja, Bas. Gue punya feeling yang nggak enak soal cewek ular itu. Waktu Deka bilang hadiahnya adalah jablay baru, gue nggak nyangka kalau yang dia maksud itu adalah Jasmine. Kalau gue tahu, gue pasti bakal cegah lo buat ikut balapan."
Baskara mendengarkan ocehan Fabian dengan sabar. Di antara mereka berempat, Fabian termasuk satu yang paling diam. Tapi sekalinya pemuda itu buka mulut, jumlah kata yang akan dia ucapkan bisa berkali-kali lipat lebih banyak.
"Jangan dekat-dekat lagi sama dia, deh. Jaga jarak,"
"Iya, Sayang." Sahut Baskara, dengan gaya selengean yang sontak membuat Fabian kesal dan melayangkan pukulan keras ke bahunya.
"Sakit, anjir!" keluh Baskara, mengusap-usap bahunya yang terasa panas dan dia yakin sudah ada cap tangan Fabian di sana.
"Gue serius! Jangan bercanda mulu hidup lo!" omel Fabian, sembari melotot.
Untuk beberapa alasan, dia kadang melihat sosok Fabian mirip dengan Mama. Sama-sama suka mengomel. Sama-sama suka memukul bahunya. Sama-sama suka melotot sampai bola matanya nyaris copot.
"Ya gue juga serius, anjir." Gerutu Baskara, masih mengusap-usap bahunya.
"Udah deh, lo percaya aja sama gue, Jasmine nggak akan bisa macam-macam kok. Chill, baby, chill."
"Chill matamu!" Fabian sewot, lalu sekonyong-konyong dia mendorong tubuh Baskara agar segera keluar dari mobilnya.
"Sana masuk!" perintahnya setelah Baskara menapakkan kaki di tanah.
"Pokoknya, jangan dekat-dekat lagi sama Jasmine. Awas aja kalau gue sampai lihat lo dekat-dekat lagi sama cewek itu, gue tebas leher lo!" ancam Fabian, membuat Baskara mendengus.
"Dengar nggak gue ngomong apa?!"
"Iya, iya. Bawel banget lo kayak emak gue! Udah sana pulang!" Baskara menutup pintu mobil dengan gerakan sedikit membanting. Kemudian, dia menunjukkan gestur mempersilakan Fabian agar segera melajukan kembali mobilnya.
Fabian tidak menyahut, dan segera melajukan mobilnya setelah Baskara mengambil langkah mundur ke gerbang rumahnya yang tinggi menjulang. Dia bahkan tidak memberikan salam perpisahan kepada pemuda itu, mengabaikan lambaian tangan Baskara dan cuma bisa menghela napas panjang setelah mobilnya melewati persimpangan.
__ADS_1
Sungguh, Fabian memiliki perasaan yang tidak enak terkait Jasmine. Dia khawatir perempuan itu benar-benar akan mengusik Baskara.
Bersambung