
"Ah ... kenyang," Biru menepuk-nepuk perutnya yang terasa penuh berkat makanan yang Fabian buat.
Tadi, sebelum Fabian berangkat ke kampus, ia memaksa pemuda itu untuk memasak sarapan sekaligus makan siang untuknya, sebagai bentuk balas budi karena ia telah bersedia membiarkan pemuda itu menumpang mandi.
Meksipun sambil menggerutu, Fabian tetap melakukannya. Bukan cuma satu, pemuda itu memasak empat menu makanan yang berbeda untuknya, dan Biru tentu bersyukur karena hal itu. Selain menghemat waktu dan tenaga, ia juga bisa menghemat uang karena semua bahan makanan yang Fabian gunakan dibeli dengan uang pemuda itu sendiri.
Urusan perut sudah selesai, piring kotor juga hanya ada satu karena Fabian telah mencuci semua peralatan yang habis dia gunakan. Entah karena terlalu pengertian, atau pemuda itu tidak percaya bahwa Biru bahkan bisa mencuci piring dengan benar. Apapun alasannya, biru tetap bersyukur karena apa yang Fabian lakukan telah banyak membantunya.
Satu piring kotor bekas makan itu kemudian Biru bawa ke wastafel, hanya untuk dia tinggalkan di sana bersama sendok garpu dan gelas kecil yang habis dia gunakan untuk minum. Biar saja, ia akan mencuci peralatan makan itu nanti, ketika niatnya sudah terkumpul banyak dan rasa malasnya menjauh pergi.
Masih dengan kaki yang pincang, Biru berjalan menuju ruang tengah. Bokongnya ia empaskan ke atas sofa selagi tangannya bergerak meraih remot televisi dari atas meja. Tombol power ia tekan sekali, hingga televisi di depannya menyala terang, menampilkan sepasang kekasih yang sedang berciuman.
"Wah, bangsat banget nih drama," gumam Biru yang tidak habis pikir kenapa adegan yang ditampilkan pertama kali harus yang ini.
Adegan ciuman itu berlangsung hampir 45 detik sendiri, membuat Biru nyaris mengganti saluran kalau saja pemeran utama pria di dalam drama Korea itu bukanlah aktor yang dia sukai.
Sehabis adegan ciuman, drama berjalan kembali ke adegan yang lebih relate dengan kehidupan sehari-hari. Drama itu bercerita tentang dua anak manusia yang awalnya saling benci, kemudian berakhir jatuh cinta dan menjalin asrama secara diam-diam di belakang teman-teman mereka yang tahu bahwa mereka bermusuhan sejak pertama kali masuk kuliah sampai kini hampir lulus.
Terdengar klise, tetapi hal-hal semacam itu memang sering terjadi di kehidupan nyata. Sebab, cinta dan benci memang hanya terpisah oleh satu garis tipis. Sebab, tidak peduli apakah kita mencintai seseorang atau justru membencinya, nama orang itu tetap akan sering muncul di dalam kepala.
Sama seperti ketika ia pertama kali jatuh cinta dengan Baskara, dan ketika kini rasa bencinya telah terasa memenuhi seluruh sel di tubuhnya, nama pemuda itu tetap menjadi satu-satunya yang digaungkan begitu lantang di kepalanya. Seolah ada satu bagian di sana yang memang tugasnya untuk mengingat nama itu, bahkan menuliskannya menggunakan tinta permanen agar tidak pernah lekang dimakan waktu.
"Sounds good if we hate each other, then fall in love later." Gumamnya, tanpa sadar telah menyesali fase hubungannya dengan Baskara yang harus jatuh cinta duluan dan menjadi saling benci kemudian.
Padahal, semuanya akan terasa lebih mudah jika mereka saling membenci di awal, kemudian jatuh cinta sejatuh-jatuhnya tanpa tahu caranya untuk berhenti.
"No, Biru. Better nggak usah ketemu cowok bajingan itu sama sekali," satu sisi dirinya yang lain, yang terluka lebih banyak atas keputusan sepihak yang Baskara buat untuk mengakhiri hubungan mereka yang awalnya baik-baik saja, mulai menyuarakan pembelaannya. Seolah tidak terima pada angan yang barusan melintas di kepala Biru tentang bagaimana jadinya jika sampai sekarang ia dan Baskara masih saling cinta.
Kalau sudah begitu, Biru akan kembali merasa dirinya seolah dibelah menjadi dua. Bagian yang kanan mengatakan bahwa ia merindukan Baskara, yang sejauh ini masih menjadi satu-satunya orang yang mengerti dirinya dengan baik. Sedangkan bagian kiri sibuk mencaci maki pemuda itu, melabelinya sebagai manusia paling jahat sedunia dan tidak pantas untuk diberikan cinta.
Seriring dengan adegan di dalam drama yang semakin sampai di puncaknya, Biru juga akhirnya sampai di puncak perdebatan dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dan seberapa banyak pun perdebatan itu terjadi, bagian kiri dari dirinya selalu menang. Membuat tekadnya untuk balas dendam semakin bertambah dari hari ke hari.
...****************...
Menjelang siang, matahari bersinar semakin terik dan kurang ajar. Biru jadi tidak bisa menggunakan hari liburnya untuk duduk bersantai di balkon sambil menikmati semilir angin yang berembus. Karena kalau ia nekat tetap melakukan itu sekarang, yang ada ia akan berakhir menjadi gosong terbakar sinar matahari.
Biru tidak tahu harus melakukan apa, karena sejujurnya dia bukanlah orang yang bisa hanya tinggal diam tanpa kegiatan apapun. Karena kapanpun ia memiliki waktu luang, kepalanya akan kembali ribut dan perdebatan tentang Baskara kembali dimulai.
Tadinya, Biru berniat unuk menelepon Tante Maya, tetapi setelah ia ingat betapa heboh tantenya itu, Biru sepenuhnya mengurungkan niat.
Karena bukannya akan merasa terhibur, dia pasti akan merasa semakin pusing mendengar ocehan Tante Maya tentang dirinya yang harus ekstra hati-hati.
Sudah mentok, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, Biru akhirnya merebahkan diri di atas kasur. Ponsel yang tadi dia selundupkan di bawah bantal dia ambil, kemudian dia iseng membuka galeri ponsel untuk melihat-lihat koleksi foto yang dia simpan di sana.
Mulanya, ia berpikir untuk melihat-lihat kembali foto-foto si kembar, hitung-hitung sebagai penawar rindu. Tetapi, dia malah berakhir terpaku menatap layar ponselnya ketika menemukan satu foto yang dia sendiri bahkan lupa pernah mengambilnya.
Semula, Biru merasa heran kenapa pemuda itu menolak ketika ia hendak mematikan lampu sebelum pergi tidur. Tetapi keheranannya lalu terjawab saat beberapa kali ia dapati kening pemuda itu berkerut di dalam tidurnya, seperti ada sesuatu yang begitu mengganggu terjadi di alam bawah sadarnya.
"Muka lo polos banget anjir kalau lagi tidur, kayak bayi." Gumam Biru. Jemari tangan kanannya tanpa sadar bergerak menyentuh layar, kemudian dengan jari telunjuk dan jempol, ia memperbesar layar, hanya untuk melihat bagian wajah Fabian yang sebenarnya hanya tampak samping.
"Ganteng," ucap Biru beberapa saat kemudian, hanya untuk dia lanjutkan dengan kalimat yang mengundang senyum miris terbit di wajahnya. "Sayangnya, lo temannya Baskara."
Cukup lama Biru membiarkan dirinya tenggelam dalam pesona wajah polos Fabian. Sampai kemudian sebuah ide terbersit di kepalanya. Ide gila yang tentu saja akan menghebohkan jagad Neosantara.
Bersamaan dengan senyum cerah yang terbit secara perlahan, Biru membuka akun Twitter utama miliknya. Akun Twitter yang terdaftar ke base kampus, bukan second account yang dia private dan sempat mendapat permintaan pertemanan dari Fabian dan dua temannya.
Kemudian, Biru meng-klik ikon tanda plus di bagian kanan bawah. Dan tidak lama setelah itu, ia berhasil mengunggah foto Fabian yang tadi ke halaman Twitter-nya. Benar-benar hanya foto, tanpa caption apapun. Tetapi, ia menandai akun base kampus mereka. Karena hanya itu satu-satunya cara agar unggahannya segera ditemukan banyak orang dan ramai menjadi perbincangan dalam sekejapan mata.
"Sip, tinggal tunggu kehebohan yang akan datang selanjutnya," ucapnya puas pada hasil kerjanya sendiri.
__ADS_1
Selagi menunggu unggahannya direspons, Biru bangkit dari tidurnya. Sambil bersiul, ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi, berniat mengguyur kepalanya menggunakan air dingin untuk bersiap menghadapi guncangan dahsyat yang akan datang kepadanya tidak lama lagi.
...****************...
Sementara itu, di kampus, Fabian dan anggota Pain Killer yang lain masih fokus mengikuti kelas yang sedang berlangsung. Mereka benar-benar serius menatap layar proyektor di depan, sampai tiba-tiba mulai terdengar bisik-bisik tetangga yang semakin lama semakin terasa mengganggu.
Bahkan Fabian yang biasanya paling cuek pun sampai menoleh ke arah sumber suara berisik itu, hanya untuk mendapati dirinya ditatap sampai sebegitunya oleh orang-orang yang semula saling berbisik.
"Apaan sih, nggak jelas banget pada." Gerutu Reno. Pemuda mungil itu bahkan sempat melayangkan tatapan tajam kepada beberapa mahasiswa yang dia anggap paling berisik.
"Manusia-manusia tukang gosip," cibir Juan, padahal dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang orang-orang itu bicarakan.
"Cek base sekarang juga." Titah Baskara tiba-tiba, yang membuat Fabian, Reno dan Juan serempak menoleh ke arahnya.
Sadar kalau ketiga temannya malah mematung menatapnya, Baskara mendengus pelan. "Si Biru berulah," ucapnya.
Nama Biru kini sudah seperti mantra bagi semua anggota Pain Killer, terkhusus Fabian. Jadi ketika nama itu disebut, mereka akan segera memasang fokus penuh yang ditujukan hanya untuk gadis itu.
Secara serempak, mereka mengeluarkan ponsel dari saku celana dan langsung mengecek base kampus seperti yang Baskara titahkan sebelumnya.
Lalu, tidak ada di antara mereka yang sanggup berbicara ketika melihat base kampus sudah penuh dengan cuitan tentang Fabian yang menginap di apartemen Biru, dan dugaan bahwa mereka telah secara resmi berpacaran.
Bahkan Baskara yang biasanya cerewet pun kini tidak punya lagi stok kata-kata untuk dikeluarkan. Dia terlalu syok, tidak menyangka bahwa Sabiru yang dia kenal dari bertahun-tahun yang lalu telah berubah menjadi sosok yang begitu asing.
Karena Sabiru yang dia kenal tidak begini. Sabiru yang dia kenal adalah gadis keras kepala, yang tidak akan membiarkan laki-laki manapun mendekat, kecuali ia yang lebih dulu membuka hatinya.
Dan fakta itu menampar Baskara berkali-kali lipat lebih keras, seolah menyadarkannya bahwa kemungkinannya hanya ada dua. Antara Biru telah berubah menjadi gadis yang agresif, atau gadis itu telah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap yang Fabian pasang dan berhasil membawa Fabian menang dalam taruhan yang mereka buat.
Yang manapun kemungkinannya, itu tetap membuat Baskara merasakan sesak di dada. Sebab ia tidak ingin Sabiru-nya berubah. Ia tidak ingin Sabiru jatuh cinta, selain kepada dirinya.
Bersambung
__ADS_1