
Vibes liburan di hari minggu ternyata benar-benar hanya sampai pertengahan hari saja. Menjelang sore, hawa tidak enak dan rasa malas untuk menjalani hari senin sudah menguasai sel-sel di seluruh bagian tubuh. Hal itu dirasakan oleh Biru sekarang ini. Jam telah menunjukkan pukul 4 sore dan yang bisa dia lakukan sedari tadi hanya gegoleran di atas sofa bersama Baskara yang gelesotan di atas lantai sembari memainkan ponselnya.
Menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya secara perlahan. Itu dilakukan secara terus-menerus. Hingga hal itu akhirnya membuat Baskara terlihat terganggu. Pemuda itu meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu memutar tubuhnya, dan bertemulah tatapan mereka di satu garis lurus ketika di saat yang bersamaan pula, Biru sedang merubah posisi rebahannya menjadi duduk.
“Kenapa?” tanya Baskara.
Biru merengut, “Gue kesel.” Adunya.
“Iya, keselnya kenapa?”
“Udah jam 4 sore. Dikit lagi hari minggu-nya habis.” Bibir bawah Biru semakin maju, tatapannya pun mendadak menjadi sendu. “Bisa nggak sih, hari minggu-nya diulang lagi?” tanya gadis itu kemudian.
Baskara berdecak pelan. Kalau dia punya kekuatan super untuk menghentikan waktu, sudah pasti harapan tidak masuk akal yang Biru sampaikan barusan akan dia kabulkan dengan senang hati. Tapi berhubung dia tidak punya kemampuan seperti itu, yang bisa dia lakukan sekarang cuma mencari cara untuk memperbaiki mood sang pujaan hati yang kelabu.
Butuh beberapa lama sampai sebuah ide muncul di kepala Baskara. Dan tak ingin membiarkan ide itu hanya mengendap di kepala, ia pun bangkit lalu mengulurkan tangan kepada Biru sebagai langkah pertama untuk merealisasikannya.
Biru memandangi uluran tangan itu selama beberapa saat, terlihat sangsi untuk menerimanya sebab masih tidak tahu hendak dibawa kemana ia jika uluran itu akhirnya dia sambut.
Tapi kemudian, setelah mengembuskan napas pelan, dia tetap meraih uluran tangan itu walaupun dengan gerakan mau-tak-mau. Seketika itu juga, lengannya disentak kuat, membuat tubuhnya terhuyung hingga nyaris terjungkal dari sofa. Nasib baik Baskara sigap menahan tubuhnya sehingga tidak terjadi adegan jatuh yang menyedihkan.
“Mau ke mana?” tanya Biru ketika Baskara mulai menuntunnya menuju pintu depan.
“Jalan-jalan.” Sahut yang laki-laki. Lalu tak ada lagi obrolan yang terjadi selama mereka berjalan beriringan menyusuri lorong yang sepi menuju lift.
Enam menit mereka berdiri di depan pintu lift dengan tangan yang saling bertaut, hingga akhirnya pintu lift terbuka, menampakkan tiga orang penumpang yang tiga-tiganya turun di lantai yang sama. Setelah membiarkan tiga orang tadi keluar, barulah Biru dan Baskara masuk ke dalam lift.
Kerutan seketika muncul di kening Biru saat Baskara justru menekan angka 13—yang merupakan lantai tertinggi di gedung apartemen ini. Padahal dia pikir Baskara akan membawanya ke basement untuk kemudian berkendara menggunakan mobil.
Tapi ... untuk apa mereka pergi ke lantai teratas gedung apartemennya?
Biru hendak bertanya, tapi energinya seakan telah habis tak tersisa karena kadung dilahap rasa malas dan aura negatif lain yang muncul dari bayang-bayang hari senin. Akhirnya, dia menelan kembali rasa penasarannya. Dia biarkan genggaman tangan Baskara semakin erat, seiring dengan semakin dekatnya mereka dengan lantai yang dituju.
Hingga sampailah mereka. Baskara menuntunya menuju pintu akses ke rooftop setelah pintu lift terbuka. Selama tinggal di sini, Biru tidak pernah menjelajah ke lantai lain, apalagi sampai ke rooftop. Jadi dia agak heran ketika menyaksikan Baskara agaknya hafal sekali seluk-beluk tempat tinggalnya ini.
Tapi lagi-lagi, keheranan itu ditelan bulat-bulat karena setelah mereka berhasil menerobos pintu dan menginjakkan kaki di rooftop, ia justru dibuat takjub.
Langit di atas mereka berwarna keemasan, dengan semburat oranye dan merah muda yang saling tumpang tindih. Samar-samar, tampak juga sedikit warna biru dan putih yang nyempil di antara warna-warna hangat yang mendominasi.
Biru bukan tipikal anak senja. Bukan manusia romantis yang suka duduk diam di balkon kamarnya untuk menyaksikan pergantian waktu dari siang ke malam hari. Tapi melihat perpaduan warna yang cantik terhampar luas di depan matanya saat ini telah berhasil menggerus perasaan tidak nyaman yang mendominasi hatinya sedikit demi sedikit.
"Nongkrong di sini, nungguin matahari pulang."
Biru menoleh, menemukan Baskara yang ternyata turut melabuhkan pandangannya ke atas. Mata pemuda itu tampak berbinar, sedang sudut-sudut bibirnya terlihat terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang menenangkan.
"Sejak kapan lo jadi anak senja?" goda Biru.
Baskara terkekeh pelan, lalu mengalihkan pandangan dari langit ke arah Biru yang tanganya masih ia genggam.
Beribu-ribu kosakata yang dia pelajari sepanjang hidup, mendadak kabur entah ke mana. Tak ada yang bisa dia pakai untuk mendeskripsikan betapa indah mahakarya yang Tuhan ciptakan dalam bentuk manusia yang kini berdiri di sampingnya ini. Wajah Biru yang tertimpa cahaya matahari yang belum sepenuhnya pulang, tampak berkali-kali lipat lebih cantik daripada biasanya. Seperti Tuhan memang sedang dalam suasana hati yang riang ketika menciptakan manusia bernama Eleena Sabiru ini.
"I love you." Ucap Baskara tiba-tiba. Benar-benar di luar konteks sehingga memancing gelak tawa Sabiru.
"Random banget, but—" Biru menjeda sebentar, hanya untuk membuat tubuh mereka saling berhadap-hadapan. "I love you too." Lanjutnya, diakhiri kekehan canggung karena ini benar-benar bukan gaya mereka.
Baik dulu maupun sekarang, ungkapan cinta mereka tidak pernah datang dalam bentuk kata-kata. Mengucapakan kalimat I love you dan semacamnya dengan terlalu gamblang sering kali membuat mereka geli sendiri.
Tapi sore ini sepertinya adalah sebuah pengecualian.
"I love you more." Bisik Baskara. Entah bagaimana, wajah pemuda itu kini sudah berada tepat di depan Sabiru. Membuat napas mereka saling beradu.
Senja yang hangat, berpadu apik dengan tatapan yang lekat. Suasana seperti ini sudah mirip dengan adegan di dalam drama-drama romantis yang sering Biru tonton. Bedanya, tidak ada kissing scene yang terjadi di antara mereka. Karena sebelum mereka semakin larut dalam suasana, suara gebrakan yang berasal dari pintu di belakang mereka seketika membuyarkan segalanya.
__ADS_1
Biru dan Baskara menoleh ke arah pintu, lalu sama-sama bingung saat mendapati seorang remaja laki-laki berseragam SMP yang berdiri mematung di ambang pintu besi itu. Penampilan remaja itu tampak lusuh. Rambut ikalnya yang dicat warna cokelat gelap tampak acak-acakan. Dasi berwarna biru tua yang menggantung di lehernya sudah nyaris lepas. Baju seragam yang dia kenakan sudah keluar, dan tiga kancing paling atas terbuka—menampakkan kaus dalam berwarna putih pudar.
Sekilas, tidak ada yang aneh. Orang yang melihat mungkin akan berpikir bahwa remaja laki-laki itu hanya pelajar SMP biasa yang baru pulang dari les dan datang ke rooftop untuk healing tipis-tipis demi menghilangkan lelah dan stres dari materi pelajaran yang diterima seharian.
Tapi setelah Baskara perhatikan lebih saksama, dan menemukan tubuh remaja itu mulai bergetar hebat, Baskara tahu ada yang tidak beres.
"Bas," Biru berbisik pelan.
Baskara memberkan kode pada Biru untuk tidak melanjutkan ucapannya, karena sepertinya dia tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu saat ini.
Genggaman tangan mereka perlahan-lahan dilepaskan oleh Baskara, lalu dengan tenang, pemuda itu mulai mengambil langkah mendekati remaja laki-laki yang tubuhnya semakin terlihat bergetar itu.
"Hai, mau ngobrol sebentar?"
...****************...
Asap rokok mengepul di depan wajah Baskara. Beberapa kali ia dibuat terbatuk-batuk oleh asap yang keluar dari rokok yang dihisap oleh remaja laki-laki yang kini duduk gelesotan di sampingnya.
Usahanya untuk membujuk remaja laki-laki—yang kemudian dia ketahui bernama Dyo—itu untuk mengobrol dengannya tidak berakhir sia-sia. Dengan sedikit mengandalkan kemampuannya merayu wanita, juga sebungkus rokok yang selalu dia bawa ke mana-mana, ia akhirnya bisa mengajak Dyo duduk bersama. Sabiru sudah dia singkirkan. Dia paksa kembali ke unitnya karena Dyo tampak tidak nyaman selama masih ada gadis itu di sekitar mereka.
"Mereka terlalu strict." Keluh Dyo setelah menuntaskan satu rokok. Seakan tidak puas, anak itu menyalakan satu lagi. Baskara sama sekali tidak keberatan. Bahkan kalaupun Dyo mau, anak itu bisa menghabiskan sisa rokok di dalam bungkus itu.
"Ambisi mereka untuk punya anak-anak yang sukses benar-benar membuat kami tersiksa." Lanjut Dyo lagi setelah menghisap rokoknya beberapa kali.
Sejauh ini, Baskara masih menjadi pendengar yang baik. Tak sedikitpun dia pernah memotong ucapan Dyo, sekalipun lidahnya gatal sekali ingin menanyakan banyak hal.
"Padahal, Abang udah jadi korbannya. Tapi mereka seakan nggak kapok sama sekali." Dyo masih mengoceh. Dua kali menghisap rokok, sekali bercerita. Dari tadi selalu terus begitu.
"Dua tahun lalu, Abang gagal masuk universitas yang Papi mau. Akibatnya, Papi marah besar. Abang dipukulin sambai babak belur, terus setelah puas, Abang diseret ke kamar dan disuruh buat belajar lebih giat. Katanya, kalau nggak bisa masuk universitas yang Papi mau, paling nggak Abang tetap harus masuk ke universitas pilihan yang ke-2." Dyo tersenyum sumir. Sejenak, tatapannya tampak kosong. Rokok yang terapit di sela-sela jemari kurusnya juga dia biarkan terbakar begitu saja tanpa niatan untuk dia hisap lebih banyak. "Katanya, pilihan Abang cuma dua; jadi dokter supaya bisa dibanggakan ke semua orang atau mati."
Mendengar kata mati, perasaan Baskara sudah tidak enak. Apalagi saat Dyo perlahan-lahan menoleh ke arahnya, dan remaja itu menampakkan raut wajah nelangsa serta mata yang dipenuhi kabut bening. Baksara tahu, sesuatu yang buruk pasti telah terjadi kepada seseorang yang Dyo sebut Abang itu.
Perasaan seperti itu adalah teman akrab bagi Baskara. Keinginan untuk mati bukan cuma sekali dua kali datang menghampiri dirinya. Tapi setelah mendengar cerita Dyo, dia seketika malu. Merasa terlalu lemah karena terus mengharapkan kematian hanya karena tidak lagi mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ayahnya, meskipun ada sang ibu yang tak kurang-kurang menghujaninya dengan cinta. Sementara ada anak lain seperti Dyo yang bahkan tidak mendapatkan kasih sayang baik dari ibu ataupun ayahnya.
"Saya capek, rasanya benar-benar mau mati." Suara Dyo benar-benar kedengaran putus asa.
"Lo di sini mengunjungi siapa?" tanya Baskara tiba-tiba, tanpa konteks yang jelas, membuat Dyo terlihat kebingungan. "Gue yakin lo nggak tinggal di kompleks apartemen ini." Baskara melanjutkan sebelum Dyo semakin bingung.
Dyo membuang napas pelan, "Teman." Jawabnya, lalu kembali menghisap rokok yang sempat dia lupakan.
"Bertahan buat dia." Kata Baskara seraya mendongakkan kepala memandangi langit yang semakin berubah gelap.
Dyo menoleh lagi ke arahnya. Bibirnya setengah terbuka karena baru saja mengembuskan asap rokok.
"Gue pernah ada di posisi lo—pengin mati—tapi gue sadar kalau mati nggak pernah bisa jadi solusi. Kematian mungkin bakal bikin gue terlepas dari masalah dan kesedihan yang menimpa gue selama di dunia tapi, kematian itu juga bakal ninggalin luka lain buat orang-orang yang masih hidup—terutama yang punya hubungan dekat dengan gue."
"Termasuk cewek yang tadi?" tanya Dyo.
Baskara mengangguk, "Dia salah satu alasan gue untuk tetap hidup. Dulu, gue pernah kehilangan dia sekali. Jadi sekarang pas Tuhan masih kasih gue kesempatan untuk bisa dapetin dia lagi, gue nggak mau nyia-nyiain kesempatan itu sedikit pun. Persetan sama semua masalah yang menimpa gue, selama masih ada dia, gue akan tetap hidup. Karena gue harus pastiin di bahagia."
"Terus, kalau Tuhan ambil dia dari Mas lagi, apa Mas akan mati?" tanya Dyo.
"Mungkin." Jawab Baskara. Ia menoleh lagi ke arah Dyo, menatap mata remaja itu lekat-lekat. "Tapi kan itu belum tentu terjadi. Jadi buat apa gue berpikir sejauh itu? Bukannya yang terpenting, sampai saat ini dia masih ada di samping gue? Menjadi alasan gue untuk tetap hidup demi mencintai?"
Rokok milik Dyo masih tersisa setengah, tapi anak itu sudah tidak berminat lagi untuk menikmatinya dan lebih memilih untuk mematikannya. Karena sekarang ini, dia merasa lebih tertarik untuk gantian mendengarkan perkataan Baskara lebih banyak.
"Lo masih muda, masih belum tahu banyak tentang dunia. Ada hal-hal indah di luar sana yang belum lo coba, jadi jangan mati dulu."
"Tapi kalau rasanya udah nggak kuat?"
"Cari teman lo. Gue yakin lo nggak akan ada di sini kalau dia bukan merupakan salah satu orang yang lo percaya."
__ADS_1
Dyo mengangguk mengiyakan. "She's my first love." Akunya.
Baskara mengulum senyum mendengar pernyataan itu. Ada perubahan yang cukup siginifikan ketika Dyo mulai membahas soal sang teman.
"Pacar?" selidik Baskara dengan tatapan yang jenaka.
Dyo terkekeh, lantas menggeleng pelan. "Belum. Saya nggak berani ngajak dia pacaran karena nggak bisa menjanjikan apa-apa. Saya rusak, jadi saya nggak berani buat mengikat dia."
"Maka jadikan itu sebagai alasan buat bertahan. Pikirin kalau lo harus hidup lebih lama, memperbaiki apa yang menurut lo rusak, lalu datang kepada dia buat menyatakan cinta."
"Kalau dia menolak?"
"It's her loss, not yours. Kalau dia menolak buat dicintai sama orang hebat kayak lo, berarti memang bukan dia orangnya."
"Itu artinya saya nggak akan punya alasan lagi buat bertahan hidup, bukan begitu?"
Baskara menggeleng seraya tersenyum. "Masih tetap ada."
Tak paham, Dyo tampak mengerutkan keningnya.
"Ingat, lo harus sampai di tahap udah berhasil memperbaiki apa yang rusak sebelum akhirnya menyatakan cinta. Itu artinya, udah nggak ada lagi yang rusak dari diri lo ketika penolakan itu datang pada akhirnya. Lo jelas masih punya alasan buat hidup, karena setidaknya, lo udah nggak rusak lagi. Percaya sama gue, kalau lo udah berhasil ada di tahapan itu, lo udah nggak akan lagi kepikiran yang namanya mati. Cuz your life gets better every single day."
Dyo termenung, berusaha mencerna ucapan Baskara baik-baik. Kata demi kata, tanpa sedikitpun yang terlewat agar tidak terjadi mispersepsi.
Sementara Dyo melakukan itu, Baskara kembali dalam mode pendengar. Habis sudah semua hal yang ingin dia sampaikan. Kini, dia tinggal menunggu sampai Dyo selesai merenung sembari menyiapkan telinga untuk mendengarkan lebih banyak cerita—jika Dyo berkenan.
...****************...
Biru mondar-mandir di ruang depan, gelisah menunggu Baskara yang tak kunjung kembali padahal waktu terus berjalan. Memang tidak terlihat, tapi Biru yakin langit sudah sepenuhnya berubah gelap. Hujan mungkin juga akan turun sebentar lagi karena beberapa saat yang lalu, ia sempat mengintip prakiraan cuaca melalui ponselnya.
"Apa gue susul aja ya? Kok jadi khawatir kenapa-kenapa." Gumamnya. Ia berhenti mondar-mandir, kini terpaku menatap pintu apartemennya sambil masih mempertimbangkan apakah ia akan menyusul Baskara atau tidak.
Belum selesai ia berpikir, pintu yang dia pandangi terbuka. Muncul Baskara dari sana, dengan senyum tipis yang terpatri di wajah tampannya.
"Bas," Biru berderap menghampiri Baskara. Ia hendak memberondong pemuda itu dengan banyak sekali pertanyaan yang berseliweran di dalam kepalanya. Namun, belum sampai terbuka mulutnya, ia sudah dibuat bungkan saat tubuhnya ditarik secara tiba-tiba oleh Baskara. Pemuda itu memeluknya, erat sekali. Seolah takut kalau ini adalah kali terakhir mereka bisa berpelukan seperti ini.
"Bas, you okay?" tanya Biru khawatir. Baskara memang clingy dan cenderung suka ndusel tanpa tahu tempat dan situasi. Tapi kalau caranya memeluk sudah sampai seperti ini, dia tahu perasaan pemuda itu tidak sedang baik-baik saja.
"Apa yang lo obrolin sama anak tadi? Ada yang salah? Ada obrolan kalian yang bikin lo terluka?"
"Nope." Baskara menjawab cepat. Namun, pelukannya masih tidak dilepas, bahkan semakin terasa dieratkan. "Gue malah dapat banyak banget pelajaran dari Dyo. Dia bikin gue sadar kalau sebrengsek apapun hidup yang gue jalani, ternyata masih ada banyak hal yang bisa gue syukuri. Termasuk lo."
"Bisa lepasin sebentar? Gue harus pastiin lo benar-benar oke." Biru berusaha melepaskan pelukan Baskara. Untungnya, pemuda itu mau mengerti dengan melonggarkan pelukannya. Iya, hanya dilonggarkan. Karena sepertinya pemuda itu tidak rela kalau mereka harus berjauhan.
Sebelum Baskara kembali mendekapnya seperti tadi, Biru memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk menjelajah ke dalam manik pekat sang pemuda. Berusaha mencari kebohongan atau apapun itu yang sedang berusaha Baskara sembunyikan darinya. Tapi nihil, dia tidak menemukan apa-apa.
"You okay? Really?" tanyanya memastikan sekali lagi.
Baskara mengangguk yakin, "I'm okay. I just want to hug you tight. Boleh?"
"Sure."
"Thanks, Baby." Baskara kembali memeluk Biru, menyadarkan dagunya di pundak sang gadis sambil memejamkan mata. "Thanks udah kasih gue kesempatan buat bisa meluk lo lagi kayak gini, Blue. It means a lot to me."
"Gue nggak tahu lo lagi kenapa, but if hugging me makes you feel better, then just do it." Kata Biru seraya membalas pelukan Baskara dengan tidak kalah eratnya.
Bersamaan dengan hujan yang betulan turun seperti prakiraan cuaca yang biru lihat sebelumnya, pelukan mereka semakin erat dan terasa hangat.
Bersambung
Sayang-sayangan aja dulu, siapa tahu besok ada huru-hara 😌😌
__ADS_1