
Sesampainya di rumah setelah mengantarkan Baskara, Fabian langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya, mengabaikan eksistensi Raya (ibunya) yang terduduk sendirian di ruang tengah dengan satu kaleng bir di tangan. Di lantai dekat sofa, berserak berkaleng-kaleng bir lain yang sudah dalam keadaan kosong.
Bagi Fabian, pemandangan seperti itu sudah biasa. Jadi, dia tidak akan berinisiatif untuk menyuruh ibunya itu berhenti minum. Seperti hari-hari biasanya, dia hanya akan membiarkan Raya menenggak minumannya sampai pingsan. Barulah ketika wanita itu tidak sadarkan diri, Fabian akan menggotong tubuhnya dan menidurkan wanita itu di atas kasurnya.
Di kamar, Fabian langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Merogoh ponsel dari saku celana dan berkutat sebentar dengan benda pintar itu. Hanya untuk dibuat tergelak saat menemukan unggahan yang dibuat oleh Reno dan Juan di waktu yang hampir bersamaan.
Melalui akun Instagram pribadi mereka masing-masing, dua pemuda itu mengunggah foto kebersamaan mereka dengan keluarga besar ketika menghadiri acara makan malam Jumat kemarin. Sekali lihat saja, dia sudah tahu kalau foto yang diunggah oleh Reno dan Juan adalah satu foto yang sama.
Di bagian caption, Reno dan Juan menuliskan sesuatu yang benar-benar sama persis, bunyinya begini : At our family dinner. Disisipi emotikon hati berwarna merah sebanyak dua buah.
Kalau ini orang lain, Fabian mungkin akan percaya bahwa itu adalah sebuah foto yang diambil di sebuah acara makan malam keluarga, di mana semua anggota keluarga tampak berbahagia dan dipenuhi sukacita.
Tetapi karena ini adalah Reno dan Juan, dan Fabian tahu bagaimana sebenarnya hubungan sepasang sepupu itu dengan keluarga mereka masing-masing, maka yang bisa Fabian tangkap justru kegetiran yang terpancar dari sorot mata kedua temannya itu.
Fabian jelas tahu bahwa Reno dan Juan terpaksa ada di sana, menghadiri acara yang sejatinya tidak pernah membuat mereka nyaman.
Puas menertawakan nasib sial temannya (yang tidak lebih sial ketimbang nasibnya sendiri), Fabian pun bangkit dari kasur. Dilemparkannya ponsel ke atas kasur, lalu dia berjalan menuju kamar mandi.
Hari ini, entah kenapa cuaca begitu terasa panas. Karena hal itu, Fabian juga jadi berkeringat lebih banyak dari biasanya.
Maka, di kesempatan malam ini, Fabian memutuskan untuk mengguyur tubuhnya menggunakan aliran air dingin melalui shower.
Fabian melepaskan kaus yang dia kenakan dan langsung dia lempar ke dalam keranjang pakaian kotor yang ada di pojok luar pintu kamar mandi. Lalu, dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi masih dengan nenggunakan celana panjang.
__ADS_1
Namun, perhatian Fabian seketika tercuri ketika dia berjalan melewati kaca besar yang ada di kamar mandi. Dia langsung fokus pada bekas luka tusukan yang ada di dada sebelah kiri.
Fabian berjalan mendekati kaca, terpaku cukup lama dengan tangan yang merambat naik menyentuh bekas lukanya sendiri.
Luka itu sudah lama kering, jahitan yang dia terima sudah lama menyatu kembali dengan kulit. Tapi rasa sakitnya masih ada, bahkan semakin terasa menyiksa tiap kali dia memandangi bekas luka itu untuk waktu yang cukup lama.
Ingatan Fabian kembali terlempar ke masa beberapa tahun silam, ketika usianya baru menginjak sembilan tahun dan dia masih terlalu naif untuk menyadari bahwa dunia ini begitu kejam.
Malam itu, listrik tiba-tiba padam di saat hujan sedang turun sangat deras di luar. Kilat menyambar-nyambar, suara petir terdengar menggelegar dan angin yang berembus menerpa ranting pepohonan di sekitar rumah semakin menambah suara bising yang Fabian kecil dengar malam itu.
Fabian kecil tidak tahu tepatnya malam itu sudah menyentuh jam berapa. Yang jelas, dia baru saja terbangun dari tidurnya karena merasa kepanasan dan menemukan semua lampu di dalam kamarnya telah padam.
Dengan keberanian yang dia miliki sebagai anak kecil berusia sembilan tahun, Fabian berjalan keluar dari dalam kamar. Menyentuhkan telapak tangannya di tembok untuk membantunya menyusuri jalanan.
Dia hendak turun ke ruang tengah, berniat menemukan lilin batang yang biasa ibunya simpan di laci dekat televisi untuk kemudian dia nyalakan demi menerangi malamnya yang gulita.
Ketika ibunya menyadari kehadirannya, Fabian pikir dia akan dimarahi seperti hari-hari biasanya.
Namun, alih-alih dimarahi, Fabian justru menemukan ibunya tersenyum. Barangkali, itu adalah kali pertama Fabian melihat wanita yang telah melahirkannya itu tersenyum kepadanya.
Karena selama ini, yang Fabian selalu lihat dari wanita itu adalah wajah marah dan yang selalu diperdengarkan kepadanya adalah teriakan-teriakan penuh caci maki yang seharusnya tidak dikatakan kepada anak-anak seperti dirinya.
Malam itu, Raya bukan cuma tersenyum kepadanya. Wanita itu juga melambaikan tangan, meminta dirinya untuk berjalan mendekat dengan senyum yang masih tersungging dan terasa begitu memikat.
__ADS_1
Fabian kecil yang polos pun menurut. Dia berjalan menghampiri Raya dengan harapan bahwa ketika dia sampai di hadapan sang ibu, dia akan mendapatkan pelukan hangat yang memang telah dia damba selama ini.
Senyum terbit di bibir Fabian kecil saat langkahnya semakin dekat dengan sang ibu. Apalagi saat matanya menangkap pergerakan sang ibu yang mulai bangkit dari duduknya, seperti sedang mempersiapkan diri untuk menyambut anak laki-lakinya ke dalam pelukan.
Tetapi, angan yang Fabian lambungkan begitu tinggi itu seketika pupus, ketika yang dia dapatkan bukanlah sebuah pelukan, melainkan tusukan yang terasa menyakitkan tepat di dada kirinya.
Rupanya, Raya telah menyimpan pisau dapur di tangannya dan menunggu waktu yang tepat untuk menghunuskannya ke tubuh putranya sendiri.
Berbanding terbalik dengan Fabian yang merintih kesakitan dan memohon untuk dilepaskan, Raya justru tersenyum senang saat darah mulai merembes membasahi kaus yang Fabian kecil kenakan. Bahkan, senyum itu kian terkembang ketika dilihatnya wajah Fabian mulai kehilangan ronanya dan bibir mungil bocah itu mulai melemah, tidak sanggup lagi melontarkan rintihan.
Dan sebelum nyawa Fabian benar-benar terenggut malam itu, dua orang datang menghampiri mereka dan segera menerjang tubuh Raya agar menjauh dari Fabian dan berhenti menyakiti anak itu.
Dua orang itu adalah pengasuh Fabian dan seorang satpam. Keduanya membagi tugas, satu menenangkan Raya dan satu lagi menelepon ambulans untuk menyelamatkan nyawa Fabian.
Malam itu menjadi malam paling menakutkan bagi Fabian. Malam yang meninggalkan trauma mendalam dan membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap kali hujan lebat turun dan kamarnya dalam keadaan gelap.
Tapi anehnya, meskipun nyawanya hampir direnggut oleh ibu kandungnya sendiri, Fabian kecil yang bodoh masih tetap saja berusaha untuk mendapatkan cinta dari wanita itu.
"Goblok," gumam Fabian ketika kesadarannya telah kembali.
Mengingat kembali tentang kejadian buruk malam itu ternyata menguras lebih banyak energi. Sampai kini Fabian merasakan tubuhnya telah dipenuhi peluh dan napasnya agak terasa pendek.
Tidak ingin semakin tenggelam dalam luka yang mati-matian berusaha dia kubur, Fabian segera beranjak dari hadapan kaca. Buru-buru dia berdiri di bawah shower dan memutar keran, hingga butiran air segera jatuh membasahi tubuhnya yang belum sepenuhnya telanjang.
__ADS_1
Fabian memejamkan mata, membiarkan aliran air itu membasuh seluruh tubuhnya, sekaligus membawa pergi segala ingatan buruk dari dalam kepalanya.
Bersambung