Taruhan

Taruhan
Jealousy


__ADS_3

"Cium orang yang duduk di sebelah kiri lo. Bebas, mau di mana aja." Titah Reno dengan senyum jahil yang terbit lebar sekali.


Sabiru lantas menoleh pada Fabian, melakukan kontak mata cukup lama dengan pemuda itu sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Reno yang masih menanti jawaban.


Seloki sudah diisi penuh, Biru meliriknya sekilas dengan bayang-bayang senyum jahil Reno yang menyebalkan. Ia punya opsi untuk menenggak Soju itu, karena toh isinya yang tidak seberapa tak akan sampai membuatnya mabuk. Namun, keputusan itu tidak ia ambil ketika menyadari bahwa mencium Fabian sekarang ini, di depan anggota Pain Killer—terutama Baskara—bisa menjadi langkah balas dendam yang lumayan. Hitung-hitung untuk membalas perbuatan semena-mena yang Baskara lakukan kepadanya beberapa waktu lalu, sekaligus menunjukkan bahwa ia memang bukan lagi si gadis polos nan lugu yang dulu.


Maka Biru mendorong seloki menjauh, membuat bukan hanya Reno tetapi juga seluruh peserta permainan menampakkan raut wajah terkejut yang begitu kentara. Itu bagus, pikir Sabiru. Karena memang itu yang dia tunggu.


Perlahan, Biru mendekat ke arah Fabian. Ia menatap lurus ke manik mata pemuda itu sebelum melakukan aksinya. Lalu tanpa permisi, ia melabuhkan kecupan di bibir Fabian, membuat sang empunya membulatkan mata tak percaya merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya dengan semena-mena. Satu kecupan, kemudian Biru menjauhkan wajahnya.


Di saat semua orang berpikir gadis itu akan berhenti hanya sampai di sana, Biru malah membuat mereka semakin tak bisa berkata-kata kala wajahnya kembali mendekat ke arah Fabian. Kecupan ke-2 dilabuhkan, yang kemudian berubah menjadi sesapan-sesapan halus nan pelan. Ia memejamkan mata, berpura-pura menikmati perbuatannya sendiri padahal yang tampak di dalam bayangannya adalah raut wajah kesal milik Baskara kala ia sempat mencuri pandang ke arah pemuda itu sebelum melakukan aksinya.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu ketika Biru akhirnya berhenti bermain. Dengan senyum miring yang terbit tak kentara, ia melirik ke arah Baskara yang tampak membeku di tempatnya. Otot-otot di sekitar leher pemuda itu tampak menegang, dan Biru bisa melihat kedua tangan Baskara mengepal erat di atas paha.


Seakan belum puas, Biru malah melakukan sesuatu yang semakin membuat rahang Baskara mengeras. Gadis itu mengulurkan tangan, mengusap bibir bawah Fabian yang habis ia serang menggunakan ibu jarinya dengan gerakan super-pelan.


"W-wow." Samar-samar, terdengar suara Reno berkomentar.


Baskara melirik tajam ke arah Reno, yang telah tanpa sengaja memberikan peluang bagi Biru untuk bertindak demikian. Namun karena sadar ia tidak bisa meluapkan emosinya kepada pemuda itu secara terang-terangan, Baskara pun berakhir meraih seloki kemudian menenggak isinya sampai tandas.


"Balik yuk," ajaknya dengan suara yang ia tahan sedemikian rupa agar tidak menampakkan emosinya.


"Ayo," Fabian yang masih merasa kikuk pun bangkit dari duduknya setelah menjauhkan diri dari Sabiru yang masih saja menempel di sisinya. "Lo ikut mobil gue lagi, kan?"


"Gue ikut mobil Reno." Baskara menyahut datar, kemudian ikut bangkit dari duduknya. "Lo anterin cewek lo aja." Dengan penekanan yang kentara ketika ia menyebut cewek lo sambil melirik ke arah Sabiru yang tersenyum miring di posisi duduknya.

__ADS_1


"Oh, oke." Fabian berucap pelan.


Baskara tidak berkata apa-apa lagi dan segera berjalan mendahului teman-temannya yang lain. Beberapa barang yang ia tinggalkan di atas meja ruang depan buru-buru dia masukkan ke dalam tas, lalu ia berjalan ke halaman depan setelah memastikan tidak ada yang tertinggal.


Reno dan Juan menyusul setelah membereskan botol Soju dan seloki yang ada di atas lantai serta memasukkan sampah bekas makanan dan minuman ringan ke dalam sebuah kantong kresek besar yang sudah dipersiapkan.


Lalu, keheningan terasa begitu mencekam setelah kini hanya tersisa Biru dan Fabian di ruang depan.


...****************...


"Thanks." Biru menutup pintu mobil pelan-pelan, kemudian menoleh ke arah Fabian yang sudah berdiri di sampingnya. "Mau mampir dulu atau langsung pulang?" tanyanya.


Fabian tak menjawab. Pemuda itu justru memaku tatap cukup lama dengannya sambil menampakkan ekspresi yang sama sekali tidak bisa ia raba.


"Bi?"


"Lo tahu gue nggak minum alkohol, jadi yang bisa gue pilih ya cuma nyium lo." Jawab Biru pada akhirnya, ketika ia tidak memiliki alasan lain yang cukup masuk akal. Sedari awal, dia hanya fokus untuk melancarkan aksi balas dendam terhadap Baskara, tanpa menyiapkan apa-apa untuk menghadapi Fabian yang ia jadikan sarana balas dendam. Ya, itu memang salahnya. Tolong kembali lagi nanti untuk mengomelinya karena sekarang dia harus putar otak untuk menenangkan Fabian yang terlihat semakin tidak terkendali.


"Mikir, Bi. Cepat." Titahnya pada otaknya sendiri yang tumben sekali bekerja lebih lambat malam ini. Mungkin karena ia terlalu senang telah membuat Baskara kepanasan? Bisa jadi.


"Sorry." Akhirnya, kata maaf itu yang terlontar dari mulutnya karena memang hanya itu yang berhasil otaknya hasilkan. "Lo pasti nggak nyaman, ya?" sambungnya. Tak lupa ia persembahkan raut wajah sedih nan menyesal yang dibuat-buat sedemikian rupa untuk meyakinkan Fabian bahwa ia menyesali perbuatannya. Padahal tidak sama sekali. Kalau ada kesempatan lain, ia akan mencoba untuk melakukannya lagi.


Raut wajah Fabian yang semula kelihatan tegang dan sama sekali tidak enak dipandang, perlahan-lahan berubah menjadi lebih baik seiring dengan embusan napas pelan yang pemuda itu loloskan.


"Ini bukan soal gue merasa nggak nyaman atau nggak," kata pemuda itu pelan.

__ADS_1


"Terus soal apa?"


"Ini soal lo, Sabiru."


Biru menaikkan sebelah alisnya. "Gue? Kenapa sama gue?"


Dari tatapan matanya, Fabian tampak hendak menyampaikan banyak sekali hal yang terkungkung di dalam kepala. Namun, alih-alih mengatakan semuanya, pemuda itu malah kembali mengembuskan napas pelan.


"Sana masuk." Titah pemuda itu kemudian.


"Lo belum jawab pertanyaan gue."


"Masuk." Fabian mengulangi. Dan kali ini, Sabiru merasa tidak punya daya untuk melawan titah yang pemuda itu berikan.


Meskipun ia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya hendak dikatakan oleh Fabian, Biru tetap melangkah pergi meninggalkan basement. Ia berjalan lurus ke depan, tanpa sedikitpun menoleh bahkan sampai terdengar suara deru mobil milik Fabian yang melesat cepat meninggalkan area basement yang sepi.


Sesampainya di unit apartemen miliknya, Biru langsung bergegas menuju kamar. Tubuh lelahnya yang ia bawa berkelana seharian dihempaskan ke atas kasur, lalu matanya perlahan-lahan terpejam.


Baru beberapa menit ia menikmati waktu istirahat, bel di depan pintu apartemennya ditekan berkali-kali sehingga menimbulkan suara berisik yang memekakkan telinga.


Kesal, Biru pun bangkit dari kasur. Ia berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang mengentak-entak. Ia pikir, itu adalah Fabian. Barangkali pemuda itu akhirnya berubah pikiran dan berniat menjelaskan kepadanya tentang apa yang hendak disampaikan tadi.


Masih sambil sewot, Biru meraih gagang pintu kemudian memutarnya. "Kenapa nggak buka sendiri aja, sih? Kan lo tahu pass—" ucapan Biru terpotong, dibiarkan menggantung di udara. Alih-alih Fabian, ia justru mendapati Baskara berdiri di depan pintu apartemennya, menyuguhkan tatapan menyeramkan seolah pemuda itu hendak menelannya hidup-hidup saat ini juga.


"Lo—"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2